
Di meja makan, Andy sudah duduk di kursi terlebih dahulu. Anak muda itu tampak sedang menikmati nasi goreng, dengan telur ceplok di atasnya. Melihat kedatangan Gwen dan Barra ke ruang tersebut, Andy hanya tersenyum dan tetap melanjutkan makan paginya.
“Ada kuliah pagikah And… kok sudah ready untuk pergi keluar..” sambil duduk di kursi yang sudah ditarik suaminya, Gwen basa basi menyapa anak mud aitu.
“Iya.. satu jam sebelum kelasmu diadakan, aku ada jadwal kuliah Gwen… Kamu ada jadwal pukul sepuluh pagi bukan, aku jam 8.30 a.m.” Andy melirik rambut Gwen yang terlihat masih ada sisa basah. Tidak tahu mengapa, melihat hal itu nafas anak muda itu semakin sesak. Andy mempercepat makan paginya, dan hal itu tidak lepas dari penglihatan Barra kakak sepupunya.
“Apakah kamu ada janji dengan seseorang Andy.., sepertinya kamu tergesa pagi ini?” Barra bertanya sambil menarik piring yang sudah diisi nasi goreng oleh istrinya.
“Iya kak… ada tugas yang belum kelar tadi malam. Andy berencana untuk melanjutkan di college saja, sekalian lihat jawaban teman lainnya. Untuk memastikan jika Langkah pengerjaan tidak keliru.” Tanpa melihat kea rah kakak sepupunya, Andy segera berjalan meninggalkan meja makan,
Barra mengambil nafas dalam, laki-laki itu merasa jika Andy masih menyimpan kemarahan padanya. Gwen memegang tangan suaminya, untuk membantu menetralisir suasana.
„Kak Barra makan pagi saja dulu, abaikan sikap ketus Andy.. Sekali-kali maklumlah kak, dengan sifat seperti Andy. Sepertinya kak Barra sudah terbiasa menghadapi Gwen bukan..?” sambil tersenyum manis, Gwen menggoda suaminya.
“Hempph.. benar juga honey kata-katamu. Hanya saja, aku juga tidak habis pikir dengan sikap ketus Andy. Kita ini pasangan suami istri, sama dengan kedua orang tua Andy. Tidak salah bukan, jika kita punya waktu untuk me time bareng, tidak malah berakhir dengan kemarahannya. Wajar bukan, jika suamimu ini akhirnya menjadi terpancing...” di sela makannya, Barra menanggapi kata-kata istrinya.
„Jika hanya terpancing sih tidak masalah kak, asal jangan cemburu buta saja. Jujur kak, melihat sikap kak Barra tadi malam, Gwen menjadi takut. bingung untuk melunakkan hati kak Barra, bukankah Andy itu adik sepupu kakak sendiri. Tidak wajar dong, jika adik sendiri bisa memicu rasa cemburu kak Barra.” Tanpa bermaksud menyindir, Gwen menggoda suaminya.
Tiba-tiba Barra menghentikan makan paginya, dan laki-laki itu menatap ke arah istrinya.
„Honey... istriku terlalu cantik, pada siapapun yang mendekat kepadamu, aku akan selalu cemburu. Tidak peduli jika itu adalah Andy adik sepupuku, apalagi jika kamu sedang bersama dengan Aldo, jujur honey..., aku betul-betul takut kehilanganmu.” Barra mengambil kedua tangan Gwen, kemudian mencium punggung tangan itu.
__ADS_1
Mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya, Gwen merasa kaget dan tidak bisa berkata apa-apa. Gadis itu pernah berpikir, jika pernikahan antara mereka terjadi karena sebuah kesalahan Tetapi mendengar kata-kata suaminya barusan, bisa terlihat jika suaminya betul-betul mencintainya. Gwen hanya bisa menatap balik mata suaminya, dan sampai beberapa saat keduanya masih bertatapan,
“Drrtt… drtt…” tiba-tiba ponsel Barra yang diletakkan di atas meja bergetar.
Dengan cepat pasangan suami istri itu mengalihkan pandangan, dan Barra segera mengambil ponsel tersebut.
“Selamat pagi…, ada apa Kayla pagi-pagi sudah melakukan panggilan pada kakak..?” ternyata Kayla adik Barra yang melakukan panggilan pada laki-laki itu.
