
Upper Bukit Timah
Andrew minum wine di mini cinema yang ada di rumah mewahnya. Rumah itu dibangun di lokasi komplek perumahan elit di Kawasan Singapura, dan hanya beberapa orang saja yang bisa tinggal di Kawasan tersebut. Laki-laki itu sedang gundah, karena baru saja diultimatum kekasihnya yang terus mendesak untuk segera dinikahi. Namun… mengingat hubungan pernikahan keponakannya Gwen dengan sahabatnya Barra belum berjalan sebagaimana mestinya, laki-laki itu seperti trauma. Hubungan tanpa pernikahan tampaknya masih lebih menyenangkan untuk laki-laki itu.
“Hemmpph… apakah aku siap untuk ditinggalkan Clara dalam waktu yang tidak lama ini…” laki-laki itu tampak berpikir sendiri, sambil beberapa kali memutar-mutar gelas sloki di tangannya. Tampak sekali ada kebimbangan pada diri laki-laki itu.
“Memaksa Gwen untuk menikah dengan Barra saja, sudah membuat otakku mau meledak. Apalagi melihat kepasifan dari dua orang itu, membuatku malah menjadi malas untuk mengambil keputusan menikah.” Kembali Andrew berbicara sendiri.
Laki-laki itu menyelonjorkan kedua kakinya, dan layer LED yang sedang menayangkan film Ant Man di depannya itu, tidak sedikitpun laki-laki itu lirik. Tampak beban berat seperti sedang dipikul sendiri oleh laki-laki itu.
“Clara…. Aku belum yakin dengan gadis itu. Apakah Clara akan betul-betul bisa mencintaiku, dan menganggap Gwen seperti anaknya juga…? Aku masih meragukannya, jangan-jangan hanya karena tergiur kemewahan yang selama ini aku berikan saja, Clara ngotot ingin menikah denganku. Padahal jika aku ambil contoh Gwen keponakanku itu. Bagaimana gadis itu menolak keras, ketika pertama kali aku dan kakek memaksanya untuk menikah...?” Andrew seperti kembali dalam kebimbangan. Sejak tadi, anak muda itu merasa galau, dan tidak beranjak pergi dari tempat duduknya. Pekerjaan perusahaan, juga tidak disentuhnya sama sekali.
„Drttt... drttt....” tiba-tiba ponsel laki-laki itu bergetar.
Andrew melirik ke arah ponselnya, dan melihat Barra sedang melakukan panggilan kepadanya. Dengan malas, Andrew mengambil ponsel itu dengan telapak kakinya, kemudian mengangkat dengan satu tangannya.
“Hempph ada apa bro… tumben sekali kamu ingat aku. Jika kamu tahu, aku masih marah atas ketidak datanganmu pada acara pemberian penghargaan Gwen di Singapura dua minggu lalu.” Dengan nada datar, Andrew menerima panggilan Barra.
__ADS_1
„I don.t care Andrew… kamu mau marah, atau mau menerimaku, not my business. Aku hanya mau kasih tahu, mempertimbangkan stamina Gwen… perjalanan menuju ke Amerika, dari Halim Perdana Kusuma Jakarta, private jet langsung transit di Jepang untuk isi Avtur.. lanjut Honolulu, dan Amerika. Jadi aku tidak akan membuang waktu untuk mampir Singapura, agar kamu paham…” dengan nada datar pula, Barra menanggapi perkataan sahabat yang saat ini sudah menjadi pamannya itu.
Hanya gara-gara kejadian yang menurutnya sepele itu, Andrew marah padanya tanpa suatu alasan. Tetapi kedatangannya Kembali ke kota Bogor sebagai imbas kemarahan sahabatnya itu, ternyata membawa perkembangan bagus bagi hubungannya dengan Gwen.
“Hey… kamu sadar tidak bro... aku yang seharusnya marah kepadamu, kenapa malah bicaramu ketus begitu kepadaku..” tiba-tiba seperti tersadarkan, Andrew berteriak pada Barra.
“Hempph… marah..?? Kayak anak di Kinder garten saja pakai acara marah, ngambek segala. Aku sudah berada di Jakarta, dan aku yang akan menemani sendiri istriku Gwen Alvaretta, keponakan dari Andrew Sagala ke Amerika. Puas....” bukannya mengecilkan nada bicara karena kemarahan Andrew, tetapi Barra malah berteriak balik pada sahabatnya itu.
