
Mendengar bel pintu apartemen berbunyi, Jacqluinne yang sudah merasa lemas kehabisan tenaga, tidak mampu lagi melakukan pergerakan. Perempuan itu mematikan semua lampu kamar, dan tidak berani bergerak, apalagi menimbulkan suara. Ingatan tentang Antonius, dan Mack benar-benar menghantui perempuan itu. Baru kali ini, perempuan yang sangat terobsesi dengan ketenaran, dan selalu tidak menghiraukan Batasan halal dan haram itu, betul betul merasakan ketakutan. Yang mencekam.
“Apa yang harus aku lakukan saat ini Tuhan… Tidak mungkin jika aku akan melompat turun dari balkon. Saat ini kamarku berada di lantai tujuh, nyawaku akan bisa melayang..” kembali kecemasan menghantui perempuan itu.
„Berikan mukjizat untukku Tuhan... aku akan berubah. Hidupku akan aku abdikan untuk Mike putraku, jika suamiku Andy sudah tidak mau menerimaku. Beri aku kesempatan Tuhan...” mulut perempuan itu terus berkomat kamit, menghiba dan mengharap Tuhan akan menunjukkan Kuasa – Nya. Perempuan itu benar-benar menangis, merasa teringat kembali dengan dosa dosa di masa lalunya,
„Tok.. tok.. tok... bruak.. bruak..” karena bunyi bel tidak membuatnya untuk merespon, terdengar gedoran di pintu masuk ruangannya.
Jacqluinne menjadi semakin panik, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Perempuan itu membuka balkon, namun tidak terlihat ada akses untuk melarikan diri dari tempat itu. Ketika perempuan itu mencoba melongok ke bawah, hanya pantulan matahari dari atas bangunan di bawah apartemen itu, yang menyilaukan pandangannya.
“Bagaimana ini Tuhan… apakah aku harus mati konyol, atau akan mencoba untuk memberikan perlawanan pada orang-orang itu..” perempuan itu terus berpikir.
Pikiran Jacqluinne benar-benar buntu, dan akhirnya dengan sedikit kekuatan yang tersisa, perempuan itu Kembali masuk ke dalam kamar. Tiba-tiba pandangan mata perempuan itu, melihat ke atas kitchen set. Ada tongkat bisbol di atas kitchen tersebut. Seperti mendapatkan ide bagus, Jacqluinne segera bergegas mengambil tongkat bisbol dari atas rak tersebut.
“Aku harus memberanikan diriku, jikapun aku harus berakhir dengan mati konyol, paling tidak aku sudah berusaha Jadi, jikalau aku mati, arwahku tidak akan penasaran.” Tangan perempuan itu menimang nimang tongkat bisbol di tangannya.
Tidak lama kemudian, setelah mengumpulkan keberanian, akhinrya perempuan itu berjalan dengan berjinjit kaki ke arah pintu keluar. Di depan pintu, Jacqluinne mengambil nafas panjang, menyiapkan diri dengan berbagai kemungkinan yang terjadi. Tangan perempuan itu akan memegang handle pintu, ingin mengintip siapa yang berada di balik pintu tersebut,
“Tet.. tet..” tubuh Jacqluinne terlonjak ke belakang, sampai tongkat bisbol di tangannya terjatuh. Suara bel berbunyi Kembali mengagetkan perempuan itu, dan semangat untuk menghadapi orang di luar pintu perlahan luruh.
__ADS_1
“Brak… brak… brak.. open the door please.. Miss Jacqluinne…!” terdengar teriakan laki-laki yang tidak dikenalnya, dan gedoran di daun pintu masuk.
Tubuh perempuan itu menjadi menggigil, berusaha membuat prediksi apa yang akan dihadapinya. Semangat yang tadi sudah muncul, perlahan menghilang. Jacqluinne meringkuk duduk di balik pintu.
“Jika kamu tidak mau membuka pintu, kami akan mendobraknya. Brak... brak... bruak...” tiba-tiba pintu di depan perempuan itu terbuka.
Secara reflek, sambil memejamkan mata Jacqluinne mengangkat tongkat bisbol kemudian mengayunkan ke depan.,
„Hentikan Jacqluinne.. jangan bertindak konyol…” terdengar suara Andy di telinga perempuan itu.
Jacqluinne merasa tidak percaya, dan perempuan itu perlahan membuka matanya. Ternyata apa yang didengarnya bukan tipuan. Di depannya saat ini, berdiri dengan gagah Andy dan beberapa orang di belakang laki-laki itu. Dengan sikap reflek, Jacqluinne menghambur ke pelukan suaminya, dan perlahan tubuh perempuan itu terkulai lemas, Jacqluinne akhirnya Kembali jatuh pingsan di pelukan Andy.
