Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 78 Mengikuti Suami


__ADS_3

Keesokan Paginya


Gwen sudah rapi dan cantik ketika membuka pintu kamar. Gadis itu berniat untuk sarapan pagi di restaurant yang ada di lantai bawah, bercampur dengan tamu hotel lainnya. Tidak lupa akan mengajak ketiga sahabatnya berbincang, untuk menanyakan kapan mereka akan kembali ke Indonesia.


“Morning honey… bagaimana istirahat semalam sayang..?” tidak diduga, ternyata Barra masih berada di ruang tengah. Laki-laki itu seperti sudah menunggunya sejak tadi.


„Kak Barra sudah bangun juga...?” mendapat pertanyaan seperti itu, Gwen menjadi merasa serba salah. Gadis itu menjawab pertanyaan dengan gugup, karena teringat dengan interaksi mereka tadi malam. Sesaat Gwen terlihat seperti blank, tidak tahu apa yang akan dilakukannya.


“Hempph… kenapa istriku menjadi pemalu pagi ini. Rileks lah honey.. kita ini pasangan suami istri, tidak perlulah bersikap malu-malu. Aku maklum honey, dan menerima dengan ikhlas apa yang kamu lakukan padaku tadi malam, Ayo.. aku temani ke restaurant, sebagai ucapan maaf dari perlakuanmu tadi malam, Aku yakin dengan penampilanmu seperti ini, kamu akan sarapan di bawah bukan.” Barra langsung berdiri kemudian menggamit tangan Gwen.


Gadis itu tidak bergerak, dan masih merasa kikuk atas sikapnya tadi malam pada laki-laki itu. Tiba-tiba saja hidungnya dijentik dengan ujung jari suaminya. Gwen kaget dan gadis itu menengadahkan wajahnya ke atas.


„Jangan melamun, sudah jam 8 a.m lebih, kita segera turun ke bawah.” Tidak memberikan kesempatan pada Gwen untuk bicara, Barra sudah mengajak istrinya menuju ke pintu lift. Seperti robot, Gwen terlihat patuh mengikuti ajakan suaminya. Karena mereka di Pant House, yang memiliki pintu lift khusus, dengan cepat lift meluncur ke bawah. Tidak sampai dua menit, pintu lift sudah berhenti, dan pintu terbuka.


“Gwen mau ambil kopi kak, lepaskan tangan Gwen..” mencium aroma kopi, tiba-tiba saja Gwen ingin mencicipinya.


“Aku minta waiters saja untuk mengantarkan ke tempat duduk kita. Lihat di pojok sana, ada kursi kosong.. kita langsung tempati kursi tersebut.” bukannya melepaskan pegangan tangan istrinya, Barra malah langsung menarik tangan Gwen dan membawanya ke kursi kosong yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Gadis itu duduk dengan sendirinya, dan membiarkan suaminya memesankan menu untuknya. Untung saja, Gwen tidak suka pilih-pilih makanan, semua bisa dikonsumsinya.

__ADS_1


Barra melambaikan tangan, memberikan isyarat pada waiters untuk mengantarkan minuman kopi pada mereka berdua.


“Selamat pagi tuan muda… apakah ada yang bisa saya bantu..” terlihat seorang waiters perempuan mendatangi tempat duduk mereka berdua.


“Ambilkan hot black coffee, dan pancake ya..” Barra memberi perintah pada pelayan hotel tersebut.


“Baik tuan.. tunggulah beberapa saat lagi,” pelayan hotel itu segera meninggalkan meja mereka berdua.


Beberapa saat pasangan suami istri itu berada dalam diam, tiba-tiba..


„Honey.. tolong dengar ucapanku sayang..." mendengar perkataan itu, Gwen menatap mata suaminya, siap untuk mendengarkan.


Gwen terkejut dengan ajakan tiba-tiba itu, dan ada ketakutan untuk betul-betul berpisah dengan orang-orang yang selama ini berada di dekat dan selalu menemaninya. Akhirnya..., setelah menghela nafas Gwen memberanikan diri untuk memberikan tanggapan,


“Hempph… apakah harus kak..? Apakah secepat ini, Gwen harus ikut kak Barra ke negara lain... Indonesia sepertinya masih menjadi negara yang Gwen senangi untuk kali ini kak... ” tanpa bermaksud untuk membantah, Gwen menjawab pertanyaan suaminya dengan balik bertanya. Tampak wajah polos gadis cantik itu terlihat seperti tanpa dosa.


