
Beberapa saat pergi meninggalkan meja makan, Kayla datang kembali ke tempat tadi dengan dipegangi oleh suaminya Aldo. Melihat wajah pucat gadis itu, Gwen mengerutkan keningnya kemudian perempuan itu menghentikan makan paginya.
“Kenapa dengan Kayla Ald…?? Bukankah tadi baik-baik saja..” Gwen segera bertanya tentang keadaan adik iparnya.
“Muntah dari tadi Gwen.., aku juga tidak tahu sebabnya. Padahal tadi Kayla makan pagi dengan lahap, tapi tiba-tiba saja mual seperti ini.” Sambil mengambil cangkir berisi teh manis panas, Aldo memberikan cangkir tersebut ke depan mulut istrinya.
Perlahan Kayla meminum teh yang diberikan suaminya beberapa teguk. Tidak lama kemudian, gadis itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Terlihat nanny mengulurkan minyak aroma theraphy pada suami gadis itu.
“Oleskan di punggung atas, dan leher belakang Kayla.. Ald. Semoga saja hanya karena masuk angin, karena kecapaian main pasir laut terus.” Gwen memberikan arahan.
Aldo melakukan apa yang diperintahkan oleh Gwen, dan terlihat juga Kayla tampak menghirup aroma theraphy tersebut. Gadis itu tampak memejamkan matanya, dan tiba-tiba Gwen teringat sesuatu.
“Aldo.. sepertinya aku punya pikiran lain tentang keadaan yang dialami istrimu. Setelah sarapan pagi, bersiaplah Ald.., Kay, aku akan menemani kalian ke dokter atau rumah sakit terdekat. Kita tunda dulu, agenda untuk melihat Komodo, untuk hari ini kita habiskan waktu di pantai sekitar hotel saja..” Gwen membuat usulan baru.
“Hempphh… terserah kamu sajalah Gwen. Kami ijin dulu untuk bersiap...” Aldo membantu istrinya berdiri, dan kemudian berjalan ke arah kamar tempat mereka beristirahat.
“Mommy… ada dengan aunty Kayla mommy. Apakah aunty Kayla sakit..?” melihat aunty mereka sangat lemas, dan seperti kehilangan tenaga, Bareeq bertanya.
“Mommy juga belum tahu sayang… Pagi ini, mommy dan papa akan menemani aunty go to hospital. Bareeq dan Tareeq menemani Sheen dengan nanny. Jangan buat kesalahan sayang, secepatnya mommy akan Kembali setelah aunty tertangani oleh dokter…” karena putranya bertanya, akhirnya Gwen menjelaskan sekalian.
“Baik mommy…, Bareeq dan tareeq akan menjaga Sheen.. Mommy dan papa pergilah…” mendengar jawaban dari putranya, Gwen tersenyum.
Perempuan itu kemudian berdiri dari posisi duduknya, kemudian melangkahkah kaki menghampiri dua putranya. Gwen memberikan ciuman di kening kedua anak laki-laki itu, kemudian beralih ke tempat Sheen.
“Nanny… tolong jaga dan awasi mereka bertiga ya. Aku dan Tuan Barra akan mengantarkan Miss Kayla dan suaminya ke rumah sakit terdekat. Aku curiga, ada sesuatu di perut gadis itu, tetapi aku tidak bisa mengatakannya, karena tidak mau membuat gadis itu malah bertambah heboh dan panik..” Gwen berbicara pelan pada nanny, yang membantu mengasuh Sheen.
__ADS_1
“Siap Miss.., tadi nanny juga sempat berpikir hal yang sama. Percaya pada nanny Miss, mereka bertiga akan berada dalam pengawasan nanny..”
Setelah mendengar jawaban dari pengasuh putrinya, Gwen segera berjalan kaki meninggalkan mereka. Perempuan itu kembali masuk ke dalam kamar untuk membangunkan Barra, yang masih kecapaian dan beristirahat itu.
Sesampainya di dalam kamar, Gwen tersenyum melihat suaminya masih tertidur pulas. Perlahan perempuan itu duduk di sisi ranjang, dan menatap wajah tampan suaminya. Meskipun usia Barra sudah mendekati angka empat puluh tahun, tapi garis ketuaan belum terlihat di wajah laki-laki itu. Perlahan Gwen menundukkan wajah, dan mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya. Ternyata Gwen memberikan ciuman di kening suaminya. Cara yang sangat hangat dan romantic untuk membangunkan Barra.
