
Beberapa hari sesudahnya..
Setelah merasa cukup menghabiskan waktu dengan istri dan kedua putranya, akhirnya Barra mengajak keluarganya untuk Kembali ke rumah. Tapi baru saja mereka memasuki gerbang rumah mereka di puncak bukit, terlihat ada beberapa mobil parkir di halaman rumah mereka. Tanpa bicara, Barra dengan tenang menghentikan mobil kemudian meminta istri dan kedua putranya untuk turun.
“Sepertinya di rumah kita sedang banyak tamu honey, turunlah dulu dengan anak-anak. Aku akan menyusulmu di belakang..”
“Baik kak.., Gwen masuk duluan ke rumah ya dengan anak-anak. Di dalam rumah, pasti semua sedang berkumpul kak. Papa dan mama pasti juga masih ada disini, kita temui mereka kak. Janganlah keras kepala... kita mengalah sebentar.” Merasa khawatir jika suaminya akan kembali meninggalkan rumah, sebelum turun, Gwen berpesan pada Barra.
„Jangan khawatir honey... masuklah dulu.”
Dengan menggandeng kedua tangan putranya, Gwen melangkah masuk ke dalam. Penjaga rumah membawakan pakaian dan perlengkapan mereka. Seperti yang telah mereka duga ternyata di ruang tengah telah banyak berkumpul orang-orang. Yang mengejutkan gadis itu, ternyata kakek Atmadja, Om Andrew dan juga auntie Anne juga ada di dalam ruangan tersebut.
“Bareeq…, Tareeq, kita ketemu opa besar, dan opa muda..” mengabaikan yang lain, Gwen segera membawa kedua putranya untuk menemui kakek Atmadja.
“Buyut-buyut opa…, kalian sudah semakin bertambah besar. Opa kangen sama kalian berdua...” melihat kedua buyutnya berlari memeluk, kakek Atmadja membalas pelukan kedua bocah kecil itu dengan penuh rasa haru.
“Kesinilah Gwen cucuku… meskipun sudah ada kedua putramu, kamu masih tetap cucu kecilku..” tangan kakek tua itu meraih tangan Gwen. Ke empat orang itu berpelukan erat.
“Hempphh… ternyata kedatangan Gwen, Tareeq dan Bareeq sudah memonopoli papa. Lagi, lagi dan lagi, papa mengabaikan Andrew..” terdengar suara protes di belakang mereka.
“Kemari Om Andrew…” tangan Gwen menarik tangan pamannya, dan laki-laki itu turut memeluk papa dan keponakannya.
Semua yang duduk di ruangan itu tertawa, dan ada keharuan melihat bagaimana kakek Atmadja meluapkan rasa rindu pada cucu dan buyutnya. Tidak lama kemudian, terlihat Barra memasuki ruang tengah. Laki-laki itu mengabaikan keberadaan keluarganya, dan langsung mendatangi kakek Atmadja.
“Kakek.., Barra mengucapkan salam..” laki-laki tua itu melepaskan pelukan pada cucu dan buyutnya.
__ADS_1
Dalam wajah rentanya, kakek Atmadja menatap ke arah Barra yang sudah menikah dengan cucunya.
„Kemarilah nak Barra... aku sudah mendengarkan semua ceritamu dari Andrew. Maafkan kakek ya, yang secara impulsive terlibat dalam memisahkanmu dengan istrimu kala itu..” meskipun sudah berusia tua, kakek Atmadja tidak merasa malu mengakui kesalahannya.
“Tidak apa kakek, mungkin memang Tuhan mengatur jalan pernikahan kami dengan cara seperti itu. Dan doakan kakek, agar Gwen segera memberi Barra momongan lagi. Barra ingin merasakan bagaimana merawat istri yang hamil, dan juga merasakan kepanikan dalan membesarkan bayi..” tanpa malu, Barra mengucapkan keinginannya.
“Ho.. ho… ho.., kemarilah cucuku..” sambil tertawa, kakek Atmadja memeluk tubuh cucu menantunya dengan erat. Tidak lama kemudian, laki-laki tua itu melepaskan pelukannya.
Barra dan Gwen mengedarkan pandangannya, dan Ketika melihat ada Tuan Chandra dan Nyonya Santa, perempuan itu mendatangi kedua orang itu.
“Mama … papa, ijin Gwen mengucapkan salam. Tareeq..., Bareeq.., beri salam pada oma dan opa..” Gwen menyalami tangan pasangan suami istri itu, dan juga mengajak kedua putranya untuk ikut memberikan salam.
