
Palm Biomedical Park
Semua orang di front office menatap ke arah Gwen yang berjalan memasuki lingkungan office dengan mendapatkan pengawalan dari security bagian lobby. Sekretaris perusahaan memang tidak memberikan informasi secara terbuka tentang kedatangannya di perusahaan, dan tidak semua orang mengenali Gwen sebagai adik dari Andrew, yang juga menjadi salah satu pewaris perusahaan tersebut. Para karyawan hanya saling bertatapan mata, namun beberapa di antara mereka hanya mengangkat dua bahu mereka ke atas.
"Miss Gwen... silakan masuk via pintu lift saja, kami akan langsung antarkan Miss ke ruang kerja Tuan muda Andrew..." security mengarahkan gadis itu untuk masuk ke dalam pintu lift, dan seperti biasa bersikap dingin, mengacuhkan mereka yang menatap gadis itu dengan pandangan kepo.
"Apakah dapat dipastikan jika Tuan Andrew ada di dalam..?" sambil berjalan masuk ke lift yang sudah menunggu, Gwen bertanya pada security yang mengawalnya.
"Ada Miss.., karena tadi pagi baru saja memimpin rapat dengan para mitra perusahaan. Sekretaris juga tidak mengirimkan schedull pada kami, yang menandakan jika tuan muda tidak ada agenda keluar." dengan sikap hormat, security menjawab pertanyaan dari gadis itu.
Gwen terdiam dan menunggu sampai pintu lift berhenti, dan terlihat dengan sigap para security selalu menahan jika ada orang yang akan masuk ke lift tersebut. Mereka dengan cepat menahannya, sehingga tidak lama kemudian, Gwen sudah berada di lantai lima, tempat dimana kantor Direktur perusahaan berada.
"Kita sudah sampai Miss... silakan keluar." tidak lama kemudian, security berdiri menahan pintu lift, dan mempersilakan gadis itu untuk keluar lebih dulu.
Pandangan Gwen beredar ke sekeliling, dan gadis itu merasa asing dengan interior design yang baru. Terakhir kali Gwen datang ke perusahaan ini, ketika dirinya masih kelas VI Elementary Scholl. dan terlihat sudah banyak perubahan di tempat itu. Bahkan tidak hanya sebagian, namun semua detail sudah ada renewable. Petugas security yang mengantarkan diam menunggu sampai gadis itu melihat ke arahnya.
"Dimana ruang Tuan Andrew sekarang...?" gadis itu bertanya, karena dirinya memang tidak tahu dimana ruangan Om nya untuk saat ini.
"Ada di sudut ruangan Miss... Tuan muda menghendaki agar view ruangan menyamping, sehingga jika bosan bekerja bisa melihat kota ini dari segala sudut. Mari ikuti saya Miss...!" petugas segera membawa Gwen melangkahkan kaki menuju ke arah ruangan yang berada di sudut.
Beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka terlihat acuh, karena mereka tidak mengenali gadis yang diantarkan oleh security lobby tersebut. Tapi tiba-tiba...
__ADS_1
"Hey... good day Miss Gwen... saat ini Miss sudah menjelma menjadi gadis yang sangat cantik. Saya hampir tidak bisa mengenali Miss, jika tidak melihat lesung pipit Miss Gwen..." tiba-tiba dari arah ruangan samping, seorang perempuan dewasa menghampiri Gwen, dan menyapanya dengan ramah.
"Hey juga Mrs. Laura.. apakah anda melihat keberadaan Om Andrew..?" beberapa kali pernah bertemu dengan perempuan dewasa itu, Gwen bertanya balik.
"Tuan muda Andrew ada di ruangan Miss Gwen... jangan panggil saya dengan sebutan Mrs, cause.. aku belum menikah Miss..." dengan wajah menahan malu, Mrs Laura membenarkan panggilan Gwen padanya.
"Upss.. sorry Miss.., aku tidak tahu." agar tidak menyinggung perempuan itu, Gwen segera merevisi ucapannya.
"Tidak masalah Miss... apakah perlu saya antarkan untuk bertemu Tuan muda." Mrs. laura menawarkan bantuan.
"No miss... aku bisa mencarinya sendiri..." dengan sopan Gwen menolak bantuan tersebut, dan gadis itu segera menuju ke ruang kerja Om nya.
