Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 50 Ada Hubungan Apa Sebenarnya


__ADS_3

Aldo melepaskan cekalan pada pergelangan tangan Gwen, tetapi tatapan matanya masih tajam menatap ke arah Gwen. Keduanya saling berpandangan mata beberapa saat, tetapi akhirnya Gwen yang mengalihkan pandangan dari laki-laki di depannya itu. Setiap hari bersama, bergaul bersama... tidak pernah ada perasaan seperti ini sebelumnya. Tapi dalam keadaan ini, tiba-tiba saja Gwen ada rasa takut, entah panik menghadapi situasi itu. Setelah beberapa saat akhirnya... terlihat Gwen mengambil nafas dalam.


"Aldo... kita ini memang dekat, bisa dikatakan jika kita adalah sahabat karib, akrab. Tetapi hanya sebatas itu saja hubungan pertemanan kita Ald... tidak lebih. Dan menurutku, memang tidak boleh untuk dilebihkan lagi.. " akhirnya dengan sesak di dada, Gwen mengawali penjelasannya.


"Apa maksud kata-katamu Gwen... apakah kamu sudah salah menyalah artikan kedekatan kita selama ini. Berkali-kali bukankah aku sudah bicara, aku umumkan pada semua teman-teman di circle kita, jika you are mine.. Tidak ada satu temanpun yang berani untuk merubah hubungan ini, tidak ada yang berani bertindak lebih padamu.. Tapi.., apa maksud kata-katamu barusan..." Aldo terus berusaha mengejar. Tatapan laki-laki itu tidak mau lepas dari mata Gwen. Air mata yang tiba-tiba muncul dan menggenang di pelupuk mata Gwen pun, juga terlihat jelas oleh laki-laki itu.


Ada sekitar lima menitan, dua anak muda itu saling terdiam. Terlihat sekali Gwen tampak berusaha untuk mengendalikan emosinya, dan arus kesedihan yang sudah lama disembunyikannya, seakan ingin tumpah saat ini. Tetapi sesaat gadis itu juga teringat, akan menjadi kacau semuanya, bahkan masa depannya jika dia membuka semuanya saat ini. Karena pendidikan di negara Indonesia, belum bisa mengakomodir perempuan atau laki-laki yang sudah menikah, bersekolah di tingkat SMA reguler. Kecuali di kejar paket C...


"Huuuh..... " terdengar Gwen mengambil nafas dalam,


"Untuk saat ini Aldo... aku jujur belum bisa bercerita. Setelah kita lulus SMA, mungkin aku akan memberikan penjelasan kepadamu. Yang pasti Aldo... buang perasaan ketertarikan seorang laki-laki pada perempuan untukku. Kamu berhak, untuk mendapatkan gadis lain yang melebihi segalanya dariku. Jadi... jangan lagi berusaha untuk claim jika aku adalah milikmu..." Gwen terdiam sebentar.


"Tapi Aldo... kita ini tetap teman, kita tetap sahabat. Aku tidak akan melupakannya, aku akan selalu ingat hal itu. Bersamamulah... hari-hariku selama ini kita lewati bersama..." akhirnya Gwen tidak bisa menahan lagi air matanya. Kesedihan yang selama ini berhasil dia tutupi, siang ini tumpah di depan Aldo.


Laki-laki muda itu kaget melihat Gwen yang terlihat sangat terpuruk, pasrah, dan seketika Aldo ingat ketika malam-malam Gwen memintanya untuk membawa pergi. Saat itu, Aldo mengajak Gwen ke villa papanya di puncak Bogor, dan di villa itu, Aldo menemani gadis itu menangis dan berteriak sekencang-kencangnya. Dalam keadaan seperti itu, Aldo yang semula garang ingin meminta penjelasan dari Gwen, tiba-tiba saja menjadi luluh hatinya. Tanpa bicara, Aldo meraih Gwen dan menyandarkan kepala Gwen di dadanya. Beberapa saat kemudian...


"Baiklah Gwen.. aku tidak mungkin memaksamu untuk bercerita dalam keadaan seperti ini. Aku akan biarkan kali ini, tetapi ingat Gwen... kamu hutang penjelasan padaku. Dan yang perlu kamu ingat Gwen... sampai kapanpun, kamu adalah milikku. Tidak ada orang lain yang akan dapat memilikimu..." ucap Aldo tegas, dan isak tangis Gwen kembali terdengar.

