Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 22 Kabur dari Sekolah


__ADS_3

The Intercultural School


Suasana di kelas XII IPA1 mendadak hening ketika Mister Satria masuk ke dalam kelas. Gwen yang sering membuat keributan juga terlihat tenang, sehingga situasi menjadi terkendali. Seperti biasanya, Mister Satria meletakkan tas di atas meja, kemudian menatap ke wajah semua murid di kelas satu persatu.


"Raffi... siapa teman sebangkumu, kenapa masih kosong..? Belum datangkah sudah jam segini..?" melihat satu kursi kosong, Mister Satria segera bertanya.


"Yang tidak datang Robert Mister... Allwan pindah disamping Alana, biasalah Mister.. anak muda. Pendekatan kali,," Raffi menunjuk Allwan yang menempati kursi Robert. Semua murid di kelas tertawa sambil menutup mulut mereka, mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Raffi.


Terlihat Allwan mengacungkan ibu jari ke arah Raffi, sedangkan Alana dengan muka cemberut melotot pada Raffi. Tetapi Raffi tidak mengabaikannya, anak itu kembali mengarahkan pandangan ke depan,


"Baiklah... kita awali kelas pagi ini dengan berdoa. Aldo... pimpin doa mulai pelajaran..!" dengan tegas, Mister Satria meminta Aldo untuk memimpin doa.


Tanpa membantah, Aldo segera berdiri kemudian mengajak semua murid di kelas untuk berdoa. Tidak tahu kenapa, meskipun kelas ini terkenal jika semua muridnya badung, dan suka membuat keonaran, tetapi ketika giliran mereka memanjatkan doa, semua tanpa terkecuali terlihat khusuk.


"Cukup..." begitu Aldo menutup doa yang dibacanya, semua murid kembali melihat ke arah depan. Ketika laki-laki muda itu kembali duduk di kursinya, Mister Satria kembali mengambil kendali kelas tersebut.


"Pada semua murid di kelas ini, dalam empat jam ke depan saya tidak bisa mengisi pelajaran. Dikarenakan, saya sebagai tim pendamping murid kelas X1 yang akan mengikuti Olimpiade Fisika di Jakarta. Untuk itu, saya akan membagikan topik, kalian buat kelompok diskusi. Kerjakan, dan kirim maksimal pukul 14.00 siang ini ke email saya." ternyata Mister Satria tidak dapat mengisi pelajaran.


"Asyik... sering-sering saja pak.." kelas menjadi gaduh, semua siswa terlihat senang dengan pengumuman itu. Tapi tidak ada alasan untuk marah pada kelas ini, karena meskipun semua siswa di kelas ini terkenal badung, tetapi peringkat mata pelajaran selalu dimenangkan oleh kelas ini. Akhirnya Mister Satria hanya mengambil nafas panjang, kemudian memberikan isyarat pada Aldo untuk membagikan kertas pada beberapa siswa di kelas tersebut.

__ADS_1


"Baiklah... karena semua siswa sudah memegang dan mengetahui tugas apa yang aku berikan, saya akan segera keluar dari kelas ini. Jangan buat keributan hingga membuat kegaduhan di sekolah ini. Jaga kepercayaan dariku." sebelum keluar, Mister Satria menyampaikan pesan,


"Siap pa.." setelah memandang sebentar ke semua siswa, Mister Satria segera keluar dari dalam kelas.


"Gwen... mau gabung kelompok siapa, join with us.. okay..!" dari arah belakang, Raffi berteriak memanggil Gwen.


Gadis itu menoleh ke belakang, dan mengacungkan ibu jari pada laki-laki itu. tetapi terlihat jika Gwen malas untuk mengerjakannya.


"Dimana kita akan mengerjakannya, gwen sudah setuju itu Al... masukkan namanya.." Raffi segera memerintahkan untuk memasukkan nama Gwen dalam kelompok mereka. Memahami bagaimana kepintaran gadis itu, dengan cepat tanpa komentar, Alana segera mengetik nama gadis itu.


"Raff... Al.., titip namaku ya, tapi aku sedang tidak mood berpikir. Untuk urusan presentasi, dan membuat materi powerpoint aku yang akan handle semuanya, tapi aku tidak bisa join untuk discuss.." tiba-tiba Gwen berdiri dan meninggalkan dua orang di belakang. Gadis itu dengan cepat keluar dari dalam kelas, sambil menyambar tas sekolahnya.


