
Di sekolah
Gwen segera menuju ke dalam kelas setelah memarkirkan Ducati di tempat parkir yang ada di sekolahan. Baru saja gadis itu akan masuk ke dalam kelas, tanpa diketahui olehnya terlihat wakil Kepala Sekolah Bidang Akademik datang menghampirinya. Gwen terus berjalan masuk, dan ketika baru satu kaki yang masuk ke kelas, tiba-tiba..
"Gwen tunggu... bapak mau bicara..!" mendengar ada suara yang memanggilnya, gadis itu menoleh ke belakang.
"Mmmph Mister Nano... ada apa pak, tumben pagi-pagi sudah memanggil Gwen.." meskipun sedikit badung, tetapi Gwen selalu berusaha menghormati guru, sehingga guru-guru tidak pernah mempermasalahkan sikap usil dan keisengan ketika gadis itu ketika Gwen berada di dalam kelas. Apalagi hampir semua mata pelajaran, nilai 100 selalu diperolehnya.
"Ikut Mister dulu ke ruangan, tidak etis jika kita bicara di depan kelas seperti ini.." Mister Nano meminta Gwen untuk mengikutinya.
"Baik Mister.." Gwen segera mengikuti wakil kepala sekolah bidang akademik itu ke ruang kerja laki-laki itu.
Gadis itu mencoba berpikir, untuk apa Mister Nano mengajaknya ke ruangan. Apakah karena kemarin, dirinya membolos dari jam sepuluh, dan tidak kembali ke sekolah. Jika karena hal itu, seharusnya tidak hanya dirinya yang dipanggil, namun kata Om Barra, Aldo juga ikut membolos.
"Masuklah dan duduk di depan meja kerja Mister... Gwen. Mister akan mengambil brosur dulu.." setelah Gwen duduk di kursi, Mister Nano meninggalkan gadis itu masuk ke dalam ruangan yang ada disamping ruang kerja dari laki-laki itu.
Gwen tersenyum dan menganggukkan kepala, kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Berada di dalam sekolah internasional, penampakan ruangan itu terbilang sangat mewah. Hal itu bisa diterima, karena uang yang dibayarkan oleh siswa yang menempuh pendidikan disitu memang sangat mahal, sampai ratusan juta rupiah.
"Bacalah brosur ini dulu Gwen...!" tiba-tiba Mister Nano sudah datang, kemudian menyerahkan selebaran kecil pada gadis itu.
Tanpa bicara Gwen mengambil kertas berwarna dari tangan gurunya, kemudian membaca informasi yang ada pada kertas tersebut. Ternyata brosur itu berisi tentang Olimpiade Fisika dan Kimia untuk siswa setingkat SMA. Dan jika berhasil lolos di tingkat nasional, akan berkesempatan untuk join pada tingkat internasional. Seusai membaca, Gwen mengarahkan pandangan pada Mister Nano.
__ADS_1
"Gwen sudah mempelajarinya Mister... tapi apa ada kaitannya dengan Gwen..?" gadis itu bertanya dengan hati-hati.
Mister Nano tersenyum, kemudian...
"Mister dan guru pengampu mata pelajaran sudah berdiskusi Gwen, dan semua mengusulkan agar untuk kali ini, sekolah kita mengirimmu untuk mengikuti Olimpiade tersebut. Kamu dianggap bisa mewakili sekolah kita ini, yang sudah beberapa kali peringkat terbaik kita dikalahkan oleh sekolah lainnya.." Mister Nano menyampaikan maksud memanggil dan meminta gadis itu untuk datang ke ruang kerjanya.
"Hemmpph apakah Mister Nano dan guru-guru lain tidak keliru meminta Gwen untuk menjadi duta??? Saat ini Gwen sudah kelas XII Mister.. dimana otomatis harus fokus untuk menyiapkan diri join dalam ujian kelulusan. Apakah tidak lebih baik, jika kesempatan ini diberikan pada adik kelas mister... sehingga masanya bisa lebih lama di sekolah ini.." dengan bahasa runtut, Gwen menolak secara halus tawaran tersebut.
Wakil Kepala Sekolah bidang Akademik itu tersenyum melihat Gwen bicara, namun untuk nama baik sekolah sepertinya laki-laki itu tidak akan menyerah. Setelah melihat Gwen berhenti menyampaikan penolakan,
"Gwen .. ini bukan masalah masa studi siswa atau apapun. Namun.. hal ini akan sangat terkait dengan nama baik sekolah ini, dimana sudah dua tahun sekolah kita selalu kalah jika dibandingkan dengan sekolah lain," Mister Nano terus mengejar Gwen, dan gadis itu sampai tidak bisa berkutik.
