
Asep menatap ke arah suami Gwen dengan malu. Tetapi Barra malah menepuk bahu laki-laki itu tiga kali. Papa Bareeq dan Tareeq tahu, jika Asep memiliki rasa malu dan gengsi untuk merepotkan orang lain. Namun mengingat persahabatan antara laki-laki itu dan istrinya, Barra punya banyak cara untuk membuat Asep menjadi bersedia.
„Kak Barra... tadi sepertinya aku sudah mengatakan. Aku saja sungkan untuk menerima bantuan dari Aldo, dan juga papanya. Sekarang malah, kak Barra mengatakan akan membantuku, mohon maaf kak, aku tidak bisa menerimanya. Jika aku menganggap sebagai hutang, dalam waktu dekat, aku dan Cynthia belum akan bisa untuk melunasinya. Apalagi kak Barra juga tahu, jika Cynthia sudah dekat dengan waktu melahirkan..” Asep berucap lirih, merasa khawatir jika Gwen ikut mendengar pembicaraan mereka.
Barra kembali tersenyum, dan kembali menepuk bahu laki-laki itu sebanyak tiga kali.
„Asep... jangan salah sangka kepadaku. Aku dan Gwen datang kemari untuk memberikan penawaran tentang peluang kerja sama, dan sebagai hadiah akan diterimanya tawaran ini, maka aku akan membangun halaman dan rumah tamu untuk kalian. Semua aku lakukan bukan untuk kalian berdua, namun untuk menyenangkan hati istriku..” sahut Barra, dan langsung mengalihkan pandangan ke ruang tamu.
“Apa itu kak..?” Asep terkesan ingin tahu, dan mengejar jawaban pada laki-laki itu.
“Kita masuk dulu, bergabung dengan pembicaraan Cynthia dan istriku. Nanti kamu sendiri akan tahu, tawaran apa yang aku berikan pada kalian berdua,” Barra berjalan lebih dulu. Laki-laki itu meninggalkan Asep, dan langsung masuk ke ruang tamu.
Melihat kedatangan Asep dan Barra, empat orang yang sudah duduk di ruang tamu tersenyum menyambut mereka. Bahkan Tareeq dan Bareeq, masing-,masing sudah membawa toples di tangan mereka, karena banyak nachos di dalam toples itu. Cynthia berdiri, dan menyambut Barra dengan berjabat tangan.
“Duduklah kak Barra..” Asep memerintahkan pada laki-laki itu untuk duduk.
Tanpa menjawab, Barra segera duduk di samping kedua putranya, dan langsung bergabung dengan kedua anak itu menikmati nachos.
„Maaf ya Gwen... kak Barra, kalian datang kemari tidak kasih tahu sebelumnya. Aku tidak bisa menyambut kalian dengan banyak makanan. Bahkan pagi ini saja, kami berdua hanya menikmati nasi goreng dan telur ceplok..” Cynthia dengan malu-malu, memecah kesunyian di ruangan itu.
„Halah Cynthia... Cynthia.., kami sudah sarapan di jalan menuju ke tempat ini tadi.. Kami hanya ingin melihatmu, dan bertanya tentang kehamilanmu. Jika aku tidak salah hitung, seharusnya bulan ini kamu sudah akan melahirkan bukan..?” sambil tersenyum, Gwen menyahuti perkataan Cynthia.
__ADS_1
“Hempphh… benar katamu Gwen, jika tidak ada aral melintang, mungkin dua minggu lagi HPL kelahiran bayiku..” terlihat Cynthia mengusap pelan perutnya yang membuncit.
Asep tersenyum, dan laki-laki itu yang sudah duduk di samping istrinya menundukkan wajah, kemudian memberikan ciuman di perut istrinya. Gwen dan Barra tersenyum melihat interaksi mereka.
“Ingat Cynthia.., Asep, jaga selalu hati dan perasaanmu. Karena suasana hati yang baik, akan banyak dampaknya untuk proses kelahiran buah hati kalian. Jadi semua pikiran harus fresh, jangan dipusingkan dengan hal-hal kecil yang tidak bermanfaat. Ingat kalian punya kami, teman-teman yang akan selalu support apapun aktivitas kalian.” Gwen memberikan beberapa pesan pada sahabatnya itu.
“Pasti Gwen.. aku akan memastikan jika istriku akan baik-baik saja. Tidak bakalan aku menelantarkan istriku yang sangat sabar dan penurut ini..” sahut Asep sambil menyandarkan kepala istrinya di bahunya.
