
Kota Bogor
Setelah semua dokumen untuk keperluan di luar negeri, Aldo segera menyiapkan keberangkatannya ke negara Finlandia. Seperti biasanya, kemanapun anak muda itu pergi, Asep selalu setia menemaninya. Kedua orang tua Aldo memang sangat mempercayai Asep dan keluarganya untuk menemani putranya, sehingga mereka juga tidak keberatan ikut menanggung biaya sekolah dan kehidupan Asep.
„Apakah hanya trolly bag ini saja barang bawaanmu Aldo..” Asep yang sedang menyiapkan keperluan, bertanya pada Aldo.
“Iya Sep… untuk pakaian aku tidak perlu untuk membawa semua. Hanya beberapa potong saja, sebelum aku bisa membeli untuk keperluanku di negara itu. Lagian, kita tidak akan terus-terusan di negara Finlandia bukan, aku juga akan sering Kembali pulang ke Bogor.” Sambil tetap memainkan Mobile Legends melalui gadget di tangannya, Aldo menanggapi pertanyaan Asep.
Tanpa bertanya lagi, Asep segera menarik trolly dan semua barang yang akan mereka bawa ke depan. Hal itu dilakukannya, untuk mempermudah pembantu rumah itu membawanya ke dalam mobil. Setelah semua tertata, Asep segera memanggil pembantu rumah tangga untuk memindahkan ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian..
“Kita akan berangkat ke bandara Halim Perdana Kusuma jam berapa Ald... Semua barang sudah dipindahkan ART ke dalam mobil yang akan membawa kita.” Asep duduk di samping Aldo, dan bertanya pada anak muda itu.
„Sebentar lagi saja Sep... kita tunggu selepas adzan Maghrib. Jika kita berangkat ke airport jam segini, pasti akan macet di jalan, karena bersama dengan para pekerja yang pulang ke rumah.” Tanpa menghentikan permainan, Aldo menanggapi pertanyaan dari sahabatnya.
Asep diam, kemudian anak mud aitu memeriksa beberapa chat yang masuk ke ponselnya. Salah satu chat dikirimkan oleh Tuan Firmansyah dan Nyonya Helene, kedua orang tua Aldo. Seperti biasa mereka memantau perkembangan putranya melalui dirinya,
“Aldo… jika boleh aku memberikan masukan padamu..” Asep berhenti sebentar tidak melanjutkan kalimatnya. Anak muda itu menunggu bagaimana respon dari teman baiknya itu.
“Hemmpph masukan apaan Sep, jangan bilang kamu mau mengundurkan diri dariku. Kamu akan membatalkan niatmu untuk menemaniku di Finlandia. Jika itu yang akan kamu sampaikan padaku, aku akan marah besar.” Aldo dengan cepat langsung memberikan respon balik.
__ADS_1
„Bukan itu Aldo... hanya saja. Apakah sampai sebegitunya kamu mengejar Gwen untuk menjadi milikmu? Bukankah kita semua tahu jika Gwen sudah memiliki seorang suami. Kita juga tahu, jika suami Gwen sangat layak untuknya. Aku pikir, kamu perlu untuk mempertimbangkan lagi upayamu untuk mengejar gadis itu..” dengan suara perlahan, Asep memberanikan diri menyampaikan pendapatnya,
Tidak diduga, Aldo mengakhiri permainan Mobile Legends nya, kemudian meletakkan gadget di atas meja. Aldo menatap ke arah Asep sahabatnya.
„Asep... bagaimanapun pintarnya Gwen menutupi penderitaannya karena menikah dengan kak Barra, tapi aku tahu dan bisa simpulkan jika gadis itu tidak bahagia bersama dengan laki-laki itu. Aku bisa melihat dari sorot mata gadis itu, Gwen berada dalam under pressure..” dengan nada datar, Aldo menanggapi ucapan Asep.
„Dan keberadaan kita disana Asep... untuk menjaga dan mengawasi gadis itu. Apapun yang terjadi, aku merasa punya tanggung jawab terhadapnya,” lanjut Aldo.
“Tapi Aldo.. itu semua kan hanya prediksimu. Sebagai seorang teman Aldo, aku tidak ikhlas membiarkanmu berada dalam kebohongan ini. Apakah yang akan kamu lakukan, jika akhirnya Gwen tetap bertahan pada suaminya..” sahut Asep.
