Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 216 Harapan


__ADS_3

Di luar bar...


Dari tempat persembunyiannya, Jacqluinne menunggu dan mengawasi lalu lintas orang. Perempuan itu bersembunyi di dekat tong sampah besar, dan akan berlari keluar jika tidak ada orang yang mengawasinya. Dengan menahan diri di tempat kotor itu, perempuan itu berpikir jika akan terhindar dari kecurigaan orang-orang Mack maupun Antonius.


„Kenapa para pengawal dan petugas keamanan malah semakin bertambah banyak, bagaimana bisa aku bertahan..?” semakin lama berada di tempat itu, ternyata Antonius sudah menambah orang-orang untuk mencarinya.


Tiba-tiba perempuan itu merasa terkejut, ketika melihat ada tiga orang yang berjalan ke arahnya. Seketika Jacqluinne merasa panik, dan bingung bagaimana harus menyembunyikan dirinya. Untung saja, sampah yang ada di sekitarnya merupakan sampah kering, sehingga tidak menimbulkan bau yang membusuk.


„Ada kardus besar di dekat pemilahan sampah, aku bisa menggunakannya untuk bersembunyi dari orang-orang itu. Aku akan bisa celaka, jika sampai tertangkap oleh mereka. Antonius dan laki-laki menyeramkan tadi, pasti tidak akan melepaskan aku..” melihat ketiga orang-orang Antonius semakin mendekat, perempuan itu segera menyelinap mendatangi kardus besar,


“Krek.. sialan..” perempuan itu mengumpat dalam hati, karena tanpa sengaja, kakinya menginjak stereofoam. Dengan cepat, Jacqluinne segera masuk ke dalam kardus, dan menutup kardus tersebut menggunakan tangannya.


“Periksa di sekitar tempat pemilahan sampah.. Aku mendengar suara yang mencurigakan dari tempat itu..!” tiba-tiba orang-orang itu menyadari.


Ketiga orang itu kemudian berjalan cepat menuju ke tempat Jacqluinne berada. Wajah perempuan itu menjadi pucat pasi, dan menahan nafas karena takut jika orang-orang itu bisa menemukannya.


“Tidak ada orang disini Boss…, apakah kita perlu mengacak-acak tempat sampah ini. Banyak kardus bertumpuk di sekitar tong besar, mungkinkah perempuan itu bersembunyi di sekitar tempat itu. Kita sudah mengelilingi bar, dan tidak berhasil menemukannya. Petugas keamanan yang berjaga di luar, juga tidak melihat ada perempuan yang berlari keluar dari lingkup bar ini..” terdengar salah satu orang bertanya pada orang yang lain,


“Siap Boss..” dua orang yang barusan datang itu segera mendekati tumpukan kardus-kardus yang digunakan oleh Jacqluinne untuk bersembunyi.


Jacqluinne sudah tidak bisa berpikir dengan menggunakan akal sehatnya. Mendengar Langkah kaki yang semakin mendekat, jantungnya seperti berhenti berdetak. Tampaknya perempuan itu sudah pasrah, dan sudah tidak memiliki ide lagi untuk dapat melarikan diri dari tempat itu. Tanpa sadar, dan tanpa suara air mata mulai merembes keluar. Perempuan itu sekuat tenaga menahan diri, agar isak tangisnya tidak terdengar.

__ADS_1


Sementara itu, salah satu laki-laki yang sedang berusaha untuk menemukannya, sudah berdiri di samping kardus besar yang digunakan Jacqluinne bersembunyi.


“Dukk.. dukk..” menggunakan pentungan di tangan, laki-laki itu memukul kardus-kardus kosong itu. Dan ketika tangan laki-laki itu sudah terangkat, dan akan terayun untuk memukul kardus yang digunakan Jacqluinne bersembunyi, tiba-tiba…


“Bruakk… meow….” Salah satu kardus terjatuh dari atas, dan hampir menimpa tubuh laki-laki itu. Seekor kucing melompat menjauh dari tempat itu.


„Damn it... aku pikir perempuan itu. Kurang ajar…, dukk.” laki-laki itu mengumpat, dan kembali memukul kardus tempat Jacqluinne bersembunyi.


