
Dalam perjalanan ke sekolah, dengan mengendarai Porcshe sport terbaru, Barra dan Gwen dalam diam. Untung saja, Barra tidak menyinggung sama sekali tentang kejadian di dalam kamar mandi itu, sehingga Gwen berkurang rasa malunya. Keduanya seperti wajar saja, seperti tidak pernah terjadi apa-apa, dan Gwen langsung menyandarkan tubuh pada sandaran mobil, kemudian memejamkan matanya. Barra yang duduk di sampingnya tersenyum melihat istrinya, yang sangat jelas jika merasa malu dengan tindakannnya tadi pagi.
"Mmmmphh.... sangat mengasyikkan sebenarnya, tidak terasa aku seperti menjalani cinta monyet anak SMP. Harus kucing-kucingan seperti ini untuk dapat menundukkan hati istriku.." dalam hati, Barra berpikir sendiri.
Padahal jika orang lain melihat keserasian mereka, meskipun ada perbedaan umur sembilan tahun, tidak terlihat jauh dari roman wajah mereka. Mereka sama-sama memiliki tubuh tinggi, dan Barra memiliki tubuh impian laki-laki. Perut six pack, dengan tinggi badan jauh melebihi rata-rata cowok Asia. Sedangkan Gwen, meskipun tubuh gadis itu terlihat mungil jika bersanding dengan Barra, namun gadis itu memiliki tinggi badan yang lebih tinggi dibanding dengan teman-teman sebayanya.
"Honey... sudah sampai di depan gerbang The Intercultural School, mau masuk sekolah, atau putar balik. Kita bisa praktikkan usulanmu tadi pagi, kita berciuman jika tidak ada orang..." Barra menghentikan mobil, tepat di depan pintu gerbang sekolah, kemudian menggoda istrinya.
Mendengar kata-kata mesum suaminya, mata Gwen langsung terbuka jelas, dan kembali gadis itu melotot pada suaminya.
"Bisa tidak sih kak, dihilangkan pikiran mesum dari otak kak Barra..." sambil cemberut, Gwen menanggapi kata-kata yang diucapkan suaminya. Tetapi gadis itu tetap mengulurkan tangannya, sebagai pertanda pamit pada orang yang lebih tua. Jadi meskipun Gwen terlihat tomboy, tetapi masalah tata krama menghormati pihak yang lebih tua, tidak pernah ditinggalkannya.
"Aku tidak mesum honey... hanya mengulang kata-kata honey di ruang makan tadi.." Barra tidak berhenti menggoda, dan laki-laki itu menyambut uluran tangan dari istrinya Gwen. Setelah menyalami, dan Gwen mencium tangan laki-laki itu, tidak lupa Barra kembali mencuri ciuman dari kening istrinya.
Gwen sontak kembali menarik kepalanya ke atas, dan kembali dengan pandangan melotot gadis itu menatap suaminya. Barra hanya diam, dan sambil senyum-senyum menatap wajah Gwen yang menyembunyikan amarah kepadanya. Tanpa bicara lagi, Gwen kemudian membuka pintu mobil, dan berjalan keluar dari dalam mobil tersebut.
"Kwk... kwk... kwk... sangat imut dan lucu. Tidak tahu, kenapa aku sangat suka melihat sikap polos penolakan Gwen, seakan membuatku lebih ceria dan bersemangat menghadapi hari.." sambil melihat punggung istrinya yang berjalan masuk ke dalam gerbang, Barra berbicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Bibirnya sangat kenyal dan lembut, aku merasa memiliki candu yang selalu kurindukan untuk aku nikmati.." Barra tanpa sadar mengusap bibirnya sendiri dengan jari-jari tangannya.
Laki-laki dewasa itu membayangkan kejadian tadi pagi, bagaimana dirinya bisa kembali mencuri ciuman di bibir istrinya. Selama mereka menikah, baru dua kali dia merasakannya, dan itu sangat mendorong Barra untuk kembali mendapatkannya kembali.
"Tin.. tin.. tin.." tiba-tiba terdengan suara klakson mobil di belakang Porsche yang dibawa Barra.
