
Tuan Chandra terkejut melihat putranya Barra membuka pintu. Dengan menggandeng Bareeq dan Tareeg, laki-laki paruh baya itu mendatangi putranya. Barra terdiam sebentar, dan seperti melihat wajah papanya dengan cemas.
“Kenapa kamu keluar putraku… bukankah mama ingin bersamamu dan Gwen..?” dengan suara lirih, laki-laki itu bertanya pada putranya.
“Papa tidak seharusnya berada di luar pa..., saat ini mama membutuhkan kita semua. Kita bawa Tareeq dan Bareeq ke dalam saja, pa..” dengan air mata yang berlinang, Barra berbicara lirih.
„Apa maksudmu Barra.. papa tidak bisa melakukan apapun dengan berada di dalam. Mamamu hanya ingin berada di dekat putranya..” tuan Chandra yang merasa tidak kuat melihat penderitaan yang dialami istrinya, mencoba berdalih.
Barra mengambil kedua putranya dari tangan papanya, kemudian laki-laki itu menatap papanya dengan permohonan. Baru saja keduanya akan kembali masuk ke dalam ruang ICU, tiba-tiba..
“Papa… kak Barra…” dua laki-laki itu menoleh ke sumber suara,
Terlihat Kayla berlari ke arah mereka, dan langsung memeluk Tuan Chandra. Aldo berdiri di belakang gadis itu, dan kemudian memeluk tubuh kakak iparnya. Beberapa saat, mereka melepaskan pelukan.
“Kenapa kalian berada di Canada..., harusnya kalian berdua berbulan madu Kayla, Aldo..?” tuan Chandra bertanya pada pasangan suami istri baru itu. Laki-laki itu berusaha untuk menutupi kesedihannya.
„Papa dan kak Barra jahat... membawa dan menemani mama di rumah sakit tanpa memberi tahu pada kami. Untung Claire mengatakan pada kami, sehingga kami langsung menuju ke Canada dengan private jet… Dimana mama Pa… kak..?” dengan bibir bergetar, Keyshia bertanya tentang mamanya.
Tuan Chandra menghirup nafas dalam, kemudian…
“Masuklah ke dalam…, saat ini mamamu sedang berdua dengan kakak iparmu..” dengan suara parau, tuan Chandra menjawab pertanyaan Kayla,
Tanpa melihat kemana-mana lagi, Kayla segera membuka pintu ruang ICCU. Aldo dan lainnya segera mengikuti gadis itu masuk ke dalam. Melihat mamanya yang sangat pucat, sedang terbaring sambil memegang tangan kakak iparnya, Kayla langsung berlari menghampiri kedua perempuan itu.
__ADS_1
“Mama… kenapa mama melupakan Kayla mam..?” gadis itu langsung berlari dan akan menubruk mamanya. Untungnya ada Gwen yang memegangi tubuh gadis yang baru saja menghabiskan masa lajangnya itu.
“Mendekatlah kemari Kay… siapa tahu mama akan menyampaikan beberapa kata padamu..” Gwen akhirnya bergeser, dan memberi ruang untuk adik iparnya,
Barra beserta kedua putranya mendatangi Gwen, dan memeluk bahu istrinya,
“Kamu datang juga kemari Kay... dimanakah suamimu..” dengan terbata, nyonya Santa bertanya tentang menantunya,
Aldo segera maju ke depan, kemudian berjongkok di sebelah istrinya Kayla… Tampak mata nyonya Santa tergenang air mata, tetapi bibirnya yang pucat tampak mengeluarkan senyum bahagia. Kebahagiaan seorang ibu, dimana melihat semua anggota keluarganya berkumpul di dekatnya,
“Nak Aldo… mama titip Kayla. Arahkan dan bimbing Kayla.. agar bisa menjadi istri yang baik..”
Semua yang berada di tempat itu, menahan air mata untuk tidak mengalir.
“Mohon restu ma.. semoga Aldo juga bisa menjadi suami yang baik untuk Kayla..” dengan suara bergetar, Aldo menjawab perkataan mamanya.
Barra membawa Bareeq dan Thareeq ke depan, dan kedua anak itu tanpa bicara memberikan pelukan dan ciuman di kedua pipi omanya, Terlihat, nyonya Santa tersenyum bahagia. Tetapi yang membuat terkejut semua yang ada di dalam ruangan itu, tiba-tiba mata perempuan paruh baya itu terpejam perlahan.
