
Dalam ruang ujian
Tanpa hambatan berarti Gwen bisa mengerjakan soal-soal ujian dengan lebih cepat. Keuntungan melakukan ujian di Embassy, tidak ada pengawasan oleh pihak sekolah. Karyawan Embassy yang melakukan pengawasan lebih lunak, sehingga siswa yang ujian di tempat tersebut lebih bisa santai. Terlihat Asep lebih banyak melihat hasil kerjaan Raffi, karena tempat duduk mereka berdekatan. Sedangkan Gwen duduk di depan berdampingan dengan Chakra, dan di belakangnya duduk Aldo.
“Gwen… apakah sudah mengerjakan soal 25 sampai 30. Soalnya saling terkait, sehingga jika salah satu, pastilah yang lainnya akan salah,” dari belakang, Aldo bertanya pada gadis di depannya itu.
“C, C, D, A, B… malas aku menjelaskannya, isi dengan jawaban itu..” sahut Gwen dengan mengangkat sedikit lembar kerjanya, dan menunjukkan pada Aldo. Untung saja gadis itu tidak segera keluar dari ruangan untuk mengumpulkan hasil kerjaan, Jika saja Gwen sudah keluar lebih dahulu, jawaban gadis itu tidak akan menyebar ke seluruh ruangan kelas.
“Jawabanmu sama persis dengan jawabanku Gwen... aku juga sudah menghitungnya, dan jawaban yang aku pilih sama dengan pilihanmu..” dari samping, Chakra ikut berkomentar,
“Jangan numpang sok akrab dengan Gwen.. focus dengan pekerjaanmu sendiri..” tidak suka dengan kedekatan Gwen dengan Chakra, Aldo memberi peringatan Chakra dari belakang,
“Hempph.. kenapa kamu jadi over protective pada Gwen bro… apakah Gwen ini milikmu. Gwen saja santai, kami berteman ketika kami berada di Singapura, tidak ada salahnya kami berbicara..” Chakra tidak mau kalah. Dengan sengitnya sambil tetap mengerjakan soal lainnya, Chakra menanggapi ucapan Aldo.
Gwen geleng-geleng kepala melihat keributan dua temannya, dan gadis itu ingin mengingatkan mereka sepertinya tidak etis karena keberadaan mereka saat ini di ruang ujian. Tetapi situasi tidak memungkinkan.
“Aku ijinkan kalian dan abaikan kalian bekerja sama, tetapi jangan buat keributan. Hasil rekaman CCTV ruang ini akan kami kirimkan ke Indonesia, ke rayon tempat sekolah kalian berada. Berlatihlah untuk saling menghormati..” ucapan tegas dari tim pengawas membungkam kedua anak muda itu.
__ADS_1
Tidak mau menjadi topik perdebatan, Gwen akhirnya berdiri dan melangkahkan kaki ke depan menuju meja pengawas ujian. Gadis itu menyerahkan hasil kertas ujian, dan pengawas tersebut melakukan pengecekan sebentar, kemudian…
“Semua sudah sempurna dikerjakan, identitas juga sudah tertulis lengkap, kamu bisa meninggalkan ruang ujian ini. Jangan lupa, esok hari datang lagi untuk mengerjakan lagi satu materi ujian..’ setelah memastikan lembar jawabannya lengkap, perempuan mud aitu mengijinkan Gwen untuk keluar dari dalam ruangan,
“Terima kasih Miss…” tanpa melihat lagi ke belakang, Gwen langsung ngeloyor keluar dari ruang ujian.
Baru beberapa meter Gwen berjalan keluar, tiba-tiba Barra datang dan memberikan satu paper glass Starbucks pada gadis itu. Merasa haus, Gwen langsung menerima air minum itu dari suaminya itu, kemudian langsung meminumnya dengan menggunakan straw yang sudah menancap di atasnya.
“Kita cari makan dulu sekalian jalan pulang honey…” dengan ramah Barra mengajak istrinya untuk Kembali ke hotel.
“Tidak bisa begitulah… bukankah tiga teman Gwen ada di ruang ujian, tega sekali kak Barra akan meninggalkan mereka,” Gwen duduk di kursi tunggu, sambil memberikan teguran pada suaminya.
