
Aldo terdiam mendengar jawaban Gwen, dalam hati laki-laki itu merasa sepertinya Gwen sengaja menghindar darinya. Gadis itu seperti menyembunyikan sesuatu darinya, tetapi Aldo tidak bisa menebak hal apa tersebut. Untuk mengembalikan suasana bahagia, ceremony kemenangan Gwen dalam mengikuti Olimpiade, akhirnya Aldo berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Oh ya Gwen... kita tidak perlu bahas lagi, kemana kita akan melanjutkan studi nantinya. Dimanapun tidak masalah. Tapi sudah lama nih, kita tidak me time bareng, bagaimana jika sepulang sekolah kita ke Sentul. Biasa... kita hangatkan kembali semangat kita dengan balapan. Tidak perlu ada reward, kita pure main-main saja kali ini, so.. tidak perlulah undang dari motor race lain." Aldo mengalihkan topik pembicaraan.
"Setuju aku, sudah gatal kakiku karena sudah lumayan lama, tidak berpacu di lapangan." Asep menyahuti, dan Raffi menganggukkan kepala tanda setuju,
Gwen terlihat berpikir sebentar, dan sepertinya gadis itu juga sedang membutuhkan waktu untuk refreshing, untuk healing. Tanpa pikir panjang, Gwen tersenyum menganggukkan kepala.
"Wow... akan seru nanti sore, kita toss dulu. Kita akan menyegarkan otak kita, sebelum kita dipacu untuk mengikuti ujian kelulusan, dan Gwen berangkat ke Amerika untuk join Olimpiade tingkat internasional..." Aldo spontan mengajak mereka melakukan toss,
Delapan orang yang duduk satu meja dengan Gwen dan Aldo, serempak mengangkat tangan mereka. Ke delapan orang itu secara serentak menyentuhkan telapak tangan...
"Toss... " ucap mereka serempak.
Teman sekelas yang berada di food court tersebut tersenyum, dan ikut mengacungkan tangan mereka ke atas. Kelas XII IPA1 memang terlihat paling kompak, dan meskipun paling bengal tetapi bisa masuk di IPA 1, menandakan mereka memang orang-orang pilihan,.
"Gwen... kamu paling suka tahu kan, nih ambil punyaku..." mengetahui jika Gwen menyukai semua jenis olahan tahu, Aldo meletakkan tahu yang diambil dari piringnya ke piring gadis itu.
"Thank.s Ald... kamu memang paling tahu, apa yang aku sukai.." dengan wajah cerah, Gwen segera mengambil tahu tersebut dengan garpunya, kemudian memasukkan ke mulutnya. Aldo tersenyum senang melihat hal tersebut.
Semua siswa Kelas XII IPA1 tanpa kecuali tidak ada yang beranjak satupun untuk kembali ke kelas. Mereka betul-betul memanfaatkan waktu sampai dua jam pelajaran Mister Satria terlewatkan, barulah mereka memutuskan untuk kembali ke kelas. Semuanya terlihat menikmati semua makanan dan minuman yang sudah dipesan Asep, dan di akhir jam menjelang jadwal jam ke tiga, Gwen membereskan pembayaran di cashier.
__ADS_1
"Gwen.. aku saja yang menyelesaikan semua tagihan..." melihat Gwen berdiri di depan cashier, Aldo menghampiri gadis itu.
"Hempphh... apakah kamu pikir aku tidak punya uang Ald... Ingat, aku habis memenangkan Olimpiade tingkat Asia, berapa banyak uang yang aku peroleh. Belum lagi jatah dari kakek dan Om Andrew... jangan meremehkanku Ald..." dengan halus, sambil tersenyum Gwen menolak tawaran dari laki-laki itu.
"Iya juga sih Gwen... sorry ya, jangan tersinggung lah.." Aldo minta maaf, dan laki-laki itu tidak beranjak, tetap menemani Gwen sampai selesai melakukan pembayaran.
"Halah... santai saja Ald... Sudah nih, balik kelas yukkk..." setelah menyelesaikan pembayaran, Gwen segera mengajak Aldo untuk kembali ke kelas.
Dua anak muda itu segera melambaikan tangan pada teman-teman sekelas mereka, dan mengajak mereka untuk kembali ke kelas.
"Okay thank,s Gwen... sering-sering ya buat prestasi. Yah... biar kita bisa santai mendinginkan otak..." terdengar suara salah satu teman sekelas, menanggapi ucapan Gwen.
