Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 234 Penyambutan Selamat Datang


__ADS_3

Setelah lima hari di klinik bersalin, akhirnya Barra membawa istri dan putrinya pulang ke villa. Laki-laki itu membawa Smith untuk mengemudikan mobil, karena dirinya menggendong bayi mungil dan menggandeng istrinya untuk masuk ke dalam mobil. Karena bukan pertama kali melahirkan, kondisi Gwen cepat pulih, dan perempuan itu sudah mengembalikan staminanya sama seperti sebelum proses melahirkan.


“Hati-hati honey..” Barra tampak memegangi istrinya untuk masuk ke dalam mobil.


Dengan hati-hati, Gwen mengikuti arahan suaminya. Setelah perempuan itu duduk di dalam mobil, Barra menyerahkan gendongan putrinya, dan dengan berhati-hati pula, laki-laki itu masuk dan duduk di samping istrinya.


“Smith… jalankan mobilmu..” setelah laki-laki itu duduk, Barra segera memberi perintah pada sopir keluarganya.


„Baik tuan Barra, saya akan langsung menuju ke rumah..” sambil menjawab, perlahan Smith menginjak pedal gas. Perlahan mobil meninggalkan halaman rumah sakit, dan langsung menuju jalan ke arah rumah mereka.


Dalam perjalanan, Barra dan Gwen diam karena takut membangunkan putri mereka. Smith juga tidak berani mengeluarkan suara. Beberapa saat kemudian..


“Pa.. apakah papa sudah memikirkan nama untuk putri kita nantinya.. Tidak mungkin bukan, jika kita mengenalkan putri kita pada orang lain, tetapi Namanya saja belum kita siapkan..” tiba-tiba Gwen menyinggung tentang nama untuk putrinya.


“Hemppphh… jangan khawatir honey.. Aku sudah kehilangan kesempatan untuk memberikan nama untuk si kembar, kali ini aku akan meminta restu dari Tuhan, melalui sholat malam. Agar nama yang nantinya kita berikan untuk putri kita, bisa mendapatkan Rahmat dari Nya.” Barra menoleh dan merapikan rambut istrinya.


Laki-laki itu tampaknya memang sudah mempersiapkan masa depan putra putri mereka, sehingga sampai nama untuk bayi mereka yang baru lahir saja, juga dipikirkan dengan penuh perhatian.


“Baiklah pa.. mommy percaya pada papa..” Gwen tersenyum, dan menyerahkan urusan nama putrinya pada suaminya.


Karena mereka tidak ada tempat yang dihampiri di jalan, tidak terasa mobil yang dikemudikan Smith sudah mulai menanjak di atas bukit. Hal itu menandakan jika tidak akan lama lagi, mereka sudah akan sampai di rumah mereka. Gwen tersenyum, dan merasa senang melihat lagi pemandangan di sekitar akses jalan menuju ke rumah mereka. Lima hari menginap di klinik, ternyata menimbulkan kerinduan yang dalam akan daerah itu.

__ADS_1


“Akhirnya kita sudah akan sampai di rumah juga honey… Pasti Bareeq dan Tareeq sudah menyiapkan penyambutan untuk putri kita. Kedua anak itu terlihat sangat Bahagia, mengetahui adiknya sudah terlahir ke dunia..” Ketika gerbang masuk ke rumah mereka sudah terlihat, Barra mengajak  bicara istrinya.


“Benar pa… dari sorot mata keduanya dapat kita lihat. Semoga saja nantinya, putra putri kita benar-benar bisa menjadi harapan keluarga kita.” Sahut Gwen.


„Aamiin, semoga Tuhan meridhoi doa kita honey..” barra tersenyum,


Pasangan suami istri itu terdiam, Ketika Smith sudah membawa mobil yang mereka naiki masuk ke dalam gerbang halaman rumah mereka. Keduanya tampak tersenyum, dan mengucap rasa syukur dalam hati begitu Smith menghentikan mobil tepat di depan teras depan rumah mereka.


**********


Beberapa saat kemudian..


