Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 53 Membuka Diri


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Barra menghentikan mobil di sebuah restaurant. Tanpa bertanya pada Gwen, laki-laki itu bisa memastikan jika istrinya kelelahan dan juga lapar. Mengingat begitu pulang sekolah, Gwen membawanya berkunjung ke panti asuhan Hidayah. Sejak tadi, Barra tahu jika istrinya beberapa kali mencuri pandang ke arahnya, seperti ada yang ingin disampaikan oleh gadis itu. Tetapi Barra sengaja mendiamkan, dan pura-pura tidak tahu apa yang dilakukan oleh Gwen.


“Kita makan dulu ya honey… aku menahan lapar sejak tadi..” ketika Barra akan keluar dari dalam mobil, laki-laki itu mengajak bicara istrinya.


„Mmmphh... ya kak..” tanpa banyak bicara, Gwen segera membuka pintu mobil. Gadis itu segera mengikuti suaminya masuk ke dalam restaurant.


Di depan pintu, Barra memberikan isyarat pada waiters untuk menyiapkan kursi tempat duduk mereka. Melihat jika mereka hanya datang berdua, waiters mengarahkan mereka pada tempat duduk di lantai dua. Begitu mereka sampai di lantai dua, mata Gwen takjub melihat keluar ruangan. Gadis itu berjalan menuju balkon ruangan, dan karena letak restaurant lumayan tinggi, ditambah dengan keberadaan mereka di lantai dua, kerlap kerlip lampu terlihat dari tempat gadis itu berdiri.


“Wow… sangat indah dan menakjubkan…” tanpa sadar Gwen mengomentari pemandangan indah di waktu malam dari tempatnya berdiri. Mata gadis itu bersinar, dan Gwen sampai tidak menyadari jika suaminya Barra sudah menyusul, dan saat ini berdiri di belakangnya. Melihat bagaimana kebahagiaan Gwen hari ini, sejak tadi mereka


berada di panti asuhan, serta melihat gemerlap lampu di bawah, hati Barra merasa ikut bahagia.


“Apa yang sedang kamu lihat honey… sampai kamu mengabaikanku..” Barra bertanya perlahan. Laki-laki muda itu berjalan mendekati istrinya. Gwen menoleh ke arah suaminya sebentar, dan tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya, Gwen kembali melihat ke depan.


„Hemppphh... ternyata sangat menakjubkan sekali dari tempat ini. Seperti bukit bintang, mengingatkanku jika kita ke daerah tinggi di daerah Jogja. Orang-orang disana menyebutnya sebagai bukit bintang...” merasa diacuhkan, Barra berbicara sendiri.


“Bedalah kak.. dengan bukit bintang. Gwen juga pernah diajak Om Andrew untuk jalan ke Jogja, tapi Ketika itu Gwen masih Junior High School.” Barra kaget, ternyata Gwen menanggapi perkataannya,


Laki-laki itu berjalan mendekat, dan berdiri di samping istrinya.


“Pingin ke Jogja lagi apa, jika pingin kita bisa atur keberangkatan kita ke kota itu. Tidak sampai tiga puluh menit perjalanan dengan private jet. Aku akan menemanimu honey…” tidak mau kehilangan momentum pembicaraan, Barra menimpali perkataan istrinya.

__ADS_1


“Mau sih kak… tapi besok sore Gwen sudah harus berangkat ke Amerika..” tanpa sadar Gwen menyahut.


Barra tersenyum dan dalam hati laki-laki itu merasa senang, karena pembicaraannya ditanggapi oleh istrinya.


“Bisa lain waktu honey… besok aku akan menemanimu ke Amerika, agar kamu tidak merasa sendiri. Aku bisa membawa kerjaanku di negara itu, aku bisa mengerjakannya dengan remote trading menggunakan media video


conference untuk berkomunikasi dengan para manajer divisi.” Lanjut Barra.


Gwen tertegun mendengar kata-kata suaminya, tidak tahu sebabnya tiba-tiba ada rasa hangat di dalam dadanya mendengar ucapan Barra. Tetapi gadis itu tidak menunjukkan perasaannya.


