
Setelah merasa semua urusan beres, Gwen sudah menelpon Barra untuk menjemputnya. Hadirnya Bareeq dan Tareeq, menjadi prioritas baru gadis itu untuk membersamai mereka. Gwen dan Barra selalu meluangkan waktu untuk quality time dengan kedua putranya. Gwen duduk di depan kursi tunggu yang ada di lobby, karena suaminya belum terlihat. Tanpa gadis itu tahu dan sadari, di belakangnya..
“Assalamu alaikum Gwen… adakah waktu untuk kita bicara sebentar..” gadis itu kaget, mendengar suara laki-laki dari belakangnya. Gwen mengenali suara siapakah itu, dan tanpa sadar gadis itu teringat denga napa yang terjadi dalam keluarganya empat tahun yang lalu. Gadis itu diam tidak tahu bagaimana harus merespon..
“Gwen.. please, beri kesempatan padaku untuk meminta maaf darimu. Hidupku tidak tenang Gwen... please.” Terdengar permohonan dari laki-laki itu.
Gwen mengambil nafas Panjang, dan berusaha menekan rasa terintimidasi mendengar suara itu. Gadis itu berpikir, posisinya saat ini berada di tempat public, dan banyak orang lalu Lalang di sekitarnya. Setelah berhasil meyakinkan dirinya, perlahan Gwen memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.
“Wa alaikum salam… ada apa Andy.” Dengan sedikit gugup, Gwen membalas salam yang diucapkan gadis itu.
“Hempphh… bolehkah aku duduk di depanmu Gwen..?” anak muda yang ternyata Andy itu minta ijin untuk duduk. Perlahan Gwen menganggukkan kepalanya, dan mengalihkan pandangan ke halaman kampus. Beberapa saat kemudian..
“Terima kasih Gwen, kamu masih berkenan untuk menerimaku. Hal ini menjadi sesuatu yang layak, sampai aku berupaya untuk memisahkanmu dengan kak Barra. Kamu layak dan pantas digilai oleh banyak orang Gwen.., dan termasuk diriku di masa lalu.” Dengan tersenyum getir, Andy memulai bicara.
Mendengar kata-kata itu, Gwen menjadi semakin ketakutan jika laki-laki itu akan berbuat sesuatu yang buruk kepadanya. Gwen hanya diam, berusaha mendengarkan dan bersiap untuk bersikap jika ada sesuatu yang buruk yang terjadi.
„Gwen... sekali lagi aku minta maaf ya..., please, maafkan aku!! Maafkan atas sikap impulsive dan bodoh yang pernah aku lakukan padamu. Dan ternyata, baru beberapa lama aku bisa menyadari, kamu dan kakak sepupuku memang berjodoh Gwen. Kak Barra memang sangat mencintaimu, dan tidak akan pernah memberikan peluang siapapun untuk mendekat denganmu..” lanjut Andy pelan.
“Andy.. cepat sampaikan apa yang memang akan kamu sampaikan. Tanpa penilaianmupun, aku tahu bagaimana sikap dan rasa kak Barra terhadapku. Tidak perlu kamu menunjukkannya di depanku.” Merasa jika Andy bertele-tele, Gwen memberanikan diri memotong pembicaraan Andy.
“Mmmmpphh… iya Gwen. Dengan tulus, aku hanya akan meminta maaf padamu dan kak Barra. Jika bukan karena kebaikan kak Barra yang mencabut tuntutan, aku mungkin sudah akan dibuang dari keluarga, dan juga masih meringkuk di penjara. Aku menyesali semuanya Gwen..” akhirnya Andy menyampaikan kembali permintaan maafnya.
__ADS_1
„Baiklah And... jujur saja. Aku sudah memaafkanmu, dan juga orang-orang yang sudah bertindak dholim di depanku. Ke depan, jika memang tidak ada urusan yang urgen, aku harap kamu menyingkir dariku And.. Dengan melihatmu, aku teringat dengan pahit dan sedihnya selama empat tahun terpisah dengan suamiku. Dan itu semua, karena sikap bodohmu..” dengan sengit, Gwen mengungkapkan isi hati yang dipendamnya pada anak mud aitu.
Andy hanya tersenyum pahit, dan diam saja Ketika Gwen mengungkit kesalahan di masa lalu. Niatnya mendatangi Gwen, tidak lain karena untuk meminta maaf pada gadis itu.
