
Barra menghampiri adik kandungnya yang duduk menyendiri di teras rumah. Tanpa bicara, laki laki itu memeluk tubuh adiknya dari belakang, dan Kayla mengangkat wajahnya ke atas. Melihat keberadaan kakak kandungnya, Kayla bermaksud untuk berdiri dan menyambut pelukan dari kakaknya. Tapi..
“Diamlah sebentar Kay…, aku ingin memeluk tubuh adikku sebentar. Tidak terasa ternyata adikku sudah tumbuh dewasa, dan sudah akan meninggalkan keluarga kita..” Barra berkata sambil mendekap tubuh dik kandungnya.
“Kakak… maafkan Kay.. kak, semua terjadi begitu mendadak.” Seperti menyadari kesalahan yang dilakukan pada kakaknya, Kayla meminta maaf pada laki laki itu.
“Sudahlah Kay… tidak ada yang salah. Kakak juga terlalu egois, maafkan kakak juga. Sekarang tugas kita untuk membahagiakan mama Kay.., tenanglah. Hapuslah air matamu… kakak juga baru tahu tadi beberapa saat yang lalu, jika ternyata mama sedang menderita kanker..” Barra menarik tubuh adik kandungnya, kemudian keduanya berpelukan.
Dari pintu menuju balkon, Gwen tersenyum melihat kedekatan antara suami dan adik kandungnya itu. Tetapi gadis itu tidak memiliki niat untuk mengganggu, hanya menatap keduanya sambil tersenyum terharu. Merasa keberadaannya malah akan mengganggu interaksi kakak dan adik itu, perlahan Gwen bergeser untuk menuju ke pintu belakang. Tadi Gwen meninggalkan kedua putranya yang sedang berenang di kolam renang.
“Gwen… cucuku, kakek sudah lama tidak ngobrol denganmu nak… “ tiba tiba Gwen dikejutkan dengan suara kakeknya, yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.
“Kakek..” gadis itu segera mencium punggung tangan laki laki tua itu, kemudian mereka saling berpelukan.
“Bagaimana kabar kakek, sehat bukan..?” Gwen ingat, sejak terakhir kali gadis itu meninggalkan Dubai untuk ke Jakarta, dia belum pernah kembali lagi ke negara yang ada di Timur Tengah. Jadi kepergiannya itu, juga terakhir kali kakek dan cucu itu bertemu kembali.
“Selalu sehat cucuku… Kebahagiaan merupakan obat, dan kunci Kesehatan untuk laki laki tua seperti kakek ini Gwen.. Selalu mendapatkan cerita tentang keadaan cucu, buyut yang mereka dalam keadaan sehat, sudah menjadi obat mujarab bagi kakek..” sambil tersenyum, kakek Atmadja menjawab pertanyaan cucunya.
“Syukur alhamdulillah kakek…” Gwen mengucap syukur.
“Ayo kita datangi buyutku di pinggir kolam renang, sepertinya mereka sudah berenang sejak tadi..” laki laki tua itu mengajak Gwen untuk mendekati Tareeq dan Bareeq.
Tanpa menjawab, Gwen merangkul tubuh kakeknya, dan membawanya mendekati kolam renang. Melihat keberadaan mommy dan opa buyutnya, kedua anak itu berenang ke tepian untuk menyambut keduanya.
“Mommy… opa buyut…” Tareeq berteriak.
__ADS_1
“Ayo menepilah… kalian sudah terlalu lama main air sejak tadi. Naik, bilas dan keringkan tubuh kalian berdua,,” Gwen berteriak memberi arahan pada kedua putranya.
“Baik momm…” dengan lincahnya, Bareeq dan Tareeq segera berenang menepi.
Gwen dan opa Atmadja mengulurkan tangan, dan membantu kedua anak kembar itu untuk naik ke tepian.
“Langsung ke tempat bilas ya Tareeq.., Bareeq.. Mommy dan opa buyut menunggu kalian disini..” Gwen mengarahkan kedua putranya.
“Siap mommy..” Bareeq dan Tareeq segera menyambar handuk yang sudah disiapkan oleh Claire, dan segera berlari masuk ke ruang bilas.
“Kita tunggu di tempat yang lebih teduh saja kek..” mengamati sinar matahari sudah bersinar, Gwen mengajak kakeknya untuk duduk di tempat yang terlindung kanopi.
Sambil memegangi tangan kakek Atmadja, Gwen berjalan pelan menuju ke tempat duduk yang ada di bawah kanopi. Terlihat dari arah dapur, Claire membawa nampan berisi crane berisi orange juice, dan beberapa gelas.