*********
Bau aroma theraphy membangunkan Jacqluinne yang dalam posisi pingsan. Perlahan perempuan itu membuka matanya, namun apa yang dilihatnya sekarang, semuanya dalam keadaan asing. Teringat dengan Antonius dan Mack, perempuan itu berusaha bangun dari posisi tidurnya,
“Tenanglah Jacqluinne.. ada aku disini. Jangan panik..” namun terdengar suara lembut Andy melarangnya.
Pikiran Jacqluinne seakan melayang begitu mendengar bagaimana Andy memanggilnya. Selama ini, laki-laki muda itu tidak pernah selembut ini memperlakukannya, dan selalu menganggap jika pernikahan yang terjadi antara mereka adalah sebuah kesalahan. Tetapi sepertinya Jacqluinne tidak salah mendengar, dan perempuan itu menatap sepasang mata teduh yang melihatnya dari atas.
__ADS_1
“Ini aku Andy.. Jacqluinne. Laki-laki yang masih berstatus sebagai suamimu untuk saat ini. Namun.. aku tidak tahu, bagaimana hubungan kita ke depannya. Istirahatlah dulu, karena kata dokter kamu mengalami dehidrasi, dan juga ada indikasi depresi. Jangan pikirkan laki-laki yang bernama Antonius maupun Mack, polisi sudah menahan mereka.” Kata-kata Andy sangat menenangkan dan memabukkan perasaan perempuan itu.
Jacqluinne menatap ke mata laki-laki itu, dan pasangan suami istri itu saling berpandangan. Tidak diduga, ketika mereka beradu pandang, degup jantung Jacqluinne dan Andy keduanya berdegup kencang. Ada kerinduan yang tidak pernah terungkap selama ini.., dan lewat tatapan mata itu keduanya saling mengekspresikan perasaannya.
„Bagaimana kamu bisa tahu jika mereka pelakunya Andy.. bukankah aku belum bicara apa-apa kepadamu..” dengan suara lirih, Jacqluinne mencoba mengkonfirmasi.
„Tidak ada yang bisa ditutup dari kak Barra Jacqluinne.. Kakak sepupuku, yang selama ini pernah akan kita hancurkan itu, yang telah memberikan pertolongan kepadamu. Kak Barra telah menggunakan koneksinya untuk melakukan penyelidikan, dan menghancurkan orang yang sudah memperdayamu. Sekarang... fokuslah untuk sembuh, dan ikutlah denganku untuk kembali ke Helsinki. Kamu harus meminta maaf, dan mengucapkan terima kasih pada kak Barra dan juga Gwen..” kata-kata Andy sangat mengejutkan Jacqluinne.
Sesaat perempuan itu seperti kehilangan kata-kata. Perempuan muda yang dibencinya selama ini, dan bahkan pernah diniatkan untuk dihancurkan kehidupan pernikahan oleh mereka, kali ini malah menjadi penolongnya. Andy menganggukkan kepala, menguatkan apa yang telah diucapkannya beberapa asat yang lalu. Tanpa sadar, air mata merembes keluar dari kelopak mata Jacqluinne. Dengan menggunakan jari tangannya, Andy mengusap air mata itu dengan lembut,
“An.. Andy.. “ mulut Jacqluinne bergetar, namun tidak ada kata yang berhasil diucapkan oleh perempuan itu.
Andy menurunkan wajahnya ke bawah, dan tidak diduga, laki-laki itu mengulum bibir Jacqluinne. Perempuan itu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki itu. Namun.. dengan cepat, perempuan itu membuka bibirnya, dan pasangan suami istri itu akhirnya berpagutan untuk beberapa saat. Andy melepaskan ciuman itu, Ketika menyadari jika istrinya hampir kehabisan nafas.
“Jacqluinne istriku… masih boleh bukan aku melakukannya padamu..” dengan berbisik, dan menatap mata istrinya, Andy bertanya.
Sambil tersenyum malu, Jacqluinne menganggukkan kepalanya perlahan. Melihat hal itu, Andy tidak menyia nyiakan kesempatan bagus itu. Laki-laki itu Kembali menundukkan wajahnya, dan kembali ciuman mesra terjadi di antara pasangan suami istri itu. Pagutan bibir yang kedua itu berlangsung dalam durasi waktu yang lebih lama, dari yang barusan mereka lakukan.
***********
__ADS_1