“Terima kasih sekali lagi Gwen.., aku akan jalan dulu. Bye..” setelah mendengar tanggapan dari Gwen, akhirnya Andy berjalan meninggalkan gadis itu sendiri.
Sepeninggalan Andy, Gwen masih terhenyak sendiri. Gadis itu mencoba untuk mengatur nafas, dan menenangkan dirinya sendiri. Meskipun Andy tidak berlaku kasar, namun trauma akan kejadian empat tahun lalu masih membayang jelas dalam ingatan Gwen.
********
Beberapa saat kemudian..
Gwen tersenyum melihat mobil suaminya masuk gerbang kampus, dan gadis itu segera berdiri untuk mendatangi. Namun melihat jika istrinya sudah berada di depan lobby, Barra membawa mobilnya ke depan mobil untuk menjemput.
Gadis itu bergegas mendatangi mobil, dan Bareeq sudah keluar dari dalam mobil. Anak kecil itu berusaha membukakan pintu mobil untuk mommy nya.
“Terima kasih Bareeq sayang, Tareeq sayang. Kalian ikut daddy menjemput mommy sayang..?” Gwen segera memeluk kedua buah hatinya.
“Iya momm… papa tadi bilang akan mengajak Tareeq dan Bareeq untuk ke play ground. Tapi pertama-tama harus menjemput mommy dulu.” Tareeq menanggapi ucapan mommy nya.
“Terima kasih sayang, kita masuk dulu yukk ke dalam mobil. Kita tidak boleh lama-lama berhenti di depan lobby, karena akan banyak mobil yang antri di belakang.” melihat di belakangnya, sudah ada dua mobil yang menunggu, Gwen bergegas membantu putranya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Setelah menutup pintu mobil, Gwen kemudian naik ke pintu depan untuk duduk di samping suaminya.
„Selamat sore honey... tidak capai bukan..?” dengan mengulum senyum di bibir, Barra bertanya pada istrinya.
“Tidak kak…, Gwen siap membawa putra kita ke play ground. Kasihan mereka, setelah pindah ke Helsinki, kita belum pernah mengalokasikan waktu untuk membawa mereka untuk bermain. Apalagi akhir-akhir ini, karena kesibukan Gwen di kampus, mereka sering terabaikan..” mengingat kondisi putranya, Gwen tidak merasa masalah untuk pergi.
“Cupp… istriku memang paling pengertian.” Tidak diduga, Barra malah memberikan kecupan di kening gadis itu. Sambil tersenyum, laki-laki itu segera menginjak pedal gas. Perlahan mobil mulai berjalan, dan keluar dari halaman gerbang kampus.
Mendapatkan perlakuan usil dari suaminya, sudah membuat Gwen terbiasa, sehingga gadis itu tidak mempermasalahkannya. Kedua putranya juga sudah tidak kaget, dan malah merasa senang mengetahui papa dan mommy nya begitu dekat.
“Mommy… tadi papa bilang katanya akan membuatkan layang-layang untuk kami. Dan papa berjanji akan membawa kita untuk memainkannya.” Tidak mau diabaikan, dari belakang Tareeq menyela.
„Iyakah sayang... Nanti mommy pasti membantu deh, Ketika mommy masih anak-anak, dengan Uncle Aldo dan Uncle Asep kita juga sering bermain laying-layang di kota Bogor. Nanti mommy akan menemani papa untuk membuatkan laying-layang untuk kalian berdua. Tapi… kalian juga harus berlatih untuk membuatnya, jadi ketika papa tidak ada di rumah, kalian bisa membuatnya sendiri.” Gwen tidak mau membuat putranya kecewa. Dari depan, gadis itu memberikan tanggapan.
Barra tersenyum mendengar interaksi istri dan kedua putranya. Tidak ada lagi kebahagiaan yang ingin dirasakan, selain berkumpul dengan keluarga kecilnya. Ujian terpisah dengan ketiganya, hampir empat tahun bisa terhapus dengan kebahagiaan itu.
“Papa sudah mengirimkan pesan pada aunty Kayla, untuk menyiapkan bahan-bahannya. Dan kebetulan besok hari Minggu, papa akan melunasi janji papa sayang..” Barra ikut menyahut.
“Asyiiikkk…” kedua anak yang duduk di belakang itu tampak menunjukkan rasa senangnya.
Gwen tersenyum melihat keduanya.
__ADS_1
***********