Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 260 Upaya Hans


__ADS_3

Di hari Sabtu pagi, Gwen sudah Bersiap untuk menghadiri undangan sebagai naras umber di Kementerian Pariwisata Divisi Creative. Ketika perempuan itu sudah mengenakan pakaian hasil rancangan Jacqluinne, mata Barra tidak mau berkedip. Tatapan laki laki itu seperti terhipnotis tidak mau beralih dari menatap istrinya yang tampak cantik, ramping, dan elegance. Meskipun mengenakan kerudung di kepala, namun malah mempercantik wajah mungil Gwen, dan membuatnya lebih tirus.


“Papa… kenapa sejak tadi melihat ke arah mommy sih. Kan mommy menjadi risih, malu gitu lho..” Gwen menutup wajah dengan menggunakan kedua tangannya.


“Jangan ditutup mommy… ini papa sedang mengagumi kecantikan penampilan istri papa.. “ Barra berdiri dan memegang kedua telapak tangan istrinya, kemudian menurunkan tangan itu.


Mata Gwen mengerjap begitu melihat ke arah suaminya, dan tanpa ragu Barra langsung memeluk perempuan itu. Senyuman Gwen selalu memabukkan di mata suaminya, dan tanpa ragu laki laki itu memberikan ciuman di bibir mungil perempuan itu.


“Bajumu sangat bagus honey, ada tenun ikat sebagai hiasannya. Pesan dimana, kenapa tidak pernah minta masukan ke papa..” Barra yang benar benar tidak tahu, asal usul dari baju yang dikenakan istrinya, tanpa ragu memuji dan bertanya.


“Mmmpphh… ini karya kak Jacqluinne pap.. Mommy sengaja meminta pada kak Jacqluinne untuk membuat desainnya, mengingat hanya beberapa hari saja kemarin undangannya. Selain itu, kak Jacqluinne juga berkeluh kesah, jika belum ada peningkatan penjualan dari baju baju karya butiknya. Semoga saja dengan mengenakan baju ini di khalayak umum, dan mommy jadi pusat perhatian bisa sekaligus mempromosikannya.” Tanpa ada rasa ragu, Gwen menanggapi suaminya.


Barra agak terhenyak dengan penjelasan istrinya, namun laki laki itu segera menetralisir perasaannya. Masih ada keraguan dalam laki laki itu, khawatir jika Jacqluinne akan kembali berbuat ulah, dan menyakiti istrinya. Namun ternyata.. Gwen tampak tulus memperlakukannya, dan sedikitpun tidak ada keraguan tentang Jacqluinne.


„Good job honey.. ayuk papa akan mengantarmu ke tempat undangan. Tidak mau aku akan membiarkan istriku yang cantik sendirian berada di tempat umum, di bawah tatapan ketertarikan orang orang yang belum mengenal honey..” melihat jam yang ada di dinding, Barra bergegas mengajak istrinya untuk segera berangkat.


“Really pa… jika begitu, kita ke Batarsheen dulu pa, untuk menjemput Joshie. Anak itu yang berhubungan dengan committee, mommy hanya bilang sanggup saja.” Mendengar ajakan suaminya, Gwen segera Bersiap.


“Halah tidak perlu honey.. kamu tinggal telpun Hans, untuk membawa Joshie ke tempat berlangsungnya acara. Kita bisa bertemu disana, bisa bisanya istriku memintaku untuk menjemput anak buahnya. Bisa jatuh nih, harkat martabatku..” Barra bergurau.

__ADS_1


“He.. he.. he.., bukan itu maksud mommy… papa. Okaylah, ini mommy akan langsung hubungi Hans, semoga saja laki laki itu sudah berada di perusahaan. Joshie juga akan mommy ingatkan untuk mau bersama Hans.” Sambil berjalan mengikuti Langkah kaki suaminya, Gwen mengiyakan.


Tidak lama kemudian, pasangan suami istri itu sudah berada di dekat mobil yang akan mereka gunakan. Seperti biasa, mengingat pakaian yang dikenakan Gwen pagi ini agak ribet, Barra membantu istrinya masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan Gwen aman, perlahan Barra menutup pintu mobil.


