Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 177 Melewati Ujian


__ADS_3

Mbok Darmi agak gugup dibawa majikannya menyendiri di pinggir kolam. Dan setelah memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka, barulah Gwen meyakinkan untuk mengajak perempuan paruh baya itu bicara.


“Ada apa Non… jujur mbok darmi deg degan diajak Non menyendiri ke tempat ini..” merasa ingin tahu, perempuan itu bertanya.


“Tidak perlu khawatir Mbok… aku hanya mau bertanya tentang kak Barra saja. Begini Mbok… apakah selama aku dan Om Andrew tidak berada disini, kak Barra pernah datang ke rumah ini Mbok..” akhirnya agar Mbok Drami tidak panik, Gwen memberikan pertanyaan.


“Lhoh… masak Non Gwen tidak tahu. Apa Tuan Barra tidak memberi tahu Non.. kalau ke Indonesia selalu tinggal dan menginap di rumah ini. Seingat simbok, sudah tiga kali Tuan Barra menginap di rumah ini, tanpa ada Non Gwen..” dengan polos, Mbok Darmi memberi tahu.


Hati Gwen merasa hangat mendengar jawaban dari perempuan paruh  baya itu. Meskipun sejak Gwen pergi meninggalkan suaminya, tidak pernah ada contact baik fisik, maupun via ponsel, tetapi mengetahui suaminya menyambangi rumah itu, membuat Gwen merasa lega. Tapi, gadis itu segera memupus dan menghentikan harapannya.


“Berarti kak Barra sengaja menyembunyikan hal ini dariku Mbok.. Syukurlah, jika kak Barra berada di rumah ini, berarti tidak ngelantur kemana-mana.” Gadis itu merasa bangga, tetapi tidak bisa mengekspresikan perasaannya.


Beberapa saat Gwen terdiam, tetapi untungnya gadis itu teringat dengan rencananya untuk berkunjung ke panti asuhan. Gadis itu segera berdiri,..


„Ya sudah mbok, terima kasih informasinya. Saya akan mengajak Tareeq dan Bareeq ke panti asuhan dulu.” Akhirnya setelah berpamitan, Gwen segera berjalan meninggalkan ART nya.


Mbok Darmi tersenyum, dan merasa senang karena majikan yang diikutinya tetap menjaga hubungan baik dengan semua ART. Perempuan paruh baya itu menatap punggung Gwen, sampai gadis itu masuk kembali ke dalam rumah.


*********


Beberapa saat kemudian...

__ADS_1


Karena ada acara mau bertemu dengan mitra kerja, Andrew tidak ikut menemani kepergian Gwen dan putranya ke panti asuhan Panti Hidayah. Dengan ditemani sopir keluarga dan dua baby sitter, Gwen segera masuk ke dalam mobil.


“Langsung ke Malabar Ujung ya pak.. kita berkunjung ke panti asuhan Hidayah..” begitu mereka sudah masuk ke dalam mobil, Gwen memberi arahan pada sopir.


“Baik non… semua barang yang kita bawa, sudah masuk semua di bagasi.” Sopir memberikan tanggapan.


“Terima kasih..” sahut Gwen.


Putra kembar Gwen tampak tertidur di car seat, dan baby sitter tampak mengawasinya. Gadis itu akhirnya ikut memejamkan mata, sambil menunggu mobil yang membawanya sampai ke tujuan.


“Non… kita sudah sampai di tempat tujuan non..” tidak lama kemudian, sopir tampak membangunkan Gwen.


“Iyakah… jika begitu hentikan mobil tepat di depan pintu masuk pak..” Gwen mengerutkan kening, melihat panti asuhan itu sudah memiliki bangunan dan juga banyak fasilitas baru.


Begitu mobil berhenti, gadis itu segera keluar dari dalam mobil. Dan terlihat, pengurus panti asuhan yang dikenalnya tampak menengok keluar. Gwen tersenyum, namun gadis itu lupa jika saat ini tengah mengenakan niqab, sehingga ibu pengurus panti tidak mengenalinya. Perlahan Gwen mendatangi pengurus panti asuhan, sambil menggandeng kedua putranya.


“Assalamu alaikum ibu… ini Gwen bu..” gadis itu menundukkan wajah, dan mencium punggung tangan pengurus panti asuhan tersebut.