"Yupz..." sahut Gwen sambil melangkahkan kaki meninggalkan food court.
*********
Tanpa memberi tahu siapapun, Barra dengan menggunakan taksi bandara pulang ke rumah Bogor. Laki-laki itu segera naik ke atas teras, dan terlihat Bibi Darmi kaget melihat suami dari nona mudanya datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
"Tuan muda Barra... kenapa kembali tidak memberi kabar terlebih dulu Tuan... Bibik buatkan minuman dulu ya tuan muda.." Pembantu keluarga Atmadja itu segera menyambut laki-laki itu.
"Terima kasih bik... by the way apakah Gwen ada di kamar bik.." laki-laki itu langsung bertanya tentang istrinya.
__ADS_1
"Mmmphh... non Gwen belum pulang dari sekolah tuan muda. Mungkin masih kumpul dengan teman-teman sekelasnya, kan non Gwen habis memenangkan lomba apa ya.. Bibik lupa.." tanpa berpikir panjang, perempuan paruh baya ity memberikan tanggapan,
Mendengar jawaban dari pembantu yang sudah lama mengabdi pada keluarga itu, membuat Barra menjadi berpikir. Dahi laki-laki itu terlihat berkerut, dan ada kekhawatiran jika gadis yang sudah dinikahinya itu kembali berada di tengah banyak laki-laki muda.
"Kenapa tuan muda.. apakah jawaban bibi ada yang salah...?" melihat sikap Barra yang tiba-tiba terdiam sambil berpikir, Bibik Darmi terlihat panik.
"Tidak apa-apa bik, lanjutkan saja aktivitasmu di dapur. Katanya akan menyediakan minuman panas untukku..." dengan cepat Barra menutup rasa khawatirnya.
"Baik tuan muda.." perempuan paruh baya itu bergegas meninggalkan laki-laki muda itu.
Melihat Bibik Darmi berjalan meninggalkannya, Barra segera masuk ke dalam kamar istrinya. Laki-laki itu menghela nafas, melihat ada trolly bag yang masih berisi beberapa perlengkapan istrinya. Sesaat Barra teringat kemarahan Andrew sahabatnya, yang juga merupakan paman dari istrinya. Karena kemarahan itu, akhirnya tanpa pikir panjang, Barra segera menempuh perjalanan kembali ke Indonesia.
"Maafkan aku Gwen.. aku belum bisa memprioritaskanmu untuk menjadi yang pertama. AKu belum terbiasa menjadi suami yang sebenarnya untukmu..." Barra berucap lirih, dan tersenyum masam,.
"Tapi aku harus segera menyusul Gwen... karena bagaimanapun gadis itu masih sangat labil. Kedekatannya dengan laki-laki bernama Aldo, tampak mengkhawatirkan. Meskipun aku tidak tahu, sebenarnya ada hubungan kedekatan apa dengan laki-laki itu, tetapi aku harus katakan padanya, jika aku adalah suaminya." tiba-tiba Barra berubah menjadi panik, ketika mengingat kedekatan istrinya dengan teman-teman laki-lakinya.
Barra kemudian berjalan menuju ke arah wastafel, laki-laki itu mencuci wajahnya. Setelah memastikan wajahnya bersih, Barra segera mengganti pakaian yang dikenakannya kemudian mengambil kunci mobil, dan berjalan keluar,
"Tuan muda mau pergi... minumlah dulu tuan minuman yang sudah bibik buatkan.." di ruang tengah, Barra berpapasan dengan bibik Darmi. Tanpa bicara, Barra segera mengambil cangkir berisi kopi hitam dari tangan pembantu rumah tersebut, kemudian menyeruput beberapa teguk.
"Saya akan keluar mencari istriku Bik.." setelah meletakkan cangkir di atas meja, Barra segera bergegas meninggalkan ruang tengah.
__ADS_1
"Syukurlah... lambat laun meskipun belum ada cinta di antara mereka, tuan muda Barra bisa mendekat lebih dulu pada nona muda Gwen. Semoga saja, mereka berdua bisa menjadi pasangan suami istri yang seutuhnya," melihat Barra yang berjalan meninggalkannya, Bibik Darmi bergumam. Perempuan paruh baya itu tersenyum senang, melihat ada upaya dari tuan muda Barra, untuk mendekati nona Gwen.
*************