************
Di dalam kelas, tidak seperti biasanya Gwen terlihat lebih pendiam. Perjalanan sendirinya kemarin sore, yang mempertemukan gadis itu dengan Kevin, dan ketika mengantarkan anak itu ke panti asuhan, sedikit banyak merubah pola pikir gadis itu. Ternyata masih banyak orang yang memiliki nasib buruk melebihinya. Meskipun sejak kecil papa Jack dan mama Sophia telah meninggalkannya, namun dirinya masih memiliki kakek Atmadja dan Om Andrew yang selalu membanjiri dengan keperluan dan uang. Ditambah lagi, peran yang harus dijalankannya untuk menjadi peserta Olimpiade, menjadikan tuntutan tanggung jawab yang harus diselesaikannya,
"Gwen... kemana kemarin siang, aku coba ikuti tetapi kamu sudah keluar dari sekolah. Bahkan aku mencoba menghubungi dengan panggilan, tapi panggilanku malah kamu reject.." tiba-tiba Aldo sudah berdiri di belakang gadis itu.
"Hemmph... sorry Aldo, aku sedang ada urusan kemarin. Karena ingin fokus, aku sengaja menon aktifkan ponselku." tidak mau banyak bicara, Gwen langsung menanggapi ucapan Aldo seperlunya.
Aldo mengerutkan keningnya, anak muda itu merasakan ada perubahan dalam sikap gadis itu. Tetapi Aldo mengabaikan, malah menarik tangan Gwen untuk mengajaknya keluar istirahat.
__ADS_1
"Kemana sih Ald... aku lagi tidak pingin keluar." Gwen memprotes sikap Aldo.
"Ke food court cantik... temani aku makan. Biasanya juga kamu pasti akan cari batagor disana,." dengan sikap tidak merasa bersalah, Aldo memaksa gadis itu.
"Kali ini pergilah sendiri, tuh... minta temani Alana, Raffi atau Robert. Nih... aku sudah membawa bekal, tadi disiapkan Bik Surti..." untuk menolak ajakan anak muda itu, Gwen menunjukkan lunch box dan minuman yang dibawanya dari rumah.
Tapi bukan namanya Aldo, jika laki-laki itu tidak bisa membawa Gwen untuk pergi bersamanya. Tangan Aldo langsung mengambil lunch box dan tumbler milik gadis itu, dan menarik tangan Gwen untuk mengikutinya. Gadis itu hanya menghela nafas, kemudian dengan sangat terpaksa berdiri mengikuti laki-laki itu,
"Hey... kenapa kalian malah bengong, ayuk kita rame-rame ke food court..." melihat teman-temannya hanya memandang mereka, Gwen mengajak mereka untuk mengikutinya,
"Wow okay Gwen..." tanpa banyak berpikir, akhirnya Novi, Alana, Robert dan Raffi mengikuti mereka berdua. Asep yang sudah sampai di depan pintu kelas tersenyum, dan mengacungkan ibu jari pada gadis itu.
Karena setiap hari, mereka selalu pergi berombongan, Aldo tidak mempermasalahkannya. Yang penting Gwen kali ini mau menemaninya, sehingga berapapun orang, dan pengeluaran yang akan dikeluarkan, Aldo tidak mempermasalahkan. Mereka segera menuju ke arah food court..
"Asep... amankan tempat di atas kanopi, biar tidak panas. Fajar suruh menyingkir saja dari tempat itu..." melihat ada satu anak laki-laki duduk dibawah tempat duduk yang ada kanopinya, Aldo memerintahkan Asep.
"Jangan diusirlah Asep... biar saja Fajar duduk disana. Jika kalian tidak mau mengajaknya bicara, aku yang akan menemaninya.." merasa kasihan dengan Fajar, anak laki-laki cupu di sekolah itu, Gwen menolak usulan Aldo.
"Baik tuan putri..." Asep segera berlari ke tempat yang diinginkan Aldo. Namun agar Aldo tidak marah, Asep meminta Fajar untuk bergeser tapi tidak memintanya untuk pergi dari tempat itu.
**********
__ADS_1