Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 90 Cemburu


__ADS_3

Beberapa langkah mendekati pintu, tatapan Gwen terpana melihat kedekatan suaminya dengan Stephanie. Gadis itu tidak percaya jika suami dan pamannya duduk berdua, dengan dua perempuan berinteraksi sangat dekat pada mereka. Bukan hanya Gwen dan Nyonya Santa yang terkejut, dua laki-laki itu juga tidak kalah terkejutnya. Gwen terdiam, tidak tahu apa yang akan dilakukannya melihat keadaan itu.


„Juga yang penting untuk kamu pertimbangkan Gwen sayang… Banyak perempuan yang antri ingin bersaing denganmu, untuk bisa mendapatkan suamimu..” kata-kata dari mama mertuanya yang tadi diucapkan di butik, Kembali terngiang jelas di telinga gadis itu.


“Apa-apaan ini Barra… Andrew.. karyawanmu melarang kami berdua untuk masuk ke ruang kerjamu, ternyata hanya ini yang kalian lakukan di dalam.” Berbeda dengan Gwen yang masih berdiri terpaku di depan pintu, Nyonya Santa langsung menegur kedua laki-laki itu.


Dua perempuan yang duduk berdekatan dengan Barra dan Andrew, terlihat santai tidak mempedulikan respon dari perempuan paruh baya itu. Barra melirik kea rah Andrew, mengisyaratkan minta bantuan pada laki-laki itu. Namun Andrew hanya mengangkat satu bahunya ke atas.


“Mama… kenapa tidak menelpon Barra lebih dulu, jika akan datang ke kantor mam…” tampak Barra berdiri dan bertanya pada mamanya.


Mendengar Barra menyebut Nyonya Santa dengan panggilan mama, dua perempuan yang berada di dekat dua laki-laki itu menggeser posisi duduknya. Barra segera bergegas mendatangi istrinya yang masih terpaku menatapnya di depan pintu. Laki-laki itu mengulum senyum, dan tanpa berkedip memandang takjub dengan perubahan baru pada istrinya. Jika tidak menajamkan penglihatan, Barra hampir tidak mengenali perubahan pada gadis itu. Gwen yang sangat jauh dengan make up sehari-hari, kali ini terlihat lebih matang dan ranum,. Dibantu dengan riasan tipis di wajahnya. Apalagi didukung dengan fashion yang tampak serasi di tubuhnya.


“Apa yang kamu katakan Barra... jadi jika mama atau terlebih istrimu akan datang berkunjung ke perusahaan, terlebih dahulu harus memberitahukan kepadamu.” Seperti mendapatkan alasan untuk marah, Nyonya Santa mendamprat laki-laki itu.


“Mmmpph .. bukan seperti itu mam… ini Barra dan Andrew sedang diskusi tentang rencana perluasan pasar. Tidak ada lainnya mam… jadi kami butuh waktu untuk sendiri berempat. Mama jangan ada pikiran buruk dengan kami mam...” Barra berusaha menenangkan orang tua yang sudah melahirkannya itu. Laki-laki itu tetap melanjutkan langkahnya menghampiri istrinya.


Dari kursi tempatnya duduk, Andrew hanya tersenyum melihat interaksi mama dan putranya itu. Dan ketika melihat keponakannya tampak hanya diam tidak bersuara, ataupun menunjukkan reaksi apapun, menjadikan laki-laki itu berpikir.


„Respon Gwen bisa dilihat dari wajahnya yang datar… Sepertinya keponakanku terlihat sudah memiliki rasa pada Barra..” Andrew bergumam dalam hati, dan sengaja membiarkan kejadian itu terjadi secara alami di depannya.

__ADS_1


Tetapi hal berbeda terjadi pada Stephanie ketika mendengar Nyonya Santa menyebut kata istri. Selama ini, dalam circle mereka belum mendengar jika Barra Xavier Gibran dan Andrew sudah memiliki pendamping hidup. Tetapi dengan jelas, perempuan paruh baya itu menyebut kata istri di depan mereka. Stephanie tiba-tiba saja menjadi geram, dan menatap pada Fiona.


„Kita amati dulu saja Stephanie.. kita belum tahu kebenarannya..” Fiona berbisik pada Stephanie.


„Apa yang kalian ragukan, mereka berdua memang sudah menikah. Barra sudah menikah dengan gadis itu… kamu harus bisa menerimanya Stephanie. Aku tahu, kamu mencintai Barra bukan.. Meskipun kamu tidak pernah berbicara apapun, namun dari gerak gerikmu, semua terlihat dengan jelas..” Andrew yang mengetahui apa yang dipikirkan oleh dua teman bisnis Barra itu, turut memberikan komentar.


