
District 3 Park Avenue...
Andrew dengan gelisah keluar masuk rumah, berusaha mencari tahu apakah Barra sudah kembali membawa keponakannya. Laki-laki itu sejak tadi harus membuat alasan pada papanya, dan juga papanya Barra. Andrew mengatakan jika Barra dan Gwen ingin makan diluar berdua, sekalian mereka ingin saling mengenal. Mendengar keterangan yang diberikan Andrew, dua laki-laki tua itu terlihat sangat gembira. Mereka berpikir jika perjodohan itu sudah membawa hasil, dengan semakin mendekatkan hubungan mereka.
"Ada apa kamu sejak tadi keluar masuk rumah Andrew.., apakah kamu ingin pergi, dan sudah punya janji dengan seseorang.." Andrew terkejut karena papanya tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
"Mmmph... tidak pa, hanya saja Andrew sedang menunggu Barra. Ada yang akan Andew bicarakan pada suami dari Gwen pa. tapi mereka belum pulang sejak tadi.." sambil tergagap, Andrew membuat alasan,
"Kamu ini Andr... makanya segera menikah, biar tahu bagaimana sensasi sebagai pasangan yang baru saja menikah. Mereka pasti terganggu untuk bulan madu di rumah, karena masih banyak orang di rumah ini. Jadi mereka mungkin sedang mencari tempat untuk saling bertemu.." tuan Atmadja malah memberi ceramah pada putranya.
"Iya pa.. jangan mulai deh.. Andrew janji deh, tidak lama lagi, Andrew pasti sudah pulang membawa perempuan untuk Andrew nikahi pa,," laki-laki itu tersenyum kecut. Dia memang punya alasan, kenapa sampai sekarang dirinya belum menikah. Andrew masih menunggu kesediaan hati kekasihnya untuk menikah dengannya. Kehidupan di luar negeri, yang bebas dan mudah berganti pasangan, sering membuat ketakutan para perempuan untuk membuat komitmen pernikahan. Dan Andrew memberikan waktu untuk berpikir bagi kekasihnya, bahkan sampai dirinya tidak tahu kapan kekasihnya akan bersedia untuk diajaknya menikah.
"Selalu saja seperti itu jawabanmu.." ucap tuan Atmadja dan laki-laki tua itu berjalan masuk, meninggalkan Andrew kembali sendiri di teras.
********
Menjelang senja, akhirnya mobil Barra pulang memasuki halaman rumah. Andrew mengambil nafas lega, melihat keponakan tersayangnya duduk di samping sahabatnya. Namun belum sampai Barra membukakan pintu mobil untuknya, Gwen sudah lebih dahulu membuka kemudian gadis itu keluar dan berjalan meninggalkan Barra lebih dulu.
"Om.." sapa Gwen singkat, dan gadis itu menyalami tangan Andrew.
__ADS_1
"Dari mana kamu Gwen.. ingat jangan terlalu sering membuat repot suamimu.." Andrew malah bertanya pada gadis itu. Dan Gwen memberanikan diri menatap ke mata pamannya, dan mereka beradu pandang.
"Maaf Om.. jujur saja, Gwen merasa belum memiliki suami. Dan pernikahan tadi pagi, bagi Gwen hanyalah permainan saja, bukan sesuatu yang serius.." Gwen menjawab pertanyaan dari pamannya, kemudian gadis itu berjalan masuk meninggalkan Andrew. Menyadari jika keponakannya itu sedang dalam keadaan hati yang tidak baik, Andrew tidak mempermasalahkan kelakukan Gwen.
"Biarkan saja Gwen dulu.. Andr. Sepertinya gadis itu masih belum sadar, jika dia adalah istriku. Gwen sepertinya menganggap jika pernikahan tadi pagi, hanyalah sandiwara untuk mengelabui papa, dan papa Armadja.." Barra berusaha memberi tahu Andrew.
Terlihat Andrew mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan.
"Titip keponakanku tercinta Barra, pekerjaanmu berat. Selain kamu harus mendidiknya untuk dapat menjadi seorang istri yang baik, kamu juga harus sabar menghadapinya. Besok pagi aku sudah harus berangkat ke Jepang, ada mitra kerja yang ingin mengajakku berdiskusi di negara itu.." sambil berjalan masuk, Andrew memberi tahu Barra.
