
Tidak mau membangunkan Gwen yang tertidur dalam boncengan motor, Barra mengangkat tubuh gadis itu dengan bridal style. Para pembantu dan penjaga rumah tersenyum melihat kebersamaan itu, karena selama ini mereka hanya berbicara di belakang melihat bagaimana nona muda keluarga ini memperlakukan suaminya, Ketika berpapasan dengan Bibik Darmi, laki-laki itu memberi isyarat pada perempuan itu untuk membersihkan tubuh Gwen. Meskipun mereka berdua sudah resmi menjadi pasangan suami istri, namun karena menghormati istrinya, Barra tidak memperlakukan sesuatu tanpa seijin Gwen.
"Permisi ya tuan muda, bibik berada di kamar untuk membersihkan nona Gwen.." karena merasa tidak nyaman berada di dalam kamar pasangan suami istri itu, Bik Darmi minta ijin pada Barra.
"Tidak apa Bik... aku juga akan membersihkan badan dulu. Sejak landing, aku belum sempat mandi sejak kemarin.." laki-laki itu melangkahkan kaki ke dalam bath room.
Bibik Darmi tersenyum melihat bagaimana kesabaran suami dari nona mudanya, yang tidak memaksakan kehendak pada istrinya. Sebagai perempuan yang selalu berada untuk merawat gwen, Bibik Darmi tahu jika nona mudanya masih suci belum tersentuh organ kewanitaannya dari suaminya
"Hempph... nona muda betul-betul harus bersyukur, memiliki kakek dan paman yang memilihkan suami yang tepat untuknya. Tidak jarang, perjodohan dilakukan karena iming-iming harta kekayaan, dan di tengah jalan ada konflik dalam hubungan suami istri. Tetapi hal ini sama sekali tidak terlihat pada diri tuan muda Barra, dan laki-laki ini sudah kenal dengan nona muda serta keluarganya. Aku yakin, hubungan pernikahan paksa ini akan berakhir dengan langgeng.." sambil membersihkan tubuh Gwen dengan air hangat yang diambil dari wastafel, Bibi Darmi berbicara pelan sendiri.
"Aldo... kamu baik saja bukan. Maafkan aku, karena belum bisa bercerita tentang posisi kak Barra bagiku..." terdengar suara Gwen mengigau pelan,
Bibik Darmi kaget, perempuan paruh baya itu sampai menghentikan aktivitasnya. Tetapi setelah mengambil nafas dalam, akhirnya perempuan itu berhasil kembali mengontrol perasaan kagetnya.
"Untung saja tuan muda Barra tidak mendengar igauan nona muda... bisa terjadi keributan, jika tuan muda sampai mendengar kata-kata nona muda Gwen." Bibik Darmi bersyukur ketika mendapati nona mudanya mengigau saat suaminya sedang berada di dalam kamar mandi,
Setelah kembali mengambil nafas panjang, akhirnya dengan sabar dan telaten perempuan paruh baya itu segera menggantikan baju yang dikenakan Gwen dengan piyama, dan juga mengganti pakaian dalamnya. Melihat tubuh nona mudanya yang tumbuh mendekati sempurna, Bibik Darmi tersenyum,
__ADS_1
"Sangat cocok nona muda dengan tuan muda, sama-sama memiliki tubuh yang bagus. Tapi sayang, aku yakin pasti tuan muda belum bisa menundukkan non Gwen. Buktinya untuk mengganti pakaian dalam tubuh nona muda saja, tuan muda Barra memintaku untuk membantunya..." merasa sudah selesai, Bik Darmi kemudian memiringkan tubuh Gwen. Terlihat mata Gwen terbuka sedikit, dan beradu pandang dengan pengasuhnya itu,
"Non Gwen sudah bangun..., apakah mau Bibik siapkan makan malam non... Jadi non Gwen menemani tuan muda Barra untuk makan malam," dengan suara perlahan, Bibik Darmi mengajak pelan pada nona mudanya,
"Aku masih mengantuk Bik.. kak Barra sudah besar, dewasa, tidak perlu dilayani bukan..." sambil kembali memejamkan mata, Gwen menjawab serampangan,
"Benar juga sih non..., tapi kasihan tuan muda. Menempuh perjalanan dua hari dua malam, dan belum sempat istirahat langsung menjemput nona muda ke sirkuit. Mungkin tidak ada salahnya jika nona muda membalas kebaikan tuan muda.. Bibik kembali ke belakang ya non,.." setelah menyampaikan nasehat untuk putri keluarga itu, Bibik Darmi bergegas meninggalkan Gwen, dan keluar dari dalam kamar,
Gwen terhenyak mendengar penjelasan dari pengasuhnya itu. Perlahan gadis itu kembali membuka matanya, dan setelah terlihat berpikir sejenak, akhirnya Gwen bangun dari tidurnya kemudian berjalan keluar dari dalam kamar.