Barra tersadar jika dirinya memang menghentikan mobil tepat di depan pintu gerbang, sehingga membatasi akses masuk ke dalam sekolah. Perlahan Barra kemudian menginjak pedal gas mobilnya, dan tidak lama kemudian mobil mewah itu sudah melesat membelah keramaian kota Bogor.
*********
Suasana di kelas
"Hi Gwen... hello, kamu tidak kesambet bukan, masih normalkah anda pagi ini..." melihat bibir Gwen yang tiba-tiba tersenyum, dan pipinya yang tiba-tiba merah ranum, membuat pertanyaan pada diri Novi. Teman sebangku Gwen itu sampai menyikut tangan Gwen yang bersedekap.
"Ya.. ya.. ada apa Nov, aku sedang tidak fokus nih..." Gwen tergagap dan menoleh ke arah teman sebangkunya itu,
"Hemmmph... selalu begini sejak tadi. Kamu ini kenapa, sedang bahagia ya, atau baru saja ditembak Aldo. Dari tadi, suasana hatimu seperti cerah, senyum-senyum sendiri, dan tiba-tiba seperti merasa malu sendiri." Novi mengatakan pengamatannya pada Gwen.
__ADS_1
"Jangan ngaco dan jangan buat gosip deh... Aku dan Aldo itu pure berteman Nov... kami tidak sedang dalam hubungan apapun, kecuali hubungan pertemanan. Tahu sendiri bukan, bagaimana cowok kriteriaku..." sambil tersenyum, Gwen menyanggah kata-kata Aldo.
"What... semua orang di sekolah ini tahunya kamu ini pacarnya Aldo lho Gwen... Dan aku tahu persis, bagaimana perasaan laki-laki itu kepadamu. Bagaimana Aldo mentah-mentah menolak Alana yang betul-betul mencintainya, tapi sekarang kamu malah bilang, jika Aldo bukan kriteriamu.." Novi mengejar Gwen.
"So..., aku harus lakukan pa Novi... agar kamu percaya. Tidak dengan siapapun di sekolah ini, aku tidak akan menjalin hubungan." baru saja Gwen menjelaskan pada Novi, dari pintu kelas terlihat Aldo masuk dengan dipegangi Alex. Anak muda itu menggunakan penyangga kruk Cruth untuk menahan beban tubuhnya.
Melihat apa yang dialami sahabatnya itu, Gwen sontak berdiri dan berjalan mendatangi Aldo untuk menawarkan bantuan pada laki-laki itu. Tetapi Gwen terkejut, juga hampir teman-teman sekelas mereka. Aldo tiba-tiba menolak bantuan yang diberikan oleh gadis itu, padahal mereka semua tahu bagaimana kedekatan di antara keduanya.
"Aldo.. apa yang kamu lakukan padaku Ald... Apakah kamu berpikir aku bersalah...?" Gwen bertanya pada teman laki-lakinya itu, merasa kaget dengan penolakan itu.
"Sorry Gwen... aku sedang ingin menyendiri dulu. Untuk sakitku ini, aku tidak butuh bantuan darimu..." Aldo berjalan menuju ke kursinya, dan Asep menatap ke arah Gwen dengan pandangan minta maaf.
Tetapi Gwen hanya diam dan mengambil nafas dalam, dan tidak suka diperlakukan seperti itu oleh Aldo. Apalagi kejadian tadi malam di sirkuit Sentul, baginya merupakan hal yang wajar. Dan Aldo lah yang sudah memancing emosi dan kesabaran kak Barra, dan jika kali ini anak muda itu menyalahkan dirinya serta kak Barra, gadis itu merasa tidak terima. Gwen langsung membalikkan badan dan kembali ke tempat duduknya. Banyak tatapan prihatin yang dilayangkan teman-teman sekelas Gwen, merasa kasihan pada gadis itu.
"Sabar Gwen... mungkin Aldo sedang memulihkan emosinya, jadi sementara menolakmu seperti tadi. Sabar ya.." Novi mengusap punggung Gwen, tetapi Gwen malah menatap tajam ke arah teman sebangkunya itu.
"Apa yang kamu lakukan padaku Nov... apakah kamu juga berpikir jika dalam hal ini, akulah yang layak untuk disalahkan. Atau memang kamu juga menyalahkan kak Barra, laki-laki yang tadi malam membawaku pulang Nov.."
__ADS_1
**********