
Hari-hari di laboratorium, bukan hanya adu argumentasi dan kecerdasan saja, tetapi banyak pengalaman baru yang diperoleh Gwen. Peralatan laboratorium yang belum pernah dilihat, dapat diuji coba gratis dengan pendampingan assistant. Gwen dan teman-teman lainnya terlihat sangat senang dan menikmati berbagai pengalaman baru tersebut.
“Gwen… bagaimana uji cobamu, apakah sudah terlihat hasilnya…?” Cathy bertanya pada Gwen… mereka baru saja melakukan uji coba hasil analisis mereka.
“Belum tahu Cathy… aku belum sempat melihatnya. Aku mencoba ambil tema Green Chemist... dengan konsep kimia ramah lingkungan. Bukan apa-apa sih, hanya biar beda saja dengan topik yang diambil teman lainnya..” dengan ramah, gwen menanggapi pertanyaan itu.
“Mmmphh… good idea Gwen.. ada berapa praktikum yang kamu praktikumkan, dan topik laju reaksi apa saya yang menjadi pengamatan…” Cathy menimpali.
„Ada empat jenis praktikum yang dilakukan pada topik laju reaksi. Aku melihat pengaruh luas permukaan, konsentrasi, suhu, dan katalis masing-masing terhadap laju reaksi. Bahan-bahan ramah lingkungan yang aku gunakan untuk menggantikan bahan-bahan kimia pada praktikum tradisional, seperti larutan HCl, Na2S2O3, dan FeCl3 yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan.” Gwen melanjutkan penjelasannya.
Dua gadis itu terus berbincang ilmiah, tentang materi uji coba mereka, yang juga menjadi penilaian dalam Olimpiade ini. Mereka menyusuri koridor laboratorium, dan beberapa meter di depan mereka, terlihat Chakra dan Hikata sedang berdiri seperti menunggu mereka.
“Aku tunggu kalian berdua sejak tadi, kita makan siang dulu yukk... Tadi pagi karena kesiangan, aku tidak keburu ikut break fast, jadi aku mulai lapar.” Hikata menyambut dua temannya itu.
„Lah.. kan sudah ada Chakra, kenapa kalian berdua tidak menuju ke ruang makan bersama, Kami baru saja menyelesaikan praktikum kami, sesuai topik yang sudah kita paparkan pada saat presentasi pada Tim Penilai kemarin,” gwen menjelaskan. Gadis itu menoleh pada Cathy, ...
„Ya sudahlah Gwen... kita bareng mereka saja ke ruang makan. Sekalian kita makan siang, baru nanti kita masuk ke material room, untuk menyiapkan perangkat lainnya.” Untungnya Cathy mau membatalkan rencana mereka berdua.
Berada di tempat jauh tanpa keluarga, memang bisa mendekatkan dan mengakrabkan teman baru menjadi layaknya seorang keluarga. Setiap hari mereka berkumpul bersama, melaksanakan aktivitas juga bersama, sehingga memupuk keeratan hubungan mereka.
__ADS_1
“Okay Cathy… ayuklah Chakra… Hikata, aku temani kalian berdua makan. Terus bagaimana dengan Selena, apakah kita tidak menunggu gadis itu dulu..” sadar jika tidak ada Selena di tempat itu, Cathy dan Gwen menanyakan keberadaannya.
“Selena sudah ke ruang makan sejak tadi, gadis itu bareng dengan tim dari Uni Emirate Arab. Katanya juga sudah tidak sabar menunggu kita, keburu lapar katanya.” Sambil berjalan, Hikata menjawab.
Akhirnya ke empat anak muda itu berjalan bersama menuju ke ruang makan. Mereka berjalan lurus menyusuri koridor, dan Ketika sampai di T junction, akhirnya mereka ambil Langkah ke kanan lurus.
*********
Aman Hotel New York…
Barra yang merasa kesepian berada di hotel sendiri, keluar menuju ke restaurant yang berada dekat lobby hotel, Padahal jika anak muda itu mau, tinggal angkat telpon, maka room service akan memberinya pelayanan. Namun… karena ingin mencari kesibukan, akhirnya laki-laki itu menuju ke restaurant yang ada di lobby lantai satu.