***********
Beberapa saat kemudian…
Barra dan Gwen, beserta adik kandung dan iparnya sudah sampai di Siloams Hospital, Labuan Bajo. Untung saja, tidak lama mereka menunggu, ada dokter jaga. Sudah berpikir apa yang sebenarnya dialami oleh Kayla, Gwen sengaja antri di dokter spesialis kandungan. Tidak lama kemudian...
„Miss Kayla.., silakan masuk..” seorang petugas Kesehatan berpakaian perawat, tampak memanggil nama Kayla.
Gadis yang dipanggil Namanya itu menatap kea rah kakak iparnya, dan Gwen tersenyum kemudian berdiri dan menghampiri adik iparnya itu.
Aldo hanya tersenyum melihat Gwen merangkul bahu istrinya, dan mereka berdua segera masuk ke dalam ruang Tindakan. Laki-laki itu kemudian ikut duduk di samping Barra, kakak iparnya… Keduanya terdiam, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
**********
Ruang Tindakan..
Dokter tersenyum Ketika mendengar keluhan yang disampaikan oleh Kayla. Tiba-tiba dokter perempuan itu memberi isyarat pada perawat, untuk menyiapkan sesuatu..
„Baiklah kak Kayla..., kita akan lihat dulu hasil pemeriksaan sementara ya. Dari hasil pemeriksaan, nanti baru akan kita buat analisa, dan kita selidiki hal apa yang sebenarnya dialami oleh kak Kayla..” dokter itu tersenyum.
__ADS_1
„Kita ikut apa yang disiapkan oleh dokter, adik saya akan menjalaninya Dok..” karena Kayla terlihat bingung, akhirnya Gwen yang memberikan tanggapan.
„Okaylah jika begitu, sekarang kak Kayla ikuti perawat ke dalam kamar mandi ya.. Ada serangkaian aktivitas yang harus kak Kayla lakukan..” kembali dokter menyampaikan arahan.
„Baik Dokter...” sahut Kayla singkat.
Melihat perawat sudah menunggunya, Kayla segera berdiri kemudian mengikuti perawat itu berjalan, Tidak lama kemudian, akhirnya mereka sampai di depan kamar mandi.
„Kak Kayla... saya mohon di dalam kamar mandi, kakak membuang urine ya, dan dimasukkan ke tempat ini..” tiba-tiba perawat menyerahkan tempat tampungan kecil pada gadis itu.
Gadis itu bertambah bingung, dan dengan gugup menerima tempat itu dari tangan perawat. Setelah melihatnya beberapa saat, akhirnya Kayla mau juga menuruti perintah dari perempuan itu. Dengan membawa wadah kecil, Kayla segera masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
“Hempphh… tempat apakah ini.” Kayla berbicara sendiri, kemudian tampak mengamati wadah kecil yang ada di tangannya.
Tetapi untung saja, Kayla kembali teringat dengan perintah yang diberikan oleh perawat tadi. Akhirnya dengan pikiran penuh tanda tanya, Kayla akhirnya melakukannya. Beberapa saat, Kayla tampak mengisi wadah kecil itu dengan urine nya, dan setelah terisi beberapa tetes, gadis itu akhirnya segera membersihkan tangannya.
“Aku harus segera menyerahkan urine ini pada perawat tadi. Semoga saja, aku tidak mengalami penyakit yang serius, hanya masuk angin saja.” Gadis itu mencoba menenangkan pikirannya sendiri.
Setelah kembali merapikan pakaiannya, perlahan Kayla membuka kunci pintu, dan memutar handle pintu kamar mandi. Ternyata perawat tadi menunggunya di luar pintu, ketika melihat tangan Kayla memegang wadah kecil yang tadi diberikannya, perawat itu tersenyum.
„Serahkan wadah itu kembali pada saya kak, biar petugas laboratorium langsung melakukan pemeriksaan. Kak Kayla bisa kembali keluar, dan melanjutkan konsultasi dengan dokter..” Kayla segera menyerahkan wadah kecil itu.
„Terima kasih kak, saya permisi dulu..” perawat itu meninggalkan Kayla duluan.
Gadis itu kemudian mengambil nafas sebentar, dan setelah itu kemudian berjalan keluar dari tempat tersebut. Di ruang konsultasi Kayla melihat kakak ipar dan dokter tersenyum melihatnya.
__ADS_1
***********