Barra tersenyum mendengar pertanyaan polos tersebut, tetapi laki-laki itu terlihat sabar menghadapi kepolosan gadis itu. Tidak sedikitpun terlihat ada aura kemarahan di wajah laki-laki itu. Sebelum bicara, Barra mengambil nafas panjang, kemudian...

__ADS_1


“Sekolahmu sudah selesai, tidak mungkin bukan jika kamu akan melanjutkan studi di negara yang berbeda dengan suamimu tinggal. Sebagai seorang suami ada hakku terhadapmu honey, demikian juga sebagai istri, honey harus sudah menjalankan tugas dan kewajiban untuk mendampinginku.” tidak diduga, meskipun laki-laki itu bicara dengan perlan, namun Barra terlihat tegas.


“Aku sudah membiarkanmu sampai dirimu selesai menempuh ujian kelulusan. Tapi.. aku suamimu honey.., sepertinya sudah tidak akan tahan jika masih harus menunggumu lebih lama lagi. Pahamilah aku honey.. aku ini laki-laki dewasa, yang juga laki-laki normal. Ada kebutuhan yang harus aku puaskan dengan memperistrimu honey.., aku harap tanpa menjelaskannya, istriku sudah tahu dan paham..” lanjut laki-laki itu dengan serius. Tatapan mata Barra tampak tajam menghujam di mata Gwen.


Mendengar ucapan itu, Gwen kembali merasa tidak enak hati, dan terbayang bagaimana sikap dan perilakunya selama ini terhadap Barra suaminya. Dia tiba-tiba teringat juga dengan apa yang dipikirkan tadi malam, jika ingin menguji kesetiaan suaminya. Tetapi malah kali ini, Barra yang memintanya untuk mengikuti apa yang diinginkannya. Gadis itu mencoba melengos untuk mengalihkan pandangan ke tempat lain. Tiba-tiba saja dadanya merasa sesak. Namun dengan sigap, jari Barra mempertahankan agar wajah gadis itu tetap berhadapan dengannya. Keduanya kembali beradu pandang beberapa saat.


“Maukan honey… dirimu mencoba untuk menerima pernikahan ini. Kita jalani seperti layaknya pasangan suami istri lainnya..” Barra terus berusaha mengejar kesepakatan dengan istrinya.


Gwen menatap balik, tetapi Gwen merasa tidak enak terus beradu pandang dengan laki-laki itu, akhirnya tanpa sadar Gwen kembali mengarahkan pandangan ke tempat lain, Namun Barra tidak membiarkannya, laki-laki itu seperti sudah dalam batas ambang kesabaran, ingin segera mengetahui apa yang ada dalam pikiran istrinya.


"Honey.. jangan coba mengalihkan perhatian sayang. Jawablah, dan katakan apa yang honey inginkan padaku.." kembali Barra meminta pendapat istrinya.


"Kak Barra... kenapa pagi ini kak Barra membuat Gwen takut.. Apakah yang Gwen lakukan sebuah kesalahan, tidak bisakah Gwen menjadi gadis bebas, yang diberikan waktu untuk berpikir. Semua terjadi secara tiba-tiba kak, Gwen pulang sekolah dan tanpa pemberi tahuan terlebih dahulu, Om Andrew dan kakek Atmadja memaksa Gwen untuk menikah dengan kak Barra. " akhirnya tanpa terkendali, Gwen mengutarakan isi hati yang dipendamnya, Tangisan tanpa suara tiba-tiba keluar, dan air mata mulai mengalir dari sudut mata gadis itu.


Barra langsung berdiri dan memeluk istrinya dengan erat, untuk menenangkan gadis itu. Tangan Barra mengusap punggung Gwen dengan sikap pernuh perlindungan.


"Baiklah kak Barra... Gwen akan mengikuti kemanapun kak Barra pergi. Tapi beri waktu untuk Gwen, jangan paksa Gwen untuk melayani kak barra sebagai suami seutuhnya.." akhirnya suara lirih Gwen terdengar di telinga laki-laki itu.

__ADS_1


“Terima kasih honey…” Barra mencium pucuk kepala Gwen, kemudian melepaskan pelukannya, Barra duduk berjongkok di atas lantai, dan langsung meremas dan menggenggam tangan istrinya. Tanpa henti laki-laki itu memberikan ciuman di genggaman tangan tersebut.


*************


__ADS_2