Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 158 Mendadak Sakit


__ADS_3

Sampai menjelang malam, akhirnya Kayla berpamitan untuk Kembali pulang ke rumah. Untung saja, juga tidak ada pergerakan dari Gwen yang keluar masuk dari dalam kamar Aldo, sehingga Kayla tidak menyadari jika kakak iparnya ada di apartemen kekasihnya. Dengan berat hati, karena Aldo juga mengkhawatirkan Gwen, anak muda itu hanya bisa mengantarkan Kayla sampai di depan lobby apartemen. Aldo membuat alasan tidak bisa mengantarkan pulang gadis itu.


“Jaga dirimu dengan baik Kayla… dan maaf banget ya sayang. Kali ini aku tidak bisa mengantarkanmu kembali pulang ke rumah. Titip salam juga untuk kak Barra dan Om Andrew. Aku hanya bisa ikut prihatin atas permasalahan ini. Semoga Gwen selalu mendapatkan hidayah, dan segera memutuskan untuk kembali pulang..” Aldo hanya bisa berpesan pada Kayla.


“Tidak apa Ald.. aku diantarkan Smith menuju ke apartemen ini. Lihatlah… Smith masih sabar menemaniku. Aku pulang dulu ya Ald…” akhirnya melihat Smith sudah bersiap di dalam mobil, gadis itu segera melepaskan genggaman tangan Aldo.


Sebelum gadis itu berjalan meninggalkannya, Aldo menarik gadis itu dalam pelukannya. Setelah berpelukan beberapa saat, anak muda itu memberikan ciuman di pucuk kepala dan di kening kekasihnya. Tidak berapa lama, akhirnya Aldo benar-benar melepaskan Kayla.


“Aku pulang Ald…” Kayla akhirnya segera masuk ke dalam mobil.


Aldo membantu menutupkan pintu mobil, kemudian Smith segera menjalankan mobil pergi meninggalkan lobby apartemen.


**********


 Sepeninggalan Kayla, Aldo bergegas kembali masuk ke dalam ruangannya. Langkah kaki anak mud aitu agak tergesa, karena mengkhawatirkan keadaan Gwen. Bagaimanapun hampir seharian tanpa aktivitas, dan terus berada di dalam kamar, betul-betul membuat pihak yang mengetahuinya pasti akan khawatir.


“Kamu sudah kembali Ald.., di meja sudah siap nasi goreng dan telur ceplok. Aku juga menambahkan ada kerupuk udang yang sudah aku goreng. Bangunkan Gwen.. aku tidak sampai hati untuk mengganggunya..” keluar dari ruang makan, Asep berbicara.


“Baik Sep… siapkan saja piring tiga buah, aku akan membangunkan Gwen.”


Aldo segera berjalan meninggalkan Asep yang sibuk sendiri. Anak mud aitu segera menuju kamar yang ditempati sahabatnya Gwen.


“Tok… tok.. tok…” meskipun

__ADS_1


berada di apartemennya sendiri, Aldo masih menghargai gadis itu. Anak muda itu mengetuk pintu  kamar, namun tidak ada jawaban diterima.


“Tok.. tok… tok…” kembali Aldo melakukan hal yang sama.


Karena sudah menunggu beberapa saat, dan tetap tidak ada jawaban, akhirnya Aldo mendorong pintu kamar ke dalam. Untung saja, Gwen tidak mengunci pintu kamar, sehingga anak muda itu leluasa untuk masuk ke dalam. Tampak Gwen masih tertidur dengan menghadap ke belakang, dan perlahan anak muda itu mendekati ranjang tempat gadis itu berbaring.


„Gwen... bangunlah. Tidak mungkin bukan jika kamu terus berada di dalam kamar...” Aldo mencoba membangunkan gadis itu.


Tetapi tidak ada jawaban, dan seketika Aldo menjadi was was. Anak muda itu segera mendekati sisi ranjang, dan terlihat Gwen masih memejamkan matanya. Seketika dengan hati deg degan, Aldo mencoba memegang kening gadis itu.


“Ya Tuhan… kenapa suhu tubuh Gwen panas sekali., Aku harus segera membawanya ke rumah sakit..” kepanikan seketika melanda anak muda itu.


“Asep… come here guys… help me please…!” Aldo sontak berteriak memanggil Asep.


„What happened Ald..” dengan nada khawatir juga, Asep bertanya pada sahabatnya.


