Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 192 Kerja Cepat Asep


__ADS_3

Hari-hari berikutnya…


Gwen sudah berkomunikasi dengan Cynthia dan Hans. Mereka mengatur janji untuk bertemu di kampus, dan student lounge menjadi tempat mereka untuk bertemu. Hans dan Cynthia tidak akan menduga, jika akan bertemu kembali dengan Gwen setelah empat tahun mereka terpisah, dan selama ini berkomunikasi vie email.


“Hi Gwen… come here ..!” baru saja Gwen keluar dari mobil suaminya, terdengar suara seseorang memanggil dirinya.


“Siapa honey yang memanggil..?” Barra yang mendengar suara laki-laki memanggil istrinya bertanya pada Gwen.


Gwen menoleh ke sumber suara, dan terlihat di depan lobby Hans melambaikan tangan ke arahnya. Hans tidak kaget dengan penampilan baru Gwen, karena di email gadis itu sudah berpesan untuk tidak heboh Ketika mereka bertemu pertama kalinya. Terbiasa tinggal di Dubai, Gwen lebih memilih untuk menutup semua bagian tubuh dengan pakaian hijab. Hanya untuk niqab sudah tidak lagi dikenakan selama berada di Finlandia.


“Hans kak… kami memang mengatur janji ketemu, dengan Cynthia juga..” sambil membalas lambaian tangan Hans, Gwen menjawab pertanyaan suaminya.


“Baik honey… temui teman-temanmu, dan having fun..” Barra mengambil nafas lega, dan perlahan laki-laki itu segera menginjak pedal gas sambil tersenyum menatap wajah istrinya.


Gwen segera melangkahkan kaki menuju Hans yang tengah menunggunya. Senyum lebar terlihat dari laki-laki itu,…


“Aku hampir saja tidak mengenalimu Gwen… Betul-betul sangat excited aku melihatmu..” Hans mengamati penampilan baru dari sahabatnya itu. Tatapan Hans seakan memindai Gwen dari atas sampai ke bawah, dan dilakukannya berkali-kali.


“Hans… jaga pandanganmu. Aku tidak mau, aku menjadi objek keingin tahuanmu.. By the way.., dimana Cynthia, kenapa tidak bersamamu..” karena mereka mengatur janji bertiga, tidak adanya Cynthia Bersama Hans menimbulkan tanda tanya.


“Jangan khawatir Gwen… akulah yang perlu untuk kamu khawatirkan. Cynthia sudah jadian dengan Asep…, jadi yah pastilah dengan ditemani Asep menunggu di tempat kita janjian..” wajah Hans sangat terlihat sedih, dan Gwen tersenyum melihatnya.


“Ha.. ha.. ha.., rupanya tinggal kamu sendiri yang masih jomblokah..?? Makanya Hans… rumah dong penampilanmu. Penampilan metroseksual sepertimu, membuat ilfill gadis-gadis yang akan mendekatimu. Jika di negaraku Indonesia, penampilanmu berkesan melambai, dan itu hanya dimiliki orang-orang yang punya penyimpangan orientasi sek**sual.” Gwen mentertawakan sahabatnya.


“Bukannya simpati dengan keadaanku, kamu malah mentertawakanku Gwen.. Paling tidak, aku bahagia dengan diriku..” Hans terlihat ngambek.

__ADS_1


Laki-laki itu berjalan mendahului Gwen, dan gadis itu berlari kecil mengejar laki-laki itu.


„Sudahlah Hans.. jika kamu ngambek seperti aku akan meninggalkanmu sendiri. Aku malas bertemu dengan kalian di student lounge..” karena Hans terkesan meninggalkannya, Gwen tersenyum dan membuat ancaman.


Tiba-tiba Hans berhenti dan menunggu Gwen. Tampak bibir laki-laki itu masih terlihat cemberut. Tidak diduga, Gwen malah mengeluarkan ponsel dan mengambil foto wajah Hans yang cemberut melihatnya.


“Hey… apa yang kamu lakukan Gwen.. Jangan meledekku..” Hans memprotes Tindakan Gwen.


Gwen malah berhenti, kemudian membuka gallery di ponsel.


“Lihat nih wajahmu jika sedang merajuk Hans... Ini dominan banget sikap perempuan deh.” Gwen mendekat pada Hans, dan menunjukkan foto yang baru saja diambilnya pada laki-laki itu.


Hans tampak mengamati foto yang ditunjukkan Gwen, dan kening laki-laki itu berkerut. Laki laki itu seperti menyangsikan sendiri bagaimana dirinya bersikan selama ini..


