Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 86 Belum Bisa Melakukannya


__ADS_3

Meskipun hanya keluarga inti yang merasakan keberhasilan Gwen, tetapi suasana keakraban itu sangat membahagiakan gadis itu. Apalagi mama Barra dan Kayla sangat excited bertemu dengan Gwen, untuk pertama kalinya. Mungkin dikarenakan usia Gwen dan Kayla yang hanya berselang beberapa tahun, meskipun secara angka usia mereka lebih banyak Kayla, namun keduanya dengan cepat menyesuaikan diri.


„Kak Gwen... ceritakan dong pada Kayla... bagaimana ketika malam pertama dengan kak Barra... Apakah kak Barra menyeramkan kak...?” Gwen kaget mendapatkan pertanyaan yang menurutnya vulgar itu. Nyonya Santa, mama mertuanya ikut tersenyum mendengarnya. Mungkin terlalu lama tinggal di luar negeri, menjadikan pola pikir mereka menjadi sevulgar itu,


„Halah... untuk apa kamu korek-korek cerita kemesraan kami sih Kayla... Tahu-tahu nanti kamu merengek sama mama dan papa, minta untuk dicarikan suami. Malam pertama kami bukan konsumsi publik, hanya kami berdua saja yang berhak tahu keindahannya..” seperti bisa memahami kesulitan istrinya untuk menjawab pertanyaan itu, akhirnya Barra menjawab.


Gwen merasa malu, dan ketika melirik suaminya dengan cepat Barra mengedipkan mata menggoda gadis itu. Tidak mampu berkata-kata, dengan cepat gadis itu mengalihkan pandangan mata ke arah lain.


„Kak Barra selalu pelit untuk bercerita, kan Kayla tanya kak Gwen... bukan pada kak Barra..’ terlihat Kayla seperti mengambek. Gadis itu memonyongkan bibirnya keluar.


„Ini... Barra sama Kayla, jika sudah bertemu, mesti akan menjadi bertengkar. Yang sabar ya Gwen... kamu menghadapi suamimu dan adik iparmu..” Nyonya Santa menengahi keadaan,


„Tidak masalah mam... kan malah jadi rame dan hidup jika kita sudah berkumpul. Gwen mau ke sana dulu ya mam... mau ambil grilled lamb. Tiba-tiba saja Gwen kok ingin menikmatinya..” untuk mengalihkan diri dari perbincangan serius, Gwen berpamitan. Gadis itu segera berdiri dari posisi duduknya,


“Apa katamu sayang… tiba-tiba pingin. Jangan-jangan, tanpa sadar kamu saat ini sedang mengidam sayang...” nyonya Santa terkejut mendengar perkataan Gwen, dan langsung menimpali.


„Belum mama.. belum.. kan Gwen baru saja menyelesaikan ujian kelulusan, dan juga ikut Olimpiade di New York. Jadi.. kami memang sengaja untuk menunda kehamilan dulu.. Nanti.. jika Gwen sudah mendapatkan perguruan tinggi untuk melanjutkan studi... barulah kami akan berpikir untuk memberikan cucu untuk papa dan mama...” merasa takut kepanikan istrinya, Barra segera menanggapi pertanyaan dari mamanya.


„Hemmpph... iya ma, mohon doanya agar kami bisa melalui, dan mewujudkan semua keinginan kami..” untuk menutup keadaan, akhirnya Gwen turut berbicara.


Barra tersenyum mendengar Gwen bisa diajaknya untuk bekerja sama. Laki-laki itu segera mendekati istrinya, kemudian merangkul bahu Gwen dan mengajaknya berjalan menuju ke arah barbeque.

__ADS_1


„Cie... cie... yang sudah punya istri, kemanapun sok mesra nih...” dari belakang, Kayla menggoda pasangan suami istri itu.


Dari tempat duduknya, Andrew bisa melihat sikap kikuk pada keponakannya. Dan ketika teringat dengan foto intim Barra dan Jacqluinee yang dikirimkan perempuan itu kepadanya, tidak ayal dada laki-laki itu kembali menjadi sesak.


„Semoga saja sikap mesra dan memperhatikan keponakanku bukan hanya kamuflase saja Barra.. Aku sendiri yang akan membuat perhitungan denganmu, jika Gwen sampai menangis karena ulahmu dan Jacqluine...” Andrew bergumam sambil menyesap sedikit white wine yang ada di tangannya.


Karena suhu udara yang dingin, mengkonsumsi wine sudah merupakan kebiasaan di negara itu. Melalui asupan minuman itu, bisa memberikan rasa hangat pada peminumnya, jadi bukan untuk tujuan menjadi mabuk.


