Aku Masih SMA

Aku Masih SMA
Chapter 66 Menyusul ke New York


__ADS_3

Setelah mendapatkan ijin keluar dari laboratorium dengan alasan akan memberikan undangan pada keluarga, Gwen segera menemui Mister Ronnie. Untung saja, laki-laki itu sedang bertugas di depan, sehingga gadis itu tidak kerepotan mencarinya. Melihat Mister Ronnie yang sedang berdiri di lobby laboratorium  Gwen segera mendatanginya.


“Hey Gwen.. apakah kamu sedang mencariku..?” Mister Ronnie melihat kedatangan dan Gwen, dan menyapa gadis itu duluan.


“Benar Mister… urusan Gwen untuk sementara sudah selesai. Tinggal menunggu acara akhir besok, pengumuman. Mau minta tolong nih sama Mster, semoga saja tidak mengganggu kesibukan Mister Ronnie..” tanpa berbasa basi, Gwen langsung menyampaikan keinginannya pada teman dari suaminya.


„Siap gadis cantik, apa yang perlu aku bantu untukmu sweetie...” melihat keimutan Gwen, laki-laki itu menggoda gadis tersebut.


„Begini Mister... ponsel Gwen kan tidak dibawa kemari. Nah... ini Gwen mau kembali ke Aman Hotel New York, jika tidak merepotkan bisakan jika Mister mencarikan Gwen taksi untuk mengantarkan aku ke hotel tersebut.” Gadis itu segera mengatakan bantuan yang diinginkannya.


Laki-laki dewasa itu tersenyum, kemudian mengajak Gwen untuk duduk di kursi tunggu yang ada di lobby laboratorium. Beberapa saat kemudian...


„Kenapa harus naik taksi sweetie.. aku bisa menghubungi Barra agar anak itu kemari untuk menjemputmu. Lagian kamu belum hafal kota ini bukan, tidak baik jika sendirian di kota ini.” Mister Ronnie berniat untuk menghubungi Barra suaminya.


„Tidak perlu Mister... gwen tidak mau merepotkan kak Barra, Cukup panggilkan taksi, atau mobil Uber online saja. Kata pengasuh mess, sangat sulit untuk mencari taksi yang kebetulan lewat di tempat ini. Hanya ada bus dan train, tapi Gwen tidak terbiasa naik kendaraan umum. Bantu ya Mister… please…!” Gwen dengan tatapan memohon meminta pada laki-laki itu.


Mister Ronnie tersenyum, laki-laki itu seperti sudah ada firasat jika ada hubungan khusus antara gadis itu dengan sahabatnya Barra. Tetapi melihat tatapan permohonan Gwen, laki-laki itu juga tidak tega untuk mengecewakannya.


“Gwen… aku pikir kamu sudah meninggalkan laboratorium. Apakah kamu sedang menunggu jemputan...?” tiba-tiba dari arah dalam, terlihat Chakra mendatangi Gwen dan bertanya padanya.


“Belum Chakra… aku sedang minta tolong Mister Ronnie untuk menelponkan taksi, untuk mengantarkanku ke hotel. Besok pagi, mungkin aku baru Kembali ke laboratorium ini dengan kak Barra..” Gwen menoleh,


dan langsung menjawab pertanyaan dari teman dari Indonesia itu.

__ADS_1


“Kenapa tidak bareng aku saja Gwen... papa dan mamaku sudah berada di New York, dan dengan Om ku sudah menungguku di depan. Ayukk… aku akan minta Om untuk mengantarmu ke Aman Hotel..” Chakra segera menawarkan tumpangan.


Mendengar perkataan Chakra, Mister Ronnie selaku teman baik Barra langsung bersikap waspada. Apalagi Ketika mengingat pesan dari Barra, untuk menjaga dan melakukan pengamatan pada gadis itu.


“Sweetie… aku sudah memanggilkan taksi kepercayaan orang-orang laboratorium untukmu. Kamu tidak bisa membatalkan secara sepihak, karena perusahaan taksi itu sudah ada ikatan kontrak dengan pihak laboratorium.” Mister Ronnie menyela pembicaraan Chakra dan Gwen.


“Alhamdulillah… terima kasih Mister Ronnie, aku sudah yakin jika Mister pasti akan membantuku. Dan kamu Chakra, terima kasih ya sudah memberikan tawaran tumpangan untukku. Tapi kamu dengar sendiri bukan, apa kata Mister Ronnie.. sudah ada taksi yang menuju kemari untuk mengantarkanku.” Gwen segera berbalik untuk memberi tahu pada Chakra.


