
Keesokan Paginya
Dengan berat hati Barra melepas Gwen untuk berangkat sendiri ke college. Sesuai kesepakatan tadi malam, Gwen mulai pagi ini mengendarai Ducati Barra yang lama tidak digunakan. Untuk mengurangi suhu dingin yang menerpa, Gwen mengenakan jaket kulit, sepatu laras Panjang dan helm tertutup. Sama sekali tidak terlihat jika gadis itu sudah memiliki suami di rumah,
“Gwen berangkat dulu kak Barra.., bye..” sebelum melajukan kendaraan, Gwen berpamitan pada suaminya.
„Yap... take care honey.., patuhi lalu lintas..” Barra berteriak, dan tidak menunggu lama motor itu sudah hilanga dari pandanganya.
Barra mengambil nafas dalam, kemudian beberapa saat Barra Kembali masuk ke dalam. Ketika akan memasuki ruang tengah, Barra berpapasan dengan Andy yang sudah siap berangkat ke college. Anak muda itu belum tahu jika Gwen sudah berangkat lebih dulu meninggalkannya.
“Kamu ada kelas padi And… jam segini sudah siap pergi..?” sambil berbasa basi, Barra bertanya pada adik sepupunya,
„Ya kak... kemana kak Gwen, aku check sepertinya istrimu ada jadwal pagi juga sepertiku. Daripada berangkat sendiri sendiri, kita bisa berangkat bareng ke college. Lagian Gwen belum hafal bukan, jalan raya menuju college.” Tanpa prasangka, Andy bertanya pada kakak sepupunya.
Anak muda itu terlihat masih menikmati kopi dan sandwich bakar, karena tadi memang tidak sarapan bareng pasangan suami istri itu.
“Sesuai janjiku pada istriku And... Gwen sudah berangkat sendiri ke college. Sejak semalam, gwen memintaku untuk mengijinkannya ke college dengan sepeda motor. Akhirnya.. Ducati kecintaanku digunakan istriku untuk berangkat kuliah..” Barra menjawab pertanyaan adik sepupunya itu.
“What… apakah aku tidak salah dengar kak…?? Berkali-kali aku memintamu untuk meminjamkan Ducatimu, tetapi kamu tidak mengijinkannya. Tapi kali ini, Gwen seorang gadis, dengan tanpa ada rasa khawatir sedikitpun kak Barra mengijinkannya membawa motor ke college.” Andy spontan berteriak, tidak mempercayai pendengarannya.
Barra tersenyum kecut, bukan masalah ketrampilan Gwen mengendarai motor yang dikhawatirkannya. Namun kecantikan dan kemandirian istrinya, bisa menarik perhatian orang lain untuk mendekatinya.
“Apakah kamu mendengar ucapanku kak Barra.. Sepertinya kak Barra menganggap sepele hal ini, tidak adakah rasa khawatir pada dirimu dengan membiarkan Gwen berkendara sendiri.” Merasa diacuhkan oleh Barra, Andy berbicara dengan nada lebih keras.
__ADS_1
„Kamu belum mengenal siapa istriku sebenarnya Andy. Untuk masalah kemampuan berkendara, istriku sangat mahir mengendarai Ducati. Karena motor yang dinaikinya, ketika gadis itu masih di High Senior School, sama dengan motor itu. Selain itu Gwen juga salah satu pembalap motor perempuan di bilangan kota Bogor, aku sendiri pernah melihat bagaimana gadis itu mengendarai motor.” Barra akhirnya menjelaskan.
Andy membelalakkan matanya mendengar cerita tentang Gwen. Kekaguman pada gadis itu semakin meningkat, setelah kemarin merasakan sendiri jurus taekwondo Gwen mengenai anggota badannya. Kali ini mengetahui jika gadis itu pembalap, semakin memupuk rasa kagum anak mud aitu.
“Hempph.. ya sudahlah kak, semoga tidak ada apa-apa dengan kak Gwen. Jika begitu, aku juga harus berangkat kak. Takut macet, karena pagi ini aku masih bawa mobil.” Mendengar jika Gwen sudah berangkat ke college lebih dulu, akhirnya Andy berniat untuk menyusul gadis itu.
“Ya berangkatlah And… hati-hati di jalan. Jangan mengebut..” Barra menanggapi anak mud aitu, dan laki-laki itu kemudian berjalan menuju ke kamarnya.