**********


Di dalam kamar


Setelah acara pesta barbeque, Gwen tampak sudah merasa lelah. Gadis itu segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Namun pikiran gadis itu melayang-layang, teringat dengan celoteh lucu dari setiap anggota keluarganya. Hampir semua yang ada di ruang tengah itu, sangat mengharapkan untuk segera memiliki keturunan darinya.


“Tapi sudah siapkah hatiku… untuk menyerahkan diriku pada kak Barra..” banyak pertanyaan yang berkelibat di hatinya.


Gadis itu masih melamun, dan matanya sedikitpun belum bisa tertidur. Sedangkan suaminya Barra masih berbincang dengan Om Andrew di ruang tengah. Dua laki-laki dewasa itu memang sering bertukar pikiran bersama, dan ketika mengetahui jika istrinya sudah mengantuk, Barra mengijinkan istrinya untuk masuk kamar duluan.


“Honey belum tidur sayang…?” Gwen terkejut, karena tanpa suara tiba-tiba suaminya sudah berdiri di sampingnya.


“Belum kak… sulit tidur. Mungkin karena kaki Gwen terlalu pegal kali... karena biasanya Gwen memang begitu. Jika terlalu capai, akan sulit untuk tidur…” apa adanya, Gwen menanggapi pertanyaan dari suaminya.

__ADS_1


Barra tersenyum, laki-laki itu kemudian duduk di pinggir ranjang. Jarak mereka menjadi sangat dekat, dan tiba-tiba Gwen merasa gugup melihat senyum dari suaminya. Tiba-tiba tanpa permisi, Barra menundukkan wajahnya ke bawah dan memberikan ciuman di kening Gwen. Belum hilang keterkejutan gadis itu, tiba-tiba saja bibir Barra sudah berpindah ke bibir ranum gadis itu.


“Mmmmpph…. Ppppfth… kak…” Gwen seperti tersengat aliran listrik. Nafasnya seperti tersumbat, dan tidak ada pilihan selain mengikuti alur ciuman itu. Beberapa saat pasangan suami istri itu memadukan bibir mereka dalam pagutan. Setelah melepaskan pagutan, agar mereka bisa mengambil nafas, Barra kembali mengulanginya.


“Aku merindukanmu honey… maukah malam ini honey menuntaskan kerinduanku…” bisik Barra di telinga istrinya.


Uap hangat menerpa telinga Gwen di sisi belakang, dan tidak tahu sebabnya tubuh gadis itu menjadi gemetar. Gwen merasa tidak mampu melakukan apa-apa, ada rasa takut yang melintas dalam hati. Namun juga merasakan ada sesuatu dari dalam tubuhnya yang menyukai perlakuan mesra suaminya. Tatapan sayu Gwen beradu pandang dengan tatapan Barra…


“Kak… sssshh… uuh…” tiba-tiba bibir Gwen mengeluarkan lenguhan. Dengan lembut, lidah Barra menyapu belakang telinga Gwen dan turun ke leher gadis itu.


Seperti ada arus listrik yang mengalir, tubuh Gwen seperti bergetar. Gadis itu seperti kehilangan kesadaran, kedua tangannya memegang erat punggung suaminya. Barra tersenyum lembut, dan ada keinginan untuk menjadikan Gwen menjadi istri yang seutuhnya malam ini. Perlahan Barra memperlakukan istrinya seperti memperlakukan seonggok berlian, tidak ada kekerasan sama sekali. Laki-laki itu bertekad untuk memberikan pengalaman pertama yang berkesan pada istrinya.


“Apa yang akan kak Barra lakukan..?” dengan sorot mata penuh ketakutan, Gwen tiba-tiba bertanya pada suaminya.


„Aku akan melakukan kewajiban sebagai suami yang sebenarnya padamu honey... tetapi jika honey belum siap atau masih keberatan, maka aku akan berbesar hati untuk menundanya.” Dengan rasa kecewa yang dipendam dalam hati, Barra dengan suara berat bertanya pada gadis itu.


Mendapat pertanyaan seperti itu dari suaminya, Gwen diam tidak memberikan jawaban pada laki-laki itu. Barra mengambil nafas, kemudian menarik selimut dan menyelimuti istrinya.


“Tidurlah honey.. kita akan melakukannya lain kali..” bisik Barra sambil tersenyum.


Gwen tidak berani menatap sorot mata suaminya, gadis itu memiringkan tubuhnya ke kiri kemudian memeluk guling. Sebenarnya ada rasa penyesalan karena sudah membuat lecewa suaminya, namun Gwen belum bisa untuk melakukannya. Sambil tersenyum kecut, Barra kemudian berusaha untuk memejamkan mata di samping gadis itu.

__ADS_1


**************


__ADS_2