
Kota Bogor
Aldo sudah pulih lebih cepat dari cidera yang dialaminya, karena mama laki-laki muda itu segera mengirimkan langsung dokter spesialis cidera dari China. Papa dan mama Aldo, juga segera meluncur ke kota Bogor dari Canada. Dan pagi itu mereka makan pagi bersama di meja makan, seperti kesempatan bagi Aldo untuk berbicara dengan pasangan suami istri itu.
„Pap... bantu Aldo dong!! Aldo ingin ke New York secepatnya, papa dan mama bantu uruskan agar Aldo bisa ikut ujian kelulusan di Embassy.. Please...” dengan tatapan mata tegas penuh harap, Aldo berusaha merayu pada papanya.
Kedua orang tua Aldo saling bertatapan, mereka seperti tidak habis pikir. Selama ini putra pertamanya itu selalu menolak untuk mereka bawa ke Canada, tetapi sekarang malah merayu mereka untuk membawa ke New York.
“Kenapa kamu meminta seperti itu Aldo... Jika saja, kamu meminta papa dan mama untuk membawamu ke Canada, agar kamu bisa ujian di Embassy, sepertinya mama masih bisa menerimanya. Tetapi.. kenapa New York... why...?” dengan penuh tanda tanya, mama Aldo mencari tahu alasan dari permintaan tersebut,
„Benar yang diucapkan mamamu Aldo... New York dan Canada, meskipun berada dalam satu negara bagian Amerika Serikat, tetapi jaraknya jauh. Akan dengan siapa kamu berada di New York, apakah kamu memikirkannya. Padahal Ketika kamu ikut ujian, bukankah kamu butuh support system yang akan membantumu. Karena kamu harus focus…” tuan Firmansyah, papa Aldo menimpali perkataan istrinya. Kedua orang tua itu menatap lembut ke wajah putranya.
“Mam.. pap… Aldo ini sudah dewasa. Sudah 18 tahun usia tahun ini, tidak bisakah ada kebebasan pada diri Aldo untuk mengambil keputusan sendiri. Jika papa dan mama masih meragukan Aldo, Asep dan Raffi bisa menemani Aldo selama berada di negara itu. Hanya saja, untuk dapat gabung ujian di Embassy New York, harus ada persetujuan orang tua pap…, mam.. Makanya Aldo minta papa dan mama menyetujuinya. Please…” Kembali dengan penuh harap, Aldo memohon pada kedua orang tuanya itu.
“Lanjutkan dulu makan pagimu Aldo... kamu merusak mood orang tua untuk menikmati sarapan. Semua kita bicarakan selepas sarapan pagi…” dengan tegas, akhirnya tuan Firmansyah memerintah putranya.
Tanpa bicara, Aldo hanya menganggukkan wajahnya. Anak mud aitu dengan cepat menghabiskan sarapan paginya, sampai kedua orang tuanya geleng-geleng kepala.
*********
__ADS_1
Beberapa Saat Kemudian…
“Tuan Firman… sepertinya keinginan tuan muda Aldo ke New York, mungkin terkait dengan seorang gadis bernama Gwen tuan. Gadis itu keturunan dari Atmadja Group… jika informasi ini benar, gadis itu Bernama Gwen Alvaretta, putri dari putra pengusaha Atmadja yang keduanya sudah meninggal karena kecelakaan mobil.” Tampak seorang laki-laki melaporkan pada Tuan Firmansyah, papa Aldo.
Sebelum menemui putranya untuk mengabulkan permintaan mendadak Aldo ke New York, Tuan Firmansyah berusaha mencari tahu penyebabnya. Laki-laki itu mengirimkan informan untuk melakukan penyelidikan,
„Hempph... apakah putri dari Sheilla...” tampak Tuan Firmansyah bergumam sendiri, Laki-laki paruh baya itu kembali menatap informan yang ada di depannya.
“Apakah kamu tahu, hubungan apa antara gadis itu dengan putraku...? Apakah kamu berhasil untuk mencari tahu...?” papa Aldo kembali pada fokus pembicaraan dengan informan.
„Untuk hubungan pastinya, tidak ada informasi tuan. Tetapi tuan Aldo dan nona Gwen memang bersahabat dekat, dan keduanya saling Bersama dalam kesempatan apapun. Bahkan dengar-dengar, yang menjadi penyebab tuan Aldo luka cidera, karena ingin mempertahankan gadis itu. Bisa jadi, mereka ada hubungan pacaran tuan... Hanya saja, saat ini gadis itu sedang di New York untuk bergabung dalam acara Olimpiade Fisika dan Kimia.” Lanjut informan.
