Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 69 Panik


__ADS_3

Keesokan paginya..


Ketika Barra masih bermalas-malasan di atas bed, tiba-tiba laki-laki itu teringat jika hari ini adalah kari ke dua puluh Gwen berada di karantina. Barra langsung tersentak, dan beranjak bangun dari atas ranjang. Laki-laki itu langsung


mencari ponsel, dan berharap ada pemberi tahuan dari istrinya.


“Barra… Miss Gwen Alvaretta sudah kembali menuju hotel dengan taksi. Karena aku sedang ada jadwal piket, aku tidak bisa mengantarkan gadis itu ke Aman Hotel. Aku hanya bisa membantunya untuk mencarikan taksi..” Barra tersentak membaca chat yang dikirimkan sejak kemarin oleh Ronnie.


“Kenapa aku bisa melupakan Gwen.. dan tunggu. Chat ini dikirim Ronnie kemarin sore, tapi kenapa aku tidak ketemu dengan istriku. Apakah Gwen kembali lagi menuju laboratorium ketika tidak menemuiku di hotel...?” tiba-tiba Barra menjadi panik.


Laki-laki itu ingat, kepulangannya ke Pant House disambut dengan manis oleh Jacqluine bukan oleh istrinya. Tiba-tiba saja pikiran buruk menghantui laki-laki itu..


“Jangan jangan… Gwen bertemu dengan Jacqluine, dan terjadi pertengkaran dengannya..” Barra segera membuka pintu kamarnya. Tidak melihat siapapun di ruang tengah, Barra bergeser menuju ke kamar yang ada di sebelah kamarnya.


Tetapi ketika laki-laki itu akan menuju ke kamar yang digunakan oleh Jacqluine tidur, mata laki-laki itu menatap ada lembaran invitation letter berwarna biru di atas meja. Barra segera mendatangi kembali ke meja di ruang tengah, kemudian mengambil kertas berwarna biru dan membacanya.


“Damn it… ini undangan gala dinner untuk nanti malam. Dengan undangan ini ada di atas meja, berarti Gwen benar-benar Kembali. Tapi kenapa gadis itu pergi tanpa berusaha untuk menungguku untuk memberikan undangan ini. Ataukah… “ kembali mengingat keberadaan Jacqluine yang selalu datang ke Pant House sesuka hatinya, Barra menjadi tersentak.


Laki-laki itu kembali bergegas menuju ke kamar yang digunakan Jacqluine istirahat. Di depan pintu kamar, Barra menggedor pintu untuk membangunkan perempuan itu. Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka dari dalam, dan terlihat Jacqluine yang masih mengucek mata membuka pintu.


“Jacqluine… sejak kapan kamu datang ke kamar ini. Apakah kamu bertemu dengan seorang gadis... kemarin sore?” tanpa ba bi bu, Barra segera mengejar perempuan itu dengan pertanyaan.

__ADS_1


„Gadis... siapa, apakah keponakanmu? Aku melihatnya kemarin sedang berada di dalam kamarmu sayang.. tapi aku tidak tahu kemana perginya. Tatapan keponakanmu sangat tidak bersahabat, dan seperti menatapku dengan aura bermusuhan.” Dengan santai, Jacqluine menceritakan pertemuannya dengan Gwen kemarin.


„F***uck.. kamu bertemu dengannya. Apa yang kamu bicarakan dengannya..?” intonasi kata Barra semakin meninggi, dan hal itu membuat Jacqluine menjadi terkejut.


“Aku tidak banyak bicara dengannya, aku hanya mengenalkan diriku kepadanya. Aku jujur katakan, jika aku adalah kekasihmu Barra.. Tidak ada yang salah bukan... Tetapi tidak tahu kenapa, gadis itu malah mengusirku keluar. Yah.. tidak mau membuat keributan, akhirnya aku tinggalkan gadis itu, dan aku masuk ke kamar ini. Apakah ada yang salah barra, kenapa kamu terlihat panik..” mendengar kata-kata Jacqluine, mendadak Barra menjadi lemas.


„Pasti ada kesalah pahaman disini… Kamu salah beb… kamu sudah lancang mengatakan pada gadis itu, jika kamu adalah kekasihku. Kita sudah tidak ada hubungan lagi, ingat itu Jacqluine. Kepergianmu meninggalkanku beberapa tahun lalu, sudah membuatku memupus harapan kepadamu. Pergi kamu dari kamarku ini beb… pergi..” tiba-tiba Barra kembali bersuara dengan nada tinggi. Kepergian Gwen meninggalkannya ternyata menimbulkan rasa kehilangan pada laki-laki itu.


Jacqluine kaget dengan reaksi yang diperlihatkan oleh Barra. Gadis itu memandang takut pada laki-laki yang menatapnya dengan kemarahan.


