
Gwen terus menatap ke mata suaminya, untuk meminta penjelasan dari kata-kata laki-laki itu. Sedangkan Barra malah tersenyum menggoda, dan seperti menikmati menatap wajah istrinya yang terlihat imut. Gwen sama sekali tidak mengira, jika sampai sedetail itu suaminya memahami apa yang diinginkan.
“Papa akan membantu honey untuk melakukan recruitment sayang. Selain itu, bukankah kamu dan istri Asep dulu satu almamater. Berarti meskipun tidak sama, Cynthia juga punya keahlian sepertimu bukan, ajak saja Cynthia untuk bergabung, Dan Hans.. teman baik kalian berdua ketika kuliah, kenapa tidak menawarkan kerja sama dengannya. Sesama teman baik, seharusnya kalian sudah saling mengenal watak dan karakter, satu dengan lainnya.” panjang lebar Barra menjelaskan.
Perempuan itu masih menatap wajah suaminya dengan tidak percaya. Ternyata tanpa menyatakan kesulitannya, Barra sudah mengetahui apa yang dipermasalahkan istrinya, Gwen tidak menjawab, tetapi langsung memeluk tubuh suaminya dan menyandarkan kepala di dada laki-laki itu. Barra kembali tersenyum, dan mengusap lembut rambut di kepala istrinya.
“Terima kasih pa.. ternyata papa bisa dengan tepat menebak, dan memberi solusi untuk masalah yang Gwen bingungkan. Menolak customer, rasanya tidak bijak kak, tetapi jika menyelesaikan sendiri, juga akan memberikan kesan yang tidak baik.” Akhirnya Gwen mengucapkan apa yang menjadi uneg unegnya.
„Hempphh... tidak perlu risau seperti ini lagi honey.
Jika ada masalah apapun, katakan padaku. Ingat perempuan adalah tulang rusuk laki-laki, tidak berubah menjadi kaki atau apapun dalam kehidupan rumah tangga kita. Untuk itu, selalu sampaikan pada suamimu ini...” Barra memberikan tanggapan sambil menatap mata istrinya dengan lembut,
„Baik pa..., bersama dengan papa, ternyata tidak ada masalah dalam kehidupan Gwen dan anak-anak,” ucap lirih perempuan itu.
„Tidak perlu seperti itu honey. Hanya terus bersamaku, dan tidak berpikir untuk meninggalkanku, sudah merupakan kontra prestasi untukku sayang..” bisik Barra lembut,.
Perlahan Gwen menganggukkan kepalanya.., dan tanpa disadari Barra menundukkan wajah kemudian memberikan ciuman lembut di bibir perempuan itu. Gwen terkejut, tetapi bibirnya segera terbuka, dan ciuman di bibir pasangan suami istri itu terpagut. Hal itu berlangsung untuk beberapa saat.., dan..
„Honey.. apakah sudah boleh malam ini sayang..?? Sudah lebih dari dua bulan, istriku belum memberi kesempatan pada suamimu ini, untuk melampiaskan hasrat manusia purba..” tiba-tiba terdengar bisikan di telinga Gwen.
Kata-kata yang diucapkan Barra, seperti anak panah yang ditembakkan dan mengenai jantung perempuan itu. Dengan mata yang sudah berkabut, Gwen Kembali menatap ke mata suaminya..
“Kamu terlalu menggemaskan untukku honey... selalu ada Hasrat untuk melampiaskan, Ketika aku melihatmu menatapku seperti ini..” Kembali Barra berbisik lirih.
__ADS_1
Hembusan uap hangat di belakang telinganya, sesaat membuat tubuh Gwen terasa melayang. Mendadak tubuh perempuan itu seperti gemetar dan merinding.., dan menyadari hal itu Barra tersenyum, dan terus melanjutkan serangannya pada perempuan itu.
“Mmmmppphh… pap.. papa.. ugh..” Ketika serangan bibir Barra sudah menyusuri leher dan tulang selangka istrinya, tanpa sadar Gwen melenguh.
Pasangan suami istri itu yang sudah terhenti, untuk menyalurkan Hasrat manusia purba selama lebih dari dua bulan itu, benar-benar seperti menemukan mata air. Mereka terus memagut, memeluk dan menyatukan kedua tubuh mereka. Tatapan mata mereka sudah berkabut, dan tidak bisa melihat lagi dengan jelas. Namun gerakan keduanya seperti sudah menemukan jalannya sendiri, mereka saling menyatu, dengan menikmati hembusan nafas masing-masing.