„I don.t care... yang penting aku sudah berusaha untuk menjaganya Asep, itu memberiku kebahagiaan. Jikapun nantinya prediksiku salah, dan Gwen tetap bertahan pada suaminya, paling tidak aku tetap mencokolkan namaku di hati gadis itu. Aku akan tetap bersikap kesatria Asep..” Aldo tersenyum masam.
*********
Selepas Adzan Maghrib, sesuai yang tadi dikatakan pada Asep, mobil keluarga Aldo segera meluncur menuju ke bandara Halim Perdana Kusuma. Para ART mengantarkan anak muda itu sampai ke teras rumah, dan mereka merasa akan menjadi sepi rumah ini dengan kepergian anak mud aitu.
“Hati-hati tuan Aldo.. selalu jaga kesehatan di negara yang sangat jauh..” terdengar pembantu rumah tangga yang menemani anak muda itu dari kecil, berpesan pada anak mud aitu.
“Terima kasih mbok… jaga rumah dengan baik ya,” sambil menaikkan satu kaki ke mobil, Aldo menjawab ucapan dari pembantu rumah tangga itu.
__ADS_1
Setelah Asep dan Aldo masuk ke dalam mobil, driver segera menutup pintu mobil yang membawa keduanya. Tanpa banyak kata, driver segera menjalankan mobil keluar dari gerbang rumah, dan langsung menuju ke Halim Perdana Kusuma Airport. Sebenarnya anak muda itu ingin menggunakan penerbangan komersil, tetapi kedua orang tuanya tidak mengijinkan. Mereka berpikir jika putra mereka akan membawa barang yang banyak, karena akan menetap lama di negara Finlandia.
“Kira-kira berapa jam perjalanan Ald.. dari Jakarta menuju ke Finlandia..?” dalam perjalanan menuju ke bandara, Asep bertanya pada Aldo.
„Di luar tiga kali transit, satu hari satu malam lebih akan kita lewati dalam penerbangan. Jadi akan lebih banyak kita habiskan waktu kita di udara, daripada di bawah..” sambil mengarahkan pandangan keluar kaca mobil, anak muda itu memberikan tanggapan,
Terdengar Asep menghela nafas…
“Lama juga ya ternyata.. Kita hanya akan habiskan waktu untuk duduk dan tidur saja dalam perjalanan nantinya. Semoga saja kita tidak menjadi bosan karenanya...” terdengar keluh kesah dari Asep. Ada rasa bahagia karena berkeliling dunia tanpa mengeluarkan biaya, namun ada rasa sedih dan khawatir karena harus berada di ketinggian.
„Hempphh... santai saja kali... Sep. Jangan bilang kamu takut berada di ketinggian, jangan khawatir, aku sudah pesan pada pramugari yang dipekerjakan papa untuk menyiapkan berbagai fasilitas digital dalam pesawat. Kita bisa menghabiskan waktu dengan melihat cinema-cinema terbaru, main game.. dan lainnya.” Aldo berusaha membuat Asep menjadi tenang.
“Aku tahu Aldo.. cause I know you so well.. Tidak mungkin bukan, kamu akan menghabiskan waktu hanya untuk tiduran saja dalam pesawat. Hanya saja yang aku bayangkan, waktu satu hari lebih itu akan terasa menjadi sangat lama sekali..” sergah Asep.
“Hadeh Asep… ingatlah Ketika kita mengikuti Emotional Spiritual Quation… Disitu dijelaskan bukan oleh Coach tentang hukum gaya Tarik, the law of attraction.. Apa yang kamu pikirkan, akan menarik semua untuk terjadi. Slow man…!” Aldo mengalihkan tatapannya dan melihat ke wajah sahabatnya itu.
Mendengar ucapan Aldo, Asep tersenyum pahit. Sebenarnya anak itu memiliki keinginan untuk lanjut studi di Jakarta saja. Tetapi karena desakan kedua orang tua Aldo, yang memintanya untuk selalu menemani Aldo, akhirnya membuat Asep pasrah mengikuti keinginan itu.
**********
__ADS_1