„Kak Barra... kata mama Andy ada di Helsinki juga ya... Kayla pingin juga kak, boleh ya kak, jika Kayla pindah ke Helsinki juga. Kita bisa kuliah bareng, ada Andy dan juga kak Gwen.. Kita bisa berangkat kuliah bareng kak... boleh ya kak, please...!” Kayla langsung nyerocos merayu kakak kandungnya.
Gwen melanjutkan makan paginya, dan membiarkan suaminya berbicara dengan adik perempuannya.
******
Baru saja Gwen menyetandarkan Ducati di tempat parkir, Ferdi, Mike dan Alan sudah menunggunya. Tiga anak muda itu ingin mengenal Gwen lebih dekat, karena merasa mereka memiliki hobby yang sama. Tapi mengingat statusnya, Gwen selalu berusaha menjaga jarak, dan tidak mau lebih dekat dengan ketiga anak muda itu. Tetapi untuk menghormati mereka, Gwen tetap menanggapi mereka.
“Hi Gwen… cerah banget wajahmu pagi ini, seperti terpuaskan harinya..” Alan mendekat, dan menyapa basa basi pada gadis itu.
“Hempph… sesukamu saja apa yang kamu katakan Allan.. Tidak pada kuliah kalian, jam segini masih di tempat parkir.” Tidak mau banyak membuang waktu, Gwen tidak berhenti. Gadis itu tetap berjalan untuk menuju ke kelasnya.
Tiga anak muda itu berjalan mengikuti gadis itu, dan berjalan di samping Gwen. Gadis itu tidak merasa risih, karena keberadaan tiga anak muda itu tidak mengganggunya. Gwen malah menyikapi, seperti mendapatkan pengawal saja untuk menuju ke ruang kelas.
__ADS_1
“Kita off ternyata Gwen… ayolah Gwen join rider community..!! Kita langka nih, member cewek. Kamu bisa join sama kami… “ sambil berjalan, tiba-tiba Mike kembali mengajak Gwen bergabung.
Gwen mengambil nafas, kemudian...
„Mike... Ferdy.., Allan, maaf ya bukannya aku sombong nih. Tapi jujur saja, aku bukan cewek bebas, yang bisa join community apapun seperti anak-anak yang lain. Ada tata krama di rumah yang harus aku patuhi guys... jadi aku tidak sebebas kalian. Jangan tersinggung ya, aku nolak tawaran ini..” dengan mengacungkan dua telapak tangan di depan dadanya, Gwen menolak tawaran itu.
“Emmpphh… okay deh Gwen, ga mungkin juga nih kita akan maksa kamu. Tapi kita tetap berteman yah…” dengan berat hati, Mike akhirnya menerima keputusan gadis itu.
Ke empat anak muda itu berjalan beriringan, dan Ketika hampir sampai di kelas Gwen tiba-tiba tampak Aldo dan Asep berjalan menghampiri gadis itu. Melihat dua anak muda itu, reflek Gwen menegur keduanya.
“Aldo.. Asep, dari mana kalian nih.. ga sengaja malah ketemu denganku disini.”
„Jalan cari kelasmu Gwen... malah ternyata kamunya baru sampai disini. Siapa mereka ini.., teman satu kelaskah...” Asep menyahut ucapan Gwen,
Tiga anak muda yang ditanyakan itu, saling berpandangan. Mereka tidak mengira, jika ternyata banyak teman gadis itu, dan berasal dari negara yang sama. Melihat hal itu, Gwen tersenyum dan melihat ke mereka satu persatu.
“Ferdy, Mike, Allan… kenalkan ini Aldo dan Asep. Mereka berdua ini sahabatku dari negara yang sama Indonesia. Kalian semua ini punya hobby yang sama, Aldo dan Asep juga punya hobby balapan motor. Tawarkan gih… pada mereka tentang community rider..” dengan serius, Gwen mengalihkan tawaran bergabung dalam community dengan dua sahabatnya.
“Iyakah… menarik sekali. Okay kita berkenalan..” Allan dengan cepat menanggapi ucapan Gwen. Anak muda itu dan diikuti oleh dua temannya, mengajak Aldo dan Asep berkenalan. Setelah melihat Gwen tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kedua anak muda itu akhirnya menerima perkenalan tiga anak mud aitu.
*********
__ADS_1