
Barra tidak berani meninggalkan istrinya sendiri. Laki-laki itu dengan setia dan penuh perhatian mendampingi istrinya, dan melayani apa yang diinginkan oleh perempuan itu. Baru kali ini Barra melihat sendiri bagaimana pengorbanan seorang perempuan, untuk dapat melahirkan buah hati mereka, Gwen tidak mengeluh sama sekali, dan ketika rasa nyeri menghilang, perempuan muda itu tetap tersenyum menatap suaminya.
“Papa .., jika papa tidak kuat, tinggalkan Mommy sendiri pa.. Mommy akan bisa melewati sendiri di bawah pengawasan dokter..” melihat wajah suaminya yang terlihat tegang, Gwen meminta Barra untuk meninggalkannya sendiri.
“Tidak honey, aku tidak akan meninggalkanmu sendiri. Kamu dengan penuh semangat berjuang sendiri untuk melahirkan buah hati kita, tidak akan etis jika aku meninggalkanmu sendiri. Tetap semangat honey, aku tetap disini bersamamu..” Barra tetap bertahan. Laki-laki itu Kembali mengusap keringat di kening perempuan itu.,
Tiba-tiba wajah Gwen meringis, dan terlihat menahan rasa nyeri. Tetapi perempuan itu hanya menggigit bibir dan kukunya mencengkeram lengan atas suaminya. Barra bertambah tegang, dan terlihat tenaga medis mengawasi proses itu dengan sabar.
“Sampai berapa lama dokter, istriku akan mengalami penderitaan ini.. Aku tidak tega melihatnya..” tiba-tiba Barra bertanya pada Dokter yang ikut mendampingi proses persalinan itu.
“Sabar Tuan Barra.., ini proses alami melahirkan secara normal. Karena Miss Gwen sudah pernah melahirkan secara normal, dan bayi yang dilahirkannya kembar, biasanya sudah tidak akan menunggu proses pembukaan jalan lahir sampai 10 cm. Pembukaan tujuh atau delapan, biasanya bayi sudah bisa keluar sendiri.” Sambil tersenyum, dokter menjelaskan,.
Barra terdiam, laki-laki itu tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang diderita istrinya. Sebentar sebentar Gwen terlihat merintih dan menahan sakit, tetapi kemudian kembali normal ekspresinya. Hal itu berlangsung beberapa kali, dan keringat dingin mulai membasahi kening laki-laki itu. Jika saja dirinya bisa menggantikan penderitaan istrinya, Barra akan sangat bersedia menggantikan hal itu.
“Papa… bagaimana anak-anak pa, apakah mereka sudah dijemput..” di sela sela rasa sakit yang dialaminya, ternyata Gwen masih mengingat putra mereka.
„Jangan terlalu banyak berpikir honey, Claire sudah mengatakan jika Smith yang akan mengurus penjemputan. Kayla juga sudah dalam perjalanan ke rumah, untuk sementara tinggal di villa menemani Bareeq dan Tareeq.. Tugas honey kali ini jauh lebih berat, fokuslah untuk kelahiran buah hati kita sayang..” bisik Barra.
Mungkin hal ini juga dialami ibu ibu dimanapun. Di sela-sela rasa sakit, dan penderitaan, namun tetap mengingat dan memperhatikan keadaan putra atau putri mereka. Seakan penderitaannya untuk keluarga tidak ada artinya, dibandingkan dengan kebahagiaan putra-putra mereka.
__ADS_1
“Ppppppfffthhh… mmmmppphh… aaaawww… Dokter..” tiba-tiba Gwen menjerit lirih.
“Dokter… cepat dampingi istriku dokter, istriku sangat kesakitan..” mendengar hal itu, Barra kembali panik. Laki-laki itu secara reflek berteriak memanggil dokter yang mendampingi istrinya sejak tadi.
Dokter jaga, dan dua tenaga medis berlari mendekat ke ranjang Gwen. Dan mereka melihat bagaimana perempuan itu tampak menahan sesuatu dan seperti mengejan..
“Dokter… seperti ada yang mau keluar dari area kewanitaanku… Aaaaww… sssshhh…” tiba-tiba Gwen memberi tahu pada Dokter yang mendampinginya.
“Dokter… kepala bayi sudah terlihat dokter..” tenaga medis berteriak memberi isyarat pada dokter jaga.
