
Beberapa saat Barra masih terdiam belum beranjak dari lobby New York Marriott Marquis. Laki-laki itu berpikir, apa yang terjadi dengannya sejak tadi malam. Keberadaannya di negara ini, dalam rangka untuk menemani Gwen Alvaretta, gadis yang sudah dinikahinya. Tetapi malah pertemuan dengan Jacqluine mengacaukan niat awalnya.
“Ya Tuhan… kenapa aku menerima ujian seperti ini. Aku sudah menikah dengan Gwen, meskipun pernikahan kami belum berjalan selayaknya. Dari awal, pernikahan ini hanyalah pelampiasan untukku... aku ingin mencobanya. Namun... tidak ada perkembangan dalam hubungan kami..” Barra mengusap wajah dengan kedua tangannya.
Sejak tadi malam laki-laki itu sudah merasa menyesal, dan berpikir jika apa yang dilakukannya keliru. Namun ketika bersama lagi dengan Jacqluine.. ingatan masa lalunya seakan bersemi kembali.
„Apa yang harus aku lakukan... apakah aku akan membebaskan Gwen, agar gadis itu mengejar mimpinya. Ataukah aku akan kembali berharap pada Jacqluine. Aku yakin Jacqluine masih mencintaiku, dan berusaha untuk kembali kepadaku.” Kembali pikiran Barra menjadi goyah.
Hasrat masa mudanya yang hilang tanpa kepastian, karena menunggu kabar kedatangan Jacqluine, kali ini seakan muncul lagi. Apalagi melihat perempuan yang sangat dicintainya sejak dulu itu, saat ini bertambah bersinar dan memukau. Meskipun dengan kekayaan dan asset yang dimilikinya saat ini, mudah bagi Barra untuk mendapatkan perempuan sekelas apapun. Tetapi laki-laki itu tidak pernah menyia-nyiakan dirinya untuk perempuan yang tidak tahu jluntrungan.
„Andrew..., aku butuh nasehatmu kawan. Tetapi jika aku minta advismu kali ini, sedangkan aku sudah menikah dengan Gwen keponakanmu atas saranmu juga, kamu pasti akan menghajarku.” Tiba-tiba saja Barra merasa sendiri.
Laki-laki itu hanya duduk diam tidak melakukan apapun. Bahkan gadget yang sejak tadi dibawanya sama sekali tidak disentuhnya. Seperti anak kecil, Bara merasakan kegalauan...
*************
Brookhaven Lab
Gwen dengan empat puluh kontestan yang lain, terlupakan dengan dunia luar. Meskipun mereka berada dalam karantina, namun berbagai fasilitas sesuai dengan passion mereka, waktu dua minggu seakan hanya sebentar saja.
__ADS_1
“Gwen Alvaretta… jelaskan tentang eksperimen yang sedang kamu analisis..!” seorang juri bertanya pada cucu dari
keluarga Atmadja itu.
“Baik Mister… Isu global warming yang mendorong saya untuk melakukan riset dengan tema Green Chemist. Harapan saya, dari hasil eksperimen ini nantinya akan menjadi daya dorong bagi masyarakat untuk menyadari pentingnya, kita berempati dan memperhatikan lingkungan.” Gwen terdengar mengawali penjelasannya. Gadis itu terlihat mengambil nafas Panjang.
“Ada empat jenis praktikum yang dilakukan pada topik laju reaksi, yaitu: pengaruh luas permukaan, konsentrasi, suhu, dan katalis masing-masing terhadap laju reaksi. Pada praktikum pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi, bahan-bahan yang dapat digunakan adalah tablet efervesen (dalam bentuk utuh dan butiran dengan massa yang sama) dan air. Pada pengaruh konsentrasi dan suhu masing-masing terhadap laju reaksi, bahan-bahan yang dapat digunakan tablet vitamin C, iodium tincture, hidrogen peroksida, dan pati. Sementara itu, pada praktikum pengaruh katalis terhadap laju reaksi, bahan-bahan yang dapat digunakan adalah hidrogen peroksida dan kentang. Bahan-bahan ramah lingkungan ini akan dapat menggantikan bahan-bahan kimia pada praktikum tradisional, seperti larutan HCl, Na2S2O3, dan FeCl3 yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan.” dengan sangat detail, Gwen melanjutkan penjelasannya.
