
Pant House
Tampak Aldo duduk berdua dengan Gwen di ruang tengah. Barra cukup berbesar hati untuk memberi waktu pada istrinya untuk berbicara dengan sahabatnya itu. Barra duduk di pinggir kolam yang ada di luar Pant House dengan ditemani Asep dan Raffi. Ketiganya tampak diam, tidak berbicara.
“Gwen… jelaskan padaku apa sebenarnya yang sudah terjadi..! Dan kenapa kamu menyembunyikannya..” Aldo yang tampak belum ikhlas kehilangan Gwen, tampak mengejar gadis itu dengan pertanyaan.
Gadis itu masih diam, merasa bingung bagaimana dia akan bercerita. Jika saat ini dirinya mengaku pada Aldo, jika belum terjadi hubungan suami istri yang sebenarnya antara dirinya dengan Barra, pasti anak muda itu tidak berhenti untuk mengejarnya. Padahal dalam hati, Gwen juga merasa tidak menetapkan hatinya untuk dimiliki Aldo.
„Katakan padaku Gwen... aku akan menjadi solusi untukmu. Jika memang kamu dipaksa untuk menikah dengan kak Barra.. aku akan membawamu pergi dari laki-laki itu Gwen.. Bicaralah jujur padaku..!” dengan penuh harap, Aldo terus meminta penjelasan.,
Beberapa saat kemudian…
“Aldo…, pernikahanku dengan kak Barra memang benar terjadi Ald… Itu sudah terjadi sebelum aku join Olimpiade di negara Singapura. Semua terjadi begitu cepat, tapi kak Barra bukan merupakan orang asing bagiku Aldo.. Kami sudah lama saling kenal, sejak aku masih kecil. Rasa sayang di antara kami tumbuh sesuai pepatah Jawa, witing tresno jalaran seko kulino. Mungkin itu yang menyebabkan, kenapa aku mau menerima perjodohan ini..” akhirnya Gwen menutupi hal yang sebenarnya. Karena jika dirinya menjawab, jika tidak menyukai kak Barra, maka Gwen yakin jika Aldo akan membawanya pergi saat ini juga.
„Kamu berbohong Gwen... kamu berbohong..” Aldo tetap berkata tidak percaya.
Tetapi Gwen malah tersenyum, meskipun malah terlihat seperti tangisan tersembunyi dalam hati gadis itu.
“Semua ini adalah kenyataan dan kebenaran Aldo.. Ingatkah ketika malam hari aku menghubungimu kala itu, dan kamu membawaku ke villa papamu. Di tempat itu, kamu mengajakku berteriak bersama, untuk membuang rasa marah di hatiku kala itu." Gwen mencoba mengingatkan.
__ADS_1
"Tidak ada manfaatnya bukan, jika aku membohongimu.. Aku dan kak Barra adalah pasangan suami istri, dan aku sudah mulai mencintai dan menerimanya. Kita akan tetap menjadi sahabat Aldo.. sama dengan persahabatan dengan Asep, Raffi, Alana, Novi, Robert dan teman-teman kita di The Intercultural School yang lain. Hanya saja, aku yang belum memiliki keberanian untuk mengumumkan semuanya.” Dengan suara lirih, Gwen melanjutkan
penjelasannya.
Aldo masih terdiam dan seakan menganggap hal ini adalah sebuah mimpu. Aldo terlihat sangat shock mendengar kata-kata itu. Laki-laki muda itu terus memandang Gwen, dan seolah-olah ingin tidak mempercayai kenyataan yang terjadi saat ini. Tetapi menatap gadis yang duduk di depannya, meskipun sangat sulit, Gwen terus berusaha untuk bersikap santai, untuk menunjukkan jika dirinya baik-baik saja,
„Sulit... sangat sulit untukku melupakanmu Gwen.. Kamu tahu bukan, bagaimana perasaanku kepadamu. Aku mencintaimu Gwen... meskipun kamu tidak pernah menjawab perasaanku. Tetapi dari sikapmu padaku, aku juga merasakan Gwen.. jika kamupun juga mencintaiku..” dengan pede, Aldo terus berusaha merayu gadis itu.
„Jangan bicara seperti itu lagi Aldo.., semua malah akan menyakitimu. Selama ini, selama kita bersama, aku murni menganggap kita ini layaknya seorang sahabat, seorang teman baik, dan juga seorang keluarga bagiku. Kamu tahu bukan, bagaimana latar belakangku, yang tumbuh tanpa papa, tanpa mama, dan hanya lebih sering dengan pembantu rumah tangga. Kita tidak akan putus dari semua itu Aldo.. aku jamin, aku yakin. Kak Barra pasti juga akan memberiku ijin...” dengan nada tercekat, Gwen berusaha meyakinkan Aldo.
