Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 176 Mencari Tahu


__ADS_3

Setelah berdiskusi dengan istrinya, akhirnya malam hari Andrew menyempatkan untuk membuka CD yang pernah ditinggalkan Barra tiga tahun lalu di lobby perusahaan. Karena tidak ada DVD eksternal, akhirnya mereka memutar CD di layer LED yang ada di dalam kamar. Kedua orang itu menahan nafas, Ketika detik-detik Barra masuk ke dalam lift hotel, dan di rekaman lain terlihat laki-laki itu mulai menekan bel pintu kamar,


“Sabar kak… kita akan mengetahui kebenarannya. Apakah betul-betul Barra melakukan kesalahan, atau hanya kesalah pahaman saja. Meskipun hal ini sudah berlangsung lama, tapi aku yakin semua masih bisa diperbaiki.” Melihat suaminya yang diselimuti ketegangan, Anne mencoba menetralisir suasana.


*„Fu*ck... itu Andy, saudara sepupu Barra..” melihat sekilas wajah Andy dalam layer LED, Andrew menjadi terkejut. Dan Ketika melihat sendiri bagaimana anak mud aitu membekap mulut, dan hidung kakak sepupunya dengan menggunakan kain, wajah Andrew berubah menjadi merah padam.


Tampak kemarahan terlihat di wajah tegas laki-laki itu, tetapi Andrew masih berusaha untuk menahan diri,


“Gila…, betul-betul gila. Aku baru tahu ada saudara bisa menyakiti dan membuat keonaran dalam kehidupan kakak sepupunya. Dan semua itu, keponakanku Gwen yang menjadi korbannya.” Melihat bagaimana Andy melucuti pakaian atas suami Gwen, Andrew terus mengutuk.


Dari samping suaminya, Anne diam ikut mengamati apa yang terjadi denga napa yang mereka lihat di depan mata. Ketika melihat Jacqluine melepaskan pakaian di depan Andy, dan Barra yang sudah direbahkan di atas ranjang, Anne menutup mata suaminya.


“Aku tidak akan tergiur dengan tubuh perempuan laknat itu Anne… tidak perlu kamu tutup mataku..” Andrew berkomentar atas Tindakan istrinya.


Akhirnya perlahan, Anne melepaskan tangannya sambil melihat ke arah suaminya dengan cemberut.


“Ternyata Andy itu memang sudah tidak punya otak.. Di samping Barra yang pingsan, anak mud aitu malah bermesraan dengan Jacqluine. Aku telah salah, menghakimi Barra sahabatku tanpa bertanya dan melakukan penyelidikan terlebih dahulu.” Terlihat ada penyesalan menyelimuti wajah laki-laki itu.


“Semua sudah terlanjur kak, kita hanya harus memperbaiki keadaan. Kita lepaskan keruwetan ini, dan jika perlu kita akan antarkan Gwen dan kedua putranya untuk bertemu dengan Barra suaminya.” Terdengar Anne terus menenangkan suaminya.


“Benar katamu sayang..” ucap Barra lirih. Tatapan mata laki-laki itu terus menatap di layer LED.


“Bukankah, kamu dulu pernah bercerita, kamu sudah berusaha membayar orang-orang untuk mencari rekaman CCTV di hotel pada saat kejadian. Kenapa tidak ditemukan, dan ternyata Barra malah memiliki bukti rekaman ini..” merasa bingung, Anne mengingat kembali kejadian tiga tahun yang lalu itu.

__ADS_1


Andrew terdiam, dan laki-laki itu Kembali mencoba mengingat kejadian yang telah berlalu itu.


“Mungkin… kemarin aku sudah didahului oleh orang lain. Syukurlah… Barra berhasil menemukan rekaman ini, sehingga kesalah pahaman bisa diurai secepatnya. Dan.., kebetulan Gwen juga akan wisuda di kampusnya tidak lama lagi. Aku akan mengatur semuanya,” tiba-tiba Andrew menyampaikan rencananya.


Anne tidak segera memberikan tanggapan. Perempuan itu hanya berpikir, jika yang akan mereka temui ternyata tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Sudah tiga tahun berlalu, mereka tidak akan bisa mencegah apa yang akan dilakukan oleh Barra. Bisa jadi, laki-laki itu sudah memiliki pasangan baru, dan hal itu tidak bisa untuk disalahkan.


“Apa yang kamu pikirkan saat ini Anne... kamu terlihat bingung..?” melihat istrinya terdiam, Andrew mengajukan pertanyaan.