"Pergilah Andrew.. aku masih ada waktu beberapa hari di Bogor, sekalian menghabiskan waktu cutiku. Aku juga punya kesibukan baru, berusaha memahami bagaimana cara anak usia belasan tahun berpikir dan berperilaku.." sahut Barra sambil tersenyum smirk.
*************
Malam harinya
Gwen menyiapkan perlengkapan sekolahnya, dan terlihat Barra juga masih membuka gadget di sofa yang ada di dalam kamar gadis itu. Padahal Gwen sudah menghindari laki-laki itu, dengan melarikan diri dari kamar pengantin yang disiapkan untuk mereka. Namun rupanya Barra tetap mengikuti kemana gadis itu pergi..
"Aku harus segera tidur, mumpung Om itu masih berada di depan gadgetnya." Gwen menumpuk bantal dan guling tinggi-tinggi, kemudian membungkus tubuhnya dengan selimut tebal,
__ADS_1
Sepertinya Barra melihat tingkah gadis itu, dan laki-laki itu tersenyum sendiri melihatnya. Namun sepertinya Barra sedang tidak sedang ingin mencari keributan, laki-laki itu tetap fokus di balik layar gadgetnya, tidak memberi teguran, atau sapaan pada Gwen.
"Tapi bagaimana nanti, jika Om Barra bertindak curang. Ketika aku sudah tertidur lelap, laki-laki itu mencuri ciuman atau apapun dariku.. Hiiii..." tiba-tiba Gwen begidik, merasa jijik membayangkan jika tiba-tiba Barra mencuranginya.
Di bawah selimut tebal, Gwen melihat ke arah pakaiannya. Selain selimut tebal, Gwen juga mengenakan sweater untuk membungkus tubuh bagian atas, dan bagian bawah gadis itu mengenakan celana panjang. Sungguh sangat mengenaskan bagi suaminya, karena Gwen seakan menutup rapat dan tidak memberikan celah untuk suaminya.
"Hemmph... sepertinya pakaianku sudah sangat rapat, aku akan mencoba tidur duluan untuk mencegah jika laki-laki tua itu mengajakku bicara.." untuk mencegah terjadinya pembicaraan, Gwen kemudian memaksakan dirinya tidur.
Tidak sampai lima belas menit, sejak dirinya memejamkan mata, Gwen sudah benar-benar tertidur lelap. Melihat Gwen yang sudah tidur pulas, Barra berdiri dari tempat duduknya. Laki-laki itu berjalan menghampiri sisi ranjang, dan tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh gadis itu.
"Apakah sebegitu buruknya Gwen berpikir tentangku, sampai sekujur tubuhnya terbungkus rapat seperti itu. Jika saja gadis itu tahu, aku juga tidak ada minat untuk mendekatinya. Aku bukanlah pedofil, yang memaksa anak kecil untuk bercinta padaku.." Barra bergumam lirih,
"Kenapa juga aku seperti orang yang kurang kerjaan, ketika papa dan Om Atmadja memaksaku untuk menikahi Gwen, kenapa mulutku tidak bisa bicara untuk menolaknya. Padahal aku juga mengenal papa anak itu,.." kembali Barra bergumam, seakan menyesali keputusan yang sudah diambil dan dilakukannya.
Setelah puas menatap Gwen dengan wajah polosnya yang tertidur, Barra kemudian berjalan menuju ke drawer yang ada di ruangan itu. Perlahan Barra mengambil bantal, dan juga selimut. Laki-laki dewasa itu kemudian berjalan menuju ke sofa panjang, dan meletakkan bantal di atas sofa tersebut. Sambil menghela nafas, Barra kemudian naik dan merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Aku sedang malas untuk mencari masalah baru, biarlah malam ini aku tidur di sofa ini dulu. Besok pagi ketika Gwen sudah bangun, aku akan pindah tidur di atas ranjang.." merasa kasihan jika menakuti istrinya, Barra dengan sabar mencoba tidur di atas sofa tersebut. Karena malam sudah semakin larut, akhirnya Barra mulai memejamkan matanya, dan tidak lama kemudian laki-laki itupun mulai terlelap.
**********
__ADS_1