Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 17 Terima Kasih


__ADS_3

Barra langsung menginjak pedal gas mobil, sekolah International yang ada di bilangan kota Bogor menjadi tujuan laki-laki muda itu. Beberapa kali, Barra beruntung bisa melewati lampu merah sehingga tidak sampai lima belas menit, laki-laki itu sudah menghentikan mobil di depan pintu gerbang sekolah Gwen. Tampak penjaga gerbang keluar dan berjalan mendekati laki-laki itu...


"Selamat sore tuan... apakah tuan ada kepentingan dengan sekolah ini. Jika tidak, mohon maaf untuk memindahkan mobil di tempat parkir yang lain, karena akan menghalangi keluar masuknya mobil dari dan akan masuk ke lingkungan sekolah." penjaga gerbang dengan sopan bertanya pada anak muda itu.


"Terima kasih pak, aku sedang mencari keluargaku. Namanya Gwen Alvaretta kelas XII IPA A." berpegang dengan buku tulis gadis itu yang dilihatnya di meja dalam kamarnya, Barra mengetahui identitas gadis polos yang sudah menjadi istrinya itu.


"Mbak Gwen... sepertinya sudah keluar sejak tadi jam 15.00 an bersama dengan gerombolannya Tuan." penjaga itu tampak mengingat-ingat kejadian tadi.


"Gerombolannya, apakah anak muda dengan motor Ducati itu pak.." Barra berusaha mengingat anak muda yang beberapa kali bertemu dengannya itu,


"Benar tuan.. yang sepeda motornya kembaran dengan sepeda motor mahal Mbak Gwen.. Sepertinya tadi mereka berboncengan menggunakan sepeda motornya mbak Gwen. Ducati mas Aldo dinaiki oleh mas Asep dan mas Raffi.." tidak ada yang ditutupi, penjaga gerbang itu menceritakan apa yang tadi dilihatnya.


Barra terdiam, laki-laki itu mengambil nafas sebentar.. Sesuai dengan dugaannya sejak tadi, Gwen pasti pergi bersama dengan anak muda itu. Tapi tidak ada yang bisa dilakukan lagi oleh Barra di tempat itu, dan tidak mungkin dia akan membuka identitas pernikahannya dengan Gwen pada penjaga gerbang sekolah. Akhirnya setelah mengambil nafas panjang,...


"Aku harus bersabar menghadapi anak kecil iru, jika aku semakin bersikeras padanya, Gwen malah akan semakin menjauh dariku." Barra berpikir sendiri.


"Baiklah pak, besok sampaikan saja pada Gwen juga sore ini Om nya datang mencarinya di sekolah. Saya permisi dulu.." akhirnya Barra mengatakan jika dirinya adalah Om dari Gwen.


"Om nya, berarti tuan ini saudaranya tuan Andrew ya...? Pantas saja, sama-sama tampan dan gagah.." penjaga gerbang menanggapi ucapan Barra.,

__ADS_1


Laki-laki itu hanya tersenyum tidak memberikan tanggapan pada laki-laki paruh baya itu. Barra kembali membalikkan badan, dan masuk ke dalam mobilnya. Setelah menganggukkan kepala tanda berpamitan pada penjaga gerbang, laki-laki itu segera menginjak pedal gas mobil. Perlahan mobil itu akhirnya melesat meninggalkan jalanan depan sekolah Internasional.


********


Di sepanjang jalanan kota Bogor, Barra mengemudikan mobil dan matanya berkeliaran mengamati situasi yang ada di sekitarnya. Laki-laki itu berharap bisa menemukan Gwen, dan membawanya pulang ke rumah. Jarum jam tangannya sudah menunjukkan angka hampir mendekati pukul enam sore.


"Bagaimana jika aku tidak dapat menemukan Gwen.. apa yang harus aku sampaikan pada kakek Chandra. Laki-laki tua itu sudah memberikan hak cucunya kepadaku, namun aku ternyata tidak becus menjaga dan mengawasinya.." sambil mengemudikan mobil, Barra berbicara pada dirinya sendiri.


