
Menjelang tengah malam, akhirnya Barra memutuskan untuk kembali ke Pant House. Tubuhnya sudah merasa penat, karena mencermati semua pekerjaan yang tertunda. Tidak mau memaksakan diri, akhirnya laki-laki itu bergegas Kembali ke dalam kamar. Petugas hotel menganggukkan kepala, Ketika melihat Barra keluar dari dalam restaurant.
“Terima kasih tuan… ditunggu kedatangannya Kembali..” sambil tersenyum ramah, gadis muda itu mengangguk hormat pada Barra.
Laki-laki muda itu hanya menanggapinya dengan menarik satu sudut bibirnya ke samping. Dengan membawa gadget di tangannya, Barra segera melangkahkan kaki ke pintu lift khusus. Hotel itu memang membedakan pintu lift untuk tamu di kamar hotel kebanyakan, dengan Pant House. Penghuni Pant House dijaga ke privacy annya, dan ada aturan tidak sembarang orang boleh naik ke atas.
“Aku akan langsung tidur saja malam ini.. punggungku terasa pegal semuanya.” Barra bergumam lirih.
Tanpa memperhatikan kanan kiri, Barra terus menuju ke pintu lift khusus. Tetapi beberapa meter laki-laki itu mendekati pintu lift, tiba-tiba...
„Brukk... aaawww....” tanpa sadar, ternyata Barra menabrak seorang perempuan, dan perempuan itu menjerit.
Laki-laki itu tetap berdiri di tempat, karena merasa bukan dirinya yang menabrak. Tetapi perempuan itu yang sudah menabraknya. Tidak lama kemudian, security hotel berlari datang dan membantu perempuan itu berdiri. Dan Ketika mereka saling memandang, jantung Barra seakan berhenti berdetak…
“Jacqluine… is that you baby…?” dengan setengah berbisik, Barra menatap wajah gadis cantik di depannya itu dengan tidak percaya. Malam ini, Jacqluine kekasihnya di masa lalu, yang memutuskan untuk pergi meninggalkannya secara sepihak itu terlihat sangat cantik. Pakaian malam yang elegan tampak membungkus tubuhnya, dan lekukan tubuh perempuan itu seperti menghipnotis setiap pria yang menatapnya. Sesaat kenangan-kenangan indah dengan gadis itu terpampang dalam ingatan laki-laki itu.
Perempuan itu tidak jauh berbeda, dia juga terkejut dan menatap ke wajah Barra dengan penuh perhatian. Perempuan itu berjalan lebih dekat kea rah laki-laki itu.
“Barra…akhirnya kita dipertemukan Tuhan disini.. Aku mencarimu kemana-mana Barra, tetapi akses untukku seperti tertutup rapat..” mengetahui jika laki-laki di depannya itu, pernah menjalin hubungan percintaan dengannya untuk waktu yang lama, perempuan Bernama Jacqluine itu menatap dengan tidak percaya.
__ADS_1
Tanpa diketahui siapa yang memulai, dua orang berbeda jenis kelamin itu saling mendekat. Keduanya saling berpelukan erat, dan tampak terlihat jika Barra memiliki perasaan khusus pada perempuan itu. Demikian pula dengan perempuan Bernama Jacqluine itu. Beberapa saat berpelukan, akhirnya Barra tersadar jika dia tidak boleh melakukannya. Laki-laki itu dengan kasar melepaskan pelukan itu, dan sangat membuat perempuan itu terkejut.
“Kenapa kamu menyentakkanku Barra… apakah kamu melupakanku..” dengan tatapan terkejut dan tidak rela, perempuan itu menatap ke wajah Barra.
Barra terdiam, dan muncul pertentangan dalam hati laki-laki itu. Tetapi untungnya Barra segera tersadar, jika saat ini mereka berada di tempat umum. Orang yang melintas di tempat itu menatap mereka berdua.
„Jacqluine... tidak baik jika kita berbicara disini. Ikutlah aku ke atas, aku tinggal di Pant House hotel ini..” tanpa berpikir panjang, Barra menarik tangan Jacqluine dan membawanya masuk menuju pintu lift khusus. Laki-laki itu ingin mendengarkan penjelasan dari kepergian Jacqluine selama ini,
“Jika aku tahu kamu berada di Pant House Barra... aku mungkin tidak perlu menyewa kamar hotel. Aku bisa join denganmu sayang…” Jacqluine menyandarkan kepalanya di lengan atas Barra, dan laki-laki itu membiarkannya.
