Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 188 Kemarahan


__ADS_3

Beberapa hari sesudahnya…


Setelah mengembalikan lagi staminanya dengan beristirahat di rumah, dengan diantarkan suaminya, Gwen Kembali berangkat ke kampus. Gadis itu harus bertemu dengan promotor yang telah memberikan bimbingan online selama penulisan thesis. Sebuah merchandise disiapkan gadis itu, sebagai bentuk ucapan terima kasih untuk dosen pembimbingnya.


“Honey… jika sudah selesai, call me..! Aku akan menjemputmu..” sebelum Gwen keluar dari dalam mobil, Barra berpesan pada istrinya.


“Mmppphhh… sebenarnya sih kak.. Gwen ingin naik train menuju ke rumah, kangen sudah bertahun-tahun tidak menikmatinya lagi..” melihat train dalam perjalanan tadi, muncul keinginan dari gadis itu.


“Hadeh honey… tidak perlulah aneh-aneh. Aku janji, nanti pada saat week end aku akan membawamu dengan anak-anak untuk naik train. Untuk kali ini, aku akan melakukan antar jemput, dan honey tidak boleh menolaknya..” seperti menunjukkan status kepemilikan, Barra membuat pengaturan.


Gwen terdiam, dan Kembali teringat dengan sikap posesif suaminya. Tapi akhirnya Gwen mau tidak mau harus menerima keputusan itu..


“Baiklah kak… hati-hati mengemudinya. Jika Gwen sudah selesai semua urusan, secepatnya Gwen akan hubungi kak Barra…” sebelum turun, Gwen mencium punggung tangan suaminya. Dan Barra memberikan ciuman di kening gadis itu.


“Honey hati-hati juga ya..” setelah melihat istrinya keluar, Barra kemudian menjalankan mobilnya.


Gwen segera melangkahkan kaki masuk menuju ke pintu lobby kampus. Gadis itu menghirup nafas panjang, dan menikmati kesegaran udara di kampus yang sangat sejuk itu. Sambil mengedarkan pandangan, gadis itu tersenyum ketika bertatapan dengan teman-teman kampus yang melihatnya aneh dalam penampilannya. Karena sudah terbiasa mengenakan pakaian tertutup Ketika tinggal di Dubai, Gwen memang merasa kurang nyaman Ketika harus mengganti penampilannya di luar. Jadi atas persetujuan suaminya, Gwen tetap mengenakan pakaian tertutup dan melengkapi kerudung di atas kepalanya. Hanya saja, niqab sudah tidak lagi dikenakannya.


“Hempphh… mungkin mereka hanya melihatku asing, karena tidak umum orang mengenakan kerudung di Finlandia. Hanya satu atau dua orang saja mungkin di kampus ini, jadi mereka melihatku aneh…” Gwen berbicara dalam hati, karena menyadari banyak orang melihatnya dengan ingin tahu.


Tapi gadis itu mengabaikan tatapan ingin tahu dari mahasiswa yang berpapasan dengannya. Gwen langsung berjalan menuju ke ruang dosen. Setelah berada di depan pintu ruangan Mr. Nathan, gadis itu mengetuk pintu tiga kali.


“Masuk..” suara berat laki-laki mempersilakan gadis itu masuk.


Perlahan Gwen mendorong pintu, dan masuk ke dalam. Melihat seorang laki-laki yang tampak serius di depan laptop, Gwen berjalan menghampirinya.

__ADS_1


“Excuse me Mr. Nathan…, I,m Gwen Alvaretta yang sudah berjanji untuk berkonsultasi dengan Prof. Nathan.. Apakah saya bisa diberikan waktu untuk berkonsultasi..?” merasa khawatir jika kedatangannya akan mengganggu laki-laki paruh baya itu, Gwen meminta ijin sebelum duduk.


Laki-laki paruh baya itu mengangkat wajahnya ke atas, dan setelah mengenali wajah mahasiswa bimbingannya…


“Hi Miss Gwen… duduklah. Aku sengaja mengosongkan jadwalku untuk menunggumu..” tidak diduga, ternyata laki-laki paruh baya itu sengaja menunggunya.


Gwen kemudian duduk di depan laki-laki itu, dan Mr. Nathan tersenyum melihat gadis itu.


„Aku sangat mengagumi karya tulismu Gwen... selamat, nilai Excellent layak untukmu..” Mr. Nathan mengapresiasi karya thesis yang dihasilkan oleh Gwen.


