
Beberapa jam seusai acara
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi Gwen masih terlihat berpamitan dengan ketiga teman satu kamarnya di Bougenville Dengan sabar baik Aldo dan ketiga sahabatnya, Barra juga masih setia menunggu gadis itu selesai berpamitan. Merasa tidak ada urusan dengan ketiga anak mud aitu, Barra mendiamkan ketiganya. Laki laki itu asyik membuka gadget untuk mengisi waktu. Tidak lama kemudian, terlihat Gwen keluar dari dalam ruangan kemudian diikuti oleh ketiga teman lainnya.
“Kamu sudah selesai Gwen… ayo kita segera Kembali ke hotel. Besok pagi, kita masih ada waktu untuk merayakan kemenanganmu.” Aldo segera berdiri dan mendatangi gadis itu. Laki-laki itu segera mengambil trolly dari tangan gadis itu.
“Kalian bukan muhrim… tidak boleh pergi bersama. Gwen kembali bersamaku...” tanpa permisi, Barra segera mencengkeram pergelangan tangan gadis itu,” Gwen berusaha melepaskan tangan suaminya, gadis itu dengan tatapan tajam menolak untuk pergi bersama laki-laki itu.
Barra terkejut mendapatkan penolakan itu, apalagi Aldo dan kedua temannya turut menatap tajam ke arahnya.
„Aku akan membuka identitas pernikahan kita di depan teman-temanmu sekarang, atau ikut aku kembali sekarang.” Tiba-tiba dengan nada ancaman, Barra berbisik di telinga istrinya.
Gwen tampak marah pada Barra, namun laki-laki itu malah tersenyum smirk pada gadis itu. Merasa masa depannya belum ada kejelasan, akhirnya Gwen mengikuti langkah kaki Barra. Di belakang kedua orang itu, ketiga anak muda itu mengikuti di belakangnya.
„Katakan pada tiga anak muda itu, untuk tidak mengikuti kita. Tidak baik mengikuti gadis yang sudah menikah..” sambil jalan, Barra memberi peringatan pada istrinya.
“Kak Barra.. jangan ngadi-ngadi..! Mereka tinggal satu hotel dengan kita, apakah bijak mengusir orang yang sudah menolong Gwen, dan menenangkan Gwen ketika ada masalah. Gwen tidak peduli, jika hanya karena ancaman kak Barra, persahabatan kami berempat harus bubar karenanya.” Tidak diduga, Gwen menjadi bereaksi, Dengan tatapan kemarahan, gadis itu berhenti dan menatap kea rah Barra.
Melihat reaksi gadis itu, tidak hanya Barra yang terkejut. Aldo, Asep dan Raffi juga tidak kalah terkejutnya, tetapi mendengar jika kemarahan itu karena Gwen membela mereka, akhirnya ketiganya menjadi tersenyum, dan merasa bangga dengan gadis itu.
__ADS_1
“Hempph… kenapa tidak kamu katakan honey... jika mereka datang dari hotel yang sama dengan kita. Baiklah.. karena hari sudah malam, aku berbaik hati untuk membawa mereka kembali bersama dengan kita. Katakan pada mereka, karena tidak akan mudah mencari taksi malam-malam begini, dari tempat ini..” akhirnya setelah berpikir sejenak, dengan berat hati akhirnya Barra mengijinkan ketiga anak muda itu untuk pergi bersama mereka.
„Aldo... Asep, Raffi, kalian bertiga kembali bersama kami menuju hotel. Tidak perlu mencari taksi, akan sulit mencari
taksi malam-malam begini. Daerah ini jauh dari komplek komersil, jadi jarang dilewati oleh fasilitas umum..” akhirnya sambil berjalan, Gwen menoleh ke belakang.
„Baiklah Gwen... yang penting kita tidak terpisahkan..” akhirnya Aldo bertindak lebih dewasa. Anak muda itu segera
menyetujui ajakan itu.
Rombongan kecil itu akhirnya masuk ke dalam mobil. Aldo duduk di depan bersama dengan driver, sedangkan Asep dan Raffi keduanya duduk di kursi belakang. Di kursi tengah, Barra dan Gwen duduk berdampingan. sepanjang perjalanan, tidak tahu maksudnya, Barra terus menggenggam tangan gadis itu. Gwen berusaha melepaskan, tetapi suaminya tetap memegangnya kembali. Sepertinya Barra bertindak seolah memanas-manasi laki-laki yang duduk di depan bersama dengan driver.