Pukulan itu tanpa sadar mengenai sisi bahu Jacqluinne, tetapi lagi-lagi perempuan itu hanya menahan nafas, dan menahan rasa sakit yang mengenai bahunya.,


“Ada apa Luise… kenapa kamu mengumpat. Apakah kamu menemukan titik keberadaan perempuan itu..? Karena tanpa berhasil menemukannya, Mack pasti akan mengamuk pada kita..” rekan laki-laki itu bertanya padanya.


Ketiga laki-laki itu segera meninggalkan tempat itu, kemudian menyisir ke tempat lain. Sepeninggalan tiga laki-laki itu, Jacqluinne merasa lemas sekujur badannya, dan tanpa sadar perempuan itu jatuh pingsan di dalam kardus.


*******


Keesokan paginya….


Mata Jacqluinne mengerjap dan membuka secara perlahan. Ada rasa pusing di kepalanya, dan sesaat perempuan itu merasa blank. Apalagi karena kardus tempatnya bersembunyi dari tadi malam dalam keadaan tertutup, sinar matahari tidak mampu menembus ke dalamnya. Tetapi tiba-tiba terdengar suara mesin yang masuk ke telinganya, dan mata perempuan itu menjadi terbuka lebar.


“Oh my God… ada dimana aku..” sesaat Jacqluinne menjadi tersadar diri.

__ADS_1


Kedua tangan perempuan itu segera diarahkan ke atas kepalanya untuk membuka tutup kardus, dan Ketika kardus sudah terbuka, sinar matahari menyilaukan mata Jacqluinne. Sesaat perempuan itu menutup mata, dan berusaha untuk  beradaptasi dengan sinar matahari tersebut,


“Nguing… nguing… nguing… rrrrrrr….” Terdengar suara mesin penghancur sampah kertas berbunyi.


“Aku harus segera keluar dan pergi dari tempat ini secepat mungkin.. Jika tidak, aku bisa hancur digiling menggunakan mesin penghancur kertas tersebut..” mendengar suara itu, Jacqluinne segera berdiri, dan merobek kardus menggunakan tangannya.


Begitu berhasil keluar dari dalam kardus, Jacqluinne baru tersadar jika ternyata dirinya saat ini, sedang berada di ketinggian. Dan kardus tempatnya bersembunyi tadi, berada dalam antrian untuk  dihancurkan oleh mesin penghancur. Menyadari gal itu, pikiran perempuan itu langsung bereaksi.


“Untung aku segera terbangun, jika tidak tubuhku sebentar lagi pasti akan hancur. Aku harus segera turun dan keluar dari tempat ini, dan berusaha untuk mencari pertolongan..” tidak mau tubuhnya ikut hancur karena tergiling mesin, Jacqluinne segera merayap dengan berpegangan pada besi di pinggiran mesin.


Dengan bersusah payah, meskipun tubuhnya masih terasa lemas, akhirnya Jacqluinne bisa keluar dari tempat tersebut. Perempuan itu mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tersebut, namun tidak ada satupun orang yang bisa dia mintai pertolongan.


“Lebih baik aku keluar dulu dari tempat ini, dan mengisi perut dulu dengan minuman atau makanan. Tidak mungkin jika aku terus bertahan di tempat ini, karena bisa jadi orang-orang Antonius bekerja sama dengan orang-orang disini. Setelah mengisi perut, aku baru akan berpikir bagaimana langkah selanjutnya..” untungnya akal sehat Jacqluinne segera berfungsi.


Perempuan itu segera berjalan keluar dari komplek pengolahan sampah. Banyaknya warga masyarakat yang berdatangan ke tempat itu untuk membuang sampah, memberinya kemudahan untuk keluar dari tempat tersebut tanpa diketahui oleh orang lain.


“Ada café di ujung jalan, aku bisa masuk kesana. Meskipun beberapa bagian bajuku ada kotor, namun karena warna cenderung gelap pasti tidak akan terlihat oleh orang lain.” Mata Jacqluinne bersinar, melihat ada cafe tidak jauh dari tempatnya berada.


Setelah merapikan sejenak rambut menggunakan jari tangan, dan mengusap wajah dengan tissue yang ada di dalam tas, Jacqluinne segera melangkahkan kaki menuju ke arah Cafe. Untungnya hidup di Amerika, selain untuk kegiatan modelling, bare face malah menjadikan wajah seorang gadis menjadi lebih menarik. Sehingga meskipun tidak merapikan kembali make up-nya, Jacqluinne tidak merasa rendah diri.


*******

__ADS_1


__ADS_2