Miss Laura dan petugas security yang mengantarkan Gwen menatap punggung gadis itu dari belakang.
Beberapa Saat Kemudian
Andrew segera menghentikan semua aktivitasnya, ketika melihat keponakan satu-satunya, Gwen Alvaretta berjalan masuk menuju ke arahnya. Laki-laki muda itu seakan tidak mempercayai pandangan matanya, berkali-kali Andrew mengucek-ucek matanya. Gwen tersenyum dan langsung berlari menghambur ke pelukan laki-laki itu.
"Is that You... Gwen..." dengan tidak percaya, laki-laki itu memeluk tubuh keponakannya, sambil mengusap-usap punggung gadis itu.
"Ada angin apa yang membuatmu menyusul Om ke SIngapura Gwen... kakek Madja masih berada di Jepang, sedang bertemu dengan collega, yang juga merupakan teman kakek di masa mudanya..." laki-laki itu membawa keponakannya duduk di kursi sofa.
__ADS_1
Berkali-kali Andrew menatap ke arah keponakannya itu, mencoba mencari tahu alasan kedatangannya ke negara itu. Namun.. laki-laki itu tidak menemukan alasan apapun, wajah Gwen tampak ceria seperti biasanya, tidak terlihat jika gadis itu sedang memiliki masalah, dan membutuhkan pelarian.
"Memangnya tidak boleh Om, jika Gwen sering-sering datang kemari.." Gwen pura-pura marah merajuk, mendengar pertanyaan dari Om nya itu.
"Ha.. ha... ha..., meskipun kamu sudah menikah Gwen..., tetapi kamu masih merupakan keponakan Om yang paling lucu dan imut. Selalu menggemaskan, apalagi jika sudah merajuk seperti ini.." Amdrew malah tertawa berkelakar melihat reaksi keponakannya itu.
Sesaat Gwen terdiam, gadis itu seperti diingatkan tentang statusnya saat ini. Meskipun dirinya sudah menikah, Gwen dan Barra memang belum merasakan indahnya pernikahan, bahkan kesedihanpun juga hanya hal yang lewat dan sambil lalu saja. Tetapi kata-kata Om nya barusan, seakan mengingatkan kepedihan yang dipendam dalam hati gadis itu. Tetapi dengan cepat Gwen segera mengalihkan itu semua.
"Gwen... apakah kata-kata Om tanpa sadar telah menyakitimu hatimu sayang..." namun rupanya laki-laki itu tahu, kemudian memeluk keponakannya.
"Tidak apa Om.. kedatangan Gwen kesini, untuk menyampaikan undangan ini Om.. " Gwen segera melepaskan diri dari pelukan Andrew, karena gadis itu tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan.
"Apa ini..." dengan dahi berkerut, Andrew segera mengambil invitation letter itu, kemudian membalik kertas tersebut dan membacanya.
"Oh my God... Gwen, kenapa baru saat ini kamu kasih tahu Om... Kamu selalu membuat keluarga kita bangga sayang,..." Andrew menatap tidak percaya pada keponakannya itu.
Gwen yang selama ini dikenalnya sebagai gadis yang sering membuat ulah di sekolah, suka melawan jika diberi tahu kakek Madja. tetapi sebuah undangan untuk menghadiri malam akhir dari penjurian, di salah satu hotel termewah di negara Singapura, membuat laki-laki itu terkejut.
"Sudahlah Om... hanya gitu saja kok, Om Andrew sampai heboh. Lagian juga belum tentu jika Gwen yang akan lolos kualifikasi untuk ikut Olimpiade di tingkat dunia. Keikutan Gwen karena mengikuti anjuran dari Wakil Kepala Sekolah Bidang Akademik Om, Mister Nano.." Gwen merendah. Gadis itu memang tidak pernah memasang target, jika dia sedang ikut kompetisi. Datang, bertanding, dan sudah. Gwen tidak pernah mempermasalahkan, apapun hasilnya.
"Tapi bagaimanapun, ini perlu dirayakan Gwen.., Om akan mengirimkan private Jet untuk menjemput kakek Atmadja untuk hadir, dan juga suamimu Barra harus tahu dan menemanimu. Ini tidak boleh dipandang sepele Gwen sayang.." Andrew terlihat membuat banyak rencana.
__ADS_1
"Please Om... jangan lakukan itu.." dengan tatapan memohon, Gwen berharap.
*********