
Begitu daun pintu dibuka, Hans beradu pandang dengan Josephine secara langsung. Gadis itu sesaat bingung dan terkejut, melihat atasannya di perusahaan saat ini sedang berdiri di depan pintu apartemennya. Sesaat kedua orang itu hanya saling berpandangan, dan Hans tampak mengulum senyum karena merasa senang, bisa bertemu dengan gadis itu.
“Mmppphhh… Tuan Hans.., masuklah dulu ke dalam Tuan..” dengan gugup, akhirnya Josephine Kembali bisa menguasai kesadarannya. Gadis itu membuka pintu dengan lebar, dan membalas senyuman Hans.
“Okay.. aku boleh masuk bukan Joshie...?? Dan ini, buket bunga mawar ini untukmu. Kebetulan tadi melihat ada yang sedang panen bunga mawar, dan aku memintanya untukmu..” Hans berusaha merendah. Laki laki itu segera masuk ke dalam ruangan, mengikuti Josephine.
Sesaat Josephine terlihat salah tingkah, karena tidak siap jika ada tamu yang berkunjung di ruang apartemennya. Tampak seorang laki-laki muda sedang mengerjakan sesuatu di atas meja..
„Robert... masuklah ke dalam kamar, kerjakan tugasmu di sana. Nanti kakak akan review tugasmu seluruhnya..” gadis itu meminta laki-laki muda itu untuk berpindah.
„Tidak perlu sungkan terhadapku Joshie, minta Robert untuk tetap di ruangan ini. Aku tidak akan terganggu kok dengan keberadaannya di sini.” Tidak tahu mengapa, Hans seakan sudah mengenal Robert, laki laki itu tidak mempermasalahkan keberadaan adik Josephine.
“Mmmpphh… baiklah terima kasih atas pengertian tuan Hans. Oh ya Tuan… by the way, minuman apa yang layak untuk tuan Hans. Kebetulan aku juga sedang membuat breakfast untuk Robert, sekalian Joshie siapkan untuk Tuan..” dalam keadaan bingung, Joshepine bertanya pada Hans.
“Tidak perlu repotlah seperti itu Joshie.. Aku senang berada dalam ruangan ini, like homy.. Jika kamu tidak keberatan, buatkan aku hot black coffie saja jika ada.,” Hans menjawab pertanyaan Josephine.
„Baik tuan... akan saya siapkan.” Josephine kembali meninggalkan Hans hanya berdua dengan adiknya.
Laki laki dewasa itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Betul betul sebuah ruangan yang sangat sederhana, dengan satu kamar tidur dalam ruangan itu. Di bawah meja, Hans melihat ada lipatan busa, yang mungkin digunakan Robert untuk tidur kalau malam. Sepasang sofa yang saat ini didudukinya, juga sudah tidak bisa dikatakan layak. Namun semua dalam keadaan bersih, dan sangat terlihat jika Josephine merawatnya dengan baik.
__ADS_1
“Sedang mengerjakan tugas apa Robert, jika ada pertanyaan kamu bisa bertanya padaku. Siapa tahu aku bisa membantumu..” sambil menunggu Josephine menemuinya, Hans bertanya pada adik gadis itu.
Robert mengangkat wajahnya dan memandang ke arah Hans. Melihat laki laki itu tersenyum, Robert kemudian ikut tersenyum.
„Kak... aku kaget melihat ada tamu yang berkunjung ke tempat ini. Biasanya kak Joshie selalu tertutup, dan tidak pernah mau menerima kunjungan teman, apalagi laki laki. Kakak yang pertama kali datang..” tidak tahu mengapa, tiba tiba Robert malah bercerita pada Hans.
„Iyakah... alasannya karena kak Joshie merupakan perempuan yang spesial untuk kakak. Jadi kakak berusaha mendapatkan alamat tempat ini, kemudian tanpa memberi tahunya sengaja berkunjung kemari.” Sambil tersenyum Hans memberikan tanggapan.
„Sungguh perkembangan yang bagus. Semoga kakak bisa menjadi pendamping kak Joshie, jangan sampai hidup kak Joshie hanya dihabiskan untuk merawatku.” Robert malah menjadi mellow, dan terlihat ada kesedihan di wajah laki laki muda itu.
