
Tidak lama kemudian, pasangan suami istri itu sudah berada dalam perjalanan menuju ke kampus. Perdebatan kecil sebelum berangkat tadi, tidak mengganggu kemesraan dan keharmonisan pasangan itu. Barra berkendara dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya menggenggam tangan Gwen. Dan gadis itu meletakkan sisi kepala kirinya ke pundak suaminya.
“Nanti aku bisa menjemput sekitar jam dua an p.m honey, karena harus menyelesaikan agenda pertemuan dengan perwakilan dagang dari negara ini. Tapi jangan khawatir, aku akan langsung menuju ke kampus setelah semua urusan selesai.” Barra menyampaikan agendanya.
“Tidak masalah kak.. Gwen malah bisa menyelesaikan banyak tugas, Di library kampus sangat asyik, bisa tenang dan banyak pula dukungan referensi di ruangan itu. Pukul 16.00 p.m biasanya Gwen membatasi berada di ruangan itu, karena tidak mau keluar kesorean dari kampus.” Gadis itu tidak mempermasalahkan jam penjemputan.
“Istriku ini memang tidak ada duanya… selalu memahami urusanku. Gerbang kampus sudah terlihat honey, mau turun dimana, depan gerbang atau seperti biasa aku masukkan mobil sampai di depan lobby,” karena kebiasaan istrinya sering berubah, Barra bertanya dimana harus menurunkan istrinya.
„Langsung depan lobby saja kak, soalnya Gwen akan mengambil tugas dulu di loker, baru masuk ke dalam kelas.” Sahut istrinya.
„Siap 86 honey..” Barra langsung membawa mobilnya memasuki gerbang kampus. Laki-laki itu tidak menuju halaman parkir mobil, tetapi membawa mobil dan menghentikannya tepat di depan lobby, tepat di drop op penumpang.
„Gwen masuk dulu ya kak... terima kasih sudah mengantarkan..” Gwen tersenyum, dan mengulurkan tangan untuk berpamitan pada suaminya.
Barra menyambut uluran tangan istrinya, dan Ketika Gwen mencium punggung tangannya, Barra memberikan ciuman di kening gadis itu. Kebersamaan dan kebiasaan pasangan suami istri itu memang terlihat indah dan adem. Perbedaan usia yang lumayan jauh antara mereka, ternyata tidak menghalangi kemesraan antara keduanya.
“Hati-hati honey…, jaga diri baik-baik. Dan ingat jangan nakal dengan menatap genit semua teman laki-lakimu, jaga pandangan..” Gwen merasa geli dengan pesan yang disampaikan suaminya.
“Baik suami Gwen yang sangat posesif, demikian juga dengan kak Barra. Harus menjaga pandangan juga, dari para karyawan perusahaan. Juga dengan mitra seperti Stephanie dan Fione. Jangan mudah terpikat dengan keindahan semu..” tidak kalah pula, Gwen juga menanggapi pesan suaminya.
“Ha.. ha.. ha.. siap honey. Tetapi harus ingat sayang…. Jangan lupa untuk memberikan jatah padaku setiap malam…” sambil tertawa, Barra Kembali menyampaikan keinginannya.
Tanpa menanggapi, Gwen langsung keluar dari dalam mobil. Gadis itu segera menutup pintu mobil, sambil menahan senyum. Tidak lama kemudian, Barra mulai menjalankan mobil meninggalkan tempat itu. Gwen masih tersenyum, tetapi gadis itu segera membalikkan badan dan meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
“Aku harus ke loker, untuk mencari ponselku yang tertinggal. Untung saja baterai ponsel habis aku charge, jadi aku tidak khawatir jika ponsel itu kehilangan daya..” Gwen bergegas menuju ke loker penyimpanan barang-barangnya.
Gadis itu tidak menoleh ke kanan dan ke kiri, karena focus untuk segera sampai ke lokernya. Tidak lama kemudian, gadis itu sudah berdiri di depan loker, dan segera membukanya dengan kunci yang dimilikinya.
“Mmmpphh… kenapa tidak ada di dalam loker juga ya..” sambil mengeluarkan tugas kuliah, gadis itu bergumam.
Kembali gadis itu berpikir, mencoba mengingat tempat-tempat yang didatanginya kemarin.