„Ini cucu-cucuku ya, seperti yang diceritakan Kayla, Mereka sangat menggemaskan..” nyonya Santa memeluk Bareeq dan Tareeq dengan gemas.
Tuan Chandra beradu pandang dengan putranya Barra, dan mengetahui jika putra laki-lakinya itu masih memendam amarah kepadanya.
Gwen menoleh ke arah suaminya, kemudian perempuan muda itu menepuk bahu suaminya..
„Ikuti papa kak, dengarkan penjelasannya. Jangan menjadi anak durhaka..” Gwen berbisik ke telinga suaminya.
Di depan semua yang duduk di ruang tengah itu, tanpa malu Barra memberikan ciuman di kening istrinya.
“Terima kasih honey..” bisik lembut Barra. Gwen melihat suaminya yang melangkahkan kaki menuju ke arah ruang kerja.
*******
__ADS_1
Di dalam ruang kerja…
Barra dan Tuan Chandra duduk berhadapan di sofa. Keduanya saling terdiam, dan hanya beberapa kali saling memandang.
“Barra.., aku tahu kemarahanmu. Mungkin kamu merasa sudah dilangkahi adik perempuanmu, dan juga calon adik iparmu. Tetapi mereka tidak bersalah Barra.., karena semua terjadi secara mendadak. Keluarga besan yang juga memberikanku kejutan, tanpa persiapan apapun, akhirnya pertunangan itu dilaksanakan. Temui adikmu, karena Kayla sangat bersedih dan terpukul dengan kepergianmu bersama Gwen, .” akhirnya tuan Chandra memulai pembicaraan.
„Tapi pa... melihat ada papa, mama, juga keluarga Om Atmadja, sepertinya papa juga sudah mempersiapkannya bukan. Lalu... Barra dan Gwen, dianggap apa pa..?? Sedikitpun sebagai tempat tinggal Kayla, kita sedikitpun tidak diajak untuk bicara. Apakah papa dan Kayla memang sudah tidak menganggap Barra dan Gwen..?” rasa tersinggung Barra sepertinya sangat mengena.
Terlihat Tuan Chandra menghela nafas dalam…
“Salahkan papa dan mama Barra.., sekali lagi papa tegaskan jika Kayla tidak bersalah. Keluarga calon besan menemui mama dan papa di Italia, dan menyampaikan maksud baik ini. Setelah mengetahui jika mereka berdua juga mengenal Gwen menantuku, papa menerimanya dengan terbuka. Acara ini sengaja untuk kita percepat, karena mengingat kesehatan mamamu Barra..” mendengar perkataan papanya, Barra merasa terkejut.
Laki-laki muda itu menatap ke arah papanya, dan mereka beradu pandang..
„Apa yang terjadi dengan mama pap.., apa yang kalian berdua sembunyikan dari kami..?” fokus pertanyaan Barra beralih.
Sekian lama, mereka tidak pernah mendengar jika mamanya memiliki penyakit, Namun kali ini.., papanya berbicara sesuatu.
„Tenanglah Barra... jangan kamu panik dan khawatir. Mamamu yang ingin merahasiakan penyakitnya darimu dan juga Kayla. Untuk itulah, papa berusaha menemani dan mengikuti apa yang diinginkan oleh mamamu.. Mamamu menderita kanker stadium akhir Barra..., dan secara rutin ketika di Italia, mamamu menjalani serangkaian kemo theraphy. Namun hal itu juga tidak berakhir baik..” tampak air mata menggenang di kelopak mata Tuan Chandra.
Barra merasa tertotok, sekujur badannya terasa lemas. Kabar yang disampaikan papanya, sangat mengejutkan, dan menghilangkan tenaganya.
“Mamamulah yang menginginkan agar pernikahan Kayla dan Aldo dipercepat.. Akhirnya bersamaan dengan acara perayaan kelulusan kalian, pertunangan segera dilaksanakan. Jika kamu menyetujuinya, dalam minggu ini juga, pernikahan mereka akan kita laksanakan..” seperti membuat permohonan, kata-kata Tuan Chandra terdengar bergetar.
Melihat keadaan yang dialami papanya, Barra segera memeluk laki-laki tua itu.
__ADS_1
„Maafkan Barra pap, laksanakan segera. Barra dan Gwen akan menyetujuinya pa..” akhirnya dua laki-laki dua generasi itu berpelukan, dengan penuh keharuan.
**********