
Beberapa saat kemudian..
Andrew dan Aldo akhirnya Kembali ke kamar tempat rawat inap Gwen. Tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua, mereka berjalan menuju ke kamar Gwen dalam diam. Mereka seperti tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
“Klek..” Aldo membuka pintu kamar Gwen. Semua yang ada di dalam kamar tersebut, menatap kea rah Aldo dan Andrew,
“Saya harap… di ruangan ini, hanya aku, Anne dan Gwen saja. Silakan yang tidak ada kepentingan untuk keluar dari kamar ini, karena saya harus berbicara hal serius dengan keponakan saya.” Tiba-tiba tidak ada pembicaraan sebelumnya, Andrew berbicara dengan nada tegas.
“Tapi kak… saya ingin disini Bersama dengan Gwen..” Andy terlihat keberatan.
“Andy… apakah kamu tidak mendengar apa yang sudah diucapkan oleh Om Andrew. Dengan alasan kamu mau, ingin atau apapun, jika Om Andrew mint akita keluar, ya kita harus keluar. Hubungan keluarga terdekat dengan Gwen dalam ruangan ini adalah Om Andrew, jadi kita harus mendengarkan perkataanya.” Tanpa membantah, Asep segera memberi ketegasan,
Aldo hanya diam, tetapi anak muda itu segera bersiap. Semua perlengkapan pribadi yang dibawanya, segera dibereskan oleh anak muda itu. Setelah semuanya beres, Aldo berjalan menuju ke pinggir bed tempat Gwen yang masih tertidur. Untungnya Gwen segera menyadari Ketika anak mud aitu akan berpamitan dengannya. Gwen membalikkan badan, dan pandangannya dengan Aldo bertubrukan.
“Gwen… istirahat yang benar ya. Aku dan Asep harus Kembali ke apartemen, harus mempersiapkan tugas kuliah. Juga sekalian aku akan membuatkan surat cuti akademik untukmu..” Aldo membuat alasan yang bisa diterima oleh sahabatnya itu.
“Terima kasih Ald… selama ini hanya kamu yang selalu berada di sisiku, dalam keadaan apapun.” Gwen tersenyum lemah.
“Hempphh… tidak perlu kamu pikirkan. Istirahat yang baik dan cukup, agar kamu bisa cepat Kembali pulang..” Aldo segera menepuk lengan Gwen tiga kali.
Di belakang Aldo, Asep juga berdiri untuk berpamitan. Melihat Gwen yang akan berbicara, Asep memberi isyarat agar gadis itu diam saja. Anak mud aitu juga melakukan hal yang sama, hanya mengusap lengan Gwen kemudian mengikuti Aldo yang sudah berjalan keluar.
“Aku juga akan Kembali Gwen... jika perlu apa-apa, jangan lupa kabari aku..” akhirnya dengan berat hati, akhirnya Andy mengikuti dua anak muda itu.
Gwen hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, kemudian Andy juga mengikuti kedua anak muda itu keluar. Begitu ketiga anak muda itu keluar, Andrew menarik kursi kemudian duduk di samping Anne. Tatapan laki-laki itu tampak menghujam tajam, dan Gwen merasakan tatapan itu.
__ADS_1
„Ada apa Om... apakah ada hal serius terkait dengan kondisi Gwen saat ini… Katakan saja Om.., Gwen siap untuk kemungkinan yang paling buruk!” tidak diduga, Gwen malah meminta Andrew untuk menyampaikan hasil diagnosa Dokter. Sepertinya gadis itu benar-benar sudah menyiapkan dirinya.
Anne mengusap punggung Andrew, berusaha memberikan dukungan pada suaminya. Beberapa saat kemudian…
“Selamat ya Gwen… kamu akan menjadi seorang ibu… Ada janin di dalam rahimmu... jadi aku harap kamu menyiapkan generasi penerus dari keluarga kita.” Akhirnya sambil tersenyum, Andrew mengatakan informasi yang diperolehnya.
Gadis itu kaget mendapatkan kabar dari Om nya, tidak tahu apakah akan Bahagia, ataukah malah terpuruk. Gwen sesaat tidak bisa bersikap, pandangannya kosong…
“Keponakanku yang cantik… apa yang kamu pikirkan sayang.. Ada Om, yang akan selalu menemanimu, melindungimu.. Jangan pernah merasa sendiri dan tidak berharga sayang, kami keluarga Atmadja akan selalu berdiri mendampingimu,.” Untuk menguatkan Gwen, Andrew memeluk keponakannya.