„Tidak apa Gwen.. aku akan menemanimu lebih dulu, sampai taksi yang akan mengantarkanmu datang.” Chakra tersenyum pahit. Tapi anak muda itu bersikap gentle, tetap menunggu sampai taksi yang sudah dipesan datang menjemput gadis itu.


**********


Aman Hotel New York


“Kenapa kamu gelisah Aldo… apakah kamu mencoba untuk menghubungi Gwen…?” Asep yang melihat anak muda itu keluar menuju balkon, bertanya padanya.


“Benar Sep… lebih sepuluh kali aku menghubungi Gwen, tapi ponselnya dalam keadaan tidak aktif. Aku tidak tahu dimana gadis itu sekarang berada..” Aldo mengatakan apa yang sedang dipikirkannya.


Anak muda itu kemudian duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya. Asep mengikutinya, dia duduk di samping Aldo.


„Jangan banyak berpikir Ald... bukankah Gwen masuk ke karantina di laboratorium. Nanti kita pasti akan bertemu dengannya, ketika gadis itu bersama dengan kita ikut ujian kelulusan, Sekarang yang penting, tenangkan dirimu dulu. Hindarkan negative thinking dalam pikiranmu..” Asep berbicara pelan, berusaha menasehati Aldo.


“Sebenarnya aku ingin berbicara pada Gwen.. Sep. Sepertinya ada salah paham di antara kita, dan jarak untuk bersama dengan gadis itu semakin lebar sepertinya. Aku terlalu sulit untuk mengejarnya…” pandangan Aldo keluar balkon.

__ADS_1


Asep hanya diam tidak memberi komentar lebih jauh. Anak mud aitu tahu bagaimana sahabatnya Aldo memiliki perasaan yang dalam pada Gwen, namun secara langsung memang Aldo belum pernah mengutarakannya secara langsung. Lewat perhatian, sikap dan perilaku meratukan Gwen, selalu dilakukan anak mud aitu, namun Gwen


sepertinya tidak menangkap isyarat itu.


“Aku paham dengan apa yang kamu pikirkan Ald.. Dalam hati sih, aku juga bertanya-tanya, karena akhir-akhir ini Gwen seperti terlihat semakin misterius. Ada sesuatu yang sepertinya disembunyikan olehnya, dan kita belum tahu apa itu..” Asep mulai menebak-nebak.


Aldo terlihat mengambil nafas Panjang, laki-laki itu kemudian berdiri dan masuk kembali ke dalam kamar. Terlihat Raffi bangun  dari posisi berbaring di sofa sambil menonton saluran televisi.


“Mau kemana Ald..?” melihat Aldo yang berjalan menuju pintu keluar, Raffi bertanya pada anak muda itu.


“Bored aku dalam ruangan terus.. Mau jalan ke lobby Raff… duduk-duduk saja disana, siapa tahu dapat pencerahan..” sambil membuka pintu, Aldo menanggapi pertanyaan Raffi,


„Ikut dong Ald... tunggu aku…” Raffi bergegas bangun dari posisi duduk. Anak muda itu kemudian berlari menyusul Aldo yang sudah berada di luar kamar mereka.


“Cepatlah Raff… mumpung pintu lift sudah terbuka tuh…!” Aldo yang sudah melangkahkan kaki masuk ke dalam lift, menahan tombol arah turun ke lobby.


Raffi bergegas menyusul laki-laki itu, dan tidak lama kemudian keduanya sudah masuk ke dalam lift tersebut. Aldo segera menekan tombol penunjuk huruf L, yang menandakan tujuan kea rah lobby hotel. Hanya mereka berdua saja yang berada dalam lift tersebut, sehingga lift itu meluncur cepat ke bawah. Tidak sampai satu menit, pintu lift sudah berhenti, dan pintu terbuka sendiri.


“Kita duduk di pinggir kolam saja Raff... tempatnya tenang..” melihat ada kolam renang untuk pengunjung hotel umum, Aldo mengajak temannya itu menuju ke arah kursi yang banyak di pinggiran kolam,


“Okay…” keduanya segera melangkahkan kaki menuju ke tempat tersebut.


*********

__ADS_1


__ADS_2