“Atmadja Group…. Semua orang punya keinginan untuk berbesan dan berhubungan dengan pengusaha itu. Jika saja Aldo bisa mendekati dan membawa putri Sheilla dalam keluargaku, maka bisnisku pasti akan berkembang pesat.. Hempph… menarik.” Tanpa sadar tuan Firmansyah tersenyum sendiri dalam lamunannya. Ada kebahagiaan dalam hati laki-laki paruh baya itu, mendengar kedekatan putra laki-lakinya dengan cucu pewaris Atmadja Group.
“Baik… atur semua secepatnya. Bawa visa anakku untuk tinggal di Eropa sementara waktu. Juga beri tahu pihak embassy agar Aldo bisa ujian kelulusan di New York. Bawa kedua teman laki-laki anakku, karena aku tidak mungkin membiarkan putraku sendiri di negara tersebut. Cover semua biaya yang keluar, hubungi bagian keuangan perusahaan.” Dengan cepat, setelah berpikir sesaat, tuan Firmansyah memberikan perintah baru pada informan tersebut.
“Siap tuan Firman… ijin saya untuk mempersiapkan semuanya.” Setelah melihat papa Aldo mengangguk, laki-laki itu segera membalikkan badan dan keluar dari hadapan tuan Firmansyah.
***********
__ADS_1
Di kursi depan balkon kamar Aldo, nyonya Helene mama Aldo sedang berdua duduk dengan putra laki-lakinya. Tampak kebahagiaan di mata perempuan itu, bisa kembali berkumpul dengan putra pertamanya. Selama ini Aldo selalu berkelit jika kedatangannya ke Indonesia, dan tidak pernah mau anak itu dibawa ke Canada. Untuk itu, kebersamaan mereka di pagi ini sangat menyenangkan hati perempuan itu.
“Aldo… apakah gadis Bernama Gwen Alvaretta itu kekasihmu nak…?” tiba-tiba perempuan itu bertanya pada putranya.
Aldo terkejut mendengar pertanyaan itu, anak muda itu menatap kea rah mamanya. Tetapi karena melihat ekspresi mamanya serius, akhirnya mau tidak mau anak muda itu harus menanggapi.
„Kenapa tiba-tiba mama bertanya tentang Gwen... Sampai kapanpun ma, ada kata setuju maupun tidak, Aldo akan selalu menganggap Gwen sebagai pacar Aldo. Kami selalu bersama, dan akan tetap bersama. Sampai muncul laki-laki dewasa yang mencurigakan itu, tapi Aldo belum bisa menembus identitas laki-laki itu...” dengan mamanya, Aldo memang bisa bicara apa adanya. Anak muda itu menceritakan bagaimana hubungannya dengan Gwen secara jujur.
Nyonya Helene mengambil nafas dalam mendengar jawaban putranya. Sebagai seorang perempuan, ada keprihatinan di hatinya. Namun ketika mengingat Kembali dengan semangatnya suaminya tuan Firmansyah berniat untuk menyatukan putranya dengan gadis itu, akhirnya nyonya Helene tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya,
“Tidak ada apa-apa sayang... hanya mama curiga saja tadi. Sampai bela-belain meminta pada mama dan papa untuk menguruskan perijinan agar kamu ujian di Embassy New York. Mama yakin, kamu ada perasaan lebih pada gadis itu. Dan ternyata tebakan mama benar adanya.” Nyonya Helene tersenyum lembut.
Aldo menatap ke arah mamanya, dan anak muda itu menganggukkan kepala tanpa sadar.
„Baiklah... segera bereskan perlengkapan yang akan kamu bawa. Ingat tidak perlu banyak-banyak. Untuk pakaian, beberapa bisa kamu dapatkan di New york.. kamu hanya perlu untuk membawa badan, dan buku-buku sekolahmu. Papamu juga sudah menyuruh orang untuk menyiapkan kedua temanmu, Raffi dan Asep untuk menyertaimu ke New York..’ dengan penuh kasih sayang, nyonya Helene menyampaikan informasi.
„Really mom.... terima kasih mama...” mendengar informasi itu, Aldo sontak memeluk erat tubuh mamanya dengan erat. Anak muda itu paham jika papa dan mamanya sangat jarang menolak permintaannya,
*********
__ADS_1