Raffi dan Alana saling berpandangan tangan, tinggallah mereka berdua, dan Novi teman sebangku Gwen yang masih tinggal. Tetapi tidak ada yang bisa mereka lakukan, karena mereka sendiri yang menginginkan jika Gwen bergabung dengan kelompok mereka.


********


Aldo ternganga melihat Gwen yang lewat di depannya sambil mengendarai sepeda motornya. Laki-laki itu tidak dapat menahan gadis itu, karena Gwen segera melarikan Ducati nya keluar dari gerbang sekolah. Gerbang sekolah yang kebetulan belum ditutup, karena untuk lewat keluar masukknya kendaraan yang membawa peserta Olimpiade, memperlancar perginya gadis itu. Motor Gwen melesat keluar, dan gadis itu seperti tidak memiliki tujuan.. terus berkeliling dan berputar kota Bogor.


"Aku merasa suntuk, tidak bisa fokus dan konsentrasi belajar di sekolah. Tetapi aku juga tidak boleh sembarang langsung pulang ke rumah, karena akan bertemu dengan Om Barra dan juga kakek Atmadja.." sambil terus memutar gas motor di tangan kanan, Gwen terus melaju berputar-putar.

__ADS_1


Tanpa sadar motor yang dikendarai gadis itu menuju ke arah hutan kota, ternyata gadis itu tanpa sadar sudah masuk ke wilayah Kebun Raya Bogor. Melihat rimbunnya pepohonan, dan terlihat sejuk di tempat itu, Gwen mengarahkan motornya ke arah hutan kota tersebut. Tidak lama kemudian, gadis itu menghentikan motornya, di pinggir tempat duduk yang terbuat dari semen itu.


"Hempph sangat tenang sekali suasana di tempat ini, sangat menyegarkan.." gadis itu bergumam sendiri. Sambil tersenyum, dengan penuh kekaguman, Gwen mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tumbuhan yang besar dan rimbun, menambah kesejukan tempat itu, sangat cocok untuk mencari oksigen di siang hari.


"Drrtt... drtt... drttt.." tiba-tiba ponsel gadis itu bergetar.


Perlahan Gwen mengeluarkan dari dalam tasnya, dan melihat siapa yang melakukan panggilan kepadanya. Setelah dilihat, ternyata Aldo yang melakukan panggilan,


"Aku lagi pingin sendiri, aku tidak ingin ada orang lain di tempat ini.." merasa sayang kehilangan moment menikmati pemandangan, Gwen mengabaikan panggilan tersebut.


Gwen malah mengambil ponsel, setelah membiarkan panggilan Aldo terlewatkan, gadis itu segera mematikan ponselnya. Gwen duduk berselonjor, dan menyandarkan punggungnya di batang pohon yang ada di belakangnya. Mata Gwen mengerjap dan bersinar, melihat pasangan suami istri yang tengah bermain dengan dua putra mereka. Terlihat sepertinya mereka sedang berlibur, dan terpesona dengan keindahan dan kesejukan Kebun Raya, sepertinya.


"Betapa beruntungnya dua anak itu, kedua orang tuanya masih bisa mendampinginya bermain. Tidak sepertiku, Allah lebih menyayanhi papa Jack dan mama Sophia, sehingga Allah tidak membiarkanku tumbuh bahagia bersama dengan beliau berdua.." Gwen bergumam sambil menatap keluarga kecil itu.


"Aku tidak akan membiarkan anak-anakku di kemudian hari memiliki nasib sepertiku, akan menyenangkan dan selalu mendampingi mereka, untuk urusan apapun." lanjut Gwen.


"What... apa yang aku pikirkan?? Anak... dengan siapa, masak dengan Om Barra.. Oh my God.. kenapa lamunanku malah membawaku untuk memikirkan laki-laki dinginĀ  dan tua itu." terlihat Gwen sangat menyesali pikiran yang berkembang sendiri itu.


Tetapi tiba-tiba Gwen kembali teringat dengan kejadian tadi pagi, dimana dirinya tanpa sadar ternyata tidur dalam pelukan laki-laki itu. Gadis itu merasa malu, sampai pipinya memerah, dan Gwen menutup wajah dengan menggunakan kedua tangannya.

__ADS_1


**********


__ADS_2