“Atau di laci meja di kelas ya. Aku akan mencoba untuk mencarinya..” merasa bingung, Gwen segera membawa tugas yang sudah diambilnya, kemudian bergegas masuk ke dalam kelas.
Untung saja belum ada satupun mahasiswa yang datang, sehingga Gwen bisa leluasa mendatangi meja dan kursi yang kemarin didudukinya. Beberapa saat gadis itu tampak mencari, namun barang yang dicarinya tetap tidak ada di tempat itu.
„Tidak ada juga... dimana ya. Apakah di library, tapi aku sama sekali tidak mengeluarkan ponsel di library juga..” kembali pertanyaan banyak melintas di benak gadis itu.
***********
Java Horizon, Ltd.
Seperti yang sudah disampaikan pada istrinya, Barra menjalankan semua aktivitas yang sudah direncanakan semuanya dengan lancer. Laki-laki itu sampai tidak sempat untuk menikmati makan siang, dan hanya mengisi perut dengan beberapa snack rapat.
„Aku akan menunda makan siangku hari ini, karena nanti bisa sekalian makan bareng istriku. Sebentar lagi aku akan menjemputnya, semoga Gwen sangat menyukainya..” melihat jam masih di pukul 13.00 p.m, Barra memutuskan untuk menunda lunch.
Laki-laki itu kembali melanjutkan aktivitasnya. Tiba-tiba saja, pintu ruang kerjanya diketuk dari luar...
__ADS_1
„Masuk..” tanpa mengangkat wajahnya, Barra mempersilakan tamunya untuk masuk ke dalam.
Tidak lama kemudian, terdengar ada yang membuka pintu kemudian masuk dan berdiri di depan laki-laki itu.
„Tuan Barra... Mr. Michael ingin mengajak tuan bernegosiasi pada pukul 15.00 p.m. Apakah tuan Barra bersedia, akan segera saya jadwalkan..” ternyata sekretaris yang membicarakan pekerjaan.
“Aku tidak ada waktu hari ini, aku sudah mengatakan pada istriku jika hari ini aku hanya akan melaksanakan semua yang sudah aku schedullkan, Jika bersedia mengganti hari lain, aku akan meluangkan waktuku. Namun jika tidak… aku akan merelakan salah satu mitraku keluar dari kesepakatan. Istriku adalah segalanya bagiku..” dengan nada tegas, Barra menolak.
Sekretaris perempuan itu tersenyum kecut, dan berpikir betapa bucinnya CEO perusahaan itu dengan istrinya. Sebagai sesame perempuan, sekretaris itu terlihat ada keirian di matanya.
“Baik tuan Barra… akan segera saya komunikasikan. Mohon maaf telah mengganggu pekerjaan tuan..” melihat Barra mengangkat tangannya, sekretaris itu sudah membaca isyarat jika laki-laki itu sudah mengusirnya.
Sekretaris itu segera keluar dari dalam ruang kerja atasannya. Fokus perhatian Barra tidak terusik, laki-laki itu meneruskan pekerjaannya. Tiba-tiba…
“Drttt… drttt…” ada bunyi notifikasi pesan masuk ke ponselnya.
Laki-laki itu menghentikan aktivitasnya, setelah menghela nafas, Barra mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Kening laki-laki itu berkerut, karena selama ini Gwen jarang mengirimkan chat kepadanya. Dengan segera, tangan Barra menggulir chat masuk tersebut,...
„Kak Barra tampan... jemput Gwen di hotel Helsinki Strandt ya.. Di room Suites nomor 707, karena tadi ada teman yang datang dari Indonesia. Gwen menemuinya setelah kuliah… Love you much… kak Barra..” membaca chat masuk, kening laki-laki itu berkerut.
“Jika membaca kata-katanya, sepertinya ini bukan kata-kata Gwen. Tapi ini benar nomor ponsel istriku..” Barra terlihat berpikir sebentar.
Tapi begitu mengingat kata hotel yang dituliskan, Barra tiba-tiba menjadi panik jika sesuatu terjadi pada istrinya. Laki-laki itu segera beranjak dari tempat duduknya, dan langsung menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas mejanya.
__ADS_1
************