Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 71 Bersabar


__ADS_3

Acara demi acara sudah dimulai, dan tampak di pintu masuk auditorium, seorang laki-laki dewasa mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Gwen. Mister Ronnie menemaninya, laki-laki itu adalah Barra. Dengan membawa invitation letter yang ditinggalkan Gwen di atas meja, Barra segera melesat menuju ke laboratorium. Naas baginya, ada kemacetan karena kecelakaan sehingga menghambat kedatangan laki-laki itu di acara.


“Sepertinya Miss Gwen duduk di round table paling depan Barra… apakah kamu akan menuju kepadanya. Aku akan membantumu untuk mencarikan tempat duduk..” Mister Ronnie menawarkan bantuan.


„Tidak perlu merepotkan Ronnie.. kamusudah membantuku masuk ke auditorium ini saja, aku sudah sangat berterima kasih. Tanpa bantuanmu, keterlambatanku datang, tidak akan diijinkan Commitee untuk masuk ke tempat ini..” dengan sopan, Barra menolak tawaran dari Barra.


„Hempphh... baiklah. Hal kecil seperti ini tidak perlu untuk kamu ingat terus Barra.. Aku Kembali bertugas di depan ya.. Nikmatilah acara ini..” Mister Ronnie berpamitan. Barra tersenyum dan menganggukkan kepalanya, menatap sampai Mister Ronnie keluar dari gate masuk auditorium.


Setelah kepergian Mister Ronnie, Barra berusaha mencari tempat duduk yang masih kosong. Akhirnya di tempat agak belakang, laki-laki itu akhirnya menemukan. Beberapa saat kemudian, laki-laki itu sudah mengisi, menempati tempat duduk kosong tersebut, Setelah tersenyum pada orang-orang yang duduk di sekitarnya, akhirnya Barra focus melihat ke atas stage.


“Baiklah… rangkaian acara demi acara sudah kita lalui Bersama sejak tadi. Saat ini, tibalah waktu yang sangat dinanti-nanti, dan ditunggu-tunggu oleh partisipan Olimpiade. Kami harap dari empat puluh beserta, dan semuanya bertahan di laboratorium ini untuk bersiap diri. Pasang indera pendengaran kalian, siapakah yang akan membawa pulang apresiasi dari upaya kalian selama dua puluh hari bertahan di Brookhaven laboratory…” terdengar host mulai membuat ketar ketir para peserta Olimpiade.


Barra tersenyum mendengarnya, dalam hati laki-laki itu yakin jika istrinya Gwen akan mendapatkan salah satu dari penghargaan tersebut.


“Kita minta untuk maju ke depan... Pertama... Frederick Mativan dari Manhattan.. Jika ada pendamping yang menemaninya, silakan ikut maju ke depan. Frederick Mativan telah berhasil meraih peringkat ketiga dalam Olimpiade kali ini.” Iringan riuh tepuk tangan membahana di dalam ruang auditorium itu. Anak muda itu didampingi


oleh perwakilan dari sekolahnya segera maju ke dan naik ke atas stage.

__ADS_1


“Kedua… mohon untuk ke stage, Hikata Kirami perwakilan dari negara Jepang beserta pendampingnya… Nona Hikata Kirami menduduki peringkat dua….” Hikata teman sekamarGwen tampak terkejut mendengar Namanya di panggil. Tetapi gadis itu segera maju ke depan dengan mantap, dan tampak dua orang keluarganya ikut naik ke atas stage. Kembali tepuk tangan riuh membahana.


“Dan yang utama, dan paling dinantikan oleh semua peserta adalah peringkat pertama pada acara Olimpiade Fisika dan Kimia untuk tahun ini. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, juara pertama didapatkan negara dari Eropa, kali ini juara Olimpiade Fisika dan Kimia tahun ini, diperoleh dari benua Asia. Kepada Gwen Alvaretta dari Indonesia beserta pendamping, dimohon untuk maju ke depan…” tepuk tangan riuh memenuhi setiap sudut ruangan.


Dari tempat duduknya, Barra terlihat kaget dan laki-laki itu langsung berdiri untuk maju ke atas stage. Namun betapa terkejutnya Barra, karena sudah berjalan menuju ke stage, Gwen istrinya dengan teman sekolahnya yang selalu mengejar gadis itu.


“Bagaimana anak muda itu  bisa sampai kemari...? Apakah ada kesengajaan, dan alasan kenapa Gwen meninggalkanku..?” banyak pertanyaan memenuhi pikiran Barra.