Dengan penuh rasa hormat, petugas hotel mempersilakan Barra masuk ke ruangan. Mengetahui kamar yang dipesan oleh laki-laki itu, petugas hotel mengantarkan Barra ke tempat duduk yang sangat privacy. Barra mengikuti petugas hotel tersebut, dan dari tempatnya berada dapat dilihat view luar hotel yang sangat menarik.
“Aku duduk sini saja, tinggalkan aku. Jangan lupa, sajikan Henri Jayer Cros Parantoux, grilled lamb dengan blackpepper sauce.” Sambil meletakkan gadget di atas meja, Barra meminta petugas hotel untuk memesankan makanan dan minuman untuknya.
“Baik tuan… mohon tunggu sebentar. Tidak lama lagi, pesanan tuan akan segera diantarkan oleh waiters. Permisi, saya Kembali ke depan..” petugas hotel membungkukkan badannya ke depan, kemudian berjalan mundur ke belakang meninggalkan Barra.
Tidak menunggu lama, Barra sudah terbenam dalam kesibukan menekuni layer gadget di depannya. Sebelum melakukan pengecekan harga saham perusahaannya, laki-laki itu membaca email masuk. Beberapa email, langsung dia balas sendiri, namun banyak pula email yang diteruskan ke manajer operasional perusahaan, untuk di follow up.
__ADS_1
“Permisi tuan… mau mengantarkan pesanan tuan…” tiba-tiba konsentrasi laki-laki itu diselingi datangnya makanan dan minuman yang dipesannya.
Barra menggeser gadget ke samping, dan sambil tersenyum waiters menyajikan menu yang dipesannya. Karena menu pesanan sudah datang, Barra mengesampingkan pekerjaan yang sedang dilihatnya. Laki-laki itu segera menggunakan pisau dan garpu, dan mulai menikmati grilled lamb. Sepertinya Barra memang lapar, karena laki-laki
itu makan dengan lahapnya. Tidak sampai beberapa menit, grilled lamb di depannya sudah habis tandas.
“Hempph… apakah Gwen sudah makan ya di mess laboratorium…?” Barra bertanya pada dirinya sendiri.
Laki-laki itu mengambil sloki berisi wine yang sudah dituangkan oleh waiters, kemudian menyesapnya secara perlahan. Terlihat Barra seperti sedang melamunkan istrinya, sambil memutar-mutar tangkai sloki beberapa kali. Bayangan wajah istrinya yang masih terlihat polos dan innocent, seperti menari-nari di depannya.
*“F*uck… kenapa aku jadi memikirkan gadis ingusan itu. Apakah aku sudah benar-benar jatuh cinta kepadanya..?” terdengar Barra mengumpat lirih, karena bayangan Gwen tidak mau pergi dari pikirannya. Barra kembali menyesap wine... kemudian meletakkan kembali sloki ke meja di depannya. Pandangan matanya menembus keluar jendela, dan tampak gemerlap kota New York terlihat jelas di depannya.
Gadget yang sejak tadi dicermatinya seperti terabaikan, karena tiba-tiba saja laki-laki itu terlalu asyik dengan pemandangan di depannya. Melihat mobil yang lalu Lalang di luar jendela, baliho besar dengan video tron juga tampak mengalihkan perhatian laki-laki itu.
“Tanpa aku sadari, kehadiran Gwen dalam kehidupanku sudah semakin jauh masuk ke dalam ruang batinku. Padahal aku menerima gadis itu semula hanya untuk pelampiasan saja, aku ingin menghempaskan Jacqluin dari hari-hariku. Tapi kini… bayangan Jacqluin tergantikan oleh wajah Gwen Alvaretta, gadis ingusan yang sangat kasar.” Tanpa sadar, Barra tersenyum sendiri.
Tidak tahu sebabnya, laki-laki itu menjadi asyik Ketika mengingat kemarahan Gwen, Ketika gadis itu ngambek, maupun Ketika membuat ulah. Tiba-tiba saja, Barra yang harusnya sebal dengan tingkah kanak-kanak itu, tetapi malah merindukannya.
“Gwen… I miss you honey… Aku rindu Ketika kamu ngambek, kamu marah.., kamu bersikap sadis kepadaku… semuanya. I miss you…” sambil tersenyum menatap keluar jendela kaca, Barra berbicara lirih.
__ADS_1
**********