“hempph…, bukan sesuatu yang penting kak.. Hanya saja, aku tidak bisa menghilangkan pikiran gilaku kak.. Bagaimana jika nantinya, Barra ternyata sudah memiliki pacar baru, atau lebih ekstrimnya istri baru..” merasa khawatir jika kata-katanya akan memprovokasi suaminya, Anne berbicara lirih.


„Kemungkinan itu bisa saja terjadi Anne... tapi itu malah akan menjadi bukti. Apakah Barra betul-betul setia pada Gwen, ataukah dengan mudah hubungan mereka luntur.” Ucap Andrew pelan. Namun jikalau Andrew mengetahui jika Barra sudah memiliki pengganti Gwen, laki-laki juga tidak akan menyalahkannya.


Pasangan suami istri itu kemudian mematikan LED, dan menyimpan kembali CD ke tempat yang aman.


Pagi harinya…


Setelah menemani dua putranya makan pagi, Gwen kembali masuk ke dalam kamar. Gadis itu melakukan video call dengan kakek Atmadja, untuk memastikan jika kakeknya dalam keadaan baik-baik saja.


„Bagaimana keadaan di Bogor Gwen... apakah bisa mengobati rasa rindumu sayang...?” terlihat kakek Atmadja bertanya pada cucunya.


„Alhamdulillah kakek, dan mungkin agak lama Gwen akan meninggalkan kakek sendiri di Dubai. Hari ini Gwen berencana akan berkunjung ke Panti Asuhan Hidayah, yang pernah Gwen ceritakan dulu kek..” gadis itu memberi tahu jika agak lama berada di Indonesia.


„Tidak masalah, banyak pengawal dan maid yang menemani kakek disini. Nikmati hidupmu sayang.., dan sampaikan pada Andrew untuk menelponku nantinya. Anak itu selalu lupa, jika sudah berada di kota Bogor..” laki-laki tua itu tidak mempermasalahkan.

__ADS_1


Cucu dan kakek melanjutkan cerita mereka, dan karena akan berkunjung ke Panti Asuhan Hidayah, akhirnya Gwen mengakhiri video call dengan kakeknya. Ada kelegaan setelah berbicara panjang lebar dengan kakeknya, yang akhir-akhir ini selalu intens mendampinginya. Sampai Gwen bisa mengobati luka hatinya, semua proses dilakukan dengan laki-laki tua itu.


 „Sudah jam sepuluhan saja aku ke Panti Asuhan. Aku akan mengajak Tareeq dan Bareeq ke sana, untuk menunjukkan jika masih banyak anak yang memiliki keadaan jauh di bawahnya.” Gwen berbicara sendiri. Gadis itu meraih cussion untuk menghilangkan minyak di wajahnya, kemudian Kembali mengenakan niqab.


„Aku harus segera bersiap, agar tidak kesiangan..” Gwen berucap.


Setelah selesai, gadis itu segera berdiri, namun kerut Gwen berkerut. Ada tulisan tangan yang sangat dikenalnya, dan itu adalah tulisan Barra suaminya.


“Kak Barra…” desis Gwen. Gadis itu mendekat, kemudian mengusap tulisan di atas kertas HVS kuarto yang ditempelkan di atas meja.


“Aku yakin… suatu saat kamu pasti akan kembali ke kamar ini honey… Tidak peduli sampai kapanpun, aku akan tetap menunggumu. I love you…” membaca tulisan dari suaminya, tanpa sadar air mata Gwen menetes.


Ingatan tentang hubungan mereka yang sudah  berusaha sekuat tenaga untuk dilupakan, kembali terbayang di memori otaknya.


“Aku akan tanya mbok Darmi atau Bik Surti, apakah benar kak Barra pernah mampir ke kamar ini..” ingin mendapatkan informasi, Gwen bergegas keluar dari dalam kamar.


Meskipun ada Andrew dan Anne dengan kedua putranya di ruang tengah, Gwen mengabaikan mereka. Untung saja, mereka tidak begitu ngeh memperhatikan Gwen, jadi tidak ingin tahu urusan apa yang dicari oleh gadis itu.


“Mbok Darmi… ikut Gwen sekarang ya mbok...” melihat mbok Darmi yang sedang berjalan menuju dapur, Gwen langsung menarik tangan perempuan itu.


“Ada apa non..?” perempuan itu bingung.


“Sudah ikut saja mbok, ada yang akan aku tanyakan.” Gwen membawa perempuan paruh baya itu ke arah kolam renang. Dan di kursi besi yang ada di pinggir kolam  renang, Gwen mengajak duduk.

__ADS_1


********


__ADS_2