
Di dalam rumah
Barra mendatangi kakek Gwen yang sedang melihat televisi, dan anak muda itu duduk di samping laki-laki tua itu. Beberapa kali, Barra ikut bersorak jika pemain sepak bola melakukan aktivitas yang menarik penonton, begitu juga dengan kakek Atmadja. Hal itu berlangsung untuk beberapa saat, tiba-tiba...
"Barra.. lihat istrimu di dapur. Jangan-jangan seperti biasanya, Gwen tertidur di teras samping. Anak itu memang tidak pernah berubah kebiasaan buruknya, kamu harus sabar menghadapinya Barra.." kakek Atmadja tiba-tiba teringat dengan cucunya.
"Teras samping, siapa kek..? Apakah Gwen sering tidur di tempat itu.." Barra sedikit kaget dengan penjelasan kakek mertuanya.
"Benar nak Barra.. kebiasaan anak itu memang susah untuk berubah. Selalu menjawab iya jika diingatkan, tetapi selalu ada lagi pengulangan hal yang salah.. Tengoklah ke teras samping nak Barra, kakek yakin, pastilah Gwen tidur di tempat itu. Jika biasanya, Om Andrew yang akan mengangkat dan menidurkannya di dalam kamar, tetapi saat ini Andrew sedang tidak berada di Indonesia. Jadi. sekarang menjadi tugasmu nak Barra..." kakek Atmadja terus menjelaskan.
Barra terdiam sejenak, tetapi karena tidak mau membuat laki-laki tua itu panik, akhirnya anak muda itu berniat akan menyusul istrinya. Laki-laki itu segera berdiri,..
"Barra ke teras samping dulu kek, sepertinya asyik melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Gwen. Sesekali kita perlu melakukannya, untuk menghilangkan sesuatu hal yang negatof dari diri kita.." anak muda itu kemudian berjalan menuju ke teras samping.
Baru saja laki-laki muda itu sampai di depan pintu, Barra kembali menghembuskan nafas. Matanya melihat istrinya yang barusan cekcok dengannya sudah tertidur pulas di kursi panjang. Sepertinya tempat itu memang menjadi tempat paling nyaman dan menenangkan bagi gadis yatim piatu itu.
"Aku akan mencoba untuk duduk di tempat itu juga. Tetapi aku perlu untuk mengambil selimut tipis, agar Gwen tidak merasakan kedinginan." laki-laki muda itu kembali masuk ke dalam, dan menuju ke tempat setrikaan.
Melihat ada tumpukan bed cover, sarung bali, Barra menarik dan mengambilnya satu. Kemudian laki-laki itu kembali berjalan keluar menuju ke teras samping. Melihat masih ada separo air teh yang disediakan Bibi Surti untuk Gwen, tanpa ragu Barra mengambil gelas, dan minum semua teh yang masih tersisa itu sampai tandas.
"Hempph.. rupanya Gwen itu mudah tertidur, kasihan sejak kecil hidup Gwen selalu sendirian." sebelum duduk, Barra bergumam.
__ADS_1
Perlahan laki-laki itu kemudian mengangkat kepala Gwen, kemudian Barra duduk di kursi panjang yang digunakan untuk berbaring istrinya. Setelah dirinya duduk, Barra kemudian meletakkan kembali kepala istrinya di atas pangkuannya,
"Seperti ini lebih nyaman untuk Gwen..." Barra berbisik, kemudian satu tangannya menarik selimut yang tadi dibawanya, kemudian dengan hati-hati Barra menyelimuti tubuh Gwen dan dirinya.
"Aku akan ikut tidur saja di tempat ini sekalian, daripada aku membawa Gwen kembali masuk, dan akhirnya ribut. Ada kakek di ruang tengah, nanti malah kakek akan melihat pertengkaran kami." akhirnya Barra memutuskan untuk ikutan tidur di tempat itu bersama Gwen.
Angin malam kembali berhembus, dan tanpa sadar laki-laki itu memeluk lebih erat tubuh gadis dalam pelukannya. Tiba-tiba saja Barra merasa ada sesuatu dalam tubuhnya yang bergejolak...
"****... kenapa kamu muncul di saat yang tepat, dengan gadis bau kencur seperti ini..." Barra mengumpat, karena sesuatu di bawah perutnya terasa bangun, ketika kulitnya bersentuhan dengan Gwen.