“Hans… bukannya aku mengkritik penampilanmu guys… Tapi, sebagai seorang teman kita  harus saling memberi kritik dan saran bukan, Jika aku mengatakan, penampilanmu ini it,s okay dan sangat digilai cewek-cewek.. berarti aku sama saja dengan menceburkanmu ke dalam got.. Rubahlah penampilanmu Hans.., jika memang kamu ingin memiliki kekasih perempuan, dan pada akhirnya akan menikah dengannya.” Akhirnya dengan suara pelan, Gwen memberi masukan pada sahabatnya itu.


„Gwen.., help me please...!! Aku ingin merubah penampilanku, mungkin lingkungan di sekitarku yang membentuk penampilanku menjadi seperti ini. Tapi… swear Gwen.., aku ini laki-laki normal, dan tidak ada penyimpangan orientasi sek**sual. Aku juga tertarik dengan perempuan, sama dulu di awal pertemuan kita, aku juga tertarik denganmu. Melihatmu sudah punya suami, aku menepis rasa kagumku kepadamu..” dengan tatapan memohon, Hans tampak berharap.


Gwen tersenyum, meskipun dalam hati gadis itu sedikit kaget, namun dengan cepat Gwen merubah cara pandang, dan juga reaksinya.


„Kita akan bersama-sama memperbaikinya Hans. Semua tergantung dari niat darimu.. Nanti aku akan diskusi dengan Aldo dan Asep, untuk membawamu ke tempat yang memang tongkrongan laki-laki..” Gwen memberi tanggapan.


Hans menganggukkan kepalanya secara perlahan, dan Gwen segera meraih tangannya serta menggandengkan tangan menuju ke tempat yang akan mereka datangi.


**********

__ADS_1


Student Lounge...


Tampak Cynthia terlihat gelisah, sejak tadi gadis itu hanya mengaduk-aduk minuman coklat yang ada di gelasnya. Di samping gadis itu, tampak Asep yang memegang ponsel, seperti sedang berkomunikasi melalui chat.


„Asep... kenapa Gwen belum datang-datang juga ya.. Hans juga mana lagi.. anak itu memang tidak bisa diharapkan.” Tampak Cynthia terlihat tidak sabar.


Asep meletakkan ponsel di tangannya ke atas meja, dan anak muda itu melihat ke arah Cynthia.


„Sabar Cynt... tidak ada yang berubah pada diri Gwen, percayalah.. Aku sudah bertemu dengan gadis itu kemarin. Bersama Aldo, aku memang sengaja datang ke rumah Gwen di puncak bukit..” terlihat Asep menenangkan Cynthia yang sudah menjadi kekasihnya itu.


“Iya… memang kamu Jahat sih Sep… Tahu main ke rumah Gwen, malah tidak mengajakku kesana. Harusnya kamu tahu bukan, bagaimana kedekatanku dengan Gwen..” Cynthia malah memprotes Tindakan yang sudah dilakukan Asep.


Asep hanya bisa garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Jika sudah seperti itu, laki-laki itu hanya harus siap dianggap salah oleh Cynthia.


“Kenapa diam saja tidak menjawab... mengaku bukan jika memang Asep itu egois. Sama sekali tidak pernah menganggapku..” bersikap diam, ternyata juga membuat laki-laki itu disalahkan.


„Hemppphh... iya, iya Cynthia... Aku ini salah, jahat, egois, dan tidak peka.. Apapun julukan yang akan kamu sematkan untukku, tidak ada yang akan aku sanggah sayang..” dengan sikap tersenyum, Asep lebih mengalah.


Laki-laki itu merangkul pundak Cynthia dan mendekatkan tubuh gadis itu ke arahnya.  Namun.. Cynthia malah mendorong laki-laki itu untuk menjauh darinya..


„Jangan gila Asep... saat ini kita sedang berada di student lounge.. Aku tidak mau, dijadikan gossip di kampus ini..” mengingat statusnya sebagai mahasiswa, Cynthia berusaha menjaga statusnya.


“He.. he.. he.., maaf, maaf sayang. Lihatlah ke kanan.., siapa yang datang menuju ke arah kita..” Asep tampak menunjukkan jari telunjuknya ke arah kanan.


Reflek Cynthia mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Asep.. Bibir gadis itu tersenyum, dan berkali-kali mengucek matanya, seakan tidak mempercayai apa yang saat ini dilihatnya. Asep berdiri dan mendekat ke arah Cynthia. Laki-laki itu seperti menunjukkan status kepemilikan merangkul pundak Cynthia..

__ADS_1


***********


__ADS_2