Laki-laki itu tidak habis pikir bagaimana dirinya bisa kehilangan Gwen, dan membiarkan gadis itu lepas dari pengawasannya. Barra berpikir, jika hanya sekolah saja, karena datang dan pulangnya jelas, Gwen tidak akan bertindak nekad. Tetapi pikirannya ternyata keliru, dengan mudah Gwen mengelabuinya. Hanya karena dirinya sedang tidur tadi pagi, gwen seperti menemukan kelengahannya.


"Aku harus meningkatkan kewaspadaanku, aku tidak boleh bertindak bodoh dan lengah membiarkan Gwen keluar lagi, kecuali untuk pergi dan berangkat ke sekolah. Itupun harus dengan sepersetujuan dan pengawasanku. Aku tidak boleh mengecewakan kakek Chandra, laki-laki tua itu sudah banyak direpotkan oleh cucunya.." sambil terus mengemudi, pikiran Aldo berpetualang kemana-mana.


"Gwenn... turun, ikuti aku..." dengan kasar Barra menarik tangan Gwen yang sedang melingkar di pinggang Aldo. Gadis itu tersentak dan menatap dengan kaget pada laki-laki yang menyentaknya secara kasar. Perlahan Gwen melepaskan lingkaran tangannya dari pinggang Aldo kemudian gadis itu turun dari atas motor.


"Hey... jangan bertindak kasar pada seorang gadis, aku akan menghajarmu jika sampai Gwen terluka. Sekecil apapun lukanya, kamu akan tetap aku hajar..:" Aldo berteriak melihat sikap kasar Barra pada gadis yang sejak tadi bersamanya itu.


"Aldo teruslah... bawa motorku. Besok kita bertemu di sekolah, kamu tidak perlu memperpanjang urusan ini. Tenanglah.. aku akan aman bersama dengan Om ku.." Gwen merasa khawatir jika status pernikahannya dengan laki-laki yang memegang erat tangannya itu terbongkar. Perempuan itu berteriak meminta Aldo agar segera meninggalkannya, dan pergi dengan motornya.


Karena lampu traffict light sudah berubah menjadi berwarna hijau, akhirnya Aldo dan kedua temannya segera menjalankan sepeda motornya. Tapi beberapa kali, Aldo dan kedua temannya terlihat masih menengok ke belakang untuk memastikan jika Gwen aman dengan laki-laki yang bersamanya.

__ADS_1


*********


Di dalam mobil


Gwen menangis terisak, namun Barra tampak mengacuhkannya. Tidak ada satu katapun ungkapan prihatin atau kasihan dengan gadis yang duduk di sebelahnya itu. Tetap dalam diam, Barra mengarahkan mobilnya ke jalan arah pulang. Amarah laki-laki itu masih terpendam di hatinya, merasa dongkol melihat istrinya sedang memeluk erat laki-laki lain di depan matanya.


"Drtt... drttt..." tiba-tiba ponsel Barra berdering, dan laki-laki itu melihat jika kakek Chandra yang sedang melakukan panggilan.


Tanpa bicara, Barra segera memasang head phone, kemudian menggulir panggilan diterima...


"Ya kek... Barra dan Gwen sudah dalam perjalanan ke rumah kek... Maaf agak terlambat kek, karena mampir mencari makanan untuk di rumah. Jika malam, Barra terbiasa nge meal sampai malam kek, yah.. maklumlah karena perbedaan waktu antara Finlandia dan Indonesia.." seperti tidak terjadi apa-apa, Barra menjawab pertanyaan dari kakek Chandra.


"Syukurlah kalau begitu, kakek sampai ikutan tegang karena sampai malam begini, Gwen belum juga sampai di rumah,. Hati-hatilah nak.. jaga Gwen untukku.." terdengar ucapan kakek Chandra yang menitipkan Gwen pada laki-laki itu.


Gwen hanya diam mendengarkan pembicaraan itu, dalam hati gadis itu bersyukur karena ternyata Om Barra tidak mengadukan tingkah nakalnya pada kakeknya. Setelah melihat Barra melepaskan head phone yang menandakan jika pembicaraannya sudah selesai...


"Terima kasih Om.." ucap Gwen lirih, namun Barra mengacuhkan kata-katanya.


********

__ADS_1


__ADS_2