Tapi akhirnya Barra berniat mengabaikannya, dan sambil memeluk tubuh Gwen yang mungil, akhirnya laki-laki itupun ikut tertidur di teras samping.
*********
Suara adzan dari masjid komplek membangunkan Gwen, dan merasa tubuhnya hangat gadis itu malah membetulkan letak selimutnya. Gadis itu belum menyadari jika dirinya sejak malam tertidur dalam pelukan Barra. Tetapi ketika dalam keadaan setengah sadar, gadis itu merasa hembusan hangat nafas Barra di bulu kuduknya, tubuh Gwen menjadi merinding, dan ketika gadis itu membuka matanya, barulah Gwen menyadari jika pagi ini dirinya tidur dalam pelukan suaminya.
"What the fu**ck..., kenapa bisa menjadi seperti ini...?" Gwen terkaget, dan perlahan warna merah kembali bersemburat di pipinya.
"Aku harus segera melepaskan diri dari pelukannya, aku tidak tahu dimana harus menyimpan wajahku, jika Om Barra tahu aku merasa nyaman dalam pelukannya." dalam hati, Gwen kembali berbicara sendiir.
Perlahan tangan Gwen berusaha melepaskan tangan Om Barra yang mengungkungnya. Untung saja, laki-laki itu tidak terlalu kuat memeluk gadis itu, sehingga dengan muda Gwen bisa melepaskan diri dari pelukan laki-laki itu. Sambil merasa malu, setelah menyelimuti kembali tubuh Om Barra, Gwen bergegas masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Sejak kapan Om Barra menyusulku di teras samping, kenapa laki-laki itu tidak marah. Padahal jelas-jelas aku telah marah-marah padanya tanpa sebab, dan malah menendangnya sampai terguling jatuh ke lantai." sesampainya di dalam kamar, Gwen mengacak-acak rambutnya. Gadis itu betul-betul tidak habis pikir, kenapa Om Barra bisa sesabar itu menghadapinya.
"Aku pasti tidak akan bisa tidur kembali, lebih baik aku segera mandi pagi saja, kemudian bersiap untuk berangkat ke sekolah.." akhirnya daripada merasa malu, jika kembali berpapasan dengan Om Barra, Gwen memutuskan untuk bersiap berangkat ke sekolah.
Dengan cepat, Gwen bergegas masuk ke kamar mandi, dan langsung menutup dan mengunci pintu kamar mandi dari dalam.
***********
Di teras
Barra tersenyum sendiri ketika Gwen sudah kembali masuk ke dalam. Sebenarnya laki-laki itu sudah sejak tadi terbangun, ketika Gwen sudah bergerak-gerak. Gesekan tubuh Gwen di atas tubuhnya, tanpa disadari telah membangunkan organ vital dari laki-laki itu, apalagi terjadi di pagi hari. Tetapi untuk menjaga agar perasaan istrinya menjadi tidak malu, Barra menahannya sendiri.
"Hempph... ternyata gadis bau kencur itu, bisa membangunkan assetku yang paling berharga. Tetapi aku tidak berdaya untuk memaksanya melayaniku..." Barra tersenyum kecut, dan berbicara sendiri.
Perlahan laki-laki itu membetulkan posisi duduknya, meskipun tubuhnya terasa sakit-sakit, tetapi ketika mengingat bagaimana dengan rukun dan harmonisnya, dirinya bisa memeluk tubuh Gwen sampai pagi, Om barra tersenyum sendiri. Baginya hal itu akan sangat tidak mungkin terjadi lagi...
"Barra... hentikan dan buang pikiran konyolmu...! Ingat gadis itu masih bau kencur, belum pantas untuk diajak begituan.." satu sisi hati Barra, seakan mengingatkan pada laki-laki itu.
Akhirnya Barra berusaha menahan pikiran kotornya. Laki-laki itu kemudian melipat selimut yang digunakan semalam, kemudian berjalan masuk kembali ke dalam rumah. Laki-laki itu menggerak-gerakkan, dan membuat otot-ototnya agar meregang, untuk mengurangi rasa nyeri dan pegal di tubuhnya.
*********
__ADS_1