__ADS_1


**********


Sepulang Sekolah


Begitu bel tanda kelas berakhir, Gwen langsung bergegas menyelinap keluar dari dalam kelas. Gadis itu yakin, jika Aldo tidak akan bisa mengejarnya, mengingat kondisi kakinya yang masih terkilir karena kejadian tadi malam di Sirkuit Sentul. Dari gerbang sekolah, terlihat Barra suaminya sudah melambaikan tangan meminta gadis itu untuk mendatanginya. Dengan malas-malasan, Gwen berjalan mendekati laki-laki itu.


"Sudah keluar kelas honey... lumayan lama aku menunggumu disini.." Barra langsung memanggil Gwen dengan sebutan honey. Sebutan itu terdengar oleh beberapa orang yang ikut berdiri di sekitar laki-laki itu. Gwen terbelalak matanya mendengar keberanian suaminya, dan segera menarik tangan Barra serta mengajaknya menuju ke arah mobil yang tidak jauh dari tempat itu.


"Blammm..." Gwen langsung menutup pintu Porsche dengan kencang ketika gadis itu sudah masuk ke dalam. Beberapa orang menatap iri dengan penampakan mobil mewah yang hanya ada dua biji di Indonesia itu.


"Tidak masalah kak... hanya bisakah kak Barra itu memperhatikan situasi jika memanggil Gwen. Bukankan sudah ada perjanjian, jika Gwen tetap akan meneruskan sekolah sampai selesai. Tidak semudah itu kak, memanggil Gwen dengan panggilan honey, jujur saja kak... Gwen merasa risih mendengarnya." akhirnya Gwen meluapkan isi perasaannya.


Barra tersenyum mendengar ungkapan kekesalan Gwen, tetapi ketika ingat kembali status yang disandang oleh istrinya itu, akhirnya Barra menjadi terdiam. Meskipun dalam hati, laki-laki dewasa itu tidak menyetujuinya.


"Ya sudah... jika memang aku salah maaf ya honey... Setiap di sekolah, atau ketika kamu bersama dengan teman-teman ingusanmu itu, aku akan memanggil dengan namamu. Tetapi ketika kita hanya berdua, dimanapun kamu tidak bisa merubah panggilanku kepadamu. Apakah kamu setuju honey.." akhirnya laki-laki itu menanggapi permintaan dari istrinya.


Gwen menoleh ke kanan, dan begitu juga dengan Barra. Pasangan suami istri itu beradu pandang, dan akhirnya dengan lesu akhirnya Gwen menganggukkan kepalanya. Barra segera menginjak pedal gas mobil, dan perlahan mobil itu beranjak pergi dari tempat itu.

__ADS_1


***********


Gerbang The Intercultural School


Tanpa Barra dan Gwen sadari, tatapan mata marah terlihat di gerbang The Intercultural School. Terlihat Asep dan Raffi yang sedang menemani Aldo, berdiri menatap tajam pada mobil Porsche yang sedang berjalan meninggalkan sekolah itu.


"Hemmmphh... sudahlah Ald.., mungkin saja laki-laki itu keluarga jauh Gwen, yang diminta untuk menemani Gwen di rumah. Kita tahu bukan, jika Om Andrew sedang berada di Singapura, dan kakek Atmadja kembali ke negara Jepang untuk menemui colleuga. Karena persiapan kelulusan, dan juga Olimpiade maka keluarga Gwen memberikan pengawasan ketat padanya." Raffi berusaha menenangkan Aldo yang diliputi kemarahan.


"Benar yang disampaikan Raffi... Aldo.." Asep ikut menguatkan,


"Aku curiga bukan hubungan itu Raff... Sep.. Tatapan laki-laki dewasa itu ketika menatapku, seakan ada amarah dan larangan untuk mendekat pada Gwen. Dan akhir-akhir ini Gwen juga selalu menghindar, jika aku berusaha memancing apa yang sebenarnya disembunyikan gadis itu pada kita..." tetapi tidak mudah untuk mempengaruhi Aldo. Laki-laki itu tetap bertahan pada pendiriannya.


"Iya sih... tapi kita pulang ke rumah dulu. Tidak ada manfaatnya juga kita berdiri disini, besok setelah Gwen balik dari Amerika, kita akan cari tahu, ada apa sebenarnya.." Asep akhirnya mengajak sahabatnya itu untuk kembali.


Akhirnya setelah menghela nafas, Aldo segera berjalan menuju mobil keluarga yang sudah menjemputnya. Asep dan Raffi mengalah, mereka sengaja menemani Aldo agar anak muda itu tidak kerepotan.


****************

__ADS_1


__ADS_2