Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 30 Keraguan


__ADS_3

District 3 Park Avenue


Gwen mendapatkan informasi dari Mister Nano, jika tahap kualifikasi Olimpiade tingkat nasional diselenggarakan pada hari Rabu minggu ini juga. Tanpa banyak bicara dan protes, gadis itu segera mempersiapkan keberangkatannya. Untuk menjaga independensi peserta Olimpiade, ada peraturan baru jika peserta harus dikarantina di sebuah hotel yang sama. Selama karantina, akan dilakukan sistem evaluasi, dan sekaligus sistem degradasi.


"Drtt... drtt.. drtt..." Gwen yang sedang melakukan packing harus menghentikan aktivitas sejenak. Gadis itu melihat ke arah ponselnya, dan terlihat jika Om Barra yang melakukan panggilan telpon padanya. Tetapi sesaat Gwen merasa bengong, karena tidak pernah menambahkan nama laki-laki itu ke ponselnya. Namun dengan jelas, nama Barra muncul di layar ponselnya. Dengan malas, Gwen segera mengangkat ponsel dan menggulir panggilan diterima.


"Assalamu alaikum..." Gwen mengucapkan salam.


"Wa alaikum salam..., sedang apaan Gwen sekarang." sambil menjawab salam, Barra bertanya kabar dari istrinya, Namun dengan malas gadis itu menjawab dengan tidak bersemangat.


"Mmmph baik Om.., sekarang Gwen lagi sibuk, tolong to the point bicaranya..." sahut Gwen, sama sekali tidak terlihat sikap mesra, atau sikap senang mendapatkan perhatian dari suaminya.


"Kok lupa lagi panggilannya, aku ini suamimu Gwen.. Apakah kamu melupakan pesanku, jangan panggil Om padaku, dan sepertinya aku tidak juga terlalu terlihat tua jika sedang di depan cermin. Masih gagah, dan tidak ada keriput di wajahku.." Barra mengajak bercanda, tetapi Gwen terlihat tidak minat untuk menanggapi.


"Ppppfh... segera sampaikan pesan sekarang, Gwen tidak punya waktu untuk menanggapi panggilan ini. Swear... Gwen tidak berbohong. Nanti Gwen kirimkan foto aktivitas yang sedang Gwen lakukan.." gadis itu terus mendesak agar suaminya segera menyampaikan maksud menghubunginya.


Barra terdiam, terdengar jika laki-laki itu sedang menghela nafas. Berpikir tentang usia gadis itu, yang mengharuskannya untuk lebih bersabar menghadapi, akhirnya Barra berusaha memaklumi.

__ADS_1


"Aku minta maaf Gwen... janjiku untuk dalam waktu dua minggu kembali ke Bogor, sepertinya aku belum bisa menepatinya. Ternyata masih banyak masalah dan urusan yang harus aku selesaikan sayang, atau jika gwen mau, mungkin lebih baik aku membawamu kesini, untuk menemaniku..." Gwen shock mendengar kata-kata dari suaminya.


"Mmmmpph... no matter for Gwen... Kak Barra tetap bekerja saja di Finlandia. Kan Gwen masih harus menyelesaikan sekolah, tidak boleh sembarang pindah.di waktu-waktu mendekati ujian seperti ini.. Tidak perlu mengkhawatirkan Gwen disini,.." gadis itu berusaha menahan rasa terkejutnya. Gwen merasa tidak sungguh-sungguh menjadi seorang istri, tetapi kenapa sikap Barra seperti memperhatikannya betul.


"Tidak ada masalah dengan dirimu bukan Gwen... kenapa aku malah merasa ragu setelah mendengar penjelasanmu." berpikir jika istrinya akan leluasa berbuat kekacauan jika tidak ada yang mengawasi, Barra mencoba memancing gadis itu.


"Terserahlah apa yang kak Barra pikirkan dengan Gwen... toh jika kak Barra tidak percaya, banyak cara bukan untuk mendapatkan informasi tentang apa yang Gwen lakukan. Gwen tidak akan menjelaskan kak, dan juga tidak akan membela diri.." merasa jika pertanyaan suaminya seperti ada nada menyangsikan, tiba-tiba gadis itu seperti tersinggung. Namun Gwen tidak berani mengutarakannya.