“Kita langsung berangkat ya honey..” setelah duduk di kursi belakang kemudi, Barra perlahan mulai menyalakan mobil. Pasangan suami istri itu segera berangkat meninggalkan halaman rumah, untuk menuju ke tempat berlangsungnya acara.


**********


Noli Studios Hotel


Suasana di hotel tempat berlangsungnya diskusi panel yang dihadiri Gwen terlihat sangat ramai. Seperti yang sudah diperkirakan oleh Barra, begitu dirinya sampai di ball room Bersama dengan istrinya, banyak tatapan kekaguman pada istrinya. Pakaian yang dikenakan Gwen, memang sangat cocok dikenakan di negara ini yang notabene memang bersuhu udara dingin. Tambahan corak tenun ikat dari Indonesia, ikut mempercantik dan menambah unsur etnik dan membuat gaun itu menjadi lebih menarik. Apalagi yang mengenakannya adalah Gwen yang sanagat melekat, dan Anggun dengan pakaian itu.


Di belakang Joshie, terlihat Hans tersenyum dan merentangkan kedua tangan untuk memberikan pelukan pada Barra. Suami Gwen itu segera menyambut sambutan dari sahabat baik istrinya.


“Kak Gwen… kak Barra… tunggu Kay..” baru saja rombongan kecil empat orang itu akan melangkahkan kaki, terdengar suara Kayla memanggil mereka.


Barra dan Gwen menoleh, dan terlihat Kayla bersama dengan Aldo datang menghampiri mereka.


“Hey… apa yang kalian berdua lakukan di tempat ini Kay…, Ald.. Jangan bilang, jika kalian berdua memang sengaja datang untuk istriku Gwen..” Barra menyambut mereka dengan pertanyaan curiga.

__ADS_1


“He .. he.. he.., jangan tegang seperti itulah kak.. Memang benar sih apa yang kak Barra ucapkan. Kayla memang sengaja mengajak kak Aldo, untuk ikut berpartisipasi menghadiri acara kak Gwen. Ikut bangga dong..” sambil tersenyum manis, Kayla menjawab perkataan kakak kandungnya.


“Iya benar yang dikatakan Kayla kak Barra.. begitu istriku bercerita jika Gwen akan menjadi panelis, rasanya tidak mungkin jika itu kita tinggalkan. Akhirnya Aldo batalkan rapat hari ini, dan bersama akan meramaikan acara pagi ini..” Aldo menguatkan argumentasi istrinya.


„Hempphh..” terlihat Gwen mengambil nafas, dan geleng geleng kepala menyadari hal itu.


“Maaf Tuan tuan.., Miss Director, kita harus segera masuk ke dalam. Barusan ajudan sudah Kembali mengingatkan pada saya, untuk segera membawa Miss Director ke dalam. Akan diadakan acara foto Bersama terlebih dahulu, sebelum berlangsungnya acara. Mohon segera ikuti Joshie..” tiba tiba Josephine menyela pembicaraan orang orang itu.


Melihat ketegasan gadis itu, Hans hanya tersenyum kagum terhadapnya. Mereka tidak mau lagi membuang waktu, dan segera bergegas mengikuti Langkah kaki Josephine.


“Bagaimana kemajuanmu Hans… apakah ada progress kedekatanmu dengan gadis itu sudah berlanjut..” sambil berjalan masuk, Barra mendekatkan kepala ke arah Hans, dan bertanya tentang upaya pendekatannya dengan Josephine.


“Sudah ada sedikit kak, namun Joshie sangat sulit, dan terlalu berhati hati. Tidak seperti para perempuan lainnya di negara ini. Josephine memunculkan tantangan yang lumayan sulit untuk dijinakkan..” bisik Hans, memberikan tanggapan.


“Ha.. ha.. ha.., jangan pantang menyerah. Tetap kejar terus, gadis seperti itu akan banyak peminatnya. Hanya yang mampu bertahan dan mengikuti, yang akan bisa bertahan di dekatnya..” tampak Barra menyemangati laki laki itu.


Gwen yang mengerti tentang perbincangan dua laki laki itu hanya tersenyum, dan geleng geleng kepala. Namun perempuan itu tidak ikut menanggapi, melainkan terus berjalan masuk mengikuti arah Josephine membawa mereka.


************

__ADS_1


__ADS_2