Begitu turun dari mobil, Barra membawa trolly istrinya turun. Tidak mau membuat keributan, Gwen berhenti di lobby, dan mencoba memberikan pengertian pada ketiga sahabatnya itu. Gadis itu meninggalkan Barra untuk mendatangi Aldo, dan Barra rupanya sudah bisa mengendalikan dirinya.
“Aldo.. aku nitip dulu trolly bag di kamarmu yah... Besok kita bertemu lagi di Embassy, untuk kali ini aku masih harus bersama kak Barra..” dengan sorot mata memohon, Gwen mengajak bicara Aldo. Terlihat ada protes dalam tatapan anak mud aitu, tetapi Asep segera memegang pundak sahabatnya itu.
„Hempph... baiklah Gwen... selamat beristirahat mala mini. Sweet dream..” dengan berat hati akhirnya Aldo mengucapkan selamat tinggal pada gadis yang dicintainya.
Gwen segera berjalan meninggalkan Barra lebih dulu. Sambil menarik trolly bag, gadis itu. Barra segera mempercepat Langkah kakinya. Laki-laki dewasa itu segera merangkul pundak istrinya, dan keduanya berjalan masuk ke dalam pintu lift khusus. Dalam lift sampai ke Pant House, keduanya saling berdiaman. Meskipun Barra masih merangkul bahunya, namun Gwen masih enggan bersuara. Di depan pintu masuk ruangan mereka, Gwen berhenti. Gadis itu merasa khawatir tidak bisa menguasai dirinya, jika harus bertemu dengan perempuan yang mengaku sebagai kekasih suaminya.
__ADS_1
“Kenapa kamu berhenti honey… ayolah kita masuk Bersama…” melihat istrinya berhenti di depan pintu, Barra mengajaknya masuk.
“Sepertinya kita harus buat kesepakatan dulu kak… Agar tidak ada keributan di dalam nanti..” akhirnya Gwen menanggapi ucapan Barra.
Laki-laki itu mengerutkan dahinya, merasa bingung dengan sikap misterius yang ditunjukkan oleh Gwen. Tetapi Barra mencoba untuk bersabar, laki-laki itu menghirup nafas panjang…
“Kita bisa tukar kamar kak... Gwen tidur sendiri di kamar yang biasa kita gunakan untuk tidur. Kak barra pindah di kamar sebelah dengan kekasih kak Barra. Tidak perlu ada rasa tidak enak dengan keberadaan Gwen kak… Santai saja, Gwen juga tidak akan mengganggu kemesraan kak Barra..” akhirnya dengan tercekat, Gwen melanjutkan kata-katanya.
Barra terdiam, kemudian pada istrinya dengan sorot mata mencari tahu. Laki-laki itu teringat Jacqluine, meskipun beberapa kali perempuan itu tidur di dalam Pant House, tetapi tidak terjadi apa-apa antara dirinya dengan perempuan itu. Tetapi kata-kata yang diucapkan Gwen kali ini, seperti sebuah sindirian untuknya.
„Apakah honey cemburu...” bukannya menanggapi permintaan gadis itu, Barra malah menggoda gadis itu. Laki-laki itu kemudian membuka pintu, dan menunggu sampai Gwen berjalan masuk ke dalam kamar mengikutinya.
„Masuklah honey... tidak baik jika ada orang yang melihat kita. Waktu sudah malam, kita harus cepat beristirahat. Percayalah tidak ada perempuan lain dalam Pant House ini, kedatangan Jacqluine perempuan dari masa laluku, itu merupakan kesalahan.” Dengan kata-kata lembut, Barra menunggu istrinya dengan sabar.
Gwen terdiam sebentar, tetapi karena merasakan matanya sudah mengantuk, gadis itu akhirnya mendahului masuk ke dalam kamar. Dari belakang, Barra hanya geleng-geleng kepala melihat kea rah istrinya. Tidak lama kemudian, laki-laki itu sudah mengikuti masuk ke dalam kamar, Tanpa mengganti pakaian yang dikenakan dari gala dinner, Gwen langsung merebahkan tubuh di atas ranjang.
“Gantilah dulu pakaianmu honey.. apakah tidak merasa risi dengan pakaian seperti itu…” Barra mencoba mengingatkan.
Tidak menjawab, Gwen malah menarik selimutnya ke atas., Gadis itu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Tidak lama kemudian, gadis itu sudah tertidur.
__ADS_1
********