“Suhu tubuh Gwen sangat panas sekali Asep... Bungkus makanan yang telah kamu masak, kita akan makan di rumah sakit. Setelah itu segera siapkan mobil di lobby, aku akan membawa Gwen turus dengan segera.” Seperti berondong peluru, Aldo memerintah Asep.


Tanpa menjawab, mendengar jika sahabat mereka Gwen sakit, Asep ikut menjadi panik. Anak muda itu segera bergegas berlari menuju meja makan, dan segera memindahkan makanan yang sudah dimasaknya ke dalam ware. Karena tidak mudah untuk mendapatkan nasi di Helsinki, dua anak muda itu tidak melupakan nasi goreng yang sudah mereka masak. Setelah itu, Asep segera melesat berlari keluar.


************


Beberapa Saat kemudian…

__ADS_1


Setelah membawa tas selempang, dan beberapa pakaian Gwen untuk berjaga-jaga, Aldo segera membopong tubuh sahabatnya itu dan membawanya turun ke lobby. Untung saja, ada seseorang yang melihat anak muda itu tengah membopong seseorang, sehingga berlari menolong Aldo untuk membukakan lift dan menemaninya ke bawah.


“Terima kasih brother atas bantuanmu…” setelah mengucapkan terima kasih, Aldo segera berlari sambil menggendong Gwen, dan membawanya masuk ke mobil yang sudah siap di depan lobby.


Tampak security apartement membantunya, dengan ikut memegangi pintu mobil. Setelah Aldo dan Gwen masuk ke dalam, security segera menutup pintu mobil.


“Sudah semuanya Ald… aku akan segera menjalankan mobil.” Begitu melihat Aldo mengangguk. Asep segera menginjak pedal gas. Mobil segera melaju dan melesat meninggalkan apartemen.


“Gwen… minumlah sedikit. Kamu belum kemasukan nutrisi apapun... jadinya kamu panas seperti ini..” tidak ada sahutan dari gadis itu. Gwen masih terlihat lemas, dan tidak mau membuka bibirnya.


Tanpa kehilangan akal, Aldo segera mengambil botol air mineral. Perlahan dengan menggunakan sendok kecil, Aldo meneteskan air mineral ke bibir gadis itu. Untung saja, perlahan-lahan Gwen mau membuka bibirnya, sehingga air mineral itu sedikit demi sedikit masuk ke dalam kerongkongannya.


“Bertahanlah Gwen… aku dan Asep akan selalu menjagamu…!! Aku tidak bisa melihatmu dalam keadaan seperti ini, kamu tahu bukan bagaimana perasaanku selama ini..” tiba-tiba melihat kondisi Gwen yang semakin lemas, sesaat Aldo seperti tidak bisa menguasai perasaannya.


Kedatangan Aldo dengan membawa Asep ke negara ini adalah untuk memastikan, agar sahabat yang sangat dicintai dan disayanginya itu selalu dalam keadaan yang baik-baik saja. Apa yang mereka khawatirkan itu, akhirnya terjadi saat ini. Tanpa sadar, ada air mata menitik dari sudut mata Aldo, dan hal itu sangat jarang terjadi.


“Aldo… jangan terpuruk seperti itu Ald.. Gwen membutuhkan dukungan kita, dan jika kitapun larut dalam kesedihan, siapa yang akan menjaga Gwen. Aku tahu perasaanmu sobat… tetapi bagaimanapun keadaan kita saat ini, kita harus bisa mengendalikan perasaan kita..” dari belakang kemudi, Asep yang mengetahui jika sahabatnya itu menangis memberikan nasehat.


Asep sangat memahami, bagaimana besar rasa cinta perhatian Aldo untuk Gwen. Dan anak muda itu yakin, perasaan itu lebih besar dari perasaan Aldo terhadap Kayla. Kedatangan mereka ke negara ini, juga untuk mengejar cinta dari gadis itu. Namun melihat perkembangan hubungan antara Gwen dan Barra, akhirnya Aldo sedikit demi sedikit berusaha untuk menepis rasa cintanya.


“Benar katamu Asep… kita berdua harus kuat. Aku harus mengembalikan niat awal kita, Ketika aku memaksamu untuk selalu menemaniku, dan akhirnya kita berdua mengikuti Gwen kemanapun gadis ini pergi. Sekarang saatnya Asep... keberadaan dan dukungan kita sangat dibutuhkan olehnya. Tapi jangan larang aku untuk menangis, karena aku tidak akan pernah bisa melihat keadaan Gwen seperti ini..” tiba-tiba Aldo langsung menangis tergugu.


***************

__ADS_1


__ADS_2