************
Beberapa hari sesudahnya..
Pada hari Sabtu, Ketika perusahaan Barra libur mingguan, pasangan suami istri itu dengan mengajak tiga putra putri, dan baby sitter berkunjung ke rumah Asep. Mereka merasa sungkan untuk berbicara via telpon, khawatir tidak menghormati pasangan itu. Setelah menikah, Asep dan Cynthia tinggal di pinggiran kota, dengan rumah sederhana yang sudah menjadi hak milik pasangan suami istri itu.
“Selamat datang Gwen…, kak Barra. Hey Tareeq, Bareeq.., and Sheen..” baru saja mobil Barra berhenti di depan rumah itu, Asep sudah bergegas menghampiri mereka di depan pintu mobil. Kebetulan laki-laki itu sedang terlihat duduk di teras rumah mereka.
“Uncle baik Tareeq.. Bareeg..” dengan kedua tangannya, Tareeq dan Bareeq sudah berada dalam gendongan laki-laki itu.
“Turunkan mereka Uncle Asep, mereka bukan lagi anak kecil..” khawatir jika Asep keberatan menggendong kedua putranya, Gwen berteriak agar laki-laki itu menurunkan dua anak itu,.
“He.. he.. he.., benar katamu Gwen, ternyata berat badan dua jagoan ini sudah meningkat. Aku sudah kewalahan jika harus menggendong mereka bersama-sama..” Asep segera menurunkan kedua anak itu dari gendongannya.
Terlihat dari arah ruang depan, Cynthia dengan perut buncit membuka pintu lebar-lebar. Senyum kebahagiaan perempuan itu jelas terlihat, mungkin tidak menyangka akan mendapat tamu sahabat baiknya Ketika masik kuliah.
“Kak Asep… ajak tamu kita masuk. Jangan berbicara di depan rumah, pamali..” Cynthia berteriak pada suaminya.
__ADS_1
„Istriku sudah meminta kalian untuk masuk ke dalam, jangan kecewakan Cynthia ya..” menggunakan alasan istrinya, Asep meminta Gwen dan Barra untuk masuk ke dalam rumah.
“Okay… okay, aku juga sudah terlalu kangen dengan Cynthia..., Uncle Asep..” Gwen bergegas menuju ke teras menghampiri Cynthia.
Barra dan Asep tersenyum melihat kedua perempuan itu, sedangkan Bareeq dan Tareeq berlari mengikuti mommy mereka. Barra mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman rumah Asep, dan laki-laki itu tersenyum.
“Kenapa tersenyum kak, apakah ada ide untuk rumah sederhanaku ini..?” Asep langsung bertanya pada suami sahabatnya itu.
“Halamanmu masih sangat luas Asep, kamu bisa menyiapkan Play Ground di halaman rumah ini. Jadi Ketika putramu lahir, dan sudah bisa bermain sendiri, dia bisa memanfaatkannya. Apalagi halaman ini sangat sejuk dengan rerimbunan pohon, namun mereka tidak tumbuh tinggi..” Barra membuat usulan.
Asep tersenyum kikuk…, dan hal itu tidak terlepas dari pandangan Barra,
“Ada apa Asep, apa ada hal yang memberatkanmu..” Barra bertanya pelan.
“Hemppphh… bagaimana ya aku menyampaikannya kak.. Kak Barra tahu sendiri, betapa beratnya bekerja di negara ini dengan gajiku.. Aku tidak mau memberatkan Aldo, sehingga rumah dan tanah ini, betul-betul aku dan Cynthia merintisnya sendiri. Jadi yah,.., semuanya masih serba mengangsur..” sahut Asep terkesan malu.
“Hebat sekali Asep, aku mengapresiasi keteguhanmu. Tidak masalah dengan mengangsur, yang penting semua berakhir indah bukan. Minggu depan, mungkin aku akan mengirim beberapa tukang untuk mewujudkan Play Ground, jadi Bareeq dan Tareeq bisa ikut bermain di tempat ini.
Juga kamu bisa memperluas ruang tamumu, itu jika kamu setuju.” Tidak diduga, ternyata Barra memberikan tawaran yang menggiurkan,
Asep melihat ke arah Barra dengan tidak percaya, tetapi juga tidak berani untuk menerima tawaran itu. Laki-laki itu mampu untuk mengukur kemampuannya, karena setiap bulan juga masih harus mengirim jatah pada keluarganya di Indonesia.
**********
__ADS_1