“Letakkan di meja ini saja Claire.. juga ambilkan makanan berat untuk Bareeq dan Tareeq..”
***********
Di dalam kamar...
Melihat suaminya yang tampak melamun di sofa, setelah membersihkan wajah dengan cleanser dan toner, Gwen mendatangi Barra. Laki laki itu mengangkat wajahnya ke atas, dan gadis itu memberikan kecupan di bibirnya.
“Kak Barra pasti mengkhawatirkan Kesehatan mama ya.. Kita akan ke Canada secepatnya kak, setelah perhelatan Kayla dan Aldo diadakan. Mama membutuhkan kita, dan cucu cucunya, dan kita harus menemani ketika mama dioperasi..” gadis itu mengerti apa yang saat ini ada dalam pikirannya suaminya.
„Kamu tahu apa yang aku pikirkan honey..” Barra kaget, karena merasa belum menceritakan keadaan kesehatan mamanya.
__ADS_1
„Kayla dan Aldo sudah bercerita semuanya kak… Sakit, hidup, meninggal itu sudah kehendak Allah, kita tidak ada yang bisa untuk mengaturnya kak. Kita jalani saja, ketentuan yang sudah digariskan Allah untuk keluarga kita. Semua pasti akan ada hikmah di dalamnya..” Gwen berusaha menenangkan hati suaminya.
Barra meraih tangan Gwen, kemudian menarik tubuh istrinya agar mendekat kepadanya. Pasangan suami istri itu saling berpelukan, dan menguatkan.
“Allah sangat baik padaku honey..., sudah menurunkan istri yang baik dan pengertian untuk mendampingiku. I love you honey…” sambil berpelukan erat, Barra berbisik mengutarakan isi hatinya pada Gwen.
Gwen hanya tersenyum, tidak membalas kata kata itu, dan ikut memeluk erat tubuh suaminya.
“Oh ya kak… by the way, kapan waktu pernikahan Kayla dan Aldo. Kata papa kemarin akan disegerakan..” tiba tiba Gwen bertanya tentang perhelatan acara pernikahan adik iparnya, dan juga sahabat terbaiknya,
“Kayla dan Aldo menolak adanya pesta honey... mereka hanya akan menikah di depan penghulu, dan dilakukan di rumah ini saja. Mereka mempertimbangkan kesehatan mama, dan tidak ingin membebani pikiran papa..” setelah menghela nafas, Barra menjawab pertanyaan istrinya.
“Hemmpphh… tidak masalah kak, yang penting pernikahan mereka berdua sah di mata agama, dan juga di mata hukum pemerintah. Perayaan itu hanya ceremony saja, dan dalam keadaan mama yang sedang sakit, memang sepertinya perayaan ditunda saja.” Merasa prihatin dengan keadaan mama mertua, dengan tulus Gwen memberikan saran.
Barra menatap ke wajah istrinya, dan perlahan laki laki itu mendekatkan wajah ke wajah gadis itu. Dengan lembut, Barra memberikan ciuman di bibir istrinya..
“Apa yang kamu ucapkan benar honey… kamu memang sangat pengertian, dan memiliki empati yang tinggi.” Merasa tersanjung dan bersyukur, Barra menarik istrinya lebih dekat ke arahnya.
Laki laki itu kembali mendekap Gwen, dan meletakkan kepalanya di sisi bahu gadis itu. Gwen diam saja, seakan ikut merasakan kegundahan yang saat ini dirasakan oleh suaminya. Beberapa saat kemudian…
“Kita pindah ke atas ranjang saja kak..., sepertinya sofa ini terlalu sempit untuk kita berdua..” merasakan suhu hangat suaminya sudah mulai meningkat, Gwen bisa membaca keinginan apa yang dimaui oleh laki laki itu.
Barra tidak menjawab, tetapi menggigit pelan pundak istrinya. Tubuh Gwen menjadi merasa merinding, seperti ada aliran listrik di atas kulitnya. Tiba tiba muncul keinginan dari dalam hati gadis itu, untuk memulai memberikan inisiatif pada suaminya.
“Kak… Gwen ingin..” bisik lembut Gwen di telinga Barra, kemudian lidah gadis itu menyusuri belakang telinga suaminya.
__ADS_1
Tanpa bicara, Barra menggunakan satu tangan, segera mengangkat tubuh Gwen dan dengan perlahan merebahkan tubuh mereka ke atas ranjang.
***********