“Terima kasih Prof., karena terkendala tidak bisa jumpa off air, Gwen bertekad untuk berusaha keras prof. Dan syukurlah, akhirnya Gwen berhasil,. Dan keberhasilan ini, karena upaya Prof. yang sangat membantu Gwen, dan tidak bosan terus memberikan arahan.” Gwen merendah.


“Ha… ha.. ha.., kamu pintar menaklukkan ku Gwen..” Prof. Nathan tertawa.


Dosen dan mahasiswa bimbingannya itu kemudian melakukan diskusi project interior design, yang menjadi tema dari thesis yang dikerjakan Gwen. Gadis itu dengan mudah menjelaskan, dan adu pendapat dua orang itu tanpa sadar sudah menghabiskan waktu selama dua jam.


“Wow… sangat menakjubkan. Terima kasih sekali Gwen...” mata Prof. Nathan bersinar, tampak kagum dengan merchandise yang dihadiahkan mahasiswa bimbingannya itu.


„Biasa saja Prof... Baiklah Prof, Gwen pamit dulu ya..” Gwen kemudian berdiri dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan laki-laki itu.


Dua orang itu kemudian saling berjabat tangan. Tidak lama sesudahnya Gwen akhirnya berjalan keluar meninggalkan ruangan dosen pembimbingnya.


*********


Tidak lama kemudian…

__ADS_1


Begitu keluar dari ruang kerja Mr. Nathan, Gwen melangkah gontai menyusuri koridor kampus. Sudah lama sekali, Gwen merasa tidak melalui tempat itu.


“Aku ke food court saja ya.. semoga bisa ketemu dengan Cynthia dan juga Hans di tempat itu. Aku sangat merindukan kedua anak itu..” Gwen bergumam sendiri.


Tatapan gadis itu kembali beredar sambil terus menyusuri koridor. Namun… sesaat gadis itu berhenti. Tatapan matanya beradu pandang, dengan laki-laki yang menyebabkan dirinya harus terpisah dengan suaminya Barra.


“Bukankah itu Andy… kenapa anak itu masih bebas saja. Apakah hanya hukuman beberapa bulan saja, sampai anak itu bisa kembali ke kampus..” Gwen menatap sengit pada adik sepupu suaminya itu.


Dalam hati, setelah ketemu dengan Barra, Gwen akan meminta penjelasan darinya. Aura permusuhan ditunjukkan oleh Gwen. Namun di luar dugaan, Andy malah berjalan menghampirinya.


“Gwen… syukurlah kamu sudah Kembali aktif kuliah… “ di depan gadis itu, Andy berucap lirih.


Gadis itu terdiam tidak memberikan tanggapan. Hanya tatapan mata tajam saja, yang seakan menusuk ke relung hati anak muda itu. Tatapan kebencian ditunjukkan oleh Gwen..


“Sorry banget ya Gwen… aku khilaf dengan kejadian empat tahun yang lalu..” akhirnya Andy melanjutkan perkataannya. Tiba-tiba…


“Plak… plak…, ..” dua tamparan di kanan kiri rahang anak muda itu, dihadiahkan oleh Gwen. Dan...


"aku pikir penjara sudah mengurungmu Andy. Menyingkirlah dari hadapanku, aku sudah muak melihat wajah,mu." seketika emosi menguasai Gwen.


Sedikitpun Andy tidak marah, apalagi membalas kemarahan yang ditunjukkan Gwen. Sebaliknya, Andy malah tersenyum dan menundukkan wajahnya ke bawah. Reaksi itu malah memancing kemarahan Gwen, teringat bagaimana dirinya harus dipisahkan dengan suaminya gara-gara sikap bejat anak mud aitu.


“Ingat Andy.., jika aku melihat wajahmu lagi muncul di depanku, aku akan selalu untuk memberikan tamparan kepadamu.” Karena melihat Andy yang hanya terdiam, Kembali kata-kata penuh amarah dilontarkan oleh Gwen. Tatapan sengit Gwen diarahkan untuk laki-laki itu, namun Andy sama sekali tidak bereaksi. Laki-laki itu hanya menatap pada Gwen tanpa bicara apapun,


Masih merasa marah dan jengkel dengan anak muda itu, Gwen langsung membalikkan badannya dan berjalan pergi meninggalkan laki-laki itu. Andy hanya tersenyum kecut, menatap punggung Gwen yang berjalan meninggalkannya. Apapun perlakuan yang akan diberikan oleh Gwen, Andy sudah bertekat akan menerimanya.

__ADS_1


********


__ADS_2