Setelah mendengar Gwen menyampaikan penjelasan dengan detail, empat tim juri penilai itu terlihat melakukan diskusi. Mereka tampak berbincang-bincang, namun tidak ada satupun partisipan yang bisa mendengar apa yang mereka perbincangkan tersebut.
“Hempph… okay, good job girl. Pertanyaan terakhir, kamu menyasar praktikum tradisional. Apakah kamu punya maksud dan alasan...?” sebelum beralih pada konstestan lainnya, salah satu juri masih bertanya pada gadis itu.
“Good answer girl… kami akan beralih pada konstestan yang lain…” ke empat tim juri itu berjalan meninggalkan
tempat Gwen berada, Gadis itu mengucapkan syukur dalam hati, karena sudah
melewatkan hal terpenting dari upayanya berada di negara ini.
Teman-teman satu kamar dengan Gwen, mengacungkan ibu jari dari tempat pada posisi mereka masing-masing. Meskipun mereka sadar, jika di antara mereka adalah pesaing, namun kebersamaan telah membentuk mereka menjadi sebuah keluarga. Mereka saling membantu, saling support untuk keberhasilan mereka masing-masing.
__ADS_1
“Gwen, aku juga sudah selesai penilaian terakhir. Kita duduk di sana yukk... capai aku sejak pagi berdiri.” Tiba-tiba Chakra sudah berdiri di samping Gwen.
Gadis itu menoleh dan melihat ada Chakra di sampingnya, gwen langsung menganggukkan kepalanya. Dua anak muda itu kemudian melangkahkan kaki berjalan menuju ke kursi yang disediakan untuk peserta.
„Kamu duduk dulu ya, aku ambil minuman sama snack untuk kita berdua.” Gwen langsung menuju ke kursi, sedangkan Chakra bergegas menuju ke meja tempat minuman dan snack ditempatkan. Tidak beberapa lama, laki-laki muda itu sudah kembali dan menyerahkan satu gelas minuman untuk Gwen.
Terima kasih Chakra..” dengan tulus, setelah mengucapkan terima kasih, Gwen langsung menenggak minuman itu secara langsung.
“Hanya sampai siang ini penilaian kita Gwen… nanti sore dan malam kita sudah akan bebas. Apakah kamu berminat untuk jalan-jalan Gwen.. kita bisa jalan bareng berkeliling New York.” Chakra membuat tawaran.
Gwen bingung bagaimana akan menjawab, karena gadis itu tahu jika suaminya Barra pasti menunggunya di hotel. Tidak mungkin jika dirinya akan berjalan-jalan dengan Chakra, takut membuat kesalah pahaman, Tetapi tidak mungkin jika dia akan mengecewakan anak mud aitu, takut salah sangka.
“Chakra… sepertinya kita tidak bisa jalan bareng ya. Nanti sore, aku berencana akan kembali ke hotel. Kebetulan keluargaku menunggu di Aman Hotel New York, jadi tidak mungkin bukan jika aku telalu lama meninggalkannya. Sudah 19 hari, kami tidak bertemu..” akhirnya Gwen membuat alasan.
Wajah Chakra tampak kecewa, namun mendengar penjelasan dari gadis itu, sepertinya Chakra bisa menerima. Apalagi mengingat ada laki-laki yang menemani gadis itu Ketika mereka berada di Singapura, anak muda itu segera menyimpan kekecewaannya itu.
“Baiklah Gwen… hati-hati jika menuju ke Aman Hotel. Tapi sepertinya ada pegawai sini yang mengenalmu bukan, karena aku sering melihatnya laki-laki itu mengunjungi dan mengantarkan sesuatu padamu…” tiba-tiba Chakra mengingatkan tentang Ronnie teman dari Barra suaminya.
“Iya Chak… Mister Ronnie teman dari pamanku. Aku mungkin minta beliau untuk mencarikanku tumpangan ke kota. Atau jika tidak, aku akan mencari mobil online untuk menuju hotel..” kedua anak mud aitu terlibat dalam pembicaraan seru,
__ADS_1
**********