“Apa yang terjadi sayang.., kenapa kamu mendadak marah kepadaku. Apakah tindakanku salah, apapun yang kamu lakukan padaku, aku masih menganggapmu sebagai kekasihku sayang..” Jacqluine berusaha tetap mendekat pada Barra. Namun laki-laki itu menolaknya, dan malah mundur ke belakang.


„Kamu sudah mengacaukan semua Jacqluine… kamu selalu datang dalam kehidupanku, dan memporak porandakan semuanya. Gwen bukan keponakanku, tapi gadis polos itu adalah istriku. Gadis yang sudah aku nikahi sejak dua bulan lebih yang lalu. Kamu telah mengacaukan hubungan kami Jacq... pergilah sebelum aku kehilangan


Mendengar penjelasan dari laki-laki itu, Jacqluine terlihat sangat terkejut. Perempuan itu sama sekali tidak menyangka, jika Barra sudah memiliki seorang istri. Dan gadis yang diperistrinya masih seorang anak kecil, yang pantas untuk menjadi keponakannya. Dengan mata berlinang, Jacqluine masih menatap Barra.


“Jangan marah sayang… jika gadis itu pergi, berarti dia tidak mencintaimu sayang. Buktinya dia meninggalkanmu. Hal ini menjadi kesempatan untuk kita kembali bersatu sayang, kita akan merajut Kembali hubungan kita yang tertunda..” dengan tidak tahu malu, Jacqluine malah semakin mendekati Barra.


Melihat hal itu, laki-laki itu bertambah marah.


„Aku beri waktu maksimal tiga puluh menit. Berkemaslah, dan tinggalkan kamar hotelku. Atau aku akan memperkarakanmu, yang sudah tanpa ijin masuk ke kamar hotelku.” Dengan nada ancaman, Barra terus mengusir gadis itu keluar.

__ADS_1


Mendapatkan ancaman itu, dan mengingat karirnya sebagai model internasional, membuat nyali Jacqluine menjadi ciut. Perempuan itu berpikir jika membangun karinya tidak mudah, butuh nyali dan pengorbanan yang besar.,


“Jangan impulsive sayang… aku akan memberikanmu waktu untuk menenangkan diri. Aku akan berberes perlengkapanku dulu di kamar. Aku akan meninggalkanmu sendirian...” Jacqluin segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar dengan keras.


********


Di dalam kamar


Kembali ke dalam kamar membuat Barra menjadi tersadar. Laki-laki itu baru tahu jika semua pakaian dan perlengkapan Gwen sudah tidak ada satupun tersisa di kamar tersebut. Bahkan ponsel gadis itu juga tidak terlihat di atas meja. Barra segera mengambil ponselnya, kemudian dial nomor Gwen beberapa kali. Sepertinya Gwen sudah memblokir nomornya, karena tidak terdengar nada sambung dari istrinya.


“Apakah istriku Kembali ke laboratorium… karena ponselnya tidak bisa dihubungi. Ataukah aku menyusulnya saat ini..” Barra berpikir panik. Tiba-tiba saja laki-laki itu teringat dengan temannya Ronnie, yang bertugas di laboratorium tersebut. Beberapa saat kemudian, Barra segera tersambung dengan ponsel Ronnie.


“Hi bro… ada apa menghubungiku. Miss Gwen sampai di hotel aman bukan, dan jangan lupa ingatkan jika nanti malam acara Gala dinner. Jangan sampai gadis itu lupa karena terlalu asyik berkeliling New York. Kamu pasti juga akan datang bukan…?” ternyata dari kata-kata Ronnie, sepertinya mengisyaratkan jika istrinya belum sampai kembali ke laboratorium.


„Of course bro... terima kasih ya atas bantuannya untuk Gwen. Hany aitu saja aku menghubungimu Ronnie.. nanti malam kita akan berjumpa lagi..” akhirnya Barra membelokkan niatnya menghubungi temannya tersebut.


Setelah mematikan ponselnya, kembali laki-laki itu dilanda kegundahan. Terbayang jika istrinya melakukan kesalahan, dan tersesat di kota New York.


“Kakek Madja dan Andrew pasti akan marah besar kepadaku, jika tahu istriku pergi sendiri meninggalkanku. Ah…” Kembali Barra memukul mukul kepalanya. Laki-laki itu merasa bingung, dan menunggu waktu malam untuk membawa istrinya pada acara Gala Dinner.


„Tapi aku yakin, nanti malam Gwen tidak akan meninggalkan acara terakhir Olimpiade. Aku akan datang ke acara, dan membawa kembali istriku untuk pulang...” akhirnya Barra berharap pada acara nanti malam. Pada kesempatan itu, laki-laki itu yakin akan bisa pulang membawa Gwen kembali.

__ADS_1


***********


__ADS_2