“Hempphh… good job guys..” sahut Barra sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
Tiba-tiba Tareeq dan Bareeq mengajak papanya untuk bermain di depan. Kebetulan pohon buah tin di depan rumah Asep sedang berbuah, dan kedua anak itu ingin memetic langsung dari pohonnya. Dengan sabarnya, Barra keluar menemani dua putranya.
********
Setelah beberapa saat di rumah Asep, akhirnya Barra dan Gwen bermaksud untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka, berkunjung ke rumah sahabatnya. Barra menggenggam tangan Gwen, sedangkan kedua putranya masih bermain di teras rumah,
“Asep… sebagai suami Gwen, aku ingin meminta ijin darimu. Hal ini karena kamu adalah suaminya Cynthia, dan kamu tahu sendiri paham bukan, jika pahala istri berada pada ridho suami.” Barra akhirnya memulai pembicaraan.
Asep dan Cynthia segera focus menatap mata suami Barra,
“Kalian berdua tahu bukan, jika istriku Gwen punya aktivitas free lancer sebagai desainer interior. Awal mula, Gwen hanya melakukannya untuk mengisi waktu luangnya. Namun ternyata.. aku amati, istriku sudah sangat kewalahan. Sedangkan animo customer masih sangat tinggi, dan tidak mungkin bukan jika, Gwen mengecewakan mereka.” Lanjut Barra.
__ADS_1
“Mmmmppph iya Asep, Cynthia. Apa yang dikatakan kak Barra memang benar. Setelah kelahiran putra kalian, kami ingin berkongsi denganmu Cynthia. Bantu aku, untuk mengerjakan pesananku, dan aku tidak akan menganggapmu sebagai karyawan. Tetapi kita adalah partner atau mitra..” timpal Gwen sambil tersenyum, sambil melihat ke arah suaminya.
Asep dan Cynthia terdiam, pasangan suami istri itu tampak berpikir serius sampai beberapa saat.
“Jangan khawatir, selama Cynthia bekerja, kami akan melengkapi fasilitas agar Cynthia dan juga istriku tetap bisa merawat baby kalian. Akan kita lengkapi dengan baby sitter, dan juga ruangan untuk baby care,” tambah Barra, karena juga mempertimbangkan untuk fasilitas baby Sheen.
Mata Cynthia mengerjap, dan perempuan itu memegang erat lengan suaminya. Asep tersenyum, kemudian..
“Tidak perlu meminta ijinku kak Barra, jika bersama dengan Gwen, aku pasti akan mengijinkannya. Sebenarnya sudah beberapa waktu lalu, Cynthia minta ijin untuk bekerja, namun aku masih mempertimbangkan karena mengingat kehamilannya. Tapi sepertinya dewi fortuna berpihak pada keluargaku, terima kasih kak Barra, Gwen atas kesempatan untuk istriku..” Asep menyambut baik tawaran dari sahabatnya.
“Iya kak, Gwen.. aku pasti sangat senang. Tidak perlu kamu tawarkan, posisi apapun dengan bekerja denganmu, aku sudah sangat senang. Kenapa tidak menawarkan peluang ini pada Hans juga Gwen.., biar kita bisa bekerja bersama..” Cynthia juga terlihat well come, dan malah menyinggung Hans sahabat mereka.
“Semalam aku dan kak Barra juga sudah memikirkannya Cynt.. jikapun Hans sudah memiliki usaha sendiri, kita bisa bermitra. Selain itu, mulai besok Kak Barra sudah akan mengumumkan lowongan kebutuhan asisten untuk desainer kita, sehingga nantinya kita tidak akan kewalahan..”
Perbincangan selanjutnya lebih didominasi pembicaraan antara Cynthia dan Gwen. Suami-suami mereka, hanya senyum senyum sendiri mendengar pembicaraan mereka, dan saling beradu pandang. Namun yang namanya perempuan, jika sudah bertemu dengan teman baik satu frekuensi, teman lain yang bersamanya pasti terabaikan.
“Honey… ingat ya, kita sudah berada di rumah ini lebih dari dua jam.. Apa kita mau tetap disini sampai sore..?” tiba-tiba Barra memberi signal untuk segera Kembali.
Gwen tersenyum dan melihat ke arah suaminya..
“Iya papa sayang… kita pulang sekarang..” sambil tersenyum malu, akhirnya Gwen mengikuti keinginan suaminya.
__ADS_1
********