Air mata menggenang di pelupuk mata gadis itu, dan Anne mengambil tissue kemudian membantu gadis itu membersihkan air matanya.
“Gwen bingung Om.. tidak tahu apa yang saat ini dirasakan. Mau dibawa kemanapun, diapakan, Gwen ikut dengan keputusan Om Andrew..” ucap Gwen lirih.
Andrew dan Anne saling berpandangan, kemudian Andrew meraih kedua tangan Gwen, dan memeluk gadis itu untuk memberinya dukungan.
************
Baru saja Aldo keluar dari dalam mobil, ternyata orang suruhannya sudah menunggu di lobby. Kedua orang itu diintruksikan perintah oleh Tuan Firmansyah, papa dari anak mud aitu. Keduanya tersenyum memberikan hormat pada Aldo..
“Apakah kalian berdua ini orang-orang papa..?” tidak mau keliru, Aldo bertanya pada keduanya.
„Benar Tuan Aldo... dan ini pesanan dari Tuan Firmansyah, rekaman kamera CCTV di Helsinki Strandt.. Tetapi saya sendiri juga belum ada kesempatan untuk melihatnya...” salah satu dari orang tersebut, menyerahkan sebuah box yang dipack rapi.
Aldo menerima box tersebut, dan menyimpannya dengan hati-hati ke dalam tas.
__ADS_1
“Karena barang sudah kami serahkan pada Tuan Aldo.. kami berdua minta ijin untuk kembali Tuan. Jika ada hal yang akan ditugaskan pada kami, hubungi saja langsung pada kami tanpa harus meminta bantuan pada Tuan Firmansyah. Hal itu yang sudah diperintahkan Tuan Firman pada kami...” orang-orang itu berpesan.
“Baik… terima kasih. Kalian berdua sudah boleh pergi, aku dan Asep akan segera naik ke atas..” merasa sudah beberapa saat mereka keluar, Aldo ingin segera melihat rekaman CCTV yang baru saja diantarkan padanya.
Dua orang itu tersenyum, kemudian menganggukkan kepala untuk berpamitan pada Aldo. Setelah dua orang itu berjalan meninggalkan mereka, akhirnya Aldo yang diikuti Asep segera pergi menuju ke pintu lift.
*************
Kawasan pantai...
Barra dan Kayla dibawa ke kawasan pantai yang ada di pinggiran kota Helsinki.. Kakak beradik itu memilih untuk mengalah, karena tidak mau adu kekerasan dengan orang-orang yang dibawa Jacqluine. Kedua orang itu bersenjata, dan sepertinya Jacqluine sudah tidak memiliki kesabaran apapun. Jadi tidak ada pilihan lain, selain hanya mengalah pada mereka..
“Turun… ikuti kami untuk menuju ke negara seberang. Sebentar lagi, aka nada speed boat yang datang menjemput kita..” dengan suara keras, salah satu pengawal Jacqluine menarik tangan Barra, namun laki-laki itu menolaknya.
“Jaga perilakumu, atau aku akan membalasmu jika ada kesempatan..” Barra berteriak balik.
„Ikuti kemauan laki-laki ini, kita akan tetap aman. Dengan dua senjata api di tangan kalian, laki-laki ini tidak akan bisa melarikan diri. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dibuatnya padaku..” Jacqluine menyela, agar dua pengawal yang disewanya tidak memperlakukan Barra dan Kayla dengan kasar,
Tanpa perlawanan, Barra dan Kayla mengikuti Jacqluine.. Jauh di depan, dari arah tengah lautan terlihat ada speed boat yang meluncur ke tempat orang-orang itu. Wajah Jacqluine terlihat sumringah melihat kedatangan boat tersebut..
“Kak …” dengan suara lirih, Kayla yang ketakutan memanggil kakaknya.
“Mmpphh.. tenanglah Kay, kendalikan dirimu.” Barra masih mencoba untuk bersabar. Laki-laki sama sekali tidak terlihat panik, dan dengan kemampuan bela dirinya, Barra menunggu Ketika mereka sudah berada di atas lautan.
Kayla akhirnya diam, dan tangan gadis itu menggenggam erat pergelangan tangan kakak kandungnya. Kedua orang itu dengan tenang menuju ke dermaga kecil yang ada di pinggir pantai.
__ADS_1
***********