Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 268 Menuju Airport


__ADS_3

Gwen tersenyum melihat Andy dan istrinya duduk di ruang tengah. Perempuan itu segera mendatangi Jacqluinne, dan keduanya berpelukan dan melakukan cipika cipiki. Barra dan Andy hanya saling berjabat tangan biasa, kemudian pasangan suami istri itu duduk di sebelah Andy dan Jacqluinne.


“Sorry kak Barra, Gwen… malam malam kami datang, mengganggu istirahat kalian.” Andy terlihat tidak enak melihat keluarga kakak sepupunya.


„No problem Andy, kebetulan kami sudah selesai packing, terus makan malam. Tidak ada aktivitas lagi selanjutnya, paling hanya langsung istirahat tidur. Tapi tidak mungkin bukan, jika kita langsung tidur dalam keadaan perut kenyang..” Gwen berusaha menetralkan perasaan Andy.


“Iya And… kamu hafal kan kebiasaanku dan istriku, kami terbiasa berbincang sampai malam, barulah kami beristirahat. Hal itu sudah kami lakukan sejak dulu..” Barra ikut menimpali.


Andy dan Jacqluinne saling berpandangan, kemudian..


“Oh ya kak… by the way, kedatanganku dan Jacqluinne ke rumah ini, karena ada hal yang akan merepotkan kalian berdua.” Andy membuka Kembali pembicaraan.


“Halah… sudah terbiasa bukan, kalian berdua ini saling merepotkan..” bermaksud untuk bercanda, Barra langsung menyahut. Terlihat ekspresi Jacqluinne agak berubah mendengar perkataan Barra, namun tidak dengan Andy. Anak muda itu hafal dengan sikap dan perilaku kakak sepupunya, jadi malah terbahak mendengar kata kata itu.


“Abaikan saja kak ucapan papanya anak anak, tidak akan afdol jika belum menindas lawan bicaranya. Tadi di perusahaan, Gwen dan kak Jacqluinne sudah banyak berbicara And. Aku dan kak Barra pasti akan menolong kak Jacqluinne. Sesampainya di Bogor, kami akan segera mencari orang untuk mendapatkan alamat pasti, barulah kami akan datang ke lokasi sendiri.” Melihat ekspresi Jacqluinne, dengan cepat Gwen memberikan tanggapan.


„Apa yang honey katakan, kenapa tidak minta persetujuanku terlebih dulu sayang..?” kali ini, Barra yang kaget, karena Gwen belum menceritakan isi pembicaraan dengan Jacqluinne pada suaminya.


Gwen tersentak, dan baru tersadarkan jika dirinya belum bicara apapun pada suaminya. Dan, mungkin saja suaminya juga mengenal keluarga dari Jacqluinne, mengingat hubungan mereka di masa lalu. Namun untuk membatalkan kesepakatan pembicaraan dengan Jacqluinne tadi siang di perusahaan, juga tidak mungkin.


„Bukan begitu papa sayang.. Kak Jacqluinne ada menitip barang pada mommy tadi siang, dan nanti mommy akan mengantarkan pada keluarga kak Jacqluinne. Dan nantinya, jika papa repot, dengan sopir mommy bisa mengantarkannya.” Untuk tidak memperpanjang masakah, dengan cepat Gwen memotong perkataan suaminya.


Barra terdiam sesaat, dan terlihat Andy dan Jacqluinne menjadi kurang nyaman. Tetapi akhirnya..


“Baiklah honey.. semua terserah padamu. Tapi ingat honey, aku tidak akan mengantarkanmu ke lokasi, jadi pergilah sendiri dengan sopir rumah Bogor.” Akhirnya Barra memberikan persetujuan.

__ADS_1


„Pasti papa sayang..” senyuman cerah muncul di bibir Gwen, dan perempuan itu menghadiahkan kecupan di pipi suaminya.


Andy dan Jacqluinne menjadi merasa lebih bersalah, namun...


„Oh ya kak Jacqluinne, Andy.. apakah hal itu yang menjadi alasan kedatangan kalian di rumah ini. Jika iya, tidak perlulah sampai seperti ini, harus membuat kalian berdua datang ke rumah. Bisa saja barangnya dikirim via ekspedisi atau sopir ke rumah ini..” dengan cepat, Gwen Kembali mencairkan suasana.