**********
Aldo tersenyum melihat istrinya Gwen yang tampak tidak ikhlas menemaninya makan malam. Gwen sendiri terlihat hanya makan salad buah dan minum teh manis panas, sedangkan Barra terlihat sedang menikmati nasi dengan lauk rendang Mama Fuji.
"Jangan lama-lama makannya, jika kelamaan Gwen akan kembali ke kamar terlebih dulu.." dengan suara ketus, karena melihat suaminya lambat dalam menikmati makanan, Gwen bersuara.
"Tidak boleh begitu honey..., banyak cara untuk bisa masuk surga. Salah satunya adalah dengan memberikan pelayanan pada suami, termasuk menemani makan malam seperti ini." dengan nada sabar, Barra menanggapi kata-kata suaminya.
__ADS_1
"Seperti air hujan yang mengguyur seluruh tubuhku honey... ketika aku seperti sedang berjalan di padang yang tandus. Tiba-tiba saja istriku mulai mau melayaniku, dan menemaniku makan malam. Rasa lelah setelah dua hari dua malam perjalanan, seakan lenyap begitu saja.." sambil senyum-senyum dan menyuapkan makanan ke mulutnya, Barra kembali berbicara.
Gwen terlihat diam, dan gadis itu segera mempercepat makan saladnya. Ketika gadis itu sudah selesai, Gwen langsung berdiri kemudian meletakkan piring dan sendok kotor ke tempat cucian piring. Padahal selama ini, gadis itu tidak pernah melakukannya. Setelah meletakkan, Gwen kembali duduk di samping suaminya. Meskipun dalam hatinya ada rasa kesal, tetapi mengingat kata-kata Bik Darmi, dan kejadian di sirkuit tadi, akhirnya Gwen berusaha menahan semuanya.
"Sudah selesai honey... apakah aku perlu meletakkan sendiri ke tempat cucian piring, atau istriku yang akan membantuku.." sambil tersenyum menggoda, Barra pura-pura bertanya pada Gwen.
Gwen menoleh, dan tanpa bicara gadis itu segera mengambil piring kotor itu, kemudian membawanya ke tempat cucian piring. Barra tersenyum bangga melihat punggung istrinya, dan laki-laki itu tetap duduk menunggu istrinya meletakkan piring dan gelas kotor tersebut,
"Pelan-pelan aku yakin jika akan dapat memilikimu seutuhnya Gwen.. Sesuai dengan usiamu saat ini, masih ada rasa gengsi jika bergaul dengan laki-laki yang lebih dewasa. Tetapi aku yakin, pada saatnya kamu akan tidak bisa untuk meninggalkanku.." Barra tersenyum sendiri sambil menatap punggung istrinya.
Bahkan tanpa sadar, tidak melihat ketika Gwen sudah berjalan meninggalkannya. Laki-laki itu baru tersadar ketika terdengar suara pintu ditutup.
"Hempph sialan.. aku malah melamun, tidak melihat jika Gwen telah meninggalkanku..." Barra tersenyum masam, kemudian laki-laki itu segera berdiri, dan menyusul istrinya ke dalam kamar,
Sesampainya laki-laki itu di dalam kamar, ternyata istrinya tidak ada di dalam kamar. Tetapi ketika Barra berjalan mendekat ke kamar mandi, suara gemercik air bisa terdengar dari dalam kamar itu.
"Rupanya Gwen bukan gadis yang jorok, kebiasaan buruknya terjadi karena gadis itu tidak sadar. Buktinya meskipun sudah di sibin sama bibik Darmi, Gwen masih mandi untuk membersihkan tubuhnya." laki-laki itu kemudian ke wastafel untuk menyikat giginya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Barra duduk berselonjor di atas ranjang dengan bersandarkan pada sandaran ranjang. Laki-laki itu kemudian meraih gadget, dan sesaat kemudian fokusnya sudah pada layar gadget tersebut.
**********