Dengan hati-hati Barra membawa putrinya naik ke tangga menuju teras rumah, dengan satu tangan menggandeng lengan istrinya. Terlihat di belakang pasangan suami istri itu, Smith membawa perlengkapan bayi, dan trolly yang mereka pergunakan di rumah sakit. Begitu mereka naik ke teras rumah, Gwen agak curiga karena tidak melihat kedua putranya berada di depan pintu menyambut kedatangan mereka. Perempuan muda itu melihat ke arah suaminya…


“Iya pa.., tadi mommy sedikit kaget saja. Sudahlah, kita masuk rumah langsung saja..” akhirnya tanpa berpikir panjang, Gwen mengajak suaminya masuk.


Namun baru saja kaki mereka dua langkah masuk ke dalam rumah, tiba-tiba lampu ruang tamu dan ruang tengah dinyalakan. Mulut Gwen sampai terbuka, mencoba melihat apa yang terjadi. Balon-balon warna warni dihiasi sangat cantik, dipadukan dengan pita.


“Selamat datang ke rumah Baby Girl…” tulisan ucapan selamat datang terhias cantik, dan mata Gwen sampai mengerjap melihat hal itu.


“Papa..” Gwen tidak mampu melanjutkan kata-katanya, karena merasa terhipnotis dengan sambutan itu.

__ADS_1


„Selamat datang kembali ke rumah mommy…, papa, baby girl..” tiba-tiba secara serempak Tareeq dan Bareeq menyambut kedatangan mereka.


DI belakang si kembar, berdiri Kayla dan Aldo. Terlihat ada kakek Atmadja, papa Chandra, Uncle Andrew dan juga aunty Anne. Melihat itu semua, tanpa sadar air mata mulai menggenang di pelupuk mata perempuan itu. Gwen sangat terharu dengan sambutan itu, dan dengan kompak semua anggota keluarga inti mereka berkumpul.


“Selamat datang cucuku, dan selamat pula atas kelahiran putrimu. Kamu sudah membawa buyut lagi untuk kakek..” Gwen tidak mampu berbicara, Ketika kakek Atmadja mendekat kepadanya dan memberikan ucapan selamat kepadanya.


Laki-laki tua itu segera memeluk cucunya beberapa saat, kemudian mengambil bayi Gwen dari tangan Barra. Di belakang kakek Atmadja, papa Chandra juga mengikuti di belakangnya, disambung Uncle Andrew dan aunty Anne. Barra melihat semua itu dengan senyum puas dan Bahagia. Karena bayi mereka sedang digendong oleh kakek Atmadja, Barra mengajak istrinya untuk duduk di atas sofa.


“Gwen.. Andrew.. bagaimana kalian dengan mudahnya bisa cepat memiliki tiga putra, hanya dengan dua kali melahirkan. Kami saja, satupun belum berhasil..” tiba-tiba Andrew bertanya pada pasangan suami istri itu.


“Hempph.. jika seperti itu rahasia Tuhan Andrew. Tidak bisa untuk digetok tularkan, mungkin Tuhan berpikir kami berdua lebih baik, dari kalian. Jadi kami yang lebih dipercaya untuk mendapatkan banyak anak..” Barra malah menggoda sahabatnya itu.


Memahami kedekatan suami dengan pamannya, Gwen hanya tersenyum malu. Terlihat Andrew memukul bahu Barra, dan keduanya kemudian tertawa bersama. Anne tersenyum malu, dan tidak mengeluarkan suara.


“Aunty Anne… tidak perlu diambil hati kata-kata kak Barra. Uncle Andrew dan kak Barra sudah terbiasa seperti itu aunty, mereka sudah bersahabat sejak mereka muda,” merasa tidak enak dengan suami Uncle nya, Gwen menenangkan Anne.


„Tidak masalah Gwen... Uncle mu juga sudah sering menceritakan hubungan kedekatan dengan suamimu. Hanya saja, mungkin aku dan Andrew belum keras untuk berusaha, sehingga Tuhan belum mempercayakan momongan kepada kami..” Anne akhirnya memberikan tanggapan,


“Aunty Anne… aku juga belum diberikan kepercayaan untuk menimang bayi aunty.. kita senasib dan sama..” tiba-tiba dari samping, Kayla berceletuk.


Gwen dan Anne menoleh ke arah Kayla. Tampak gadis itu dan suaminya Aldo hanya tersenyum kecut mendengar perbincangan antara Gwen dan Anne.

__ADS_1


“Sudah.. sudah, pada saatnya nanti, kalian semua pasti juga akan segera mengikuti Gwen dan kak Barra.. „ sahut Gwen memutus diskusi tersebut agar tidak berkepanjangan.


**************


__ADS_2