“Mam…, mammaaaa..” suara Kayla melengking melihat mata mamanya terpejam.
Aldo segera memeluk istrinya untuk menenangkan gadis itu, sedangkan Barra segera menekan panggilan bahaya agar petugas medis segera menuju ke ruangan ICCU.
„Tenangkan dirimu Kay.. kita tunggu dokter memberikan pernyataan..” Aldo berusaha untuk menenangkan istrinya,
__ADS_1
Sedangkan Gwen juga tidak bisa berkata-kata, perempuan muda itu memeluk kedua putranya. Tidak lama kemudian, dua dokter dan dua perawat datang berlari menuju ke bed yang digunakan Nyonya Santa berbaring. Semua yang ada di dalam ruangan, segera memberikan ruang pada petugas medis untuk memberikan perawatan. Namun, beberapa saat kemudian…, dokter membalikkan badan berjalan menghampiri tuan Chandra,
“Tuan Chandra… mohon bersabar ya. Kita sudah berusaha Tuan, tetapi Tuhan berkehendak lain. Nyonya Santa sudah menghembuskan nafas terakhir..” mendengar kata-kata yang diucapkan oleh dokter, tubuh Kayla dan Gwen tiba-tiba terkulai lemas.
*********
Mount Hills...
Beberapa pelayat yang ikut mengantarkan nyonya Santa ke peristirahatan terakhir, satu persatu meninggalkan areal pemakaman. Tampak gundukan tanah yang masih basah, bertabur banyak Bunga anggrek dan mawar, sehingga makam memunculkan aroma harum. Tetapi belum untuk keluarga yang ditinggalkan. Tampak tuan Chandra dengan wajah yang sembab dan kehilangan, masih duduk berjongkok di samping makam istrinya. Demikian juga dengan Barra, laki-laki tampan itu mengenakan kaca mata hitam, memeluk istri dan kedua putranya. Aldo juga tengah mendampingi istrinya Kayla… Mereka dalam keadaan tertunduk dan diam, tidak tahu apa yang ada dalam pikiran mereka,
Andrew dan Anne juga masih bertahan di pemakaman, untuk memberikan dukungan pada keluarga keponakannya. Terlihat juga tuan Firmansyah, dan nyonya Helene, kedua orang tua Aldo juga berada di pemakaman,
“Chandra… kita pulang sekarang.. Hanya doa yang saat ini istrimu butuhkan… kalian semua harus segera pergi meninggalkan pemakaman ini..” dari belakang, kakek Atmadja menepuk bahu sahabatnya itu,
Melihat sahabatnya Atmadja berdiri di belakangnya, Chandra menoleh dan memaksakan senyum pucat.
“Hemppphh… status kita sama sekarang Madja.. Aku belum bisa tegar sepertimu kawan..” dengan suara bergetar, dan air mata yang tiba-tiba mengalir dari sudut matanya, tuan Chandra menanggapi kata-kata kakek Atmadja.
“Sabarlah Chandra… kamu harus kuat. Anak-anak dan cucumu membutuhkanmu sekarang... kita hanya bisa mendoakan Santa, agar semua amal kebaikannya bisa diterima. Semua kesalahannya juga dihapuskan.” Laki-laki tua itu memeluk tubuh sahabatnya.
Gwen terguguk melihat papa mertuanya tampak kehilangan mama mertuanya. Bareeq dan Thareeq malah bisa lebih tegar, mereka dengan polosnya hanya menatap ke sekelilingnya. Kondisi Kayla juga tidak jauh lebih baik, gadis itu terlihat lemas. Air mata juga tidak mau berhenti mengalir, dan Aldo selalu memegangi istrinya.
„Benar yang dikatakan kakek Atmadja, kita pulang dulu sekarang. Besok sore atau pagi, kita bisa kembali untuk mengunjungi mama...” berpikir tentang istri dan putranya, akhirnya Barra mengambil keputusan.
__ADS_1
Aldo ikut menganggukkan kepalanya, kemudian laki-laki itu memapah istrinya untuk membawanya keluar dari pemakaman. Beberapa saat kemudian, orang-orang itu mulai berjalan meninggalkan areal pemakaman. Tanpa kata, mereka segera masuk ke dalam mobil yang menunggu mereka, dan perlahan mobil berjalan meninggalkan pemakaman itu. Begitu mereka pergi keluar dari gerbang masuk pemakaman, hujan gerimis perlahan turun, seakan ikut mengiringi kesedihan keluarga itu.
*******