Barra terhenti dan sorot matanya menatap ke depan. Sejenak ada keraguan di mata laki-laki itu, tetapi merasa jealous dengan keberadaan Aldo yang mendampingi istrinya di stage, Barra mengesampingkan semua pertanyaan. Laki-laki itu segera maju dari belakang menuju ke atas stage.


Di atas**stage...**


Gwen yang sudah berdiri dengan didampingi Aldo terkesiap melihat kedatangan Barra. Ada rasa khawatir dalam hati, karena keberadaannya di stage berdampingan dengan Aldo. Namun begitu mengingat, seorang perempuan sudah mengaku sebagai kekasih suaminya, dan tanpa permisi darinya berada di dalam Pant House, Gwen mengusir rasa khawatirnya. Gadis itu mencoba bersikap cuek, dan tidak lama kemudian Barra sudah berdiri di depannya.


“Congratulation honey… aku yakin, kamu memang mampu untuk meraih prestasi ini..” di depan Gwen, Barra langsung mengucapkan selamat pada gadis itu. Tanpa merasa malu, Barra memberikan kecupan di kening gadis itu.,


Melihat panggilan Barra pada Gwen, dan sikap agresif laki-laki itu, Aldo merasa marah. Namun untungnya anak muda itu mampu menjaga sikap, dan tahu ada dimana dirinya sekarang. Dan ketika Barra berdiri disamping Gwen, Aldo juga mendiamkannya. Hanya tatapan mata laki-laki mud aitu terlihat seperti tidak bersahabat pada Barra. Dan ketika Aldo mencoba menggenggam tangan Gwen, gadis itu melepaskan seperti menolaknya.

__ADS_1


„Mohon kepada Chairman of the committee untuk maju ke depan, dengan didampingi pengurus lainnya, untuk memberikan apresiasi pada semua pemenang…” terdengar lagi suara host memanggil pihak-pihak yang berkepentingan.


Tidak lama kemudian, tiga orang berjalan menuju ke atas stage. Tampak perempuan cantik membawa nampan berisi piagam dan piala untuk ketiga pemenang. Dalam sorak gembira malam penghargaan itu, hati Gwen merasa gundah. Tidak ada kesenangan sedikitpun meskipun mala mini dirinya sudah menjadi pemenang utama. Sorot kamera tidak henti memotret wajahnya, dan gadis itu hanya tersenyum pias.


“Selamat Miss Gwen Alvaretta, anda layak jadi pemenang. Presentasi, dan semua ujian sudah anda lewati dengan hasil Excellent. Teruslah berkarya, dan tunjukkan pada semua warga di negaramu, jika kamu mampu menjadi yang terbaik dalan Olimpiade ini.” Tampak Chairman of the committee mengulurkan tangan mengajak Gwen berjabat tangan. Gwen tersenyum dan menyambut uluran tangan itu, kemudian Barra juga menyambut uluran tangan itu.


“Terima kasih Prof., mewakili keluarga terima kasih atas peluang yang didapatkan Gwen..” Barra memberikan tanggapan layaknya laki-laki dewasa. Aldo hanya diam, anak mud aitu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Tidak lama kemudian, sessi foto bersama. Terlihat dengan jelas, bagaimana Barra dan Aldo tampak beribut untuk menjadi pendamping Gwen. Tanpa sepatah katapun, Gwen mengabaikan keberadaan suaminya. Untungnya laki-laki dewasa itu sadar, mungkin karena kehadiran Jacqluine yang membuat Gwen menjadi bersikap acuh kepadanya.


“Kita makan dulu yukk Gwen.. lihatlah Raffi dan Asep menunggu kita..” tiba-tiba Aldo meraih tangan Gwen dan membawanya turun ke bawah stage.


Melihat istrinya digandeng oleh laki-laki lain, Barra hanya mengambil nafas panjang. Laki-laki itu tidak mau membuat keributan di tempat tersebut, akhirnya Barra memutuskan untuk mengalah. Dengan langkah pelan, Barra mengikuti istri dan ketiga teman laki-lakinya itu. Barra mencoba untuk menunggu kesempatan untuk bisa bersama dengan istrinya.


“Sabar Barra… kamu menikah dengan gadis setengah dewi.. Itu ungkapan untuk anak usia teen.., bersabarlah..” Barra berusaha untuk menyabarkan dirinya. Dengan tersenyum pahit, laki-laki itu terus mengikuti kemanapun Gwen melangkah.


*********

__ADS_1


__ADS_2