„Tapi semua ini mengejutkanku Gwen... dan aku tidak memiliki kesiapan untuk mengetahui semuanya. Apalagi... kamu melakukan semuanya diam-diam, tidak sedikitpun minta pendapat ataupun pertimbangan padaku. Aku sakit Gwen...” melihat air mata mengaliri dari sudut mata Aldo, ada rasa sakit dan nyeri di sudut hati Gwen. Tetapi gadis itu juga tidak bisa melakukan apa-apa,
Anak muda itu kembali terdiam, tidak menanggapi kata-kata Gwen. Tatapan matanya hanya sejak tadi menatap ke mata Gwen yang juga berkaca-kaca, dan mereka bicara dalam diam. Hal itu berlangsung untuk beberapa saat, sampai akhirnya..
„Gwen... sangat sulit untuk menerima informasi ini untukku. Tapi aku juga tidak ingin menjadi seorang pecundang, karena semuanya sudah terjadi. Aku juga melihat kak Barra merupakan orang baik, yang pasti tidak akan membuatmu kekurangan. Ingat untuk selalu memberi tahuku, jika kamu menemukan kekurangan dari sikap laki-laki itu, apalagi jika sampai Barra menyakitimu.” Untuk memastikan jika gadis yang dicintainya itu selalu bahagia, Aldo bersikap over protective pada gadis itu.
***********
Dengan kecewa, akhirnya hari itu juga Aldo, Asep dan Raffi kembali ke Indonesia. Meskipun informasi yang diberikan Gwen sangat menyakitkan hatinya, Aldo mencoba tetap bersikap tegar. Anak muda itu menolak, ketika Gwen menawarkan diri untuk mengantarkan menuju ke airport, dengan alasan akan menambah rasa sakit hatinya.
__ADS_1
„Kami akan kembali ke Indonesia Gwen... ingat untuk selalu menjaga diri dimanapun kamu berada, Selalu beri informasi keadaanmu, dan jika sampai laki-laki ini menyakitimu, aku akan datang dan membawamu pergi bersamaku,” dengan kata-kata penuh intimidasi, Aldo berpamitan pada Gwen. Tatapan sinis Aldo melirik ke arah barra yang berdiri di samping istrinya, Tetapi laki-laki dewasa itu tidak menggubris ucapan dari Aldo.
„Pergilah Aldo.. Asep, Raffi.. Aku akan baik-baik saja, tidak perlu mengkhawatirkanku, Kak Barra akan selalu menjaga dan memperhatikanku. Bukahkah begitu kak...?” untuk tidak membuat tiga anak muda itu enggan untuk meninggalkannya pergi, Gwen bersikap mesra pada suaminya,
„Tentu saja honey... Benar yang dikatakan istriku Aldo… tidak akan kekurangan apapun untuk istriku. Aku akan selalu menjaga dan memenuhi kebutuhan istriku.. pergilah kalian bertiga dan berhati-hatilah..” Barra yang sejak tadi hanya diam, akhirnya turut berbicara. Laki-laki dewasa itu bergeser lebih mendekat kea rah istrinya. Di depan tiga anak muda itu, Aldo tidak sungkan menunjukkan perlakuan mesra pada Gwen.
Aldo kemudian membalikkan badan, dan melangkahkan kaki menuju ke mobil yang sudah menunggu mereka di lobby hotel. Asep dan Raffi mengikuti Langkah anak muda itu, setelah tersenyum dan menganggukkan kepala pada Gwen dan Barra. Pasangan suami istri itu melambaikan tangan sampai mobil meninggalkan lobby.
“Kita kembali masuk ke dalam honey..” beberapa saat diam di lobby, Barra akhirnya mengajak istrinya masuk ke dalam.
Gadis muda itu tidak menjawab, hanya menatap ke arah suaminya. Tetapi tanpa bicara, akhirnya Gwen mengikuti ajakan itu. Barra masih merangkul bahu istrinya, dan keduanya segera berjalan menuju ke arah lift khusus.
“Hari ini kita mau jalan kemana honey..?” sambil menunggu lift berjalan ke atas, Barra bertanya pada istrinya.
“Maaf kak, Gwen sedang tidak mood hari ini. Kembalinya ketiga sahabat Gwen ke Indonesia, jujur.. membuat Gwen merasakan kehilangan.” Dengan tidak bersemangat, Gwen menjawab pertanyaan suaminya.
Barra terdiam, dan mencoba memahami apa yang saat ini dirasakan istrinya. Laki-laki itu hanya mengambil nafas saja, dan mereka tetap dalam diam sampai pintu lift di depan mereka terbuka Kembali.
**********
__ADS_1