„Miss... terus mengejan Miss, jangan berhenti di tengah jalan. Terus Miss… teruss..” secara spontan, Dokter memberi aba-aba.
Wajah Barra menjadi semakin pucat, laki-laki itu baru pertama kalinya melihat kejadian yang sangat mendebarkan itu. Isterinya berjuang untuk melahirkan putra mereka. Di sisi lain, terlihat Gwen berjuang untuk mengejan, dengan menahan rasa sakit yang tidak berkesudahan..
Rambut tebal, hidung mancung, dan dengan darah yang masih menempel di sana sini, membuat takjub pandangan Barra. Mata laki-laki itu sudah tergenang air mata, seakan tidak percaya dengan mukjizat yang terlihat di depan matanya.
“Selamat tuan Barra.., Miss Gwen, putri anda yang kedua sudah terlahir. Putri anda dalam keadaan sehat, dengan organ tubuh lengkap..” Dokter mengucapkan selamat pada pasangan suami istri itu.
Gwen tersenyum Bahagia, rasa sakit yang sejenak dirasakannya tadi tiba-tiba menghilang. Perempuan muda itu tidak mampu lagi untuk berkata-kata, hanya menatap ke wajah suaminya dengan linangan air mata.
__ADS_1
“Suster.. segera potong tali usus bayi, dan segera dibersihkan. Barulah nanti kita akan lakukan, tahapan pengenalan pada mommy dan daddy nya.” Suara dokter mengarahkan dua suster pendamping sudaah tidak dapat didengarkan oleh pasangan suami istri itu.
Barra memeluk istrinya, dan tidak peduli meskipun darah masih banyak keluar dan mengalir melalui kain Panjang yang dikenakan Gwen. Bahkan keringat juga masih menempel di tubuh perempuan muda itu.
“Papa.. menyingkirlah, beri adzan untuk putri kita. Tubuhku bau keringat sayang, dan juga kotor oleh darah..” Gwen berbisik untuk mengingatkan suaminya,
“Tidak honey… aku tidak peduli. Keringat dan darah ini adalah baktimu kepadaku, dan juga pada putra putri kita. Aku akan tetap menungguimu disini honey...” ciuman di kening, pipi dan bibir Gwen terus diberikan oleh laki-laki itu.
Dokter yang masih berada di dalam ruangan itu, hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Dokter yang juga perempuan itu, terharu melihat bagaimana Barra memperlakukan istrinya. Bahkan terkesan laki-laki itu malah mengabaikan bayi mereka yang sudah terlahirkan, dan hanya fokus untuk memastikan istrinya dalam keadaan sehat. Hal itu berlangsung untuk beberapa saat..
„Tuan Barra... apakah sebelum bayi kita perkenalkan dengan mommy nya, ada yang akan Tuan lakukan pada bayi anda berdua..” tiba-tiba Dokter bertanya pada laki-laki itu,
Di belakang perempuan itu, terlihat suster sudah membawa putri mereka yang terlihat sangat cantik dan mungil. Tanpa menjawab,. Dengan kedua tangannya Barra segera mengambil bayi dari tangan suster tersebut. Tidak berapa lama, dengan suara serak dan bergetar..
“Allahu akbar.. Allahu akbar..” lantunan merdu suara Adzan dan Iqamah mengalir keluar dari bibir laki-laki itu.
Gwen merasa terharu, dan ikut mendengarkan dengan seksama bagaimana suaminya melantunkan Adzan dan iqamah di telinga putri mereka. Dokter dan dua suster yang tidak mengerti makna dari aktivitas itu, hanya saling berpandangan. Namun mereka bertiga tampak memiliki toleransi yang tinggi, dan diam ikut mendengarkan suara laki-laki yang berbahagia itu.
“Honey… apakah honey ingin menggendong sebentar bayi kita sayang..” setelah melantunkan adzan dan iqamah, Barra mendekatkan putri mereka ke arah istrinya.
__ADS_1
Dengan mata berkaca-kaca dan penuh keharuan, Gwen memegang tubuh bayi yang baru saja dilahirkannya itu dengan bergetar. Dokter dan dua suster ikut tersenyum haru, melihat bagaimana pasangan suami istri itu, berinteraksi dengan putri mereka yang baru terlahir. Tidak lama kemudian, karena ingin segera membersihkan tubuhnya, Gwen kembali menyerahkan putrinya pada suster.
*********