“Kita masuk dulu honey… terlalu dingin disini. Jika honey mengijinkanku untuk memeluk, dan memberikan kehangatan padamu, kitab isa tetap bertahan disini. Tapi jika tidak boleh, ada baiknya kita masuk ke dalam. Lihat waiters sudah mengantarkan makanan pesananku.” Gwen langsung melotot, dan tanpa sadar seperti biasanya


gadis itu memberikan cubitan di pinggang suaminya.


Dari belakang, Barra tersenyum melihat punggung istrinya. Laki-laki itu kemudian mengikuti istrinya masuk ke dalam, dan duduk di depan istrinya.


“Steak salmon ini untuk Gwen ya kak… soalnya lagi pingin ikan..” melihat ada dua steak dengan bahan berbeda, Gwen memilih salmon steak.


Tanpa menjawab, Barra mengambil piring datar dan besar itu, kemudian memotong salmon menjadi potongan-potongan kecil. Setelah selesai, laki-laki itu menempatkan piring di depan istrinya. Lemon squash kesukaan gadis


itu, tidak lupa diletakkan juga di depannya, Gwen segera mengambil garpu, dan mulai menikmati potongan kecil salmon tersebut. Terlihat Barra juga mulai menikmati beef steak, keduanya makan Bersama dengan hangat.

__ADS_1


“Kak Barra… terima kasih ya tadi.” Tiba-tiba Gwen membuka pembicaraan.


Barra merasa bingung dengan pertanyaan itu, laki-laki itu menghentikan aktivitas makannya, dan melihat ke arah istrinya.


„Tadi... tadi yang mana honey… Perasaan aku tidak melakukan apapun untukmu…” Barra akhirnya menanyakan tentang ucapan terima kasih itu. Gwen juga melakukan hal yang sama, dan kebetulan potongan salmon di dalam piringnya juga sudah habis. Gadis itu menatap balik ke arah suaminya.


“Kak Barra sudah rela dan ikhlas, tanpa protes menemani Gwen ke panti asuhan. Dan tidak terduga, kak Barra juga memberikan donasi yang tidak sedikit pada keluarga panti. Terima kasih kak,..” seperti ada keterkaitan dengan panti asuhan Hidayah, Gwen berterima kasih untuk panti asuhan itu.


“Hempphh… untuk itu ya. Sepertinya ucapan itu untuk kita honey… apakah honey tidak sadar jika kita ini pasangan suami istri..? Semua yang aku miliki, harta, asset, perusahaan otomatis merupakan harta kita berdua, karena kamu adalah milikku, kamu adalah istriku. Apakah honey tidak sadar…?” mendengar ucapan itu, Gwen menjadi tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Jantungnya mendadak berdegup kencang, tetapi gadis itu berusaha untuk menahannya. Beberapa saat kemudian, dengan tatapan bersalah pada Barra, Gwen memberanikan diri Kembali menatap suaminya.


“Maafkan Gwen kak Barra… sampai sejauh ini, dan entah sampai kapan, Gwen belum bisa menerima kak Barra, dan memperlakukan kakak seperti sebagai seorang suami. Maaf kak…” dengan tersendat, suara lirih keluar dari bibir mungil Gwen.


Di luar dugaan, Barra hanya tersenyum. Laki-laki itu mengambil tissue, kemudian menyeka bibir Gwen yang terdapat lelehan saos di sudut bibirnya. Gwen menjadi serba salah, dan seperti tadi, jantung gadis itu berdebar keras. Beberapa saat kemudian…


“Sudah.. segera habiskan makannya. Kamu belum mandi bukan, masak sudah memiliki suami, setiap hari harus Bibik Darmi yang membantumu untuk membersihkan tubuh. Atau bolehlah, sekali-sekali biarkan suamimu ini yang memandikan, atau paling tidak membantumu untuk membersihkan tubuh,” dengan nada bercanda, Barra tidak menanggapi perkataan gadis itu.


Gwen tidak menjawab, tetapi malah melototi suaminya, dan laki-laki itu tertawa dibuatnya.


„Ha... ha... ha.., ayolah sekarang kita pulang..” melihat piring istrinya sudah bersih, Barra segera mengajak gadis itu untuk pulang.


Gwen segera menyeruput lemon squash, kemudian berdiri. Ketika suaminya merangkul bahunya, tubuh Gwen seperti bergetar, namun gadis itu tidak berani untuk menolaknya. Bagaimanapun banyak kebaikan yang diberikan oleh Barra kepadanya.

__ADS_1


***********


__ADS_2