„Ya iyalah kak,.. lagian kita ini satu hotel bukan. Tidak ada salahnya bukan..? Atau jangan-jangan kak Barra sendiri yang keberatan jika ditumpangi oleh mereka bertiga. Jika begitu, kak Barra kembali saja lebih dulu, dan Gwen akan tinggal disini untuk menunggu mereka..” tidak diduga jawaban gadis itu akan sangat ketus.
Memikirkan kembali peringatan dari Andrew, dan jika foto itu sampai dilihat gadis itu, maka Barra akan mendapatkan kesialan, akhirnya Barra mengikuti keinginan dari gadis mungil itu. Laki-laki dewasa itu akhirnya duduk di sebelah kanan Gwen, sambil menunggu teman-teman istrinya keluar dari ruang ujian,
*********
__ADS_1
Siang harinya
Selepas makan siang setelah ujian, Barra mengajak ke empat anak muda itu menuju ke Patung Liberty. Baru tempat itu yang diperbolehkan untuk dikunjungi oleh anak-anak itu, mengingat agar stamina tubuh mereka tidak kelelahan, karena hari berikutnya masih ada jadwal satu mata ujian.
“Honey mau kemana… apakah kamu akan meninggalkanku sendirian, dan malah mengikuti ke empat laki-laki itu..” Ketika Gwen berjalan cepat meninggalkan suaminya, Barra memberikan teguran pada gadis itu.
“hempph iya.. iya.. Gwen ini ibarat cewek yang dipingit. Diberikan kebebasan untuk kemana-mana, tetapi dikawal ketat, dan dibatasi pergerakannya.” Sambil bersungut, Gwen berkomentar. Namun gadis itu berhenti dan menunggu suaminya datang kepadanya,
Tidak tahu mengapa melihat gadis itu bersikap seperti itu, malah membuat Barra menjadi gemas melihatnya. Laki-laki dewasa itu tersenyum kemudian merangkul sisi tubuh Gwen dan mendekatkan kepadanya. Tanpa permisi laki-laki itu memberikan ciuman di pipi istrinya. Pasangan suami istri itu tidak sadar, jika Chakra berdiri di belakang mereka. Anak muda itu berhenti dan terkejut menatap pemandangan di depannya, tetapi tidak mampu untuk memberikan komentar kepada mereka.
„Ada hubungan apa sebenarnya antara Gwen dan kak Barra... Itu bukan hubungan saudara, ataupun yang lainnya. Cara memandang kak Barra pada Gwen, seperti tatapan pemujaan seorang kekasih atau seorang suami pada istrinya. Hempph… untung saja Aldo tidak melihatnya. Jika sampai anak muda itu tahu dan melihatnya, akan ada geger di dunia persilatan..” sambil mencari jalan alternatif lain, Chakra berpikir sendiri,
Anak muda itu langsung berjalan di tepi sungai, dengan jalur yang telah tersedia sembari melewati Liberty State Park dan Patung Liberty. Chakra khawatir jika Gwen merasa malu Ketika tahu jika dirinya mengetahui adegan ciuman itu, Untung saja, sejak pertemuan dengan Aldo di bandara Changi beberapa bulan yang lalu, menyadarkan jika Gwen bukan gadis bebas untuk dapat didekati. Akhirnya Chakra memupus ketertarikannya pada Gwen, hanya sebatas teman saja.
“Aku akan menyewa sepeda saja, agar aku dapat menikmati patung Liberty dari setiap sudut.” Ucap Chakra, dan anak mud aitu langsung mendatangi sepeda elektrik yang disewakan di tempat tersebut. Tidak lama kemudian Chakra sudah berkeliling sendiri dengan menggunakan sepeda. Anak muda itu lebih bebas, karena kedatangannya ke Patung Liberty hanya berdua dengan sopir meskipun datang Bersama rombongan Gwen.
“Karena suhu udara dingin, meskipun berada di tempat ini sinar matahari tidak terasa menyengat kulit. Sepertinya asyik jika kita melihat patung Liberty ini dari perairan, kita seharusnya bisa berkendara di atas air dengan menggunakan ferry atau speed boat.” Melihat ada kapal ferry, speed boat di perairan yang ada di depan patung Liberty, Chakra menginginkan berada di tempat tersebut,
__ADS_1
*********