Hans tersenyum mendengar celoteh dari Robert..
***********
Di ruang tamu..
Karena pekerjaan rumahnya sudah selesai dikerjakan, Robert segera minta ijin keluar pada kakaknya. Tinggallah Hans dan Josephine yang berada di dalam ruangan yang sangat sederhana itu. Namun sedikitpun Hans tidak menunjukkan rasa jijik, sehingga Josephine tidak meminta laki laki itu keluar.
“Bagaimana Tuan Hans bisa sampai ke tempat tinggal saya ini..?? Tolong jangan hina kami Tuan, karena hanya apartemen ini yang mampu kami sewa..” tiba tiba Josephine berbicara pada Hans.
__ADS_1
„Aku sengaja tidak meminta darimu Joshie, karena aku yakin kamu tidak akan memberi tahuku. Kemarin aku sengaja meminta alamat tempat tinggalmu dari Rossie, anak itu katanya pernah beberapa kali main ke tempat ini. Dan juga... bisakah kamu tidak memanggilku Tuan lagi Joshie.., kamu bisa memanggilku langsung dengan namaku Hans, atau menambahkan kata kakak di depannya.” Hans membuat permintaan.
„Mmmpphh... bagaimana ya Tuan, saya tidak berani. Tuan Hans adalah atasan saya, jadi saya harus menghormatinya. Dan juga, saya tidak mau menjadi bahan obrolan di perusahaan, karena sudah tidak sopan memanggil atasan dengan Namanya langsung.” Josephine mencoba membuat alasan..
Hans tersenyum, dan laki laki itu mencoba untuk memegang tangan gadis itu. Namun dengan sopan, Josephine menarik tangan dan menyembunyikannya. Sangat kentara, jika gadis itu tetap menjaga batas dalam hubungannya.
“jika begitu, kamu bisa memanggilku dengan panggilan Kak Hans di luar perusahaan. Namun jika di dalam perusahaan, kamu tetap memanggilku dengan sebutan tuan. Bagaimana penawaranku, win win solution bukan..?” Hans terus memaksa gadis itu.
Akhirnya tidak ada pilihan lain untuk gadis itu, selain menyetujui apa yang dikehendaki oleh laki laki itu. Beberapa saat, kedua orang itu kembali dalam diam.
“Kak Hans… jujur ya, aku sangat kaget dengan kedatangan kakak ke tempat ini. Sebelumnya aku tidak pernah menerima tamu, karena aku ingin menjaga diri dan adikku Robert. Selain itu, apartemen ini sangat tidak aman kak, banyak terjadi kasus pencurian, pelecehan, dan sejenisnya. Terlebih jika kita tidak hati hati.. Jadi untuk ke depan, Joshie harap, kak Hans berpikir dua kali untuk datang berkunjung kemari.” Hans kaget dengan penjelasan yang diberikan Josephine barusan.
Laki laki itu betul betul kagum dengan gadis itu. Dalam kerasnya kehidupan, gadis itu masih bisa bertahan dengan membiayai kehidupan dan sekolah adiknya juga.
“Jangan khawatir Joshie.., aku bisa menjaga diriku. Aku kagum denganmu Joshie.. ternyata Joshie yang baru beberapa hari aku kenal di perusahaan, memiliki sisi yang berbeda dengan Joshie yang saat ini, berada di hadapanku.” Bukannya takut, namun Hans malah tidak mempermasalahkan apa yang didengarnya dari gadis itu.
“Kamu betul betul membuka mataku Joshie. Kamu seorang independent girl, yang Bersama dengan adikmu, berdua menghadapi kerasnya kehidupan kota ini tanpa tergelincir. Apreciated untukmu Joshie..” laki-laki itu mengangkat dua ibu jarinya ke atas.
Josephine tampak malu mendengar pujian dari laki laki di depannya itu. Pipi gadis itu, tanpa sadar menjadi bersemburat merah. Hans malah terus menatap wajah gadis di depannya tanpa berkedip, dan semakin membuat Josephine salah tingkah.
__ADS_1
*********