"Bukannya seperti iti Gwen sayang... ya sudahlah. Tetap jaga diri dan jaga sikap, selama aku dan juga kakek Madja tidak sedang ada di Indonesia. Tidak akan lama lagi, kita pasti akan bertemu lagi sayang... See you next time.." merasa sudah tidak ada lagi yang dibicarakan, akhirnya Barra mengakhiri panggilan telponnya.


Dengan malas, Gwen segera melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Gadis itu segera memasukkan beberapa potong pakaianĀ  ke dalam trolly bag nya, juga menyusun perlengkapan yang lain.,


**********


Aldo terlihat gelisah karena sudah beberapa hari merasa diacuhkan oleh Gwen. Laki-laki itu merasa tidak membuat kesalahan sedikitpun, namun perubahan sikap gadis yang dicintainya itu sangat terlihat seperti menghindar dengannya. Anak-anak di sekolah yang dimintanya untuk membantu menyelidiki apa yang dilakukan gadis itu, belum ada yang membawakan informasi yang sreg atau pas menurutnya.


"Ada apa sebenarnya, apakah Gwen menyembunyikan sesuatu dariku, dan juga teman-teman lainnya. gadis itu seperti misterius, dan terkesan sedang menutupi sesuatu..." Aldo berpikir tentang kejadian malam hari, dimana gadis itu menghubunginya. Malam itu juga dirinya mengajak Gwen menuju ke villa papanya, dan mereka disitu sampai menjelang pagi.

__ADS_1


Selain hal itu, beberapa hal yang menurutnya janggal juga terjadi di depan matanya. Pikiran Aldo teringat dengan laki-laki tampan tetapi sudah dewasa yang sempat membawa Gwen pulang dari base camp, juga ketika di traffict light. Ada keganjilan yang ditangkap oleh anak muda itu.


"Apakah laki-laki tampan itu, yang menyebabkan berubahnya sikap Gwen padaku dan juga teman-teman. Jika iya, lalu hubungan apa antara mereka berdua. Laki-laki itu bukan Om Andrew, yang sering menjaga Gwen sejak kecil, baru beberapa kali aku melihatnya.." kembali pikiran anak muda itu mengingat wajah Barra.


"Aldo... ada undangan nih untuk ikut balapan lagi di Sentul. Bagaimana akan kita ambil tidak...?" tiba-tiba Asep memecah lamunan anak muda itu.


Aldo menatap sebentar ke wajah Asep, kemudian laki-laki itu menggelengkan kepala, dan memberi isyarat agar anak itu tidak mengganggunya. Asep terkesiap dengan penolakan itu, namun ketika melihat ke wajah teman-temannya yang lain, mereka hanya mengangkat dua bahunya ke atas. Merasa ada sikap yang asing dari sahabatnya itu, Asep berjalan mendekati Aldo kemudian duduk di sampingnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu Aldo... kamu menyembunyikan sesuatu dari kami ya.. Beberapa hari ini, kamu terlalu banyak menghabiskan waktumu untuk melamun, bahkan terkesan mengabaikan kami-kami. Apa yang terjadi...?" Asep bertanya dengan nada pelan,


Aldo terdiam sebentar, anak muda itu menundukkan wajahnya ke bawah, kemudian tangan kanannya mengambil batu kerikil. Tidak lama kemudian anak muda itu melemparkan batu kerikil ke arah depan, dan mengenai seng yang bersandar di tembok rumah yang ada di depan mereka duduk.


"Klang.." bunyi seng mengejutkan semua yang duduk di situ. Seketika suasana menjadi diam, semua yang berada di tempat itu melihat ke arah Aldo dan Asep. Tetapi Asep segera memberi isyarat pada teman-temannya untuk diam tidak mempertanyakan kejadian itu.


"Santai saja Sep... kasih tahu teman-teman, tidak ada yang salah dengan kalian semua. Aku sendiri yang terlalu berpikir, terlalu negative thinking tentang sesuatu yang belum tentu itu terjadi..." Aldo menanggapi pertanyaan Asep, tetapi laki-laki itu langsung berdiri, dan berjalan menuju ke arah Ducati nya.


Tanpa ada yang berusaha untuk menghentikan anak muda itu, Aldo naik ke atas motor kemudian menyalakan mesin Ducati. Tidak lama kemudian, di bawah tatapan ingin tahu teman-temannya, Aldo sudah menjalankan Ducati, meninggalkan tempat tersebut. Semua yang duduk disitu tidak bisa melakukan apapun, hanya saling pandang melihat Aldo yang sudah meninggalkan mereka.

__ADS_1


*************


__ADS_2