*****
Di perjalanan
Sepanjang perjalanan dari rumah sampai ke University of Helsinki, Andy tidak bisa menghilangkan pikirannya pada Gwen. Ketertarikannya pada gadis itu semakin terpupuk, meskipun anak mud aitu menyadari jika Gwen adalah istri dari kakak sepupunya. Tetapi siapa yang akan dapat menolak, jika panah asmara jatuh pada seseorang.
“Tapi sayang… seribu sayang, aku datang terlambat, kak Barra lebih dahulu bertemu dengan Gwen. Kenapa aku yang lebih muda dari kak Barra, malah sampai sekarang belum bertemu dengan gadis kriteriaku. Ketika menemukannya, ternyata sudah menjadi milik kak Barra. Andai saja... andai saja, kak Barra ada masalah dengan Gwen, dan akhirnya berpisah, aku yang paling pertama akan melakukan pendekatan pada gadis itu...” Andy senyum-senyum sendiri, terbenam dalam lamunan.
Karena pikirannya berputar kemana-mana, Andy sampai tidak sadar jika lampu merah di traffict light sudah berganti menjadi warna hijau.
„Tin... tin... tin...” Andy tergagap karena bunyi klakson di belakangnya terus berbunyi,
„Oh my God... kenapa aku bisa sampai melamun, dan tidak sadar jika lampu sudah berganti menjadi hijau kembali...” Andy tersenyum kecut, dan anak muda itu kemudian menginjak pedal gasnya.
Untuk mengurangi rasa malu, anak muda itu melajukan mobil yang dikendarainya dengan cepat.
__ADS_1
**********
University of Helsinky
Gwen membawa Ducati yang dikendarainya di tempat parkir yang ada penutup di atasnya. Beberapa anak muda tampak duduk-duduk di atas motor mereka, dan tampak sedang berbincang. Ketika Gwen menghentikan motor di tempat parkir, anak-anak mud aitu belum menyadari jika Gwen adalah seorang gadis. Tetapi Ketika Gwen melepaskan helm, kemudian mengibaskan rambutnya, barulah anak-anak muda itu sadar jika pengendara motor mahal itu adalah seorang gadis.
“Suit… suit…” Gwen mengabaikan tingkah usil anak-anak muda itu.
Gadis itu segera turun dari atas Ducati, dan tanpa melepas jaket yang dikenakannya, Gwen bermaksud untuk meninggalkan tempat parkir. Namun naas.., ada tiga anak muda yang mencegat Langkah gadis itu. Sudut mata Gwen naik ke atas, dan gadis itu memindai tiga anak muda yang berdiri di depannya.
“Minggir… atau kalian akan berurusan denganku..” tidak mau bertele-tele, Gwen berbicara dengan nada bermusuhan.
„Hadeh girl... canti-cantik kok pemarah sih. Kita bolehlah kenalan dengan rider girl sepertimu, karena bisa dihitung dengan jari berapa gadis yang membawa sepeda motor ke college. Dan untuk Ducati, hanya satu saja yaitu kamu.” Satu laki-laki di depan gadis itu menanggapi perkataan Gwen.
„Iya nih... kita tidak akan mengganggumu, hanya ingin kenal denganmu saja, Boleh kan..” satu laki-laki lainnya dengan senyum smirk menggoda Gwen.
Gwen tampak bersiap, dan gadis itu tidak mau membuang waktu hanya untuk berurusan dengan para anak muda itu. Tetapi sebagai anak baru, Gwen juga berpikir untuk tidak menambah permusuhan. Akhirnya Gwen mengambil nafas panjang, kemudian...
„hempph jika hanya mau kenalan boleh, asalkan tidak ngelantur kemana-mana. Aku ada kelas pagi di kelas Desain Interior semester 1, tahu bukan dimana harus mencariku. Call me dengan panggilan Gwen..” tidak mau banyak menghabiskan waktu dengan berurusan dengan anak-anak itu, Gwen menyelinap pergi meninggalkan tiga anak mud aitu.
“Okay Gwen… kita akan jumpa lagi..” untung saja, ketiga anak muda itu memang hanya ingin berkenalan dengan gadis itu. Jadi, Gwen bisa melenggang bebas meninggalkan mereka,
********
__ADS_1