“Hemmph… dimana kamu tinggal disini Jacqluine.. Banyak hal yang akan aku konfirmasi kepadamu... kamu berhutang penjelasan padaku.” Laki-laki itu tidak melarang tindakan perempuan itu. Bahkan ketika jari-jari tangan Jacqluine bergerak-gerak di dadanya, Barra masih membiarkannya.
Barra terdiam, dan sesaat laki-laki itu tersadar untuk alasan apa dia datang ke negara ini. Tiba-tiba saja Barra teringat Gwen istrinya yang polos, dan sesaat laki-laki itu merasa bersalah pada istrinya tersebut. Tetapi melihat situasi malam ini, dan dirinyalah yang mengajak Jacqluine untuk main ke Pant House, tidak mungkin jika Barra mengusir perempuan itu.
“Kok tidak jawan kata-kataku sayang.. malah melamun..” Jacqluinee menyadari jika laki-laki yang saat ini di peluknya itu sedang melamun.
Tapi untung saja pintu lift sudah berhenti, dan tidak lama pintu terbuka dengan sendirinya. Barra langsung membawa keluar perempuan yang bersamanya itu. Tetapi untung saja, Barra tersadar jika tidak membawa perempuan itu untuk masuk ke kamar. Akhirnya Barra memilih ruang tengah untuk menerima Jacqluine.
“Hempph… sangat mewah sekali Pant House yang kamu tempati sayang. Kamarnya ada dua lagi, apakah boleh nih jika mala mini, aku menginap disini..” tiba-tiba saja Jacqluine seperti menyadari, jika di depannya ada dua kamar dalam pant House. Perempuan itu langsung membuat permintaan pada Barra.
__ADS_1
Barra terdiam, laki-laki itu seperti dalam kebimbangan. Meskipun jika malam ini, Jacqluine menginap di tempat ini, Gwen tidak akan mengetahuinya, tetapi ada terselip perasaan bersalah dalam diri laki-laki itu. Tetapi Barra juga tidak bisa membiarkan gadis itu sendiri. Banyak hal yang harus dijelaskan oleh gadis itu kepadanya.
„Sayang... kok malam diam dan melamun, apakah pertanyaanku kali ini keliru sayang..” Jacqluine mendekati Barra yang menyandarkan punggungnya di sofa.
Jari-jari lentik Jacqluine bermain-main di dada laki-laki itu, dan tidak dipungkiri memancing hasrat manusia purba Barra. Pupil mata Barra terasa mengecil, dan nafasnya menjadi tidak teratur. Dengan mata berkabut, Barra menatap ke perempuan yang sangat dirindukannya itu.
“Tidak apa baby… aku hanya tidak percaya saja, jika kita masih punya kesempatan untuk dipertemukan. Jujur saja, aku masih kaget dan belum percaya dengan keadaan ini…” dengan tergagap, Barra memundurkan badannya berusaha menjaga jarak dari perempuan itu.
“Mmmpphh… jika begitu, kamu pasti mengijinkanku bukan untuk menginap mala mini disini..?” Jacqluinee terus mendesak.
“Bagaimana ya beb… kita sudah lama berpisah, dan tiba-tiba dipertemukan mala mini. Apakah bukan merupakan penghinaan bagimu, jika tiba-tiba saja kita tidur dalam kamar hotel yang sama..?” Barra mencoba mengalihkan pola pikir Jacqluine.
Mendengar perkataan dari laki-laki itu, Jacqluine seperti kaget. Sejak dulu, Ketika mereka masih Bersama di Jakarta, Barra terkenal sebagai anak muda yang lugu, dengan sahabat Bernama Andrew. Sedangkan dirinya, sebagai seorang model, tidak perlu ditanya lagi, berapa orang yang sudah Bersama dengannya. Mengingat hal tersebut.. akhirnya..
“Sayang.. bukankah ruangan ini memiliki dua kamar, jika sayang masih belum yakin padaku, kita bisa tidur berpisah
kamar.” Jacqluine semakin mendekati laki-laki di depannya itu.
Mereka saling beradu pandang, dan tubuh mereka semakin dekat. Bahkan keduanya bisa merasakan nafas dari mereka masing-masing.
__ADS_1
***********