Stephanie melihat ke arah Andrew yang berbicara pada mereka, tetapi akhirnya tidak ada pilihan lain bagi mereka selain hanya tersenyum pahit.


*********


Melihat Barra yang mendatanginya, Gwen malah langsung membalikkan badan dan berjalan keluar dari dalam ruang kerja tersebut. Barra tersenyum kecut, tetapi dalam hati laki-laki itu merasa senang dengan sikap yang ditunjukkan oleh istrinya. Sepertinya Gwen sudah memiliki perasaan cemburu kepadanya. Laki-laki itu segera bergegas mengejar istrinya..


Barra menggenggam pergelangan tangan Gwen, dan menghentikan langkah kaki istrinya. Gwen berhenti dan melihat ke arah suaminya dengan tatapan kosong.


“Kedatangan Gwen dan mama mengganggu aktivitas kak Barra dan Om Andrew bukan.. Tidak afdol kak, jika Gwen tetap berada disini, malah akan mengacaukan semua urusan kak Barra, termasuk urusan dengan dua perempuan itu..” dengan nada datar tanpa ekspresi, Gwen mengeluarkan kekesalannya,


“Tidak akan sayang… kedatanganmu malah menjadi support untukku sayang. Ikutlah denganku kembali masuk ke dalam.., aku akan mengenalkan pada dua kolegaku. Jangan salah sangka honey, dua perempuan itu mitra bisnis perusahaan sayang. Mereka expert melakukan riset pasar, dan perusahaan kita saat ini sedang butuh jasanya untuk mengembangkan pasar..” Barra berusaha menjelaskan keberadaan Stephanie dan Fiona pada istrinya,


Gwen tersenyum sinis, dan memberanikan diri menatap langsung ke mata suaminya. Barra masih memegangi kedua tangan istrinya, seakan enggan melepaskannya. Tidak tahu mengapa, laki-laki dewasa itu seketika berubah seperti anak remaja yang mempertahankan hubungan dengan cinta monyetnya.

__ADS_1


“Tidak perlulah kak Barra sampai menjelaskan seperti itu pada Gwen…harus saling memaklumi bukan. Begitupun juga dengan Gwen, akan punya kebebasan untuk bermain, konkow dengan teman laki-laki. Hal yang sama juga kak Barra boleh melakukannya..” Barra kaget dengan kata-kata istrinya.


Laki-laki itu menjadi seperti mati gaya..., tanpa memperhatikan sekeliling, laki-laki itu malah memeluk tubuh istrinya dengan erat, dan memberinya ciuman di kening gadis itu. Kata-kata yang diucapkan Gwen seakan menyindirnya telak.


„Jangan begitulah honey... kamu hanya milikku satu-satunya, bukankah kita sudah berjanji untuk menjadi pasangan suami istri seutuhnya,,” laki-laki itu seakan-akan menegaskan stempel kepemilikan pada gadis itu.


Tanpa pasangan suami istri itu sadari, interaksi keduanya direkam dan difoto oleh sekretaris perusahaan. Keterkejutan sekretaris mendengar dan melihat interaksi keduanya, ingin di share dan diberi tahukan ke seluruh karyawan. Perempuan itu merasa, jika hanya kata-kata yang disampaikan pada teman-temannya, pastilah dirinya akan dikatakan membuat fitnah. Makanya dengan dibuktikan ada rekaman dan foto-foto, akan lebih meyakinkan bagi dirinya.


“Guys… good news.. ternyata boss kita, boss Barra Xavier Gibran sudah memiliki istri yang sangat cantik dan mungil guys… Perkiraan kita selama ini ternyata keliru… Bukti terlampir..” sekretaris itu segera mengunggah foto dan rekaman video interaksi atasan dan istrinya.


„What the  fu***ck... kenapa kita bisa tidak tahu…” seperti yang sudah diprediksikan, grup chat karyawan di perusahaan itu menjadi heboh.


„Hadeh... patah hatiku... remuk redam.” Komentar karyawan perempuan yang lain.


“Bukan cuma dirimu saja yang patah hati girls… dunia ikut patah hati semuanya. Boss Barra Xavier Gibran merupakah salah satu executive yang menjadi incaran gadis-gadis untuk dinikahi.” Sahut lainnya…


“Benar… hari patah hati sedunia, jatuh hari ini…” grup chat karyawan perusahaan menjadi heboh. Karyawan perempuan yang selama ini hanya bisa melihat dan mengagumi Barra, meluapkan isi hatinya saat ini.


*************

__ADS_1


__ADS_2