“Benar Miss… hatimu memang sangat baik. Dan sangat kurang ajar diriku kepadamu..” dengan malu, Jacqluinne memberikan sahutan.


Terlihat Andy mengambil sesuatu dari bawah kursinya, kemudian mengeluarkan dari goodie bag, dan meletakkan di atas meja.


“Ini Gwen… barang yang kami titipkan untuk keluarganya Jacqluinne. Kami berdua juga berencana, jika sudah mengatur waktu, kami juga akan segera pulang ke Indonesia untuk berkunjung dan menemui mereka.” Andy menyerahkan barang yang akan mereka titipkan pada Gwen.


“Okaylah… kami menerimanya And..” Gwen langsung memberikan persetujuan.


*********


Beberapa hari sesudahnya…


Tanpa banyak berbicara pada siapapun, sebuah helikopter sudah landing di hanggar yang ada di roof top villa keluarga Barra. Ternyata keluarga kecil itu, menggunakan helicopter untuk menuju ke airport agar terhindar dari kemacetan, dan lebih mempersingkat waktu perjalanan.


“Smith… apakah kamu sudah pastikan, jika semua barang bagasi sudah sampai di bandara..?” sebelum mengajak anak dan istrinya masuk ke dalam helicopter, Barra bertanya dulu pada sopir keluarga mereka.


“Semua sudah siap Tuan Barra… beberapa bagasi sudah kami antarkan duluan, dan sudah kami masukkan ke bagasi pesawat. Tuan dan Miss, serta anak anak tinggal berangkat untuk menuju airport..” dengan sopan, Smith memberikan tanggapan.


“Baiklah… aku dan keluargaku akan segera berangkat sekarang juga. Tetap awasi rumah, selama kami tidak ada, rumah dan isinya menjadi tanggung jawabmu Smith..” Barra segera berpamitan.

__ADS_1


“Baik Tuan…” dengan patuh, Smith menjawab,


“Honey… kemarilah. Masuklah dulu ke atas, baru anak anak terakhir.” Barra memanggil istrinya.


„Iya pa..” sahut Gwen singkat.


Perlahan Barra membantu istrinya masuk ke dalam helicopter terlebih dahulu, dan tidak lama kemudian setelah memastikan istrinya aman dan nyaman, Barra mengulurkan Sheen masuk. Barulah Bareeq dan Tareeq mengikuti, setelah Sheen berada di dalam.


“Ayo papa segera masuk juga...” Bareeq berteriak memanggil papanya.


„Pasti sayang, papa akan segera masuk..” Barra tampak berbicara serius dengan orang orangnya beberapa saat, barulah laki laki itu masuk ke dalam. Barra duduk di depan, di samping pilot yang akan menerbangkan mereka.


“Papa… kenapa kita tidak langsung menggunakan helicopter ini ke Indonesia Pa..?” dalam perjalanan, Bareeq bertanya pada papanya.


“He.. he.. he.., Finlandia menuju Jakarta itu sangat jauh sayang. Membutuhkan waktu beberapa hari untuk penerbangan ke sana. Tidak mungkin dong helicopter akan mampu membawa kita, karena kapasitas dari bahan bakar pesawat ini. Lagian, menggunakan pesawat, kita juga akan jauh lebih merasa nyaman, Nanti kalian akan bisa membandingkannya..” dengan sabar, Barra menjelaskan pada putranya.


Pilot tampak tersenyum, mendengar komunikasi papa dan putranya itu. Tuan Barra yang jika sedang bersama dengan karyawan, dan mitra kerja, akan menjadi laki laki yang cool, dan terkenal arogan. Tetapi begitu bersama dengan istri dan putranya, ternyata berubah menjadi manusia yang lembut dan perhatian.


“Apakah Bareeq dan Tareeq bisa menerbangkan pesawat pa, biar bisa membawa Sheen dan mommy berkeliling kota Helsinki nantinya..?” Tareeq ikut mengajukan pertanyaan.


“Ha.. ha.. ha.., Tuan kecil. Jika Tuan kecil sendiri yang menerbangkan pesawat, nanti Uncle tidak akan mendapatkan pekerjaan dong. Terus keluarga Uncle, tidak akan bisa membeli makanan dong..” ternyata pilot tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut menyahut.


“Wow iya… maaf Uncle..’ spontan mendengar celotehan Tareeq, semua yang berada di helicopter tertawa.


*********

__ADS_1


__ADS_2