Barra sangat paham dan tahu bagaimana karakter dari Andrew, dan tahu juga jika sahabatnya itu sedang galau. Karena mereka memang selalu begitu, saling melampiaskan diri jika salah satu di antara mereka sedang memiliki masalah.
„Aku lagi galau bro... perempuan itu memang menyebalkan, dan hanya mau senang saja, tanpa mempedulikan hati laki-laki...” tiba-tiba saja, Andrew mulai membuka diri. Dari seberang telpon, Barra hanya bisa tersenyum.
“Ha… ha.. ha… semua perempuan...?? Menurutku tidak broo... karena tidak akan butuh waktu lama, aku sudah akan bisa menundukkan keponakanmu Gwen. Hatinya akan mulai lumer dengan kesabaranku, dan keromantisanku. Nikmati sendiri masalahmu Andrew… sabarlah. Jika memang Clara bersedia menunggumu, dan juga menerimamu apa adanya, gadis itu layak untuk kamu peristri. Tapi jika masih sedikit-sedikit ngambek, maka perlu kamu beri shock theraphy untuk menguji kesabarannya menghadapimu..” tidak melihat pada dirinya sendiri, bagaimana Barra harus bersabar dalam menghadapi Gwen, laki-laki itu memberi nasehat pada sahabatnya.
Dua laki-laki sahabat karib itu mulai bicara ngalor ngidul, dengan topik perempuan. Merasa sudah mulai bisa meluluhkan hati Gwen, Barra terus memberi nasehat pada sahabatnya itu, tentang trik jitu menghadapi seorang gadis.
********
__ADS_1
Beberapa saat kemudian…
Dengan sabar Barra membantu istrinya menyiapkan semua perlengkapan untuk dibawa ke Amerika. Laki-laki itu seperti tidak menginginkan istrinya Lelah, dan setelah selesai menyusun semuanya, segera memerintahkan penjaga rumah untuk membawanya ke dalam mobil. Setelah semuanya sudah masuk ke dalam mobil, pasangan suami istri itu segera bergegas menuju ke mobil tersebut,
“Nona muda sekarang sering meninggalkan Bibik sendiri di rumah… Rumah akan terasa sepi, jika hanya Bibik dan para pembantu lainnya yang tinggal disini..” sambil mengantarkan menuju ke mobil, Bibik Darmi berbicara pada nona majikannya.
„Tidak masalah Bik... sekalian berlatih. Nanti jika non Gwen sudah selesai SMA, harus mengikutiku ke Finlandia. Jadi sejak sekarang Bibik Darmi sudah menyiapkan diri..” Barra menoleh pada perempuan paruh baya itu, dan menanggapi perkataannya.
„Waduh... apakah secepat itu tuan Barra.. Padahal tidak sampai dua bulan lagi, non Gwen sudah selesai Pendidikan di tingkat SMA nya.Masak sudah akan pergi meninggalkan Bibik di rumah ini.., apakah ridak bisa untuk ditunda lagi?” dengan senyum pahit, perempuan paruh baya itu melihat ke arah Gwen.
Mendengar nada khawatir dari pengasuhnya sejak bayi itu, Gwen ikut melihat ke arah perempuan tersebut. Gadis itu tersenyum, kemudian memegang kedua bahu perempuan itu..
“Siklus hidup seseorang tidak bisa ditebak Bibik… bukankah itu yang selalu Bibik katakan pada Gwen, Ketika Gwen merindukan kehadiran papa dan mama. Saat ini… mungkin menjadi siklus hidup, dimana Gwen harus pergi mengikuti kak Barra Bik… Bibik Darmi harus berlatih itu, dan terus menunggu kepulangan Gwen Kembali ke negara ini.” Sambil tersenyum pahit pula, Gwen menanggapi kata-kata dan kekhawatiran bibik pengasuhnya itu.
Barra tersenyum mendengar ucapan Gwen, dan ketika laki-laki itu melihat jam di pergelangan tangannya, Barra segera merangkul bahu istrinya.
“Sudah hampir pukul tujuh malam honey… kita harus segera menuju ke bandara Halim Perdana Kusuma…” mengingat jadwal keberangkatan private jet untuk take off, Barra mengingatkan istrinya.
__ADS_1
Gwen menatap ke wajah suaminya, akhirnya gadis itu segera berpamitan dan menepuk Pundak Bibik Darmi. Pasangan suami istri itu segera meninggalkan teras, dan bergegas masuk ke dalam mobil.
**********