“Wa alaikum salam, barakallah nak Gwen... Ayo masuk.., masuk ke dalam. Ini pasti putra kalian berdua ya nak. Beberapa kali ketika nak Barra mampir ke panti asuhan, selalu bercerita tentang kalian. Sangat menggemaskan ternyata putra nak Gwen dan nak Barra..” Gwen hampir tersandung karena merasa kaget dengan apa yang disampaikan perempuan  paruh baya tersebut.


Gadis itu kaget dan juga tidak menyangka, meskipun mereka tidak pernah dipertemukan, dan Gwen juga tidak memberinya informasi tentang kehamilannya, tapi suaminya tahu. Tetapi sesaat itu juga, gadis itu tersadarkan, Jangan jangan.., putra yang dimaksud oleh Barra dan diceritakan pada pengurus panti asuhan bukan kedua putranya. Perlahan, dalam diam menahan perasaannya, Gwen mengikuti perempuan paruh baya itu.

__ADS_1


“Duduklah nak Gwen… ayo siapa ini nama putra-putra nak Barra dan nak Gwen..” dengan ramah, ibu pengurus panti asuhan mengusap kepala kedua anak itu.


“Bareeq oma…, dan ini Tareeq adik Bareeq..” karena terlahir lebih akhir, Bareeq mengenalkan diri sebagai putra pertama.


„Mereka kembar ibu..” Gwen menimpali pembicaraan kedua putranya.


„Wow.., betapa menggemaskan dan lucunya kalian berdua. Kalian pasti akan menjadi pijar dan lentera untuk keluarga kalian. Selamat nak Gwen… dan didik mereka agar menjadi penerus keluarga yang berbakti..” sambil tersenyum Bahagia, pengurus panti mendoakan.


“Terima kasih Ibu… mohon doanya, agar Gwen bisa menjaga amanah dengan baik, dan juga bisa menempatkan sebagai ibu yang baik untuk mereka berdua. Oh iya bu… ngomong-ngomong, panti asuhan sudah terlihat maju dari terakhir Gwen berkunjung kesini. Apakah sudah banyak donator yang ikut berpartisipasi untuk pengembangan panti asuhan ini bu…?” Gwen mengalihkan perhatian, gadis itu bertanya tentang perkembangan panti tersebut.


Perempuan paruh baya itu tersenyum, kemudian bergantian menatap Gwen dan kedua putra yang datang bersamanya.


“Nak Gwen dan nak Barra ini memang selalu rendah hati... Bantuan yang dikirimkan nak Barra, atas nama kalian berdua sangat berarti nak.. Dan panti asuhan ini dibangun dan diprakarsai sendiri oleh nak Barra, kira-kira tiga tahun yang lalu. Santunan bulanan yang dikirimkan oleh orang-orang kalian, juga sangat berarti untuk kegiatan operasional panti asuhan ini.” Mendengarkan ucapan perempuan paruh baya itu, air mata menggenang di pelupuk mata gadis itu.


Niqab penutup wajah Gwen sampai terlihat basah, dan perempuan paruh baya itu mendiamkan gadis itu beberapa saat. Tidak lama kemudian…


“Nak… maafkan ibu ya nak... Sebenarnya nak Barra, selalu bercerita tentang kehidupan kalian yang sedang menjalani ujian. Tetapi selalu ingat nak... dalam Surah Al-Baqarah Ayat 286, dikatakan jika Allah Tidak Akan Menguji Hamba-Nya di Luar Batas Kemampuannya. Meskipun secara jelas, nak Barra tidak menceritakan seberapa berat ujian kalian, tetapi melihat nak Gwen datang ke panti asuhan ini dengan kedua putra kalian, ibu harap kalian sudah bisa melalui dan lulus dalam ujian tersebut.” Dengan penuh kasih, perempuan paruh baya itu memeluk Gwen. Melihat Gwen menangis, ibu pengurus panti asuhan itu tidak tega melakukan sandiwara.


Gadis itu tidak bisa mengendalikan perasaannya. Keresahan yang sudah tiga tahun lebih dipendam sendiri, hari ini seperti tercurahkan pada perempuan di depannya itu.


“Mommy… are you okay momm…?” melihat mommy nya menangis, Tareeq dan Bareeq mendekat dan memeluk mommy nya.

__ADS_1


Gwen yang selama ini selalu berusaha menyembunyikan tangisan, dan selalu terlihat tegar di depan kedua putranya, hari ini akhirnya gadis itu ambruk. Tangan pengurus panti asuhan meraih dua anak kembar itu, kemudian memeluk keduanya.


********


__ADS_2